
Hari ini Kiran sudah boleh keluar dari rumah sakit.
Ia akan di bawa pulang ke Indonesia agar memudahkan kedua orang tuanya untuk merawatnya.
Karena tidak mungkin Delon meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.
Begitupun dengan Zay, ia justru senang jika Kiran di bawa pulang ke Indonesia, dengan begitu ia bisa tetap kuliah dan merawat Kiran.
" Kamu sudah siap sayang?" ucap Sita setelah membereskan barang barang Kiran.
" Udah ma." jawab Kiran, matanya terus menatap kearah pintu menunggu seseorang yang akhir akhir ini menemaninya.
" Kamu cari Zay?" tanya Sita sambil mengusap kepala Kiran.
" Ehh.. enggak kok ma, ayo pulang." jawab kiran.
Baru saja Delon akan mendorong kursi roda Kiran, Zay datang dengan napas yang sedikit ngos ngosan.
" Maaf Zay terlambat." ucap Zay yang baru masuk kedalam ruangan Kiran.
" Gapapa, Kita juga baru mau keluar." jawab Delon.
Zay berjalan menuju Kiran dan menggantikan delon untuk mendorong kursi roda Kiran.
Sita dan Delon keluar lebih dulu sambil membawa barang barang Kiran.
" Udah siap?" tanya Zay dengan Lembut.
" I-iya." jawab Kiran gugup, meskipun bukan pertama kali Zay berkata selembut itu namun Kiran tetap saja merasa gugup karena bagaimanapun Kiran masih baru mengenal Zay.
" Oke kita pulang sekarang." ucap Zay diangguki kiran.
" Kamu semobil sama aku ya." ucap Zay sambil terus mendorong kursi roda Kiran menuju mobil.
" iya." jawab Kiran.
Aska membuka pintu mobil belakang, setelah itu Zay menggendong Kiran dan meletakkan tubuh kiran di kursi belakang penumpang.
Mobil melaju menuju apartemen kiran. Sepanjang perjalanan Kiran hanya diam dan menatap luar jendela.
Masih canggung rasanya bersama seseorang yang baru saja ia kenal meskipun orang itu mengaku kekasihnya. Namun tidak di pungkiri jika jantungnya berdegup kencang saat berada disamping Zay.
Mobil yang di kendarai sudah sampai di apartemen kiran. Zay turun lalu menggendong Kiran keluar dari mobil.
" Om tolong bawa kursi roda Kiran ke dalam ya, aku mau gendong dia aja." ucap Zay membuat mata Kiran membelalak.
" Gak usah, turunkan aku aja, kamu akan capek nanti." sahut Kiran. Apa jadinya jika ia di gendong oleh Zay?.
" Tidak akan." jawab Zay lalu ia berjalan menuju lift sambil terus menggendong tubuh Kiran.
Kiran hanya pasrah, merengekpun Zay tidak akan menurunkannya.
Kiran menenggelamkan wajahnya di dada Zay ketika ada beberapa orang di dalam lift yang melihatnya di gendong oleh Zay.
Meskipun bagi mereka sudah biasa namun tidak untuk Kiran. Ia paling tidak suka jadi pusat perhatian apalagi dengan posisi seperti ini.
Zay tersenyum senang saat melihat wajah kiran yang memerah, ia tau jika kekasihnya ini sedang menahan malu.
Tak lama pintu lift terbuka dan Zay terus menggedong koran sampai di pintu apartemennya.
" Om tolong bukain pintunya." ucap Zay lalu Aska membuka pintu apartemen kiran.
" Kamu menggendongnya Zay?" sahut Sita yang melihat Kiran berada di gendongan Zay.
" Iya tante." jawab Zay lalu meletakkan tubuh kiran dengan hati hati di sofa ruang tamu.
" Kiran udah minta diturunin tapi Zay tetep gendong Kiran ma." jawab Kiran dengan muka cemberutnya.
" Gapapa sayang, mungkin Zay kangen sama kamu." ucap Sita menggoda Kiran.
" Mama apaan sih?"
" Zay izin ke toilet sebentar tante." ucap Zay yang dari tadi menahan untuk buang air kecil.
