My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
75.



Kabar meninggalnya Olivia sudah terdengar di telinga Grace dan teman temannya.


Kabar mengejutkan itu ia dapatkan dari Zay saat ia masih di kantor Daffin. Grace yang saat itu sedang membantu Daffin mengerjakan pekerjaannya sontak terkejut ketika Zay menghubunginya dan memberi kabar jika Olivia meninggal di rumah sakit.


Grace menghubungi teman temannya yang lain dan akan menuju rumah duka saat itu juga.


Setelah membantu Daffin membereskan berkas berkasnya, Grace segera mengajak Daffin untuk pergi ke rumah Olivia.


Kini jenazah Olivia sudah di bawa pulang sebelum di antarkan ke peristirahatan terakhir.


Banyak orang yang berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa.


Mobil yang di tumpangi Grace dan Daffin juga sudah tiba di kediaman Olivia.


Grace turun dan langsung berlari masuk kedalam rumah, ia juga bisa melihat teman temannya yang sudah datang dan beduduk di belakang Zay dan Kiran.


" Assalamualaikum." salam Grace lalu memeluk tante Ranti yang sedang menangis di samping jenazah Olivia.


" Grace." Ranti memeluk erat tubuh Grace.


Dulu memang Grace dan Olivia sangat dekat sebelum olivia dan keluarganya pergi begitu aja.


Bahkan ia sering bermain dan menginap ke rumah olivia.


" Tante yang sabar ya, maafkan Grace tidak pernah mengunjungi tante dan Olivia." Grace merasa bersalah pada Olivia dan keluarganya. Bagaimanpun mereka dulu adalah sahabat meskipun tidak sedekat dengan Kiran.


" Gapapa sayang, maafkan Olivia jika dia punya salah sama kamu." ucap Ranti.


Grace mengangguk, ia bahkan sudah memafkan kesalahan Olivia dari dulu. Namun untuk melupakannya Grace tidak akan bisa. Bagaimanapun kepergian olivia dulu membuat Zay sangat terpuruk dan berimbas pada perubahan sikap Zay pada keluarganya.


" Lu udah pergi ninggalin kita untuk yang kedua kali, bahkan kepergian lu kali ini lebih jauh dan nggak akan pernah kembali. Tapi gue seneng Lu udah gak akan ngerasa sakit lagi, gue berharap lu selalu tenang di kehidupan baru lu. Jangan khawatir, kita akan sering sering ngunjungin orang tua lu biar mereka gak kesepian. Maafin gue Liv karena saat kita ketemu kemarin sikap gue sama lu berubah. Gak seharusnya gue bersikap seperti itu." Ucap Grace meneteskan air matanya.


Kembalinya Olivia memang tidak ia harapkan sebelumnya, namun kepergian Olivia kali ini lebih tidak ia harapkan. Bagaimanapun kedua orang tua Oliv pasti akan sangat terpukul, mengingat Olivia adala putri mereka satu satunya.


Grace menggandeng tangan Daffin untuk duduk di samping Zay. Ia juga mengusap punggung Zay untuk memberinya semangat.


Bukan maksud lain, ia sangat paham jika Zay juga kehilangan sosok Olivia.


**


Semua orang kini berada di pemakaman, mengantarkan jenazah Olivia ke peristirahatan terakhirnya.


" Selamat jalan Olivia, aku gak akan pernah lupa jika aku pernah memiliki sahabat seperti kamu." ucap Kiran pada baru nisan yang bertuliskan OLIVIA QIANARA.


Kiran masih belum percaya jika Olivia akan pergi secepat ini. Padahal baru beberapa hari lalu dirinya dan Zay menemani Olivia melakukan kemoterapinya.


" Terimaksih untuk semuanya, terima kasih untuk cinta yang kamu berika sama aku dulu hingga saat ini. Inilah akhir cerita kita yang belum usai. Kamu membawa cintamu hingga ajal menjemputmu. Terimakasih. Semoga kamu tenang disana." ucap Zay mencium batu Nisan itu.


Satu persatu dari mereka mengucapkan salam perpisahan terakhir.


