My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
36.



" PAK DAFFIN." ucap Grace dengan mata membelalak.


" Grace." sahut Daffin dengan wajah sama terkejutnya.


" B-bapak ngapain disini?" tanya Grace dengan bodohnya.


" Kamu yang ngapain di kamar saya? ini rumah saya sudah jelas saya tinggal disini." jelas Daffin.


Grace merutuki kebodohannya, kenapa bisa bertanya seperti itu?.


Bukankah tante Elsa sudah bilang jika ia disuruh membangunkan putranya?


Itu berarti pak Daffin adalah putra dari tante elsa.


" S-saya disuruh tante elsa buat bangunin putranya." jawab Grace masih gugup.


Ia menunduk malu karena Daffin tidur tidak menggunakan baju.


" Sejak kapan kamu disini?" tanya Daffin menatap dalam wajah Grace yang memerah.


" Sejak tadi, bapak cepat bangun, di tunggu tante elsa di bawah." ucap Grace lalu memutar tubuhnya pergi.


Namun sebelum Grace melangkah, tanganya sudah dicekal oleh Daffin.


Daffin menarik tangan Grace hingga tanpa sengaja Grace jatuh diatas tubuh Daffin.


Mata Grace membelalak lalu memberontak meminta untuk dilepas.


" Pak lepasin, nanti tante elsa salah paham." ucap Grace terus memberontak namun Daffin semakin mengeratkan pelukannya.


" Saya gak mau ngelepasin kamu, sebelum kamu janji dulu sama saya." ucap Daffin dengan seringainya yang tanpa di ketahui Grace.


" Gak mau, saya gak mau janji. Sekarang lepasin saya." jawab Grace yang teeus menerus memberontak.


" Yaudah saya tidak akan lepasin kamu, biar mama kesini dan lihat kelakuan tamunya yang sedang menggoda saya." ucap Daffin dengan liciknya.


Grace berhenti memberontak, ia menatap wajah Daffin dengan malas.


" Janji apa?" ucap Grace dengan kesal.


" Janji kamu jangan jauhin saya, jangan cuekin saya. Saya sayang sama kamu Grace, saya gak bisa lihat kamu begitu cuek sama saya." ucap Daffin semakin mengeratkan pelukannya.


" Pak, bapak akan menikah, bagaimana bisa bapak seperti ini sama saya.? saya gak mau janji, emang saya wanita apaan." tolak grace dan kembali memberontak.


" Saya sudah bilang, saya tidak mencintai wanita itu Grace. Pernikahan ini adalah keterpaksaan."


" Terpaksa atau tidak yang jelas bapak akan menikah kan? jadi tolong lepasin saya, saya mau pulang." ucap Grace dan akhirnya berhasil bangun dari tubuh Daffin.


Grace melangkah pergi menjauhi daffin namun sebelum Grace membuka pintu kamar, Daffin sudah mengunci pintu kamar itu dan memojokkan Grace ke tembok.


" B-bapak mau apa?" ucap Grace dengan gugup.


" Mau kamu." jawab Daffin menatap bibir mungil Grace.


" Bapak jangan macem macem ya, atau saya akan teriak." ancam Grace.


Ia merasa sangat gugup saat ini, dengan posisi dan keadaan seperti ini pasti orang akan salah paham padanya.


" Teriak saja, tidak akan ada yang mendengar karena kamar ini kedap suara." jawab Daffin dengan seringainya.


Grace menelan salivanya susah payah, dia benar benar takut jika Daffin berbuat macam macam.


" Pak tolong, biarakan saya pergi." ucap Grace memelas.


" Tolong kamu dengerin saya dulu." Ucap Daffin menatap dalam manik mata Grace.


Seakan terhipnotis akan mata indah Daffin ,Grace menganggukkan kepalanya.


Daffin menarik tubuh grace kedalam pelukannya.


mengeratkan pelukan itu seakan ia tidak ingin berpisah dengan Grace.


Sama halnya dengan Grace, entah kenapa dia mau membalas pelukan Daffin.


Ia menghirup aroma tubuh Daffin yang menenangkan.


Tidak bisa di pungkiri jika dalam hati Grace ia merasa senang bisa memeluk tubuh lelaki yang dicintainya.


Ini salah! tapi Biarkan Grace menikmati pelukan lelaki yang dicintainya ini sebelum Daffin menikah dengan wanita lain.


" Selama kamu hadir dalam hidup saya, saya lebih semangat menjalani hari hari saya.


Saya bisa melupakan sejenak beban hidup saya.


