
Setelah melakukan beberapa jam pernerbangan akhirnya Zay, Kiran dan kedua orang tua Kiran sudah tiba di indonesia.
Mereka di jemput oleh sopir keluarga Delon untuk pulang ke rumah. Sementara Zay akan ikut kerumah Kiran sebelum ia pulang kerumahnya.
Ia ingin memastikan Kiran dan kedua orang tuanya sampai rumah dengan selamat.
" Harusnya kamu bisa langsung pulang Zay, tante tau kamu juga pasti sangat lelah." ucap Sita.
" Gapapa tante, lagian Zay belum merasa capek kok." jawab Zay.
Kiran menoleh kearah Zay yang duduk di sebelahnya, Kiran bisa melihat jelas wajah lelah Zay. Selama di jerman Zay memang jarang sekali tidur, ia lebih memilih menjaga Kiran. Bahkan sehari ia tidur hanya 3-4 jam saja. Ia juga tidak memperdulikan penampilannya lagi, rambutnya yang sudah sedikit panjang serta kumis tipis yang mulai tumbuh dan ia biarkan begitu saja.
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di kediaman rumah Delon.
Zay menggendong tubuh Kiran lalu mendudukkannya di kursi roda kemudian mendorongnya masuk kedalam rumah.
" Disini dulu atau langsung ke kamar?" tanya Zay pada Kiran.
" Disini aja dulu." jawab Kiran diangguki Zay.
Sita membawa barang barang Kiran dan menaruhnya di kamar. Sedangkan Zay menemani Kiran yang terlihat begitu asing dengan rumahnya sendiri.
" Kenapa? kamu juga gak ingat kalau ini rumah kamu?" tanya Zay yang melihat kiran memperhatikan isi rumahnya.
" Sedikit." jawab Kiran. Ia memajukan kursi rodanya dan menyentuh sebuah benda di lemari.
Sebuah miniatur yang pernah Olivia berikan dulu.
" Aku ingat miniatur ini di berikan oleh seseorang, tapi kenapa aku gak ingat siapa orangnya?" gumam Kiran sambil memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut.
" Aku udah bilang jangan terlalu di paksakan, aku tidak ingin kamu kesakitan seperti ini lagi." sahut Zay yang sudah berdiri disamping Kiran.
" Aku hanya ingin tau." jawab Kiran, ia meletakkan kembali miniatur itu lalu Zay mendorong kursi roda Kiran kembali ketempatnya.
" Sayang sebaiknya kamu istirahat, biar Zay bisa pulang kerumahnya, Kasian dia kelihatan capek banget." sahut Sita menghampiri keduanya.
" Iya ma. Sebaiknya kamu pulang dan istirahat. makasih udah mau merawatku selama di rumah sakit." ucap Kiran beralih menatap Zay.
" Sama sama. Aku akan antar kamu ke kamar dulu." ucap Zay lalu menggendong tubuh Kiran.
Kiran mengalungkan tangannya di leher Zay, tanpa sadar ia menatap Zay begitu dalam.
Dalam hati selalu bertanya kenapa ia tidak mengingat laki laki baik ini?.
" Aku tau aku ganteng, gak usah segitunya lihatin aku." sindir Zay yang tau jika dari tadi Kiran menatapnya.
Kiran menunduk malu, ia menyembunyikan wajahnya di dada Zay dan membuat Zay terkekeh.
Melihat wajah Kiran yang begitu menggemaskan saat malu, ingin rasanya Zay meraup habis bibir mungil Kiran yang sudah membuatnya candu.
" Bisa bukain pintunya?" ucap Zay karena ia sedikit kesusahan membuka pintu dengan tangannya membopong tubuh Kiran.
Kiran mengangguk dan membuka pintu itu.
Zay membawa Kiran ke dalam kamarnya, ia meletakkan tubuh Kiran di atas kasur dengan hati hati.
" Kamu istirahat ya, kalau butuh apa apa panggil mama, papa atau orang yang ada dirumah ini dan jangan kemana mana karena kaki kamu belum sembuh benar." ucap Zay diangguki Kiran.
" Dan aku akan lebih sering datang kesini untuk menemani kamu." sambungnya sambil menguasap kepala Kiran.
" Makasih udah mau ngerawat dan ngejaga aku, sekali lagi maaf aku belum bisa mengingat kamu." ucap Kiran yang sedikit merasa berslah.
Zay mengangguk paham, tidak apa apa jika kiran belum bisa mengingatnya asal Kiran tidak pernah menjauhinya dan menerimanya untuk tetap disampingnya.
" Gapapa kalau belum bisa ingat sama aku, yang penting jangan terlalu dipaksa agar kamu tidak kesakitan lagi." jawab Zay dengan senyum manisnya.
