My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
70.



Truth or Dare part 3.


.


.


.


.


.


.


.


Kebahagiaan tercipta bukan hanya dari harta dan tahta, tapi sesederhana kebersamaan yang mampu membuat kita menjadi makhluk yang paling bahagia.


Seperti saat ini, waktu yang paling menyenangkan adalah saat kita sedang bercengkrama bersama sahabat. Menganggap sahabat layaknya keluarga sendiri, tidak perduli perbedaan usia mereka yang terpenting adalah rasa nyaman saat kita bersama dan saling melempar canda tawa.


Permainan terus berlanjut, kini hanya tinggal beberapa orang yang namanya belum disebutkan.


" Lanjut Frey." sahut Nathan kemudian Freya mengambil satu nama.


" NATHAN PRADIPA, Truth or dare." ucap Freya menatap Nathan yang tengah mengupil.


" Jorok lu aah." kesal Rissa karena Nathan duduk disampingnya.


Nathan tidak menanggapinya, ia hanya melirik Rissa sekilas.


" Dare." jawab Nathan.


" Bertingkah seperti monyet lalu post ke sosial media lu." ucap Freya yang disambut gelak tawa yang lainnya.


" Mampus lu Nath, Alhamdulillah bukan gue yang dapet dare kek gitu. Sumpah ya, darenya gak ada yang bener sama sekali." sahut Devan.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi followersnya jika ia yang mendapat dare seperti itu dan mengupload video di sosial medianya.


" Ngaku lu pada, siapa yang nulis Dare kayak gitu? lo pada tau followers gue gak kaleng kaleng man. Mau ditaruh mana nih muka." keluh Nathan sambil mengacak rambutnya Frustasi. Tau begini ia lebih memilih Truth saja.


" Sok kecakepan banget lu jadi orang, paling followers lu langsung ngeunfollow kalau tau tingkah lu yang sebenernya kek gimana." sahut Elvano.


Ketampanan yang membuat mereka mempunyai followers banyak dan rata rata adalah cewek cewek yang selalu memuji ketampanan mereka. Selama ini mereka hanya memposting Foto mereka yang terlihat sangat keren dan menawan. Jadi tidak heran jika salah satu dari mereka akan frustasi jika disuruh memposting hal yang diluar konteks mereka selama ini.


" Udah buruan Nath." sahut Rissa yang sudah standby dengan kamera ponselnya.


" Gue bayar denda aja deh, gak sanggup gue kalau disuruh kek gini." keluh Nathan.


" Gak ada Denda, harus dilakuin." sahut Zay. Nathan mendengus kesal, jika Zay yang sudah berbicara itu artinya tidak bisa di ganggu gugat.


Nathan bangkit dan berdiri di tengah tengah mereka.


Ia menatap satu persatu orang dengan wajah memelasnya. Ia berharap ada seseorang yang membantunya untuk keluar dalam permainan ini.


" Buruan deh Nath, lama banget. Cuma joget monyet doang." sahut Rissa, dan Nathan hanya meliriknya sinis.


" Lu semangat banget dah Riss, gak takut pamor cowok lu turun?" sahut Grizzele dibalas gelengan oleh Rissa.


" Justru ini yang gue tunggu tunggu kak." jawab Rissa kemudian tertawa keras.


" Lucknut bener dirimu bby." geram Nathan.


" Dah buruan, jangan lupa aaaa uuu aaa uuu nya." ucap Grace dengan tawa keras diikuti yang lain.


Nathan medengus kesal, dengan terpaksa akhirnya ia bertingkah seperti monyet dan Rissa merekamnya.


" Suaranya mana hey." sahut Gibran, yang lain tertawa tepingkal pingkal melihat kelakuan Nathan.


" Uuu..aaa..uuu..aaaa." Suara Nathan sambil menggaruk perut dan juga kepalanya. Tidak lupa wajah yang ia buat seperti monyet sungguhan.


" Dah cukup." ucap Nathan lalu kembali ketempatnya.


Ia menyembunyikan wajahnya di lengan Rissa karena semua orang menertawakannya.


