My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
46.



Grace menatap gedung yang menjulang tinggi, cukup besar namun tidak sebesar milik papanya.


Ini adalah kali pertama Grace menginjakkan kakinya di kantor Davin.


Dengan jantung yang berdegup kencang, Grace melangkahkan kakinya masuk menuju lobi.


" Permisi, nama saya Graciella, saya mau bertemu dengan pak Daffin." ucap Graca pada receptionis.


" Apa anda sudah buat janji?" tanya resepsionis itu sedikit sinis.


" Sudah." jawab Grace.


Resepsionis itu melihat penampilan Grace dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Terlihat jelas keraguan di wajah resepsionis itu saat melihat penampilan Grace.


Ia takut jika Grace hanya mengaku ngaku saja.


Saat ini Grace memakai celana jeans biru, kaos putih, jaket jeans dan sepatu vans.


Rambutnya ia ikat asal dan tak lupa kaca mata hitam yang bertengger manis di hidungnya.


" Tunggu sebentar, biar saya hubungkan pada assisten pak Daffin." ucap Resepsionis itu.


Grace mengangguk lalu memilih duduk di kursi tunggu.


Sudah tigaluluh menit grace menunggu namun baik Daffin maupun assitennya belum kunjung datang.


" Mbak, tadi pak Daffin bilang jika assistennya akan menjemput saya disini, tapi kenapa hampir tigapuluh menit tidak kunjung datang?" ucap Grace pada Resepsionis.


Grace curiga jangan jangan resepsionis ini tidak menghubungi assisten Daffin.


" Pak Daafin dan assistennya sedang meeting nona.


Jadi mohon tunggu sebentar." jawab Resepsionis itu dengan enggan.


" Katakan dilantai berapa ruangan pak Daffin, biar saya kesana saja." ucap Grace dengan kesal.


" Maaf nona, anda tidak boleh sembarang masuk." ucap Resepsionis itu.


" Saya kekasihnya, dia tidak akan keberatan kalau saya menunggu di ruangannya." jawab Grace mengaku ngaku menjadi kekasih Daffin.


" Maaf saya tidak akan tertipu.. nona adalah orang kesekian yang mengaku ngaku menjadi kekasih pak Daffin. Lagian pak Daffin sudah memiliki tunangan. Jadi saya rasa sebaiknya anda pergi dari sini sebelum saya panggilkan scurity." ucap Resepsionis dengan nada angkuh.


Grace menatap name tag resepsionis itu lalu tersenyum miring.


Andai saja ponselnya tidak habis batrei sudah dari tadi ia menelpon Daffin.


" Gue tandai muka lo." geram Grace lalu melangkah keluar dengan perasaan kesal.


Baru saja grace melangkahkan kakinya, seseorang memanggil namanya.


" Graciella." panggil orang itu adalah Daffin yang diikuti kenzo di belakangnya.


" Mas.." sahut Grace lalu berjalan mendekati Daffin dan bergelayut manja di lengan Daffin.


Daffin mengerutkan dahinya namun ia membiarkannya.


Justru ia senang jika Grace manja dengannya.


Resepsionis itu dibuat tak berkutik saat melihat Grcae yang bergelayutan di lengan Daffin.


Karena itu artinya ucapan Grace adalah benar jika grace adalah kekasih Daffin.


Tapi bagaimana bisa? bukankah Pak Daffin sudah memiliki tunangan dan mereka akan menikah?


Dan semua karyawan tau jika tunangan pak Daffin tidak bisa berjalan dan yang jelas bukan Grace orangnya.


" Kenapa?" tanya Daffin saat melihat wajah Grace yang kesal.


" Aku nunggu kamu disini setengah jam tapi assisten kamu tidak menjemputku." jawab Grace dengan cemberut, ia melirik resepsionis itu yang sepertinya salah tingkah.


" Maaf pak, saya tidak tau kalau nona Grace sudah datang." sahut Ken, ia merasa tidak di beri tahu jika ada seseorang yang ingin bertemu Daffin.


Daffin berjalan menuju meja resepsionis, ia menatap datar wanita yang sedang menunduk takut itu.


" Kenapa kau tidak bilang jika ada seseorang yang ingin menemuiku?" ucap Daffin dengan datar.


" Maafkan saya pak, nona ini mengaku ngaku menjadi kekasih bapak.


Saya hanya takut jika nona ini hanya mangaku ngaku saja." jawab Resepsionis itu dengan takut.


tubuhnya sedikit gemetar dan keringan membasahi dahinya.


Dalam hati Grace merutuki kebodohannya, kenapa tadi dia harus mengaku ngaku jadi kekasih Daffin?