Karena hari sudah semakin sore, mereka semua memilih untuk kembali ke rumah duka sebelum kembali pulang ke rumah masing masing.


***


Kiran merasakan kepalanya sedikit berdenyut, wajar saja karena saat ia merengek untuk ke rumah sakit ia masih dalam keadaan kurang sehat. Di tambah lagi ia belum makan dan minum obat apapun.


" Sayang kamu gapapa?" tanya Zay saat melihat wajah Kiran yang semakin pucat. Ia teringat jika Kiran belum makan apapun dan meminum obatnya. Zay merutuki kebodohannya karena melalaikan kondisi kiran.


" Aku gapapa." jawab Kiran yang masih tersenyum manis.


" Wajah lu pucet Ran, sebaiknya lu pulang lebih dulu." sahut Grace yang juga khawatir dengan kondisi wajah kiran yang terlihat sangat pucat.


" Aku gapapa kok." jawab Kiran meyakinkan Grace dan Zay.


" Lebih baik kamu ajak Kiran pulang, tante gak ingin dia kenapa napa." sahut Ranti, ia tidak ingin melihat kondisi kiran semakin drop. Bagaimanapun ia sudah menganggap Kiran seperti anaknya sendiri.


" Kalau begitu kami permisi pulang dulu tante, kami janji akan sering sering mengunjungi tante." ucap Zay diangguki Tante Ranti.


***


Zay menggendong tubuh Kiran kedalam rumah, wajahnya semakin pucat membuat Zay bertambah khawatir.


" Kenapa dengan Kiran Zay?" sahut Delon saat melihat Kiran di gendong oleh Zay.


" Maafin Zay om, Zay lalai menjaga Kiran. Zay lupa kalau kondisi Kiran masih sakit. Dari tadi ia belum makan dan minum obat." ucap Zay menundukkan kepalanya.


" Yasudah antar dia ke kamar, nanti tante akan mengantarkan makanan untuk kiran." ucap Delon.


Zay mengangguk lalu membawa Kiran menuju kamarnya.


" Ada apa pa?" sahut Sita yang baru dari dapur.


" Tubuh Kiran Drop, dia belum makan dan minum obat. Sebaiknya mama antarkan makanan untuk Kiran dan juga Zay. Papa yakin mereka berdua belum makan." ucap Delon.


" Baiklah kalau begitu, mama siapkan makanannya dulu." ucap Sita diangguki Delon.


*


Zay meletakkan tubuh Kiran dia atas Ranjang, ia melepas sandal dan jaket yang di pakai oleh kiran setelah itu meletakannya di sofa kamar.


" Maafin aku karena tidak memperhatikan kamu dari tadi." ucap Zay menggenggam tangan Kiran yang terasa panas.


" Gapapa, aku baik baik aja kok." jawab Kiran tersenyum manis.


" Habis ini kamu makan, minum obat setelah itu kamu istirahat biar badan kamu enakan."


" Iya.. bawel banget sih." ucap Kiran tersenyum tipis.


Tak lama sita membawakan dua piring makanan untuk Zay dan Kiran. Ia meletakkan nampan itu di atas meja dan tak lupa menyiapkan obat untuk Kiran.


" Kamu makan dulu ya sayang, setelah itu minum obat." ucap Sita sambil mengusap lembut kepala putrinya.


" Iya ma."


" Tolong ya nak Zay."


" Siap tante."


Sita berjalan keluar meninggalkan Zay dan Kiran.


Zay mengambil piring itu dan mulai menyuapi Kiran.


" Aku makan sendiri aja, kamu juga makanlah." ucap Kiran yang ingin merebut piring dari tangan Zay namun Zay menjauhkannya.


" Aku gampang, biar aku nyuapin kamu dulu." jawab Zay sambil memasukkan makanan kedalam mulut Kiran.


*


Karena hari sudah malam, ia pamit pulang setelah menunggu kekasihnya itu terlelap.


.


.


.


.


Sumpah ya.. baca komen kalian itu mood banget tau gak.


Inget yaa itu hanya berlaku di dunia pernovelan, kalau di dunia nyata jangan sampe seneng lihat orang meninggal 😂.


I love you pull lah buat kalian semua