My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
115.



Daffin mengajak Grace ke sebuah apartemen mewah di jakarta. Keduanya terus berjalan sampai akhirnya Daffin menekan tombol lift yang akan membawanya ke lantai nomor 25. Jantung Grace berdetak lebih cepat, karena akan bertemu wanita tempo hari yng tengah bersama Daffin di sebuah Kafe.


Grace menarik lengan kemeja Daffin saat keduanya sudah beridiri di depan pintu Apartemen Alicia.


Daffin menoleh lalu mengangguk kecil, seperti mengatakan tidak akan terjadi apa apa.


" Dia gak akan gigit kamu." Daffin mencoba mengurangi ketegangan pada diri Grace. Padahal gadis itu yang dari kemarin ngotot ingin sekali bertemu dengan Alicia untuk mendengar penjelasan yang akan di berikan wanita itu.


" Ckk.. Apaan sih?" Grace berdecak kesal karena Daffin menggodanya.


" Aku gak takut, aku cuma gugup aja." elak Grace, setelah itu ia mengambil napas dalam.


" Oke, tekan belnya." ucap Grace kemudian Daffin menekan tombol itu, dan tak lama penghuni apartemen itu membuka pintunya.


" Sayang, kamu udah datang." ucap pemilik apartemen itu yang tak lain adalah Alicia. Ia bahkan langsung memeluk tubuh Daffin dan sukses membuat mulut Grace menganga. Ia masih belum bisa mencerna situasi apa yang terjadi saat ini.


Kata sayang yang di lontarkan oleh wanita bernama Alicia itu mampu membuat darah di tubuh Grace mendidih, apalagi melihat balasan pelukan yang di lakukan oleh Daffin membuat kedua tangannya mengepal kuat.


" APA APAAN INI? KAMU BILANG DIA HANYA TEMEN KAMU? TAPI APA YANG AKU LIHAT HAA? KAMU BOHONGIN AKU." teriak Grace setelah berhasil memisahkan pelukan Daffin dan Alicia. Ia menatap Daffin dengan penuh amarah dan juga kebencian. Ia tidak pernah menprediksi hal seperti ini akan terjadi.


" Kamu salah paham sayang, kita---"


" Salah paham apa? jelas jelas dia panggil kamu sayang dan memeluk kamu, dan kamu juga membalas pelukan dia. Kamu lupa kalau aku paling tidak suka milik aku di sebtuh orang lain? kamu sengaja bikin aku makin marah sama kamu?" Dengan dada naik turun Grace menyela ucapan Daffin. Ia benar benar sangat marah melihat adegan yang baru saja di lihatnya.


Sedangkan wanita yang menjadi penyebab kemarahan Grace hanya diam dan menyandarkan tubuhnya di dahan pintu sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Melihat pertengkaran di hadapannya ini membuat dia terkekeh geli. Memang hal seperti ini lah yang ia inginkan. Karena sangat lucu melihat dua orang pasangan berbeda gender itu bertengkar.


" Kamu mau pernikahan kita batal?" ucap Grace membuat kedua mata Daffin membola.


" Sayang---"


" Ada apa ini?" sahut seseorang dari dalam Apartemen Alicia membuat Daffin dan Grace menoleh ke arah orang itu.


" Ada apa sih sayang? kenapa berisik sekali?" sahut orang itu sambil memeluk tubuh Alicia dari belakang.


Wajah kusut dan juga mata yang masih belum terbuka dengan benar, menandakan bahwa orang itu baru saja bangun tidur. Bahkan tangtop berwana putih itu mengekspos bahu mulusnya.


" Kamu kebangun ya? maaf yaa, kedua tamuku ini sangat berisik." jawab Alicia sambil mengusap pipi orang itu.


" emm... suruh mereka masuk, biar gak ganggu tetangga yang lain." ucap Orang itu lalu Alicia menyuruh Daffin dan Grace masuk kedalam Apartemennya.


Daffin dan Grace duduk di sofa yang sama, sedangkan Alicia dan orang itu duduk di depannya. Terlihat sangat jelas jika orang itu bersikap manja pada Alicia, bahkan ia tidak sungkan memeluk tubuh Alicia dan mengendus aroma tubuh Alicia.


