
Zay dan Vero berjalan menyusuri koridor kampus, keduanya menjadi pusat perhatian karena gaya cool mereka saat berjalan.
Tidak usah di ragukan lagi jika ketampanan seorang Zayyan Adelard Kusuma mampu mengalihkan perhatian kaum hawa, ditambah lagi manusia tampan di samping Zay ini juga tidak kalah tampannya dengan Zay, namun tidak satupun dari para mahasiswa yang mengetahui siapa cowok tampan yang berjalan bersama Zay ini.
" Cowok di samping Zay siapa ya? gak pernah lihat gue?." ucap mahasiswi A..
" Mungkin mahasiswa baru kali, tapi dia ganteng banget, sebelas duabelas sama Zay." sahut yang lain.
" Gak dapet Zay, dapet sebelahnya juga gapapa."
" Bisa seger nih mata lihat cogan mulu." sahut lainnya.
Zay dan Vero mengacuhkan semua ucapan yang menurutnya sangat tidak berguna, karena sudah menjadi makanan sehari hari jika para mahawiswi/siswa disini menghibahinya.
Zay dan Vero masuk kedalam kelas yang sama, karena memang Vero mengambil jurusan yang sama dengan Zay.
Banyak dari kauh hawa yang ada dikelas ini saling berbisik saat Zay dan Vero berjalan memasuki kelas, terutama berbisik tentang siapa cowok yang datang bersama Zay.
" Minggir." ucap Zay mengusir Gibran yang biasanya duduk disebelahnya.
" Kok Lu ngusir gue?" tanya Gibran dengan alis bertaut.
" Lu duduk sama Izzam, gue sama sepupu gue." ucap Zay sambil menunjuk Vero di sebelahnya.
" Dia sepulu lo?" tanya izzam diangguki Zay.
" Kenalin gue Izzam, sahabat Zay paling tampan." ucap Izzam mengulurkan tangannya.
" Gue Cavero panggil aja Vero, gue sepupu Zay dan yaa kegantengan lu akan sirna setelah gue jadi mahasiswa baru disini." jawab Vero menjabat tangan Izzam.
" cihh.. mau bersaing sama gue lo?" sinis Izzam.
" Enggak tapi kita lihat nanti." jawab Vero.
" Kalau gue Gibran, gak perlu koar koar semua orang juga tau ketampanan gue." ucap Gibran menjabat tangan Vero.
" Dilihat dari pucuk tugu monas lu memang tampan, gue akui itu." jawab Vero lalu duduk disebelah Zay.
Gibran mendelik kesal, namun ia akhirnya mengalah dan pindah tempat duduk disamping Izzam.
" Orang yang mengaku dirinya tampan sebenernya dirinya jelek, dia hanya tidak mau menjadi insecure." Sarkas Zay.
Ketiga orang yang bersaing ganteng itu mendelik kearah Zay.
" Ehh semprul.. gue emang ganteng yaa, dari segi manapun udah kelihatan ketampanan gue." sahut Izzam.
" Apa pernah lu mendengar orang baik mengaku dirinya baik?" tanya Zay tanpa menoleh kebelakang.
" Enggak.." kompak ketiganya.
" Jadi kalian tau kan siapa yang memang beneran tampan?" ucap Zay tersenyum mengejek.
" Tunggu..tunggu.. maksud lo gimana nih? otak gue rada geser ke kiri dikit makanya gak nangkep maksud omongn lo." ucap Izzam namun Zay hanya mengangkat kedua bahunya.
" Lo bodoh tapi masuk kuliah jurusan ini, maksud Zay, dia yang paling tampan karena cuma dia yang ngak ngaku ngaku tampan kayak kita." ucap Vero memberi penjelasan pada izzam.
" Waahh... nih anak bener bener kurang ajar.
Kalau gue bersaing sama dia, sorry gue mundur aesthetic aja lah.. gak mampu cuu, kaum hawa memuja dia semua." ucap Izzam.
" Sadar diri juga." sahut Zay tersenyum smirk.
" Sat." umpat Izzam.
____
Kelas Grace sudah dimulai satu jam yang lalu namun ia sama sekali tidak berkonsentrasi.
Suasana hati Grace sedang buruk saat ini setelah cibiran cibiran para mahasiswi terlontar kepadanya.
Bagaimana tidak, hanya sekejap berita turunnya dia dari mobil Daffin sudah menyebar luas.
Memang Grace mengabaikannya namun telinganya terasa panas jika mereka terus terusan menyindirnya.
" Baiklah apakah ada pertanyaan?" ucap Daffin setelah menerangkan materi.
Tidak ada yang mengangkat tangan, Daffin menatap Grace yang terdiam seperti sedang melamun.
" Grace." panggil Daffin namun grace tidak mendengarnya.
" Graciella parmadita.." ucap Daffin sedikit meninggikan intonasinya.
" eeehhh...i-iya pak, ada apa?" sahut Grace gelagapan.
" Kamu melamun di kelas saya?" ucap Daffin menatapnya datar.
" eeemm sedikit kok pak tidak banyak." jawab Grace.
Kanaya dan Grizzele menepuk jidatnya masing masing.
Bisa bisanya Grace menjawab seperti itu.
" Kamu ikut keruangan saya." ucap Daffin menunjuk Grace.
" Kelas saya akhiri, selamat siang." sambungnya lalu pergi meninggalkan kelas diikuti Grace dibelakangnya.
" Tunggu gue di Caffe seberang, kabari para dugong mesir buat nyusulin kita, gue butuh Zay sekarang." ucap Grace pada Naya sebelum keluar kelas.