" Silahkan, ada di sebelah sana kamar mandinya." ucap Sita sambil menunjuk kamar mandi yang berada di sebelah dapur.
Zay mengangguk, ia meletakkan ponselnya di atas meja lalu meninggalkannya ke kamar mandi.
Saat Zay berada di kamar mandi, ponsel Zay menyala menandakan ada sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
Tanpa sengaja Kiran melihat wallpaper foto dirinya dan Zay saat berada di Cafe yang biasa mereka kunjungi.
Kepala Kiran berdenyut nyeri, potongan potongan masa lalu kembali melintas di kepalanya.
Kiran mengerang kesakitan saat mencoba mengingat siapa laki laki itu sebenarnya.
" Sayang kamu kenapa?." ucap Sita dengan panik.
" Kepala Kiran sakit ma." jawab Kiran dengan terus memegangi kepalanya.
" Apa kita kembali kerumah sakit?" sahut Delon namun Kiran menggeleng.
" Kiran... sayang kamu kenapa?" sahut Zay yang baru selesei dari kamar mandi.
" Kepalanya sakit lagi Zay, tante rasa dia sedang mencoba mengingat ingat sesuatu lagi." jawab Sita.
Zay duduk di samping Kiran, ia menarik Kiran kedalam pelukannya.
" Dengerin aku, jangan di paksa kalau kamu memang beneran nggak ingat. Pelan pelan saja oke. Aku gak mau kamu kesakitan kayak gini lagi." ucap Zay mencoba menenangkan Kiran.
" Kenapa susah banget? Aku ingin secepatnya ingat semua, aku ingin ingat siapa kamu sebenernya, aku gak ingin melupakan apa yang seharusnya tidak boleh aku lupa." ucap Kiran yang kini sudah menangis.
Ia tidak ingin melupakan siapapun kecuali dia sendiri yang ingin melupakannya.
Tapi kenapa harus Zay, kenapa sedikitpun ia tidak mengenal Zay? Laki laki yang mengaku dirinya adalah kekasihnya.
Kalau memang benar kekasih, kenapa harus kekasihnya yang dia lupakan? Takdir memang sekejam itu.
" Heii dengerin aku, semuanya udah takdir Allah. Semuanya akan baik baik saja selama aku ada disamping kamu. Kamu akan cepet sembuh dan akan mendapatkan kembali ingatan kamu. Jadi kamu harus bersabar. Aku akan pelan pelan membantu kamu mengembalikan ingatan kamu." ucap Zay semakin mengeratkan pelukannya.
" Maafkan aku yang gak bisa ingat apapun, Kamu pasti sekarang kecewa sama aku." ucap Kiran terisak.
Kiran melepaskan pelukannya lalu Zay mengusap air mata kiran.
" Sekarang kamu istirahat, besok kita pulang ke indonesia." ucap Zay.
" Iya sayang, sebaiknya kamu istirahat, besok kita akan kembali ke indonesia." sahut Sita.
Kiran mengangguk, dengan sigap Zay menggendong tubuh kiran masuk ke dalam kamarnya.
" Kamu istirahat ya, kalau butuh apa apa panggil aku, mama atau papa kamu. Kita semua ada di luar." ucap Zay diangguki kiran.
" Makasih."
" Sama sama." jawab Zay, ia mengecup kening Kiran setelah itu keluar kamar dan tak lupa mematikan lampu tidurnya.
Setelah membawa Kiran ke kamarnya, Zay pamit pada kedua orang tua kiran untuk kembali ke kamar Aska untuk menyiapkan barang barangnya. Karena besok pagi mereka akan melakukan penerbangan pagi hari.
****
Keluarga besar Wijaya sudah kembali ke indonesia setelah seminggu lebih mereka di London.
Luna dan Reyhan kembali kerumah dengan membawa banyak oleh oleh sesuai pesanan putra putri mereka.
" Kabar Kakek nenek gimana ma? sudah membaik?" tanya Grace sambil membuka oleh oleh yang dibawakan mamanya.
" Sudah, mereka rindu sekali sama kalian." jawab Luna.
" Tuh kan, mama sih gak ngebolehin Grace sama yang lain ikut, kita kan juga kangen sama mereka." sahut Grace cemberut.
