
Firasat...
.
.
.
Grace berlari menuju kamar Zay setelah Daffin mengantarkannya pulang. Zay menghubunginya jika kejutan lamarannya di terima oleh sang kekasih.
Tanpa mengetuk pintu, Grace langsung membuka pintu kamar Zay dan langsung masuk kedalam kamarnya.
Ia langsung memeluk tubuh Zay yang hanya memakai handuk di pinggangnya karena dirinya baru saja selesei mandi.
" Gue seneng banget akhirnya lamaran lu diterima." ucap Grace memeluk erat tubuh Zay yang sedang toples. Zay membalas pelukan Grace dan mengusap kepala belakang Grace.
" Gue gak nyangka lu mau nikah aja dan ninggalin gue." ucap Grace yang matanya sudah berkaca kaca.
Ia semakin mengeratkan pelukannya dan tak terasa air matanya sudah menetes begitu saja.
Zay yang merasa dadanya basah melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Grace. Ia menghapus air mata Grace lalu mengecup kening saudara kembarnya itu.
" Gue nikah, bukan pergi jauh. Kita masih bisa bersama sama." ucap Zay membuat air mata Grace semakin mengalir.
" Gue cengeng banget ya Zay, gini doang gue sedih. Bukannya gue takut lu tinggal nikah, gue takut gue gak bisa kek gini lagi sama lu. Gue udah terbiasa di manja sama lu, terbiasa ada lu disisi gue." tutur Grace semakin menundukkan kepalanya.
Zay mengapit dagu Grace dan mendongakan kepalanya. Di kecupnya kening Grace lama untuk memberikan ketenangan pada saudara kembarnya.
" Kapanpun lu butuh gue, gue selalu ada buat lu. Lagian lu gak mau nyusul gue?" ucap Zay sedikit memberi godaan pada Grace.
" Gak usah bahas gue dulu deh Zay." jawab Grace mengerucutkan bibirnya.
Grace menatap tubuh Zay yang tanpa mengenakan kaos.
matanya membulat namun sedetik kemudian ia teriak sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
aaaarrrrggghh...
" Lu napa gak pakek baju sih?" ucap Grace membelakangi Zay. Ia baru sadar ternyata sedari tadi Zay tidak memakai baju.
Biarpun Zay adalah sodara kembarnya, ia masih malu jika melihat Zay tidak memakai baju apalagi sekarang hanya memakai handuk saja untuk menutupi area bawahnya.
" Gue baru selesei mandi dan lu main nyelonong masuk kedalam kamar gue." jawab Zay.
ia menuju walk in closet untuk berganti baju.
" Ya napa lu gak ganti baju dulu tadi?" Grace berjalan menuju balkon kamar Zay dan mendudukkan tubuhnya di sofa.
" Gak sempet." jawab Zay sedikit berteriak.
Setelah berganti pakaian ia menghampiri Grace yang duduk di balkon kamarnya lalu duduk di samping Grace yang sedang memejamkan matanya.
" Lu gak mandi?" tanya Zay di balas gelengan oleh Grace.
" Gue mandi udah di apartemennya Daffin." jawab Grace, Zay manggut manggut.
" Apa lagi yang lu pikirin?" tanya Zay menoleh kearah Grace.
" Angel."
" Angel? mantan tunangannya Daffin?" Grace menganggukkan kepalanya.
" Kenapa lagi?"
" Gue keinget omongan dia yang bakal ngehancurin hubungan gue sama Daffin. Dia masih dendam ma gue soal batalnya pernikahan dia waktu itu." jawab Grece.
" Lu takut?"
" Gue? takut sama Angel? hah... gak ada dalam kamus gue takut sama tuh cewek." jawab Grace dengan seringainya.
Tapi jika Angel sendiri yang akan melawannya, justru itu akan lebih baik. Karena setidaknya bukan keluarga Daffin yang Angel manfaatkan untuk balas dendam dengannya.
" Yaudah terus apa yang mesti lu khawatirin, sekarang lu fokus aja apa yang saat ini lu jalanin. Gak usah mikirin orang yang gak penting. Selagi tuh orang masih diem dan gak berbuat jahat sama lu, yaudah lu enjoy aja dengan apa yang lu lakuin." tutur Zay.
Grace menganggukkan kepalanya, tapi entah kenapa hati dan pikirannya tidak bisa tenang. Entah apa yang akan terjadi esok atau hari hari kedepannya.
" Gue sayang sama lu, gue ke kamar dulu ya." ucap Grace berdiri sambil mengacak rambut Zay yang sedikit masih basah.
" Gue juga sayang sama lu." balas Zay.
Grace membalasnya dengan senyuman setelah itu keluar dari kamar Zay.
Zay terdiam sejenak, entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak.
" Ada apa ini?" gumam Zay sambil memegang dadanya.
" Semoga semuanya baik baik saja." sambungnya setelah itu kembali masuk kedalam kamar.
Grace mendudukkan tubuhnya di balkon kamarnya, matanya sangat sulit terpejam padahal saat ini jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
Di temani segelas susu choklat hangat ia melihat layar laptop yang menampilkan foto dirinya bersama Daffin dan dirinya bersama keluarga besarnya.
"Kenapa dengan perasaan gue?" gumam Grace sembari memegang dadanya.
haaahh
" it's ok. Everything Will be fine." ucap Grace setelah menghembuskan napasnya.
Grace menutup laptopnya laku membawanya masuk kedalam.
Ia meletakkan laptopnya di atas meja lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Grace mencoba memejamkan matanya dan tak lama ia tertidur.
****
Kini seluruh keluarga besar wijaya sedang berkumpul untuk melakukan sarapan pagi, Grace yang baru saja turun langsung duduk di samping Luna dan menyenderkan kepalanya di bahu mamanya.
" Kenapa? kamu sakit?" tanya Luna saat melihat raut wajah putrinya yang lesu.
" Grace sehat kok ma." jawab Grace yang sudah duduk tegak kembali.
" Lu gapapa kan kak?" sahut Devan yang juga melihat Grace tanpa semangat.
" Emang gue kenapa?"
" Gue nanya lu, elu malah nanya balik. Kali aja lu sakit." ucap Devan dibalas gelengan oleh Grace.
" Gue sehat." jawab Grace.
Ia mengambil roti lalu ia olesi dengan selai choklat.
Semuanya saling pandang dan menatap Grace yang tidak seperti biasanya.
" Ada apa?" sahut Grace yang sadar saat semua mata tertuju padanya.
" Gapapa kok sayang." jawab Luna lalu mereka kembali menikmati sarapan paginya.
.
.
.
.
Apa yang akan terjadi? 🤔