
Sudah seminggu lebih pencarian di lakukan namun Tim Sar dan seluruh anak buah Ricko tidak menemukan Grace.
Seluruh keluarga besar Wijaya bersedih saat tim Sar mengatakan bahwa pencarian Grace terpaksa di hentikan.
Namun untuk anak buah Ricko, mereka tetap mencari Grace. Bahkan mereka rela mendatangi rumah warga sekitar satu persatu apa mereka melihat korban kecelakaan yang jatuh ke dalam jurang atau tidak? Dan hampir seluruh warga menjawab tidak tau.
Kini semua orang berkumpul di kediaman Wijaya, bahkan semua sahabat luna, Zay, dan Devan berkumpul disana.
Andre bersama dua petugas kepolisian yang lain juga berada di rumah wijaya untuk memberikan kabar terkait kasus yang di alami Graciella.
" Katakan!! apa yang ingin kau sampaikan Ndre? jangan membuat kami penasaran." ucap Luna dengan mata berkaca kaca.
" Sebelumnya kami meminta maaf, hari ini adalah hari terakhir pencarian saudari Graciella, dan mulai besok pencarian terhadap saudari Graciella kami hentikan.
Tapi untuk kasus Grace ini akan kami lanjutkan sampai jasad Grace benar benar ditemukan." ucap Andre membuat Luna dan para wanita lainnya menangis terisak.
" Sekali lagi kau bicara seperti itu ku pastikan nyawamu sendiri yang akan melayang." sahut Daffin yang baru saja tiba di kediaman Wijaya bersama kedua orang tuanya.
Ia berjalan mendekati Andre dengan wajah yang sudah memerah dan mata yang menatapnya tajam.
Tangan Daffin di cekal oleh Erick saat putranya ingin menarik kerah baju Andre.
" Tahan emosi kamu Daf." ucap Erick namun Daffin hanya diam.
" Grace tidak mati, Grace masih hidup. Kalian saja yang tidak becus mencarinya." teriak Daffin menatap Andre dengan tatapan membunuh.
" Bang sabar, gue mohon lu tenangin diri lu." ucap Zay merangkul pundak Daffin yang sedang tersulut emosi.
" Grace gak mati, Grace masih hidup Zay. Lu harus percaya sama gue. Dia gak mati dia masih hidup." ucap Daffin dengan suara melemah.
Vero berdiri dan menghampiri Daffin dan Zay, ia mengusap punggung Daffin yang terlihat jelas dia sangat frustasi dan penampilannya yang sedikit kacau.
Baukan hanya Daffin, namun semua yang memyayangi Grace terlihat sangat kacau.
" Lu harus sabar bang, ini semua sudah takdir. Jika pun Grace masih hidup gue yakin suatu saat dia akan kembali ke tengah tengah kita." ucap Vero mengusap punggung Daffin yang mulai bergetar.
Tak pernah sekalipun Daffin menangis di hadapan orang banyak, namun kali ini dadanya benar benar begitu sesak saat Grace di nyatakan hilang dan tidak bisa di temukan.
" Tolong lanjutkan pencarian ini, akan saya bayar berapapun asal kalian bisa menemukan Grace." ucap Daffin, ia bahkan berlutut di hadapan Andre dengan kedua tanga menangkup di depan dada.
" Jangan lakukan itu, tanpa kamu memohon pun kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa." ucap Andre membangunkan Daffin.
" Kamu harus sabar nak, mungkin Grace sudah tenang di alam sana." sahut Luna yang berdiri di samping Daffin.
" Tante kenapa bicara seperti itu? Apa tante gak percaya kalau Grace masih hidup? Grace masih hidup tan, Grace belum meninggal. Daffin yakin sekarang dia lagi mencari jalan untuk pulang." ucap Daffin dengan lelehan air mata yang semakin deras.
Luna menarik tubuh Daffin kedalam pelukannya, ia tau benar betapa hancurnya hati Daffin saat ini. Sama halnya dengan dirinya, namun sebisa mungkin ia berusaha bersabar. Mungkin suatu nanti ada keajaiban yang membuat Grace kembali lagi di tengah tengah keluarganya.
" Dengerin tante, Grace akan tetap hidup di hati kita. Dia tidak akan pernah mati. Tante mohon kamu harus kuat dan ikhlas." ucap Luna mengusap punggung Daffin.
Daffin melepas pelukannya dan menggelengkan kepalanya kuat.
" Tante salah, kalian semua salah. GRACE TIDAK MATI DIA MASIH HIDUP." teriak Daffin lalu ia berlari keluar dari kediaman Wijaya.
