My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
92.



Ijab Qobul....


.


.


.


.


.


Hari yang di tunggu tunggu telah tiba, dimana hari ini adalah hari bahagia Zay dan Kiran yang akan melangsungkan acara ijab Qobul mereka.


Acara ijab qobul ini dilangsungkan di kediaman Reyhan karena meskipun hanya acara ijab Qobul, namun tamu yang di undang kurang lebih 500 orang.


Karena rumah Reyhan cukup memadai untuk menampung banyaknya tamu yang hadir.


Zay terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo berwarna putih dan juga peci putih yang bertengger manis di kepalanya. Ia terlihat sangat berkarisma dengan pakaian yang dikenakannya.


Saat ini Zay sedang berdiri di pagar balkon kamarnya dengan kedua tangan ia masukkan kedalam saku celana.


Matanya menerawang jauh ke atas, terlihat jelas raut sedih di wajahnya. Tidak di pungkiri jika dirinya benar benar menginginkan kehadiran Grace saat ini.


Ia selalu berdoa semoga datang keajaiban, Grace kembali pulang di hari bahagianya ini.


" Bang Zay." panggil Devan yang juga terlihat sangat tampan dengan balutan jas berwarna Grey.


" Hm." Zay membalikkan badannya menatap Devano.


" Disruruh papa turun, banyak tamu yang udah pada datang." ucap Devan ,dan Zay hanya mengangguk patuh.


Zay melangkahkan kakinya namun terhenti saat mendengar perkataan Devano.


" Kita memang masih bersedih bang, tapi lu harus inget kalau hari ini adalah hari bahagia lo. Jangan membuat kak Kiran dan keluarganya melihat wajah sedih lu itu, kalau lo gak ingin mereka berpikir yang tidak tidak. Apalagi para tamu." ucap Devan sedikit memberikan nasehat pada abangnya.


" Gue tau." jawab Zay, ia menepuk bahu Devano setelah itu melanjutkan langkanya keluar kamar menemui para tamunya.


Devan mendengus lalu mengikuti Zay yang berjalan lebih dulu.


Zay menghampiri teman temannya yang sudah datang, disana juga sudah ada Daffin yang ikut bergabung dengan mereka.


Penampilan Daffin kali ini benar benar berubah. ia terlihat sangat kurus dan juga rambut gondrong sebahu, dan bulu bulu pendek yang tumbuh di area pipi dan janggutnya. Namun meskipun begitu, ia masih terlihat sangat tampan. Bahkan banyak dari pada tamu wanita yang memuji ketampanan seorang Daffin.


" Duhh yang mau nikah, cakep banget sih." ucap Naya saat Zay mengampirinya.


" Lu kapan?" sahut Zay membuat Naya menatapnya malas.


" Jodoh gue belum kelihatan, entah kesangkut dimana." ucap Naya namun matanya sedikit melirik ke arah Gibran.


" Lu pengen tau dia kesangkut dimana?" sahut Grizzele dan Naya hanya menaikkan kedua bahunya.


" Noh di atas tower. Lagian berpaling aja sih, orang dianya aja gak pernah peka." ucap Grizzele membuat Naya melototkan matanya.


Grizzele adalah satu satunya sahabat yang mengetahui perasaan Naya karena ia sering bercerita pada Grizzelle.


Bahkan dengan Grace saja, Naya tidak pernah cerita dengan siapa dirinya jatuh cinta.


" Emang siapa yang gak peka?" sahut Izzam menatap keduanya dengan kening berkerut.


" Ada Noh anak bu jubaedah gang sebelah rumah gue, dia anaknya gak pernah peka kalau dikasih perhatian." jawab Grizzele sambil melirik Gibran yang kelihatan tidak merasa sama sekali. Bahkan laki laki itu fokus dengan ponselnya.


Izzam, Zay, Vero dan Adam Ikut melirik ke arah Gibran yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Mereka mengerutkan keningnya namun sedetik mereka mengangguk paham.


" Jadi lo suka sama gi--Mmpttt..mmpptt. lewpasin." ucapan Izzam terhenti saat Adam membekap mulutnya.


" Lu apa apan sih? tangan lu bau jigong tau gak." kesal Izzam setelah melepas tangan Adam dari mulutnya.


" Kalu gak gitu, lu bakal keterusan ngomong. Lu gak lihat Naya dari tadi nunduk gitu?" bisik Adam membuat Izzam langsung menoleh ke arah Naya.


Itu artinya memang benar, orang yang disukai Naya adalah Gibran.


" Sudahlah, nanti juga peka sendiri. Kalau gak peka peka yaudah lu sama gue aja Nay. Gue juga gak kalah ganteng dari si Dia yang gak pernah peka." sahut Vero membuat Izzam menjitak kepalanya.


" Lu mau nikung?"