Melihat tatapan daffin yang menatapnya seakan ia sedang meledek ucapannya.


" Urus dia ken, saya dan grace akan kembali keruangan." ucap Daffin lalu menarik tangan Grace masuk kedalam Lift.


" Apa kamu sudah bosan bekerja disini?" ucap Ken pada Resepsionis itu.


" Maafkan saya pak, saya berjanji akan lebih baik dalam bekerja." jawab wanita itu menunduk takut.


**


" Apa yang ingin kamu tunjukkan?" ucap Daffin sambil memainkan rambut Grace.


Kini mereka duduk di sofa dengan Daffin merangkul pundak Grace dan tangan satunya memainkan rambut Grace.


" Nih." Grace memberikan ponselnya pad Daffin.


" Apa?" tanya Daffin tidak mengerti.


" Kamu dengerin aja sendiri setelah itu kamu lihat Video yang ada di galeri aku." jawab Grace.


Daffin berhenti memainkan rambut Grace, ia menerima ponsel Grace lalu memutar rekaman itu.


Daffin menatap nyalang kedepan saat mendengar semua isi percakapan Angel dengan Lisa dan melihat video yang di rekam oleh grace saat angel berjalan keluar Caffe.


Grace yang melihat perubahan raut wajah Daffin pun mencoba menenangkannya.


" Ini bisa kamu jadikan bukti buat batalin pernikahan kamu." ucap Grace sambil mengusap punggung Daffin.


" Ini bukti yang cukup kuat, kamu kirim ke aku biar aku kasih tau ke papa sama mama."


" Nanti aku kirim." jawab Grace.


Daffin tersenyum senang, akhirnya masalah ini bisa teratasi.


Tinggal membongkar kebusukan Angel di hadapan semua orang.


" Makasih ya sayang, kamu sangat membatu aku dalam hal ini." ucap Daffin mencium kening Grace.


" Sayang.. sayang." protes Grace namun dia senang jika Daffin memanggilnya seperti itu.


" Emang kenapa sih? kan emang aku sayang sama kamu." ucap Daffin kembali memainkan rambut Grace.


Entah kenapa wangi dan lembutnya rambut Grace membuatnya sepeeti ingin memainknnya terus.


" Aku kan udah bilang, selama kamu masih status tunangan orang aku gak mau di panggil seperti itu." jawab Grace.


" Tapi tadi kamu udah ngaku jadi kekasih aku " goda Daffin membuat wajah Grace memerah.


" Itu karena aku terpaksa, habisnya aku nunggu kamu lama tapi kamu atau assisten kamu gak kunjung datang." jawab Grace, karena memang itu alasan dia mengaku ngaku jadi kekasih Daffin.


" Masa."


" Gak percaya yaudah." jawab Grace melipatkan tangannya didepan dada.


" Iya percaya." ucap Daffin mencubit gemas pipi grace.


" Terus rencana kamu buat angel gimana?" tanya Grace, ia ingin tau pelajaran yang seperti apa yang akan di berikan Daffin pada angel.


" Aku akan membongkar kebohongannya di hadapan semua orang."


" Caranya?" tanya Grace lalu Daffin membisikkan rencanaya lada Grace.


" Kamu yakin?"tanya grace dengan ragu.


" Iya sayang."


" Tapi nanti kalau kebablasan gimana? awas aja kalau sampe kejadian, aku gak akan mau kenal lagi sama kamu." ancam Grace dengan tatapan tajam.


" Sebelum aku mengucapkannya aku akan memberi dia kejutan. Jadi kamu gak usah khawatir oke. percayakan semuanya sama aku." ucap Daffin menarik Grace kedalam pelukannya.


" Kamu udah makan?" tanya Grace mendongakkan kepalanya. Daffin menggeleng karena memang sejak tadi siang di belum makan sama sekali.


" Kenapa gak makan?"


" Pekerjaan aku banyak banget, jadi lupa buat makan."


" Mau aku pesenin makanan?" tawar Grace.


" Gak usah, habis ini kita makan di luar. Aku seleseikan pekerjaanku sebentar setelah itu kita pergi." ucap Daffin diangguki Grace.


Daffin mengecup sekilas kening grace setelah itu ia melanjutkan pekerjaanya.


Sambil menunggu Daffin menyelesaikan pekerjaannya, grace membaringkan tubuhnya di sofa panjang.


Mungkin karena lelah akhirnya grace tertidur.


Daffin yang melihat itu memindahkan Grace ke kamar pribadinya dan ia kembali meneruskan pekerjaanya.


.


.


.


.


.


Maaf kalau banyak typo, soalnya ngetiknya sedikit merem merem 😂