" DAFFIN." teriak Erick namun Daffin tidak mendengarnya.
" Biar Zay yang menyusulnya om."
" Tolong susul dia, Daffin anaknya terlalu nekat." ucap Erick di angguki Zay.
" Kita susul bang Daffin." ucap Zay di angguki Vero.
" Kita ikut." sahut Adam, Izam dan Gibran.
Zay mengangguk lalu berlari keluar menyusul Daffin yang sudah melesatkan mobilnya pergi.
Daffin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak perduli banyaknya pengendara yang mengumpatinya karena terlalu laju dalam berkendara.
( Tidak untuk di contoh )
Akhirnya kini ia sampai di tempat lokasi jatuhnya mobil Grace. Ia keluar dari mobil dan memaksa untuk turun ke jurang.
" LU GILA BANG?" bentak Zay yang akhirnya berhasil menyusul Daffin dan berhasil mencegah Daffin yang akan turun ke jurang.
" Gue mau cari Grace, semua orang memang gak becus cari Grace." ucap Daffin menepis kasar tangan Zay dari pundaknya.
" Kalau lu nekat, lu sendiri yang akan mati konyol. Kalau lu yakin Grace masih hidup, bukan dengan cara begini lu nyarinya. Gimana kalau justru lu yang akan mati nanti." ucap Zay dengan kesal.
" Terus gue harus gimana? KATAKAN GUE HARUS GIMANA?" bentak Daffin dengan tatapan tajam.
" Lu tau gak rasa bahagianya gue saat Grace nyuruh gue datang kerumahnya malam itu untuk melamar dia? Gue bahkan langsung menghubungi kedua orang tua gue yang sedang di luar kota untuk pulang karena mau gue ajak melamar Grace. Tapi kenyataanya dia justru ninggalin gue sebelum keluarga gue dateng kerumah lo buat ngelamar dia" tutur Daffin menundukkan kepalanya.
Zay dan Vero saling pandang, begitupun Izzam, Adam dan Gibran. Mereka tidak tau jika sebelum kecelakaannya, Grace meminta Daffin melamarnya.
" Lu harus sabar bang, gue yakin lu bisa laluin ini semua. Untuk sekarang biarkan anak buah Grandpa dan papa yang melanjutkan pencarian ini. Mereka adalah orang orang terlatih. " ucap Zay memberi pengertian pada Daffin.
" Bukan hanya lu yang kehilangan Grace, tapi kita semua bang. Jadi gue mohon jangan bertindak gegabah." sahut Vero.
" Gue minta maaf, pikiran gue hanya gimana cara supaya Grace bisa di temukan." ucap Daffin.
" Gue ngerti bang, sebaiknya sekarang kita kembali kerumah karena sebentar lagi gelap." ucap Zay di angguki Daffin.
" Zam, bawa mobil bang Daffin, biar bang Daffin bareng sama mobil gue." ucap Zay diangguki izzam.
Mereka akhirnya berhasil membujuk Daffin pulang kerumah. Karena hari semakin gelap mereka segera memutuskan untuk meninggalkan lokasi.
***
Disebuah rumah yang terletak cukup jauh dari pemukiman warga, seorang gadis dengan tubuh penuh luka sedang terbaring lemah, bahkan gadis itu masih setia menutup matanya .
Pemilik rumah yang tak lain adalah sepasang suami istri yang usianya hampir 70 tahun itu tengah merawat gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Di usia mereka yang sudah menjadi kakek dan nenek itu belum juga di karuniai momongan.
Tak heran jika mereka merawat seorang gadis yang sedang terluka ini dengan penuh kasih.
" Sampai kapan gadis ini tidak sadarkan diri." ucap wanita itu yang bernama Imah.
Ia masih setia berada disisi gadis itu sambil membersihkan tangan dan wajahnya.
" Bapak juga gak tau buk, bapak berharap dia segera sadar." jawab suaminya yang bernama Rohim.
" Sebaiknya bapak ke hutan cari daun daun buat ramuan. Biar ibu menjaga gadis ini." ucap Bu imah.
" Baiklah kalau begitu, bapak tinggal dulu." jawab Pak Rohim.
Bu imah mengangguk lalu mengambilkan keranjang untuk suaminya.
" Hati hati pak, segera pulang jika sudah selesei."
" iya buk, kalau begitu bapak pergi dulu. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Pak Rohim pun akhirnya pergi ke hutan untuk mencari daun daun yang bisa di buat ramuan.
.
.
.
.
.
Ada yang tau gadis itu siapa?😁😁