Zay menaikkan selimut Kiran, ia mengusap lembut kepala kiran dan mencium kening Kiran dengan lama.
Menyalurkan segala kasih sayang yang ia miliki pada gadis yang sudah membuatnya menjadi laki laki paling beruntung karena di cintai oleh wanita tulus seperti Kiran.
" Aku pulang dulu, besok aku akan kesini lagi buat nemenin kamu ke dokter." ucap Zay diangguki Kiran.
" Hati hati dijalan, sekali lagi makasih." ucap Kiran.
Zay mengangguk ia mengusap pipi Kiran dengan lembut lalu berjalan keluar kamar Kiran.
" Selamat istirahat." ucap Zay lalu menutup pintu kamar Kiran.
Zay menuruni tangga dan menghampiri kedua orang tua Kiran yang sedang duduk di ruang tengah.
" Zay pamit pulang dulu tante, om." oamit Zay menyalimi tangan kedua orang tua Kiran.
" Sama sama tante, udah kewajiban Zay untuk menjaga wanita yang Zay sayangi." jawab Zay tersenyum manis.
" Om salut sama kamu, semoga kamu adalah laki laki yang memang Allah jodohkan untuk Kiran." Delon menepuk pelan punggung Zay. Perjuangan Zay yang membuatnya berharap jika Zay adalah jodoh Kiran.
" Aamiin om, kalau begitu Zay permisi dulu." jawab Zay diangguki keduanya.
Zay melangkahkan kakinya keluar rumah kiran dan masuk kedalam mobil yang akan mengantarkannya pulang. Wajah Zay terlihat begitu lelah, ia memejamkan matanya dan tak lama ia tertidur.
Mobil yang ditumpangi Zay sampai di kediamannya, si sopir ingin membangunkannya namun ia merasa kasihan saat melihat wajah Zay yang terlihat begitu kelelahan.
" Tuan, tuan Zay bangun kita sudah sampai." ucap Sopir yang akhirnya terpaksa harus membangunkan Zay.
" eeuuhhm.. sudah sampai ya." gumam Zay yang melihat luar kaca dan ternyata memang sudah sampai rumahnya.
" Iya tuan kita sudah sampai."
" saya turun dulu, terimakasih sudah mengantar saya pulang." ucap Zay.
" sama sama tuam, kalau begitu saya langsung pamit pulang." jawab Sopir diangguki Zay.
Zay turun dari mobil lalu mobil itu keluar dari kediamannya.
Zay berjalan masuk kedalam rumah dengan mata sedikit terpejam, sepertinya Zay sangat mengantuk.
" Assalamualaikum Zay pulang." salamnya dengan suara lemas.
" Zay.. lu udah pulang?" ucap Grace sedikit berteriak.
Ia berlari lalu menubruk tubuh Zay dan memeluknya.
Zay membalas pelukan Grace, ia juga teramat rindu dengan saudara kembarnya ini.
" Abang lemes banget, capek ya?" sahut Devano yang juga bergantian memeluk Zay.
" iya abang capek banget." jawab Zay lalu mendudukkan tubuhnya di sofa.
" gimana keadaan Kiran?" sahut Vero saat Zay duduk di sebelahnya.
" Sudah membaik, tapi ingatannya belum pulih." jawab Zay.
" Besok gue, vero dan yang lain meu menjenguk Kiran. Gapapa kan?" sahut Grace diangguki Zay yang sedari tadi menguap.
" Devan juga ikut ya." sahut Devan diangguki ketiganya.
" Mama papa kemana? bukannya mereka udah pulang ke indonesia?" tanya Zay karena tidak melihat kedua orang tuanya.
" Papa masih di kantor dan mama lagi ke restouran Alcf." jawab Grace, Zay manggut manggut.
" Kalau gitu gue istirahat dulu." ucap Zay yang sudah berdiri dan memegang kopernya.
" Yaudah istirahat aja, kita gak akan ngebangunin lo, jadi sebangunnya lo aja." ucap Grace, ia tau jika Zay sangat lelah karena terlihat jelas bawah mata dia yang menghitam dan wajahnya yang sedikit pucat.
Zay mengangguk lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dan membuang koper itu dengan asal.
Zay mengambil handuk lalu menuju kamar mandi.
Ia akan membersihkan diri sebelum pergi tidur.
Selelah apapun Zay, jika ia belum mandi dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.
Badannya akan terasa sangat lengket dan itu membuatnya gerah.
Tak lama Zay keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah lumayan segar.
Tanpa menggunakan baju atasan ia langsung melompat ke atas ranjang dan pergi tidur.
.
.
.
.
Semoga hari ini aplikasinya gak eror, biar aku bisa crazy up.
kalau aku gak up lagi berarti aplikasinya masih eror.
gak tau kenapa? padahal udah lolos review tapi gak bisa muncul.😢