" Gini ya! Gue bukan mau nikung, tapi apa lu gak kasihan lihat Naya berharap sama orang yang gak peka sama dia. Jangankan peka, kalau gue lihat selama ini bahkan si cowok gak perduli tuh sama si Naya." ucap Vero membuat Gibran menoleh padanya.


" Kalian sebenarnya dari tadi ngomongin siapa sih? cowok yang di sukai Naya siapa? Bodoh banget tuh cowok disukai cewek cantik tapi gak peka." sahut Gibran yang sudah memasukkan ponselnya kedalam saku celana nya. Vero, izzam dan adam ingin sekali menggetok kepala Gibran, karena orang yang dimaksud adalah dirinya sendiri.


Sedangkan Zay hanya geleng geleng kepala.


" Ingin rasanya gue nyeleding kepala seseorang." guman Izaam disetujui Vero dan Adam.


" Emang gue salah ngomong?" sahut Gibran namun semuanya hanya acuh dan tidak menjawabnya.


sedangkan Naya hanya berusaha sabar dan menarik tangan Grizzele untuk menjauh.


" Bisa kita ngomong berdua bang?" ucap Zay beralih menatap Daffin yang dari tadi hanya diam dan mendengarkan yang lain berbicara.


Daffin mengangguk lalu keduanya mencari tempat untuk berbicara empat mata.


" Ada apa?" tanya Daffin. Kini mereka berdiri di sudut ruangan yang jauh dari para tamu.


" Masih belum ada kabar?" tanya Zay di balas gelengan oleh Daffin.


" Ini udah mau 4 bulan tapi Grace belum di temukan. Apa mungkin Grace benar benar udah.---"


" Grace masih hidup, dia belum meninggal. Sekali lagi lu bicara seperti itu, gue gak segan segan buat ngehajar lu." potong Daffin dan menatap Zay dengan tajam.


" Gue berharapnya begitu bang, gue ingin Grace masih hidup dan kembali di tengah tengah keluarga kita." Zay mengalihkan pandangannya menatap luar jendela.


" Lu gak tau gimana frustasinya gue kehilangan saudara kembar gue. Apalagi di hari bahagia gue saat ini tanpa ada dia disini." lanjutnya dengan mata sedikit berkaca kaca.


" Gue ngerti perasaan lu, kita harus yakin kalau Grace masih hidup. Dia hanya lupa jalan pulang." Daffin menepuk bahu Zay dan Zay mengangguk kecil.


" Bang." sahut El yang tiba tiba datang menghampiri keduanya.


" Hm?" Zay dan Daffin membalikkan badannya menatap El.


" Acara akan dimulai, pak pengulu sudah menunggu abang." ucap El diangguki Zay.


" Kita kesana sekarang." ucap Daffin lalu ketiganya berjalan menuju meja penghulu.


Zay duduk berhadapan dengan penghulu dan calon mertuanya Delon yang akan menjadi wali dari Kiran.


" Bisa kita mulai sekarang?" ucap pak penghulu.


Dengan satu tarikan napas yang dalam, Zay mangagguk mantap.


" Baiklah kita mulai sekarang." Delon mengulurkan tangannya lalu berjabat tangan dengan Zay.


" Bismillahirrahmanirrahim.


SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN ANANDA ZAYYAN ADELARD KUSUMA BIN REYHAN KUSUMA DENGAN ANAK SAYA KIRANA ZUNAIRA BINTI DELON ADIJAYA DENGAN MAS KAWIN UANG TUNAI DAN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DI BAYAR TUNAI."


" SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA KIRANA ZUNAIRA BINTI DELON ADIJAYA DENGAN MAS KAWIN UANG TUNAI DAN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DI BAYAR TUNAI." ucap Zay dengan satu tarikan napas.


" Bagaimana saksi? sah?"


" SAAAAAHHH.."


" Alhamdulillah."


Acara ijab qobul berjalan lancar, kini Zay dan Kiran telah resmi menjadi pasangan suami istri.


Setelah Zay mengucapkan ijab qobul, Kiran keluar bersama Grizzele dan Naya.


Kiran berjalan sangat anggun dengan kebaya putih yang melekat pada tubuhnya.


Semua orang menatap Kiran dengan takjub tak terkecuali Zay.


Laki laki itu sungguh terpesona melihat kecantikan wanita yang baru beberapa menit yang lalu telah sah menjadi istrinya.


Kini Kiran sudah duduk di sebelah Zay. Setelah menanda tangani berkas nikah, mereka saling bertukar cincin.Dan setelah itu Kiran mencium tangan Zay dan Zay mencium kening kiran.


Semua orang bertepuk tangan, akhirnya ijab qobul berjalan dengan khidmat.


" Selamat ya sayang, kini tanggung jawab kamu akan lebih besar lagi. Inget pesan mama, jangan pernah membuat istri kamu menangis. Jika ada masalah seleseikan dengan kepala dingin dan jangan pernah sesekali kamu membentak atau bicara kasar padanya." ucap Luna memberi nasehat pada putranya.


