My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
1.



Seorang gadis masih terlelap dalam tidur manisnya.


Tapi jika melihat posisi tidurnya saat ini, kata manis sangat tidak cocok untuknya sekarang.


Bagaimana tidak, posisi kepala berada di ujung kasur bawah sedangkan kaki berada di headboard ranjang.


Bantal, guling sudah berserakan kemana mana, hanya selimut yang masih setia membungkus tubuh mungilnya.


Gadis itu nampaknya enggan untuk membuka mata meski gedoran pintu terdengar keras di telinganya.


tookk..tookk..tokkk..


" KAKAAAAKK... BANGUN GAK LU.." teriak sang adik dari Luar pintu sambil terus menggedor pintu kamarnya.


Nihil tidak ada sautan." isshh menyebalkan, tidur atau mati sih dia." Gerutunya kesal.


" Belum bangun juga dev?" tanya Luna menghampiri putranya.


" Kalau udah bangun mana mungkin dev masih berdiri disini ma." jawabnya sedikit kesal.


" KAKAK AYO DONG BURUAN BANGUN, GUE UDAH LAPER NIH." sambungnya sambil terus menggedor pintu kamarnya.


" Grace bangun atau mama jual Lexa sama Lexis." teriak Luna memberi ancaman pada putrinya.


Yups Lexa dan Lexis dua hewan kesayangan Luna sekarang menjadi hewan kesayangan Grace dan Devano, malah kedua hewan itu dipindahkan kerumah mereka itupun atas dasar permintaan grace yang tiap hari harus merengek pada Luna dan Reyhan.


Sepertinya dugaan Luna benar, dengan sedikit ancaman membuat Grace yang masih terlelap membuka matanya.


" JANGAN MAAA." teriak Grace.


Grace bangun dari tidurnya hendak berlari membuka pintu, namun sayang tubuhnya masih terbalut dengan selimut tebalnya.


Gedebuugg...


" aiisshh b4ngke,, sakit banget pantat gue" Ringis Grace mengusap pantatnya yang terasa nyeri.


" Selimut sialan, pergi lu." Gerutunya sambil menendang asal selimut itu.


Ia berdiri lalu membuka pintu kamarnya dengan sedikit tertatih.


" Grace udah bangun kok ma, jadi jangan jual mereka yaa please." Rengek Grace pada Luna.


" Lu kenapa kak?" tanya Devano melihat raut wajah grace yang meringis.


" Kenapa lagi kalau gak jatuh." Sahut Luna yang memang sudah tau kebiasaan Grace.


" hehe.. mama tau aja dah, biasa gara gara selimut sialan itu." jawab grace cengengesan.


" Astaga kak... tuh kamar atau kapal pecah sih, berantakan banget." ucap Devano saat menengok kamar kakaknya yang sangat berantakan.


Bantal, guling, selimut semua tergelatak di atas lantai.


" Diem Lu." Bisik Graace sambil menatap tajam Devano.


Sedangkan ia menatap Luna dengan cengengesan karena Luna saat ini tengah menatapnya datar.


Yups wanita yang usianya sudah menginjak kepala empat namun masih terlihat awet muda itu sangat menyukai kebersihan semenjak memiliki buah hati.


" Akan grace bereskan setelah ini." ucapnya pada Luna.


" Bereskan semuanya, dan cepat turun.


semua sudah menunggumu sarapan." ucap luna lalu pergi meninggalkan putra putrinya.


" Dasar bocil.. gara gara elu mama sinis sama gue." ucap Grace sambil mendekap kepala devano dan menjitaknya..


Meskipun grace kalah tinggi namun ia masih bisa memberi devano sedikit pelajaran.


" Ampun kak sakit.. itu bukan salah gue dong, salah lu sendiri jadi cewek gak ada rapi rapinya." bela devano.


" Apa lu bilang?" ucap Grace terus menjitak kepla devano.


" Terusin aja bertengkarnya, bila perlu sampai ayam jantan bisa bertelur." sahut Luna yang tiba tiba muncul kembali.


" eehh.. enggak kok ma, kita nggak bertengkar. Iya kan dek.? ucap Luna sambil mencubit perut adeknya.


" i-iya kok ma, kita nggak berantem." ucap Devano merangkul Grace dan sedikit mengeratkannya hingga membut grace sedikit tercekik.


" Grace cepat beberes, sepuluh menit belum selesei mama akan kasih kamu hukuman." Ucap Luna lalu menuruni tangga.


