
Barbeque part 2.
.
.
.
.
.
Saat ini Zay kembali lagi kerumah Kiran untuk menjemputnya dan mengajaknya untuk ikut acara barbeque di rumahnya.
Beruntung kedua orang tua Kiran mengizinkannya dan mempercayai Zay agar selalu menjaga Kiran.
Awalnya Kiran menolak karena ia tidak kenal siapa siapa disana, tapi Zay terus meyakinkan jika dirinya akan selalu di dekat Kiran.
Akhirnya Kiran mengangguk dan mengikuti apa yang di katakan Zay.
" Nanti kamu tidur sama Grace aja, gapapa kan?" ucap Zay sambil memasukkan satu stel pakaian Kiran kedalam tas.
" Gapapa sih, tapi aku takut nanti ngerepotin dia." jawab Kiran.
Karena bagaimanapun ia masih perlu bantuan jika harus duduk di kursi roda atau sekedar ke kamar mandi.
" Atau mau tidur sama aku aja?" ucap Zay sambil menaik turunkan alisnya.
" issshh.. apaan sih ngaco mulu kalau ngomong." jawab Kiran yang wajahnya sudah memerah.
" Kali aja kamu mau tidur sama aku. Lagian cuma tidur doang gak aku apa apain. Itung itung bisa terus ngejaga kamu." ucap Zay tertawa.
" Gakk gaakk.. aku tidur sama Grace aja. Nanti kamu mesum lagi." jawab Kiran, ia mencebikkan bibirnya menatap Zay yang masih tertawa.
" Itu mah pikiran kamu aja yang mesum sayang." Zay mencubit kedua pipi Kiran dengan gemas.
" Udah skip.. ayo kita berangkat." ucap Kiran diangguki Zay, kemudian Zay menggedong tubuh Kiran ke bawah.
" Kursi roda Kiran udah dimasukkan kedalam mobil tan?" tanya Zay.
" Sudah.. semua udah dimasukkan kedalam mobil. Tolong jaga Kiran terus ya, tante khawatir nanti kalau kepalanya kambuh lagi." ucap Sita diangguki Zay.
" Tenang aja tan, Zay udah paham kok."
" Kalau ada apa apa hubungi mama ya sayang." ucap Sita sambil mengusap lembut pipi Kiran yang berada di gendongam Zay.
" Iya ma.. mama gak usah khawatir kan ada Zay yang selalu nemenin kiran nanti." ucap Kiran.
" Titip putri om Zay." sahut Delon menepuk punggung Zay.
" Pasti om. Kalau begitu kami berdua permisi dulu om." ucap Zay di angguki kedua orang tua Kiran.
" Hati hati dijalan." sahut Sita.
Zay mendudukkan Kiran di kursi depan penumpang setelah itu ia duduk di kursi kemudi lalu melajukan mobilnya.
***
Suasana di rumah Reyhan..
Saat ini semua orang tengah berkumpul di halaman belakang rumah Reyhan.
Segala peralatan untuk barbeque sudah disiapkan oleh para pembantu.
Tak lupa mereka menyiapkan beberapa tikar meskipun sudah ada beberapa meja dan kursi disana.
" Itu yang sama putrimu siapa Lun?" tanya Ajeng yang melihat Daffin bersama dengan Grace dan sahabatnya.
" Dosen Grace sekaligus pacaranya, namanya Daffin." jawab Luna, Ajeng manggut manggut.
" Yahh udah sold out ya, hampir mau gue jodohin sama putra gue si Nathan." sahut Dimas yang berpura pura kecewa.
" Sembarangan kalau ngomong, gak bakal gue restuin anak gue nikah sama anak lu." jawab Luna.
" Lah napa? anak gue gak kalah ganteng dari pacarnya Grace." ucap Dimas menatap luna.
" Heeh dokter Mesum, Grace sama Nathan usianya selisih 4 tahun, kalau tua nathan gue setuju. lah ini tua anak gue. Ya kagak bakal gue restuin lah." sewot Luna.
" Cinta gak mandang usia Lun. ada tuh nenek nenek yang nikah sama anak usia 20 tahunan.." sanggah Dimas.
" Yaudah suruh aja si Nathan nikah sama nenek nenek, pokoknya jangan sama anak gue. Gue udah setuju si Grace sama pacaranya sekarang." geram Luna.
" Ya gak ama nenek nenek juga kali lun. Sueekk lu." sahut dimas jengah.
***
Naya dan Grizzele sedang membakar sosis dan olahan seafood di atas pemanggang. Vero, Izzam dan Gibran ketiganya bertugas memanggang daging dan ikan.
Sedangkan Grace dan Daffin keduanya malah asik duduk sambil bercengkrama.
Grace sama sekali tidak berniat untuk membantu keempat sahabatnya, ia justru memilih untuk menemani Daffin.
" Kalau cuma nyuruh bakar doang kita semua mah bisa, disini kita berasa lagi ngelayanin raja dan ratu." sindir Naya tiba tiba.
" Lu nyindir kita?" sahut Grace yang mendengar celotehan Naya.
" Bukan, gue nyindir kang bakso yang barusan lewat." jawab Naya memutar bola matanya malas.
" Itung itung balas budi kalian sama gue." jawab Grace tertawa kecil.
