My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
54.



Zay dan Kiran keluar dari ruangan dokter Regan lalu ia mendorong kursi Kiran menuju parkiran.


" ZAY." teriak seseorang membuat Zay berhenti dan menoleh kebelakang, begitupun dengan Kiran.


" Olivia." gumam Zay menatap olivia yang menghampirinya.


Olivia mendorong kursi rodanya menghampiri Zay dan Kiran.


Namun ia sedikit terkejut melihat keadaan Kiran yang sedang memakai kursi roda dengan kaki yang sedang di gips.


" Zay kamu apa kabar? kenapa gak pernah menengokku lagi? Dan kenapa dengan Kiran?" tanya Olivia menatap Zay dan Kiran bergantian.


" Aku baik baik aja, tapi untuk kiran kamu bisa melihatnya sendiri." jawab Zay dengan datar.


Olivia tertegun mendengar nada bicara Zay yang terkesan dingin padanya.


Ada apa dengan Zay? kenapa dia berubah?.


" Dia siapa Zay?" tanya Kiran yang membuat Olivia membulatkan matanya.


" Apa kamu sedang bercanda Kiran?" Olivia menatap Kiran tidak percaya. Bagaimana bisa Kiran tidak mengenalnya? jelas jelas dia adalah sahabatnya.


" Dia mengalami kecelakaan dan dia sedang mengalami Amnesia retrograde yang membuatnya kehilangan ingatannya." sahut Zay mencoba menjelaskan keadaan Kiran saat ini.


" Kamu serius Zay?" Kiran menatap Zay dan Kiran tidak percaya.


" Untuk apa aku berbohong sama kamu." jawab Zay masih dengan ekspresi datarnya.


" Kiran.. apa kamu tidak mengenalku? aku Olivia sahabat kamu." ucap Olivia menatap Kiran.


" Aku sungguh tidak mengenalmu, maaf." ucap Kiran.


Olivia benar benar tidak percaya melihat keadaan Kiran sekarang, bahkan dia tidak mengenal dirinya sama sekali.


Kiran aku menyukai sahabatmu, apa kamu menyetujuinya.?


Sebuah suara dari masa lalu membuat kepala Kiran berdenyut hebat.


Ia memegangi kepalanya saat suara suara itu berdengung di telinganya.


" Sayang kamu kenapa? hei.. dengerin aku jangan di pakasakan oke." Zay berjongkok di depan Kiran.


Ia menurunkan tangan kiran dan menggenggamnya erat.


" Suara itu menggangguku Zay." ucap Kiran yang matanya sudah berkaca kaca.


Zay menarik tubuh kiran kedalam pelukannya, ia mengusap punggung Kiran agar Kiran bisa tenang.


Hati Olivia begitu sakit melihat orang yang disanyanginya lebih perhatian pada sahabatnya, Zay yang dulu selalu ada buat dia dan selalu memprioritaskan dirinya kini sudah berubah.


Kini bukan dirinya lagi sebagai prioritas Zay melainkan Kiran.


Ditambah kondisi Kiran seperti saat ini akan semakin membuat Zay lebih perhatian pada Kiran.


Akankah dia bisa meminta perhatian Zay meskipun Kiran adalah kekasihnya?


" Kita pulang sekarang oke." ucap Zay diangguki Kiran.


" Maaf Oliv, aku harus mengantar Kiran pulang. Dia butuh istirahat sekarang." pamit Zay.


" Apa kamu bisa menemuiku nanti?" Olivia mencekal tangan Zay namun Zay melepasnya dengan perlahan.


" Aku harus menjaga Kiran, maaf aku harus pergi." ucap Zay lalu pergi meninggalkan Olivia.


Air mata Olivia menetes begitu saja saat melihat kepergian Zay dan Kiran..


Ia memegangi dadanya yang terasa begitu sakit.


" Kenapa kamu berubah Zay? aku butuh kamu juga." gumam Kiran menangis.


Ranti yang sedari tadi melihat putrinya yang bertemu Zay dan Kiran dari kejauhan kini menghampiri Olivia yang sedang menangis.


Ia tidak menyalahkan Zay maupun Kiran, ini memang kesalahan Olivia yang dulu pergi meninggalkan Zay begitu saja.


