
Zay mengedarkan pandangannya saat memasuki caffe, netra matanya menangkap seseorang sedang duduk sendirian di meja paling pojok.
Zay berjalan menghampiri orang itu yang tak lain adalah grace dengan diikuti Izzam dan gibran dibelakang Zay.
Cuuppss..
" ngapain sendirian?" tanya Zay setelah mencium pipi Grace.
" ckk.. bikin kaget aja, gue kira siapa." ucap Grace.
" Ngapain sendirian?" tanya Zay sekali lagi.
" Nungguin Grizzele sama kanaya." jawab Grace.
" Emangnya mereka kemana?" tanya Gibran.
Mereka sudah duduk di satu meja.
" Masih ada kelas."
" Bukannya lu satu kelas sama mereka, kok lu udah disini?" tanya Zay memincingkan matanya.
" Gue diusir sama dosen baru." jawab Grace sambil mengerucutkan bibirnya.
Ppfftt.. hahahaha...
Izzam dan Gibran meledakkan tawanya.
Sungguh tidak menyangka seorang Grace bisa diusir dari kelas.
" Gak usah ketawa, gue sumpel juga mulut kalian." ucap Grace menatap kesal Gibran dan izzam.
" Gimana bisa?" tanya Zay.
" nyatanya bisa kan, emang rese' tuh dosen, untung ganteng." jawab Grace sambil tersenyum.
" cihh.. gantengan juga gue." sanggah izzam.
" Bawa kaca kan?" tanya Grace.
" Bawa lah.. mo pinjem?"
" ngaca gih, siapa tau tadi kelupaan ngaca." jawab Grace membuat Gibran tertawa keras, sedangkan Zay hanya tersenyum sambil mencubit pipi grace.
" Gak lu, gak abang lu, kalau ngomong beuhh pedesnya melebihi samyang." ucap Izzam.
" harap makhlum, mak kita dulu ngidamnya makan cabe seton." jawab Grace, mereka kembali tertawa.
Tak lama kedua sahabat Grace, grizzele dan kanaya datang juga.
Mereka mendudukkan bokongnya dengan ekspresi yang terlihat kesal.
" Napa kalian?" tanya Izzam.
" Tuh dosen bener bener kelewatan kalau ngasih tugas, mana harus selesei minggu depan pula." gerutu naya.
" Serius?" tanya Grace.
" Serius lah, untung ganteng, kalau gak udah gue remet tuh muka." jawab naya.
" eits... Jatah gue dia." ucap Grace membuat grizzele menyemburkan minumannya dan tidak sengaja mengenai wajah izzam.
" Muka gue sat." umpat Izzam mengusap kasar wajahnya.
" sorry zam gue gak sengaja sumpah." ucap Grizzele, tangannya terulur membantu izzam membersihkan wajahnya.
" Maksud lu apa?" tanya Naya.
Bukannya menjawab, Grace malah menaik turunkan alisnya.
Naya yang mengerti hanya memutar bola matanya malas.
" Gak bisa lihat yang bening dikit lu." ucap Zay menoyor pelan kepla Grace.
" bodo amat." jawab Grace lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Zay.
____
Disisi lain devano, nathan dan elvano sedang bermain basket.
Keringat yang membasahi mereka menjadi daya tarik tersendiri bagi para cewek yang menonton mereka.
Freya memberikan botol miuman serta handuk pada Devano, sedangkan Rissa memberikan botol dan handuk pada nathan dan elvano.
" Makasih sayang." ucap devano menoel dagu Freya.
" Dihh gak jelas lu." jawab Freya memutar bola matanya jengah.
" Lu yang gak jelas nyai.. udah jelas devan suka ma lu." sahut Elvano.
" Modelan begini bisa suka sama gue? Yang bener aja, dijadiin keberapa gue?" ucap Freya menatap devano.
" Satu, dua, tiga, empat, lima, enam? Lu mau yang keberapa?" ucap devano sambil berhitung jari.
" Keberapa gapapa asal jadi prioritas pertamanya..eaaakk." sahut Nathan menggoda Freya.
" Mulut lu kalau di sumpal sama nih handuk enak kali ya, biar gak ngoceh mulu." kesal Freya.
" Dari pada ngoceh gak jelas disini, mending kita ke kantin gue udah laper banget." ucap Rissa diangguki semuanya.
Mereka semua berjalan menuju kantin, seperti biasa banyak tatapan kagum para cewek saat melihat Devan, nathan dan el.
Namun tidak sedikit yang iri pada Freya dan Rissa karena bisa bergabung dengan ketiga cowok itu.
" Kak devan." panggil salah seorang cewek saat devan berjalan melewatinya.
Devan dan yang lain berhenti menatap cewek yang memanggil nama devan.
" Gue?" tanya devan sambil menunjuk dirinya sendiri.
" iya kakak.. ini ada surat untuk kakak." ucap Gadis itu sambil menyerahkan surat dengan amplop berwarna pink muda.
" Dari siapa?" tanya devan namun tangannya enggan terulur menerima surat itu.
" Dari aku untuk kak devan." jawabnya dengan gugup.
" Gue tebak isinya lu nembak gue kan? ck..lu tau kalau gue ganteng, bapak gue tajir, kakek gue punya nih sekolah, tapi sungguh selera gue bukan elu.
Lagian gue alergi sama warna pink, jadi lu simpen baik baik aja nih surat, kasih ke siapa atau siapa gitu biar gak mubazir." jawab devano lalu meneruskan jalannya diikuti yang lain.
Semua siswa yang melihat kejadian itu langsung meneriaki gadis itu.
Merasa malu, gadis itu memilih pergi dan menangis.
" Penolakan lu pedes banget njir, gue gak tega lihat cewek itu matanya udah berkaca kaca." ucap Nathan.
Kini mereka sudah duduk di kursi kantin.
" Bodoh amat, mentang mentang gue ganteng pada berlomba lomba nembak gue.
Emang gue cowok apaan." jawab Devano.
Nathan dan yang lain hanya memutar bola matanya malas.
" Tingkat kepedean Lu dapet dari siapa sih? Bang Zay gak gini gini amat deh." ucap Rissa yang merasa tingkat kepedean Devano melebihi batas.
" Gak tau, tapi nyatanya emang gue ganteng.
Jadi lu lu pada gak usah mengelaknya.
Itu fakta dan muntlak tidak bisa di ganggu gugat.
Jika ada yang bertanya siapa manusia paling tampan? Jawabannya udah pasti Devano Kaliandra Kusuma fix, no debat no kecot, no drop, no bocor bocor.." ucap devan dengan gaya slengeannya.
Plakk..plaakk..plaakk..
" Makan tuh ganteng." ucap Freya menabok lengan devano membuat devano meringis dan mengusap lengannya.
" Mampus."
.
.
.
.
Gimana?
Jangn lupa komennya ya 🤗