" Waahh, lu berdua manusia gak tau diri. Selama ini yang nyontekin kalian berdua kalau ada tugas siapa hm?" ucap Grace yang langsung mendapat plototan tajam dari Naya dan Grizzele. Bukan apa apa tapi Grace berbicara seperti itu di hadapan Dafffin yang mana dia adalah dosen mereka.
" Ooh, jadi kalian nyontek sama Grace? Kenapa? apa materi yang saya terangkan kurang jelas atau gimana?" sahut Daffin membuat Naya dan Grizzele mati kutu. Sedangkan Grace menepuk dahinya sendiri, ia lupa jika di sampingnya ada Daffin.
" Bukan begitu pak, Kita berdua itu--"
" Udah terusin aja bakarnya, lagian ini bukan di kampus gak usah bahas masalah gituan." potong Grace membuat Naya dan Grizzele bernapas lega.
" Oh ya pak, bisa kali bapak kasih penegasan sama mantan calon istri bapak agar gak ganggu Grace lagi." sahut Grizzele yang langsung mendapat plototan tajam dari Grace.
" Maksud kamu?" tanya Daffin tidak mengerti.
" Tadi Grace disiram kooi sama mantan cal--mmptt..mpptt." Grace membekap mulut Grizzelle agar tidak melanjutkan ucapannya.
" Apaan sih Grace." ucap Grizzele saat berhasil melepas bekapan tangan Grace.
" Jangan di dengerin ya sayang, Grizzele kalau ngomong suka ngaco." ucap Grace tersenyum canggung.
" Dih apaan ngaco? orang kita bener kok, iya kan Nay." ucap Grizzele mencolek Naya yang asik mengipasi sosisnya.
" Iya pak, yang dikata sama Grizzele itu bener.
Tadi kepala Grace disiram kopi sama matan calon itsri bapak." sahut Naya membuat Grace menundukkan kepalanya.
Niatnya ia tidak ingin cerita dengan Daffin masalah di Caffe tadi siang, malah kedua sahabatnya yang mulutnya terlalu lemes.
" Grace." panggil Daffin dengan suara datarnya.
Grace mendongkakan wajahnya dan menatap Daffin yang sedang menatapnya datar.
Grace menghmbuskan napasnya pelan lalu ia melirik sinis kedua sahabatnya.
" Iya, si angel emang ngelakuin itu sama aku." ucap Grace pasrah, ia mendudukkan kembali bokongnya di samping Daffin.
" Kenapa gak cerita sama aku?" ucap Daffin menarik pinggang Grace agar lebih dekat dengannya.
" Ya aku pikir bukan masalah besar yang harus kamu tau." jawab Grace.
" Bukan masalah besar gimana? itu kamu disiram loh sama dia." ucap Daffin.
" Gak usah dibahas sekarang ya, gak enak sama yang lain." ucap Grace dan Daffin mengangguk pasrah.
" Lu bodoh Grace, kalau gue jadi lu, gue udah siram balik tuh muka cewek sama kopi panas."sahut Izzam sambil meletakkan daging bakar di atas karpet yang mereka tempati.
" Psikopat." guman Grizzele yang masih bisa di denger Izzam.
" Biarin, dari pada tuh cewek makin ngelunjak?.sahut Izzam melirik Grizzele.
" Grace orangnya terlalu baik, tapi kalau emosinya udah keluar gue takut orang itu cuma tinggal nama doang. kalian kagak inget kejadian saat di kantin kampus waktu itu?" sahut Vero sambil meletakkan beberapa kaleng minuman.
" Kejadian apa?" sahut Daffin yang belum tau tentang hal itu.
" Bapak belum tau?" sahut Gibran di balas gelengan sama Daffin.
" Videonya Viral loh pak,hampir semua mahasiswa fakultas kedokteran punya itu video." sahut Izzam.
" Video yang mana sih? kamu punya videonya." tanya Daffin penasaran.
Grace mengisyaratkan agar sahabtanya tidak memberi tahu Daffin, ia tidak ingin memperpanjang penjelasan pada Daffin nantinya.
Namun bukan Izzam dan Gibran yang mengiyakan permintaan Grace. Izzam langsung memberikan ponselnya pada Daffin dan Daffin menonton video itu sampai selesei.
" Kenapa kamu gak bilang sama aku?" ucap Daffin setelah menonton Video itu.
" Bapak inget gak sih waktu bapak nunggu Grace di parkiran waktu itu?" tanya Naya, Daffin mengingat ingat kemudian mengangguk.
" Nah kejadiannya sebelum bapak nunggu di parkiran." jawab Naya.
" Udah lama berarti." sahut Daffin diangguki yang lainnya.
" Tapi pipi kamu gapapa kan?" ucap Daffin mengusap pipi Grace dengan lembut.
" Gapapa." jawab Grace yang wajahnya sudah memerah.
" yang jomblo yang jomblo silahkan dipilih." sahut Izzam membuat yang lain tertawa.
***
Tak lama kemudian mobil Zay sudah tiba di kediamannya.
Ia mengeluarkan kursi roda Kiran kemudian ia memindahkan tubuh kiran diatas kursi roda.
" Gak usah gugup, kita masuk sekarang oke." ucap Zay diangguki Kiran.
Mereka berdua masuk kedalam dan langsung menuju halaman belakang.
.
.
.
Ini aku bagi beberapa part jadi kalau ada pemeran yang gak ada di part ini berarti ada di part selanjutnya.
Karena semua pemeran lagi kumpul jadi satu.
Jadi aku mesti bagi bagi dialog mereka.