Jangan tanyakan lagi bagaimana ekspresi Grace, ia bahkan tidak tau harus berkata apa? Otak dia masih susah mencerna hal apa yang terjadi saat ini. Dan apa yang di lihatnya ini menurutnya masih di luar nalar dan sangat sulit di percayai.


" Kalian?" Grace bahkan tidak sanggup untuk melanjutkan pertanyaan yang akan ia tanyakan pada kedua orang yang duduk di hadapannyai ni.


" Dia Catherine kekasihku." jawab Alicia membuat Grace membulatkan matanya.


" J-jadi kalian?" Catherine dan Alicia kompak menganggukkan kepala sebelum Grace menyeleseikan kalimatnya.


" Mas?" Grace menatap Daffin dan laki laki itu juga menganggukkan kepalanya.


" Itulah kenapa aku bilang sama kamu kalau kamu akan kaget jika tau siapa Alicia." ucap Daffin. Ia sedikit menarik pinggng Grace dan mengusap kepala gadis yang terlihat masih shock itu.


" Biar aku ambilkan minum." ucap Alicia, ia berdiri lalu berjalan menuju dapur.


" T-tiga tahun." Grace mengangkat jarinya yang justru memperlihatkan angka empat. Catherine terkekeh geli saat melihat jari Grace.


" Itu empat tahun." tunjuk Catherine dengan dagunya. Grace melihat tangannya dan mengurangi satu jarinya.


" Nah itu baru bener." ucap Catherine membuat Grave kikuk sendiri.


" Aku dan Daffij berteman baik, kemarin aku benar benar tidak sengaja ketemu dia di Kafe. Kelihatannya dia kemarin baru saja ketemu klien." sahut Alicia sambil meletakkan dua gelas di hadapan Grace dan Daffin.


" Maafkan aku udah salah paham sama kalian." ucap Grace sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia benar benar sudah salah paham dengan calon suaminya dan wanita di hadapannya ini.


Bukan salah Grace jika dirinya tengah di makan api cemburu, karena siapapun yang melihat Alicia akan berpikir jika wanita itu staright dan tidak belok. Kecantikan Alicia yang bagaikan model membuat laki laki manapun akan tertarik padanya. Tapi siapa sangka jika di balik kecantikannya dia mempunyai kekurangan yang sangat sulit di percayai.


" Gapapa, asal lain kali kamu harus dengerin dulu penjelasan aku. Kita sama sama udah dewasa jadi seharusnya kita menyeleseikan masalah dengan sikap dewasa juga." ucap Daffin dan Grace mengangguk paham.


" Maafin aku ya mas?" Grace memeluk tubuh Daffin dari samping.


" Iya sayang."


" Ckk.. Kurang seru dramanya. Harusnya kamu lebih menggodanya lebih lama lagi. Aku baru saja melihat drama kayak gini." rengek Catherine pada Alicia. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya itu.


" Kamu mau pernikahanku beneran batal?" sahut Daffin menatapnya kesal.


" No problem, jika kamu ingin mengikuti jejak ku dan Alicia." jawab Catherine dengan santainya.


" Gak akan!! enak aja." Grace merangkul lengan Daffin dengan erat. Jangan sampai apa yang diucapkan Catherine beneran kejadian.


" Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Alicia.


" Kurang dari dua bulan. Nanti kita akan mengundang kalian dan berharap kalian datang ke pernikahan kami." ucap Daffin diangguki keduanya.


" Akan aku usahakan." jawab Alicia.


" Kalau begitu kita pamit pulang dulu." ucap Daffin yang sudah berdiri diikuti oleh Grace.


" Kenapa buru buru sekali?" Alicia dan Catherine juga ikut berdiri.


" Kita mau kencan." jawab Grace dengan cepat.


" Cihh... Yaudah sana." sahut Catherine.


Grace segera menarik tangan Daffin untuk keluar dari Apartemen Alicia. Ia masih belum bisa melihat hal seperi itu di hadapannya. Setelah keluar dari Apartemen itu, keduanya langsung menuju kantor Daffin.


.


.


.


.


Sebelumnya aku minta maaf kalau aku nulis cerita kayak gini. Bukan maksud aku menyinggung atau yang gimana gimana. Aku nulis cerita ini karena pengen aja. Intinya aku gak bermaksud menyinggung pihak manapun ya.


🙏🏻🙏🏻🙏🏻