" Iya maa, Zay ngerti kok, Zay juga udah banyak belajar dari papa." jawab Zay sambil menatap Reyhan.


" Padahal baru kemarin papa gendong kamu, tapi sekarang kamu udah tumbuh besar dan sudah menjadi seorang suami. Papa bangga sama kamu karena di usia kamu yang masih muda, kamu mau mengambil keputusan besar ini." Reyhan menepuk bahu putranya.


Terselip kesedihan dihatinya saat Zay memutuskan untuk menikah, karena itu artinya ia akan berpisah dengan Zay dan Kini hanya tersisa Devano.


Untuk Grace ia belum yakin jika putrinya itu masih hidup.


" Zay lebih bangga sama papa, papa bahkan menikah di usia kalian yang masih sangat muda.


Doakan Zay bisa membina rumah tangga ini dengan baik, seperti papa membina rumah tangga kalian hingga sampai dititik ini." ucap Zay lalu memeluk papa dan mamanya bergantian.


" Papa pasrahkan putri papa padamu, jaga dan lindungi dia. Bahagiakan dia seperti kami membahagiakannya." sahut Delon diangguki Zay.


" Terimakasih sudah percaya sama Zay pa, Zay tidak akan berjanji apapun. Tapi Zay akan selalu berusaha untuk membahagiakan Kiran, menjaga dan melindunginya." ucap Zay memeluk tubuh Delon.


" Papa percaya sama kamu."


" Selamat ya sayang, dari awal memang hanya kamu yang mama harapkan untuk menjadi menantu kami." ucap Sita membuat Zay tersenyum kecil.


" Mama.." rengek Kiran.


" Kenapa? kan sudah sejak lama kamu menyukai Zay, dan saat pertama kali kamu membawa Zay kerumah dulu, mama langsung jatuh hati ingin kamu menjadi jodohnya." ucap Sita semakin membuat wajah Kiran memerah.


" Maa.. udah ih.." Kiran menyembunyikan wajahnya di lengan Zay.


membuat para orang tua tertawa dan semakin gencar menggodanya.


" Selamat ya bang, Gue bener bener masih belum percaya kalau lu kini jadi seorang suami. Gue dari tadi cuma berpikir kenapa Kak kiran gak berpikir dua kali untuk mau menikah dengan lu." ucap Devan membuat alis Zay bertaut.


" Maksud lu apaan bilang gitu?" sahut Zay dengan tatapan datarnya.


" Gue cuma khawatir aja sama kak Kiran, dia pasti selalu kedinginan saat tidur berdua sama lo." ucap Devan dengan wajah polosnya.


" Kenapa begitu sayang?" sahut Luna.


" Lah kak Kiran nikah sama Balok Es, apa gak kedinginan dia nanti? Selimut tebal pun gak bisa menghangatkannya ma." jawab Devan dan langsung mendapat jitakan dari Zay.


pletak..


" Apa sih? sakit tau." Devan mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Zay.


" Ngatain gue sekali lagi, gue gak akan kasih lu uang jajan tambahan." ucap Zay membuat Devan menciut.


" Ampun bang, iyaa maaf gue salah. Jangan potong uang jajan Devan ya. Abang ganteng banget deh kalau pakek peci gini. kek pak ustad mau khotbah." ucap Devan sambil membenarkan peci Zay dan membuat yang lain tertawa.


Satu persatu teman dan saudaranya yang lain memberikan ucapan selamat untuk Zay dan Kiran.


Setelah itu mereka menikmati hidangan yang sudah di sajikan.


" Sekali lagi selamat ya Zay, gue mau balik dulu," ucap Daffin sambil menjabat tangan Zay.


" Kenapa buru buru sekali?"


" Ada meeting nanti siang, gue harus langsung ke kantor." jawab Daffin diangguki Zay.


" Yaudah, makasih udah nyempetin dateng. Dan hati hati dijalan." ucap Zay lalu Daffin berjalan kekuar dari kediaman rumah Reyhan.


Daffin mengendari mobil ya dengan kecepatan sedang, melihat pernikahan Zay dan Kiran membuatnya semakin memikirkan Grace.


Dimana kekasihnya itu saat ini? Kenapa dia belum bisa di temukan?"


Mobil Daffin berhenti di lampu merah, ia menatap kedepan dan tak sengaja netra matanya menangkap sosok yang selama ini ia cari dan ia rindukan berdiri di pinggir jalan hendak menyebrang.


Matanya membulat saat wanita itu mengok kerahnya dan ternyata adalah Grace.


" G-grace."


.


.


.


.


Nah kan? 😁


Gimana mau crazy up gak? mumpung mood lagi bagus buat nulis 😂.


kalau banyak yang komen aku up lagi nanti.ðŸĪŠ