Bisa sedikit lebih mengerti makna hidup saya.


Saya sayang sama kamu Grace, saya kacau saat kamu menjauhi saya." ucap Daffin semakin mengeratkan pelukannya.


" Pak... kendorin dikit saya susah napas." gumam Grace karena Daffin terlalu mengeratkan pelukannya.


Haaahh..


" Akhirnya bisa napas juga." gumam Grace setelah Daffin mengendorkan pelukannya.


Grace mendongakkan kepalanya, ia menatap dalam manik mata Daffin yang menatapnya dengan sendu.


" Saya juga sayang sama bapak, bahkan rasa sayang saya sama bapak lebih besar dari rasa sayang bapak sama saya.


Menjauhi bapak, membenci bapak itu bukan keinginan saya.


Tapi terpaksa saya lakukan karena saya tidak ingin jatuh terlalu dalam lagi.


Semakin saya menjauhi bapak, semakin saya memendam rindu sama bapak.


Dan semakin saya benci bapak, semakin dalam rasa sayang saya sama bapak.


Bapak tidak akan mengerti bagaimana sakit hati saya mendengar bapak akan menikah.


Sakit pak, sakit sekali.


Cinta pertama saya sudah berakhir tanpa saya mulai." Ucap Grace menetestkan air matanya.


Ia mengeluarkan semua uneg uneg yang ada dalam pikirannya.


Daffin menghapus air mata Grace, ia kembali mengeratkan pelukan itu.


Sungguh ia tidak menyangka jika Gadis ini menyimpan perasaan yang dalam untuknya.


Untuk pertama kali Daffin di cintai oleh wanita sedalam ini.


" Bantu aku membatalkan pernikahan ini." ucap Daffin membuat Grace melepas pelukannya.


" Bapak Gila? saya tidak mau di cap pelakor ya pak.


Secinta cintanya saya sama bapak saya tidak akan merebut laki orang juga." ucap Grace dengan kesal.


" Dengerin saya dulu, kamu harus tau kenapa saya mau membatalkannya." ucap Daffin memegang kedua bahu grace.


Daffin menceritakan semua kejadian yang dialaminya.


Mulai dari kenapa dia bertunangan dengan wanita itu sampai kenapa hari pernikahannya di percepat.


Grace memutar ingatannya, berarti laki laki yang di maksud tante elsa tempo hari adalah pak Daffin.


Jadi maksud tante elsa, pernikahan ini yang tidak beliau restui.


" Kamu bisa bantu aku?" ucap Daffin mengubah panggilan saya menjadi aku.


" Bantu kayak gimana?." lirih Grace menatap lekat wajah Daffin.


Dalam hatinya masih ragu dengan pemuda dihadapannya ini.


Disatu sisi dia juga merasa begitu jahat jika membatalkan pernikahan orang lain.


" Nanti aku kasih tau caranya, yang penting kamu jangan lagi menghindar dariku." ucap Daffin.


Daffin kembali memeluk tubuh Grace, ia senang akhirnya masalahmya dengan Grace sedikit teratasi.


Tinggal masalahnya dengan Angel, ia berharap semoga masalahnya dengan angel segera selesei.


Ia sungguh tidak ingin berurusan dengan wanita itu.


" Kamu mandi dulu, aku tunggu di bawah sama tante." ucap Grace diangguki Daffin.


" Iya. tapi kamu siapin dulu pakaian aku." ucap Daffin membuat Grace membulatkan matanya.


" Gak ada, enak aja. kamu pikir aku istri kamu apa?" tolak Grace.


" Kan kamu calon istri aku?" goda Daffin menaik turunkan alisnya.


Wajah Grace memerah, ia memalingkan mukanya dan itu semakin membuat Daffin terus menggodanya.


" Udah sana mandi, aku turun kebawah dulu." ucap Grace.


Ia ingin membuka pintu namun tangannya di halangi oleh Daffin.


" Apa la--"


Ucapan Grace terpotong, matanya membelalak saat tanpa permisi Daffin mencium bibir mungilnya.


Daffin menarik tengkuk Grace dan memperdalam ciumnnya.


Mata grace terpejam, ia menikmati setiap sentuhan bibir yang Daffin berikan.


Tidak lama, hanya sebentar lalu ciuman itu terlepas.


" Manis." ucap Daffin mengusap bibir Grace dengan ibu jarinya.


" Itu ciuman pertama aku, kenapa gak izin dulu?" ucap Grace memberenggut.


" itu juga pertama buat aku." sahut Daffin tersenyum manis.