" Ambil satu nama dulu sana." ucap Rissa yang belum bisa menghentikan tawanya. Nathan menatap sinis Rissa namun tetap menurutinya.


" GIBRAN MEGANTARA, Truth or Dare." ucap Nathan menatap Gibran dengan malas.


" Truth aja deh." jawab Gibran.


" Hhuuu cemen banget jadi cowo." cibir Nathan, ia masih kesal dengan Gibran yang masih menertawakannya.


" Gue lagi mager buat milih Dare." elak Gibran.


" Ada gak cewek yang lu suka saat ini." ucap Nathan membacakan pertanyaan untuk Gibran.


" Gak ada." jawab Gibran dengan santainya namun mampu membuat seseorang menatapanya begitu dalam.


Gak ada? dua kata yang mampu membuat dada seseorang sedikit sesak namun sebisa mungkin ia mengontrol ekspresinya agar terlihat biasa saja.


Kanaya.. gadis itu sudah sejak lama menyukai Gibran sejak pertama mereka menjalin pertemanan. Ia hanya menyukai Gibran dalam diam, ia tidak berani mengungkapkan karena ia juga tidak tau bagaimana perasaan Gibran padanya.


Beruntung tadi saat memilih truth dan menjawab pertanyaan dia tidak menyebutkan nama, akan jadi apa jika ia mengatakan kalau Gibran adalah orang yang dia suka? Mungkin akan merasa canggung saat bersama. Karena jawaban Gibran sudah menjawab pertanyaannya selama ini jika Gibran tidak mempunyai perasaan dengannya.


" Yakin lu gak lagi suka sama seseorang?" sahut Grace memincingkan matanya. Ia sekilas melihat perubahan wajah Naya saat Gibran menjawab Tidak.


" Hmm. Dah lanjut." ucap Gibran lalu mengambil sebuah nama.


Grace curiga, apa orang yang dimaksud Naya adalah Gibran? kalau bukan kenapa wajah Naya murung gitu? Biarpun dia sedang mengontrol ekspresinya, tapi masih terlihat jelas bagi Grace.


" CLARISSA PUTRI, Truth or dare." ucap Gibran membuat Rissa mendongakkan wajahnya. Sedari tadi ia sibuk dengan ponselnya karena ia sedang memposting video Nathan di akun sosial medianya.


" Gue?" tunjuknya pada diri sendiri.


" Iya lu bby." sahut Nathan.


" Dare aja dech nanti kalau ditanya urusan hati gue bingung jawabnya." jawab Rissa.


" Masak Seblak setelah permainan ini selesei." ucap Gibran membuat semua orang mengangguk setuju.


" What the hell.. gue mana bisa masak anjir? masak telor aja gosong." Keluh Rissa.


" Gitu kok cita citanya jadi ibu rumah tangga, lu kasih makan apa suami dan anak lu nanti." cibir Elvano.


" Gue bisa belajar El, lagian siapa yang mau nikah muda? usia gue masih 17 tahun. Gue mesti kuliah dulu, kejar cita cita gue. Masih panjang juga perjalan hidup gue untuk sampai nikah nanti." jawab Rissa.


" Gue beliin aja gimana? kalau gue buat takutnya kalian keracunan." lanjutnya menatap satu persatu orang.


" Buat aja Riss, nanti gue bantu." sahut Freya.


" Beneran ya?"


" Hmm."


" Oke lanjut." ucap Rissa lalu mengambil satu nama.


" GRIZZELE ANASTASIA, truth or dare." ucap Rissa.


" Truth aja." jawab Grizzele.


" Hal memalukan apa yang kakak lakuin baru baru ini." ucap Rissa.


" Salah panggil orang, kemarin gue pas jalan jalan ke mall lihat orang yang mirip banget sama Izzam. Gue kira dia pas gue tepuk dari belakang ternyata bukan.


Sumpah saat itu juga gue pengen punya kekuatan menghilang." jawab Grizzele dengan wajah memerah.


" Berarti lu lagi kepikiran sama gue tuh Grizz." sahut Izzam dengan senyum jahilnya.


