
Dan disinilah Grace, Zay, Devan dan Vero, disebuah pusat perbelanjaan milik keluarganya.
Mereka menikmati waktu sore mereka dengan jalan jalan bersama.
Grace berjalan dengan Zay sambil bergandeng tangan, dan di belakangnya ada Vero dan devan yang berjalan beriringan.
Tak jauh dari mereka Daffin sedang berada di sebuah tempat makan bersama seorang klien.
Manik matanya tanpa sengaja melihat Grace bersama tiga orang laki laki yang tidak ia kenal.
" Apa mungkin yang dia gandeng adalah sodara kembarnya?" gumam Daffin sambil memandang grace dari kejauhan.
Mengingat kata kata Grace tempo hari jika ia bermesraan dengan cowok lain, berarti cowok itu adalah saudara kembarnya.
" Bagaimana pak Daffin?" sahut Klien mengalihkan perhatian Daffin.
" Oh.. baiklah, untuk selanjutnya assisten saya nanti yang akan menghubungi bapak." jawab Daffin sambil membereskan beberapa berkas di meja.
" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, saya tunggu kabar baik dari Asisten bapak." ucap klien berjabat tangan lalu pergi meninggalkan daffin.
Daffin berjalan kesana kemari mencari keberadaan grace dan ketiga laki laki itu namun matanya belum menemukan keberadaan mereka.
Disisi lain Grace sedang mencari sepatu keluaran terbaru.
Entahlah Grace dan Vero paling gemar mengoleksi sepatu, padahal banyak sepatu baru yang masih belum mereka pakai.
" Yang ini bagus gak?" tunjuk grace pada sepatu putih pada Zay.
" Bagus kok." jawab Zay melirik sekilas sepatu itu lalu kembali fokus pada ponselnya.
" Iisshh Zay, jangan ponsel mulu napa?" kesal Grace mengerucutkan bibirnya.
Zay memasukkan ponselnya dan menangkup wajah grace yang cemberut. " Kenapa hm?"
" Gue gak suka kalau kita lagi jalan ada yang fokus sama ponsel, lu pernah lihat gue jalan bareng sama lo terus gue mainan ponsel?" jawab Grace dengan kesal.
" yaudah iya,, Buruan pilih, gue udah laper nih?" ucap Zay mengacak rambut Grace.
" Gue pilih ini aja, tapi lu yang bayar." ucap Grace memberikan sepatu putih pada Zay sambil tersenyum manis.
Zay menatapnya malas, beginilah kalau jalan dengan Grace, selalu dia yang jadi ATM berjalannya.
" Gue gak sekalian lu bayarin bang?" sahut Devan menunjukkan sepatu air jordan yang di pegangnya.
" Yaudah sini sekalian." jawab Zay membuat Devan memekik girang.
" Punya gue enggak Zay?" sahut Vero dengan wajah dibuat sok imut.
" Harusnya lu yang bayarin kita, karena lu abang kita." sindir Zay, Vero mencebikkan bibirnya.
Dengan mata elangnya, Daffin melihat Grace berada di dalam toko sepatu, ia juga bisa melihat bagaimana mesrahnya Zay pada Grace.
Sendirinya belum yakin apakah laki laki itu adalah Saudara kembarnya atau bukan.
Tapi jika memng benar saudara, bukankah itu terlalu mesrah? justru ia pikir mereka adalah sepasang kekasih.
Sementara itu, sembari menunggu Zay dan Vero membayar belanjaan mereka, Grace mengedarkan pandangannya melihat keluar orang yang berlalu lalang.
Tanpa sengaja matanya menatap seseorang yang juga tengah menatapnya dari jarak lumayan jauh.
Grace berjalan keluar toko untuk memastikan apa benar orang yang dilihatnya itu adalah orang yang dimaksud.
Dan benar saja, orang yang tengah menatapnya adalah Daffin.
Daffin berdiri di paggar pembatas sambil melihat ke arahnya.
" Pak Daffin? dia disini juga?" gumam Grace sambil senyum yang mengembang.
" Pak." panggil Grace dengan melambaikan tangan.
Daffin hanya diam tanpa menyaut, dia hanya tersenyum kecil.
" Ayo.., kita ke tempat makan sekarang." ucap Zay tiba tiba merangku Grace sambil membawa paperbag di tangannya.