" Kamu iihh... cepet mandi, aku tunggu dibawah." ucap Grace membuka pintu lalu berlari menuruni tangga.


Wajahnya sudah memerah bagai kepiting rebus.


Daffin terkekeh melihat Grace yang menurutnya sangat menggemaskan.


Daffin merasa jika hari ini jauh lebih baik dari hari sebelumnya.


Hadirnya Grace di dalam hidupnya mampu membuat harinya lebih berwarna.


Grace mengahampiri Elsa yang duduk di ruang tengah, sedati tadi ia menunggu Grave namun gadis itu tidak kunjung turun namun elsa membiarkannya.


" Maaf lama tante." ucap Grace sungkan.


" Kenapa wajah kamu merah, putra tante gak ngapa ngapain kamu kan?" sahut Elsa dengan panik.


" Ah.. t-tidak kok tan, tadi sedikit susah di bangunin mas Daffinnya." jawab Grace gugup.


" Mas Daffin? kalian sudah saling kenal?" tanya Elsa yang sedikit terkejut mendengar jawaban Grace.


" A-anu tante--"


" Dia mahasiswi Daffin ma." potong Daffin yang baru turun dari tangga.


" Kok cepet banget mandinya." sahut Grace.


" Aku gak mandi, cuma cuci muka sama gosok gigi doang, takut kamu pergi lagi ninggalin aku." jawab Daffin mendudukkan tubuhnya disamping Grace.


" Kalian pacaran?"


" Enggak.."


" Iya."


Grace dan Daffin saling menoleh karena jawaban mereka berbeda, sedangkan Elsa mengernyitkan dahinya namun diam diam tersenyum jahil.


" Enggak kok tan, kami tidak pacaran. sungguh." sahut Grace cepat.


Ia tidak ingin Elsa salah paham.


" Kok enggak? yang dikamar tadi apa?" ucap Daffin tidak terima.


" Apa?" grace memlototi Daffin.


" Yang tadi waktu kita--.."


" Mass." potong Grace sambil melotot, ia tidak ingin Daffin menceritakan kejadian di kamar tadi.


" Kalian ini ada apa? mama sungguh tidak mengerti dengan sikap kalian berdua. Jadi kalian ini pacaran atau enggak?" sahut Elsa.


" Enggak."


" Iya."


" Selagi kamu masih tunangan orang, aku gak mau pacaran sama kamu. enak aja. emang kamu pikir aku wanita apaan." sahut Grace cepat.


" Awas aja kalau aku udah batalin pernikahan aku, mama sama papa akan langsung datang kerumah kamu buat ngelamar kamu." ucap Daffin dengan penuh ketegasan.


" Ngaco mulu."


" Kok ngaco? aku serius. iya kan ma?" ucap Daffin meminta persetujuan mamanya.


" Kalau itu buat kamu bahagia, mama restui sayang." jawab Elsa.


Dalam hati elsa ia teramat senang jika Grace lah yang menjadi menantunya.


Karena bagaimanapun sifat Angel dan Grace berbeda jauh meski elsa baru mengenal Grace.


Grace menatap sinis Daffin, laki laki di sampingnya ini sungguh sangat menyebalkan.


" ini kamu incipi cheese tart buatan Grace." ucap Elsa memberikan sepotong kue itu pada Daffin.


" Serius Grace yang buat ma? masa anak manja kayak gini bisa buat kue sih?" jawab Daffin seakan meragukan rasa kue itu.


" Kamu kenapa nyebelin banget sih." sahut Grace mencubit pinggang Daffin..


" Sakit sayang." ucap Daffin membuat wajah Grace kembali memerah.


" Kalian lanjutin aja, mama mau ke belakang dulu." sahut Elsa berdiri dan meninggalkan keduanya.


" Kita belum pacaran, gak usah panggil aku kek gitu." ucap Grace semakin mengeraskan cubitannya.


" Iya..iyaa.. ampun.."


" Makanya gak usah nyebelin."


" maaf." ucap Daffin menarik tubuh grace agar semakin dekat dengannya.


.


.


.


.


Aku gak mau bikin konflik Grace dan Daffin ini memanjang, karena aku sendiri anaknya baperan.😁


Gak bisa banget kalau ada konflik hati kek gini.


Belum lagi konflik hati masalah Zay, kiran dan oliv nanti.


Nih yang minta aku up lagi.


Maaf kalau masih banyak Typo, aku udah berusaha meneliti dulu sebelum aku up.


Namanya Jari kadang kesrimpet, jadi harap makhlum ya.