" Sebulan lagi kita kesana." ucap Reyhan membuat Grace, Devan dan Vero menoleh padanya.
" Beneran pa?" sahut Devan diangguki Reyhan.
" Ini papa sama mama gak ngirimi Vero apapun?" sahut Vero yang melihat banyaknya hadiah hanya untuk Grace, Zay dan devan. Ia menatap Luna dan reyhan dengan wajah di tekuk.
Luna dan Reyha saling pandang kemudian tertawa.
" Mungkin mama papa kamu lupa." jawab Luna yang masih tertawa.
" Tega bener mereka, punya anak satu bukannya di manja, di sayang malah di telantarkan. Ngirim oleh oleh atau apa kek biar anaknya seneng, Awas aja mereka." gerutu Vero dengan Kesal.
Grace yang mendengar itu melempar satu kotak Sepatu pada Vero.
" buat lo." ucap Grace memberikan sepatu yang berukuran sama dengan kaki Vero.
" Bukannya ini buat Zay, kalau dia nanyain gimana?" sahut Vero.
" Nih masih ada." jawab Grace sambil mengangkat kotak sepatu yang sama dengan yang di pegang Vero.
" Tante beliin Vero?" tanya Vero menatap Luna dan Reyhan bergantian.
" Ya iyalah sayang, masa tante cuma beliin anak anak tante aja? kan sekarang ada kamu disini yang tinggal sama tante, jadi kalau tante beliin buat anak anak, tante juga akan beliin buat kamu." jawab Luna.
" Waahh tante pengertian banget, makasih tante. Jangan kayak papa sama mama ya, mereka orang orang pelit." jawab Vero.
Tanpa di ketahui Vero semua ucapannya di dengan oleh Arland dan Febby, Karena sedari tadi Luna sedang Video call dengan Arland.
" Ngomong apa kamu? coba ulangi." teriak Arland membuat Vero membulatkan matanya.
" t-tante video call'an sama papa?" tanya Vero diangguki Luna.
" Kenapa gak bilang? aduh mampus gue." ucap Vero gelagapan.
" Pinjem tante." Vero mengambil Ponsel luna dari tangannya.
" Hai paa,, maa,, apa kabar." sapa Vero dengan nyengir.
" Ulangi ucapan kamu tadi." jawab arland dengan wajah datarnya.
" Emang Vero ngomong apa sih pa? mungkin tadi papa salah denger doang, orang vero gak bilang apa apa kok." elak Vero sambil menggaruk kepalanya.
" Mau papa potong uang saku kamu?"
" Jangan dong pa, kan papa tau sendiri hidup di jakarta itu keras dan semua serba mahal. Jadi jangan di potong ya?" ucap Vero memelas.
" Lagian mama sama papa gak kangen apa sama Vero? Kalian juga jarang banget hubungin Vero."
" papa sama mama lagi proses buat bibit unggul." jawab arland terkekeh, ia yakin setelah ini Vero akan marah padanya.
" ENGGAK..AWAS AJA KALIAN KALAU BIKIN ADEK BUAT VERO." ucap Vero lalu mematikan sambungan telponnya llau mengembalikan ponselnya pada Luna.
" Kamu kenapa ver?" tanya Luna yang juga ikut tertawa.
" Tante bilangin sama mama papa, Vero gak mau punya Adek." ucap Vero dengan muka kesalnya.
" kenapa kan enak lo punya sodara." sahut Grace.
" Nah iya, kan lumayan bisa di ajak main." sahut Devano.
" Pokoknya enggak, salah sendiri dulu waktu gue masih kecil minta di buatin adek mereka gak mau, sekarang udah gede malah mau buat adek. Pokoknya gue gak mau." jawab Vero.
" Lumayan bang bisa diajak main, dari pada abang kesepian hayo." sahut Devan.
" Main apa? main gundu? main barbie atau bola bekel?" sahut Vero kesal.
" Lagian yang pantes punya bayi tuh gue, bukan mereka." sambungnya.
" Cari pacar dulu sana, pacar aja gak punya malah pengen punya anak." cibir Grace.
" Ya entar gue coba cari di pasar senin." jawab Vero asal dan membuat semuanya tertawa.
.
.
.
.
Gak jelas banget yak? 🙏🏻😂