" Ehh.. oke." jawab Grace menoleh ke arah Zay, namun saat ia menoleh kembali ke arah Daffin justru laki laki itu sudah tidak ada disana.
Grace menoleh kesana kemari namun tidak menemukan keberadaan Daffin.
" Cari apa sih?" tanya Zay.
" Aahh.. enggak kok." jawab Grace tersenyum manis.
Mereka berempat menuju tempat makan setelah itu akan pulang karena hari sudah malam.
Daffin mengendari mobilnya pulang, sepanjang perjalanan bayang bayang grace bersama laki laki itu tidak lepas dari ingatannya.
Ingin sekali tadi daffin menghampiri grace, namun ia tidak punya cukup keberanian, apalagi ada tiga orang laki laki yang bersamanya.
Meyakinkan diri jika mereka semua adalah saudara, namun kedekatan mereka seperti sepasang kekasih.
Dan waktu itu Grace hanya bilang jika dia mempunyai saudara kembar saja, dia tidak bercerita jika dia mempunyai saudara lain.
Itu artinya, salah satu dari mereka memang benar kekasih grace.
Ah sudahlah, daffin tidak ingin menerka nerka, mungkin mereka cuma teman.
Anak muda jaman sekarang kalau berteman kebanyakan seperti itu. pikir Daffin.
Mobil terparkir mulus di halaman rumahnya, ia turun dan masuk kedalam rumah.
Wajahnya semakin datar saat melihat dua orang wanita sedang duduk dan mengobrol dengan orang tuanya.
" Kamu sudah pulang sayang?" sapa Elsa saat melihat Daffin masuk kedalam rumah.
" hm."
" Kamu dari kantor daf?" tanya Angel sambil menghampiri daffin dengan mendorong kursi rodanya.
" hm." gumam daffin lalu mendudukkan bokongnya di samping Elsa.
Angel mendengus, ia kembali lagi ketempat semula.
" Ada apa?" tanya Daffin dengan datar.
" Tante kesini mau meminta kamu mempercepat hari pernikahanmu dan angel." jawab Rani membuat Daffin membulatkan matanya.
" Saya tidak bisa, masih banyak pekerjaan yang harus saya tangani." jawab Daffin dengan datar.
" Kamu mau menghidar? kamu mau lari dari tanggung jawab kamu? ingat anak tante begini juga gara gara kamu." hardik Rani yang mulai tersulut emosi akan jawaban Daffin.
" Saya tidak lari dari tanggung jawab, saya sudah membiayai seluruh pengobatan putri anda, Dan anda harus tau kalau semua ini sebuah kecelakaan." ucap Daffin dengan tegas.
" Tante gak mau tau, pokoknya kalian harus mempercepat pernikahan kalian." kekeh Rani.
" Kalau mau menunggu saya siap silahkan, kalau tidak anda bisa memutuskan pertunangan ini." ucap Daffin lalu pergi meninggalkan mereka semua menuju kamar.
" Daffin, kita belum selesei bicara.. Daffin." teriak Angel.
" Udah jelas kan jawaban anak saya bagaimana? sekarang kalian berdua silahkan pergi dari sini." ucap Elsa mengusir keduanya.
" Tante, kok tante ngusir kita sih? angel calon menantu tante loh." ucap Angel tidak terima.
" Anak saya saja tidak menganggapmu, bagaimana saya harus menganggapmu?"
" Tante keterlaluan, ayo ma kita pulang." ucap Angel.
Dengan perasaan kesal, Rani dan Angel pergi meninggalkan rumah Daffin.
" Apa mama tidak keterlaluan sama mereka?" tanya Erick yang sedari tadi diam.
" Terserah mama." jawab Elsa lalu beranjak menuju kamar.
Yaa.. setelah perdebatan malam itu, elsa semakin sinis pada suaminya.
Ia tidak terima jika suaminya selalu berpihak pada keluarga angel.
" Bagaimana ini ma? sepertinya Daffin gak mau nikahin angel." ucap Angel dengan kesal.
Kini meraka berada di mobil dan dalam perjalanan pulang
" Kamu tenang aja, mama yang akan buat daffin supaya cepat menikahi kamu." ucap Rani dengan senyum liciknya.
" Jangan lama lama, angel capek pura pura lumpuh."
" Iya sayang, kamu tenang aja." ucap Rani mengusap kepala putrinya.
.
.
.
.
Crazy up lagi gak? 😌