Grace berjalan mengikuti Daffin yang berjalan di depannya.
Banyak mahasiwi yang membisikkannya, namun Grace hanya menatapnya datar.
Daffin membuka pintu ruangannya disusul oleh Grace, setelah itu Grace menutupnya kembali.
" Ada apa sih pak? kangen?" ucap Grace ngawur.
" Graciella." ucap Daffin menatapnya tajam.
" Iyaa..iyaa maaf, ada apa pak."
" Kamu ini kenapa? kenapa selalu membuat ulah di kelas saya?" ucap Daffin menatapnya datar.
" Santai dong pak natapnya, gak usah datar kek gitu." ucap grace.
" Jawab pertanyaan saya Graciella."
" Soal tadi saya minta maaf, saya hanya sedikit melamun pak, saya kesel gara gara banyak orang yang melihat saya turun dari mobil bapak lalu semua orang mencibir saya, ngatain saya cewek murahan lah ini lah itu lah, telinga saya panas pak." ucap Grace dengan nada kesal.
" Kenapa kamu dengerin, biarkan saja orang berbicara apa, bukankan kamu sudah mengclapback orang orang itu? lagian jika kamu dengerin itu akan mengganggu pikiran kamu." ucap Daffin.
" Orang yang mereka bicarakan itu saya pak, lagian saya punya telinga, mana bisa saya nggak dengerin.
Lagian orang yang menghina saya bukan satu atau dua orang saja, tapi hampir semua mahasiswi fakultas kedokteran yang mencibir saya." jawab Grace.
" Kamu memang tidak bisa menutup mulut mereka dengan tangan kamu, tapi kamu bisa menutup kedua telinga kamu dengan tangan kamu sendiri.
Biarkan orang orang itu dengan pikirannya.
percuma kamu menjelaskannya, karena mereka akan mempercayai apa yang mereka ingin percayai bukan apa yang sebenarnya terjadi." tutur Daffin.
" Bapak open minded sekali, jadi makin sayang saya sama bapak, jadi pacar saya ya." ucap Grace tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
" Ya sudah kamu boleh keluar." ucap Daffin tanpa menggubris perkataan Grace.
" Ngusir saya nih?" ucap Grace mengerucutkan bibirnya.
" Sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, jadi kamu boleh keluar." jawab Daffin.
" Yasudah saya keluar nih, tapi jangan kangen sama saya ya." ucal Grace yang sudah berdiri.
" Tidak akan, sudah sana." usir Daffin.
" Cihh... awas aja kalau nanti bapak udah mulai suka sama saya, saya bikin bapak yang ngejar ngejar saya." ucap Grace lalu keluar ruangan Daffin.
Daffin tersenyum mengingat perkataan Grace, memang banyak mahasiswi yang terang terangan mengatakan rasa suka padanya, tapi entah kenapa dengan Grace ini terasa berbeda, ada sebuah getaran saat melihat senyum Grace.
Tapi kembali lagi, apakah Grace bisa memahami keadaannya saat grace tau jika dirinya sudah mempunyai tunangan.
___
Grace melangkahkan kakinya masuk kedalam Caffe, ia melihat Zay dan yang lain duduk di meja pojok dekat jendela.
Saat ini yang ia butuhkan adalah Zay sodara kembarnya.
Biarpun mereka kembar, usia mereka sama tapi bagi Grace Zay adalah seorang abang yang mampu menenangkan disaat suasana hatinya sedang buruk.
" Zay.." Manja Grace pada Zay.
" Kenapa?" tanya Zay saat melihat wajah cemberut Grace.
" Lagi badmood." jawab Grace menyandarkan kepalanya dibahu Grace.
" Kenapa hm?" tanya Zay mengusap lembut kepala Grace.
" Gue dibully gara gara tadi pagi gue berangkat sama pak Daffin." jawab Grace.
" Pak Daffin siapa? bukannya lu tadi pagi diantar sopir?" sahut Vero.
" Pak Daffin itu dosen baru inceran dia." sahut Grizzella.
" Tadi pagi mobilnya mogok terus gue cari taksi tapi gak ketemu, akhirnya gue ditebengin sama pak daffin sampe kampus." jawab Grace.
" Terus lu di bully kenapa?" tanya Gibran.
" Ya lu pikir lah Gib, siapa sih cewek cewek kampus yang gak ngeidolain pak Daffin? hampir seluruh cewek fakultas kedokteran mengidolakan dia, terus mereka lihat gue satu mobil sama dia, ya udah lu bisa bayangin sendiri bacotan mereka kayak gimana." jawab Grace dengan kesal.
" Biasanya lu sama Zay bodoh amat sama bacotan orang, tumben sekarang kesel." sahut Izzam.
" Kuping gue panas, tiap jalan di ghibahin mulu." jawab Grace.
" Mau es cream?" tawar Zay, biasanya Grace akan langsung berbinar jika Zay menawarinya es cream.
Dan benar saja, mata grace langsung berbinar saat Zay menawarinya es cream.
" Beneran?" tanya Grace diangguki Zay.
" Beli di tempat biasanya tapi." ucap Grace.
" Iyaa." jawab Zay mencubit gemas pipi Grace.
" Si Zay bener bener jadi pawangnya nih anak, bisa langsung good mood gitu ya." heran Izzam.
" Makanya kalau mau deketin Grace lewatin dulu pawangnya." sahut Naya, disambut tawa yang lain.
.
.
.
.
Kasih semangat dong biar makin semangat juga updatenya 😢