" Jangan menangis lagi sayang, sekarang kiran yang lebih membutuhkan Zay." ucap Ranti mengusap kepala putrinya. Ia mendengar semua penjelasan Zay mengenai Kiran yang mengalami kecelakaan dan hilang ingatan.


" Oliv masih sayang sama Zay ma, Oliv juga butuh Zay untuk menemani sisa hidup Oliv." Olivia terisak dalam pelukan mamanya.


" Tapi aku mau Zay ma." isak Oliv semakin kuat.


" Oliv dengerin mama, kamu gak boleh egois sayang. Bagaimanapun dulu kamu yang meninggalkan Zay." Ranti mencoba memberi pengertian pada Oliv.


" Tapi ma."


" Kita pulang sekarang." Potong Ranti, ia mendorong kursi roda Olivia dan mereka pulang menggunakan taksi.


***


Zay dan Kiran baru saja tiba di rumah Kiran, ia melihat mobil Grace, Vero dan yang lain terparkir di halaman rumah Kiran.


Zay menggendong kiran turun dari mobil dan mendudukkannya di kursi roda lalu mendorongnya masuk kedalam rumah.


" Kiraaan.." Sapa Grace menghampiri Kiran dan Zay yang baru saja masuk kedalam rumah.


Kiran mengernyitkan dahinya, siapa wanita dan orang orang yang datang kerumahnya ini?.


Kenapa hari ini banyak bertemu orang orang yang sama sekali tidak ia ingat.


" Aku Grace saudara kembar Zay? apa kamu tidak ingat?" ucap Grace dibalas gelengan Kiran.


" oke tidak apa apa, aku mengerti." ucap Grace tersenyum manis.


" Dia Grace saudara kembar aku, dan yang itu Devano adik aku." ucap Zay memperkenalkan kembali Grace, Devan, Vero dan memperkenalkan yang lainnya.


Kiran memegangi kepalanya, nama nama itu tidak asing di indra pendengarannya.


Seperti pernah mendengar sebelumnya.


" Jangan terlalu dipaksa untuk mengingat Ran, pelan pelan saja. Nanti kita juga akan membantumu untuk mengembalikan ingatanmu." sahut Izzam, ia merasa kasihan melihat keadaan Kiran sekarang.


" Iya ran, benar apa yang dikatakan Izzam, jangan terlalu dipaksa, nanti kamu akan kesakitan." sahut Grizzele.


" Seprrtinya aku pernah mendengar dan mengenal nama kalian, tapi kenapa aku tidak ingat siapa kalian." ucap Kiran menunduk sedih.


" Kak.. coba kak kiran sekarang tatap mata Devan." sahut Devan membuat Kiran mendongakkan kepalanya menatap Devan.


" Emang kenapa Dev." sahut Grace mengernyitkan dahinya, begitupun yang lain.


" Enggak kenapa napa, kali aja dengan menatap wajah ganteng devan kak kiran bisa ingat kembali sama kita." jawab Devan dengan wajah tanpa dosanya.


Bughh..


" Bukannya sembuh justru kiran semakin tidak ingat siapa kita." ucap Grace setelah memukul wajah devan dengan bantal.


Kiran yang melihat itu tertawa kecil, ia merasa terhibur melihat kelakuan orang orang yang ada dirumahnya ini.


" AHAAA.. AKU TAU CARANYA GIMANA KAK KIRAN BISA INGAT KITA KEMBALI." sahut devan dengan antusias.


" Lu aneh aneh lagi gue tabok beneran deh dev." sahut Naya dengan Geram.


" Kalau menurut firasat devan ini akan berhasil, karena aku sering melihatnya di sinetron sinetron." ucap Devan yang percaya diri.


" Apa emang?" tanya Gibran tidak sabar.


" Jedotin aja kepala kak kiran ke tembok, pasti ingatannya kembali lagi." ucap Devan dan langsung mendapat tabokan dari Grace, Naya dan Grizzele.


" Lu bener bener gendeng tau gak, bukannya ingatannya kembali tapi bisa bisa kiran di alam lain." sahut Vero yang juga ikut mengeroyok Devan.


" Ampun kak, kan gue lihat gitu di tv tv." sahut Devan sambil memegangi kepala dan tubuhnya.


Zay dan Kiran hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan saudara dan teman temannya ini.


Namun Zay bersyukur karena kehadiran mereka, Kiran bisa tertawa lagi.


.


.


.


.


Devan beneran dah, gue tonjok juga lu 😂