" S-sepuluh menit? iiisshh minggir lu." ucap Grace menyingkirkan tangan Devano lalu berlari masuk kedalam kamar.


Devano tertawa puas, ia kembali masuk kedalam kamar mengambil tas sekolahnya lalu turun menghampiri kedua orang tua dan abangnya.


" Bang pinjem motor dong." ucap Devano pada Zay yang sedang menikmati sarapan paginya.


" Enak aja pinjem, beli sendiri sono." jawab Zay.


" Paa, beliin motor dong." pinta Devano pada Reyhan.


Luna yang mendengar itu menggelengkan kepalanya pelan.


Devano mengikuti arah padang reyhan namun Luna seolah olah tidak mengerti dan meneruskan makannya.


" emang mobil kamu kenapa? Baru dua bulan lalu papa membelikanmu mobil kan?" tanya Reyhan.


" ckk.. abang aja punya mobil juga motor, masa dev gak dibeliin motor juga sih? Dev pengen naik motor pa." jawab Devano dengan cemberut.


" Motor itu gue beli sendiri ya, bukan di beliin papa, enak aja kalau ngomong." Sahut Zay.


" Cihh.. sama aja duit papa." balas dev tak mau kalah.


" Ya karena gue bantu papa di kantor makanya gue dapet upah, terus uangnya gue beliin motor.


Kalau lu pengen motor ya kerja bodoh." sarkas Zay namun tidak di gubris devano.


" Ayolah paa, ya..yaa.." rengek devano.


" Bantu papa di kantor selama 2 minggu setelah itu akan papa belikan." jawab Reyhan membuat Devano membulatkan matanya.


" Aahh papa.. yang bener aja sih, mana ngerti dev soal pekerjaan kantor?" ucapnya dengan kesal.


" Gak usah di beliin pa, nanti malah dipakai buat balapan lagi." Sahut Grace yang baru turun.


" Diem lu kak." ucap devano menatap grace dengan sinis.


" Habiskan makananmu lalu berangkat sekolah." ucap Reyhan pada Devano.


" motornya?" tanya devano.


" Kalau mama kamu oke, nanti akan papa belikan, sekarang habiskan makananmu dan berangkat sekolah." jawab Reyhan diangguki devano.


" Maa... Lope you pull." ucap devano sambil memasang wajah imutnya seketika membuat luna dan yang lain memutar bola matanya malas.


Devano sudah menyeleseikan sarapan paginya, ia berpamitan pada orang tua dan kedua saudara kembarnya untuk pergi kesekolah.


Sedangkan Zay dan Grace masih ada 2 jam lagi untuk pergi ke kampus.


Sesampainya di sekolah Devano memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah.


Disana sudah ada Nathan, Elvano, freya dan Clarissa yang menunggu kedatangannya.


" Bagus banget jam segini baru datang." Cibir freya saat devano turun dari mobil dan menghampiri mereka.


" Masih pagi dah ngomel aja sih yank." Ucap devano sambil merangkul bahu freya.


" yank..yank pala lu peyang." jawab Freya menepis tangan devano dari bahunya.


" Galak bener calon ibu dari anak anak gue." ucap Devano menoel dagu freya.


" Kacang..kacang.. lima ratusan. Dijual gratis karena gak laku." ucap Nathan sedangkan elvano dan Rissa berpura pura menepuk nyamuk.


" Berisik sekali para rakyatku.. Sudah ayo masuk." ucap Devano berjalan merangkul Freya menuju kelas.


" Gue bisa jalan sendiri dev, gak usah di rangkul." ucap Freya menepis tangan Devano.


" Yasudah.. yuk yank kita jalan bareng." ucap devano beralih merangkul Nathan.


" Gue normal b4ngke." balas Nathan sambil menghempas kasar tangan devano.


" Kalian semua sungguh kejam." ucap Devano mencelos lalu berjalan lebih dulu menuju kelas dengan gaya cool nya.


Banyak dari murid murid yang mengagumi ketampanan wajah devano.


Tak sedikit pula para cewek secara terang terangan menyatakan cintanya pada devano.


" Tuh anak makan apa sih tadi pagi?" tanya Rissa geleng geleng kepala melihat tingkah devano pagi ini.


" Makan kemenyan kali." jawab Nathan.


" Lu kira dia dukun apa." sahut Freya.


" iya dukun cabul." sahut elvano kemudian mereka tertawa keras.


" Terusin ghibahin gue, gue potong Lidah kalian." teriak Devano tanpa menoleh kebelakang, seketika mereka langsung terdiam.


.


.


.


Selamat membaca.🤗