" GR banget lu, emang tuh orang sekilas mirip ma lu." sahut Grizzele.


" Oke lanjut."


" ELVANO GUINANDRA, Truth or dare." ucap Grizzele


" Truth aja." jawab Elvano.


" Kapan terakhir lu nonton Blue film?" ucap Grizzele dan semua menatap Elvano yang sedang membulatkan matanya.


" Harus jujur, kalau gak jujur lu gak akan pernah dapet cewek." sahut Rissa dengan seringainya.


Ia tau jika El, Devan dan Nathan bukanlah orang yang polos.


" eemm.. anu.. kapan ya? g-gue lupa." jawab El dengan gugup.


" Jawab yang bener." sahut Zay.


" Dua hari yang lalu sama Devan dan Nathan." ucap El menundukkan kepalanya malu.


" Lu napa bawa nama gue juga kampret, yang ditanya cuma elu." sahut Nathan yang juga tidak terima.


" Emang kita nonton bareng dua hari lalu, waktu kalian berdua main kerumah." jawab El dengan wajah polosnya.


" Mati aja sono lu El, nambah penyakit gue aja lu ah." kesal Devan. Sudah pasti ia akan mendapat ceramah dari kedua kakaknya ini. Syukur syukur kalau mereka tidak mengadu pada reyhan dan luna.


Semua tertawa melihat raut kesal wajah Devan. Memang sedari tadi Devan selalu kena imbas dalam permainan ini.


Bahkan tak jarang celetukan dia selalu membuat semua orang tertawa.


" Siap siap lu nanti " sahut Grace pada Devan.


" Ampun kak, janji deh gak lagi lagi. itu kemarin juga gak sengaja kok. Suer." jawab devan dengan mengangkat dua jatinya membentuk peace.


" Udah udah lanjut." sahut Vero lalu El mengambil satu nama.


" IZZAM PRAMUDYA, Truth or dare." ucap Elvano.


" Dare aja, kali aja gue dapet yang dare yang enak." jawab Izzam dengn cengirannya.


" Kirim e- money ke gue minimal 100rb." ucap Elvano membuat Izzam membulatkan matanya.


" Ohh saatt.. siapa buat Dare kayak gitu? minta di tabok apa?." kesal Izzam mrnatap satu persatu temannya.


" Gue sendiri bang." jawab El lalu tertawa keras. ia membuat beberapa dare dan pertanyaan dan gak nyangka jika salah satu dare yang dia buat ia baca sendiri.


" waahh lu beneran gak adil el, untung di elu rugi di gue." keluh Izzam.


" 100rb doang bang gak bakal bikin lu jatuh miskin, itung itung sedekah." jawab El cengengesan.


" Lu sama sepupu lu sama sama Lucknut ya, nyesel gue pilih Dare. Lagian mana ada sedekah buat orang yang lebih kaya dari gue." gerutu Izzam.


" Yaudah Cash atau transfer nih?" ucap El.


Izzam mendengus kesal lalu ia mengeluarkan dompetnya dan memberi uang El cash 100rb.


" Yeeeyy,, rezeki anak sholeh." pekik El sambil melompat lompat.


" Tau gitu bikin Dare kek gitu aja semua, biar yang untung makin untung yang rugi makin rugi." sahut Nathan.


" Udah lanjut, GRACIELLA PARMADITA, Truth or dare." ucap Izzam dengan wajah kusutnya.


" Dare aja.", jawab Grace.


" Pejamkan mata dan buka lemari es. Hal pertama yang lo sentuh, harus lo makan." ucap Izzam.


" What the hell, yang bener aja. Kalau yang gue sentuh masih mentah gimana cuy."


" Udah ayo." ucap Izzam menarik tangan Grace diikuti Naya, Grizzele dan Freya sebagai saksi.


Grace mendengus pasrah, ia menuruti dan berjalan ke arah lemari es.


Ia membuka lemari pendingin itu dan mencoba menyentuh sesuatu yang masih bisa dimakan.


" Ini aja." ucap Grace mengambil sesuatu yang masih didalam kotak.


" Lu yakin?" tanya Naya pada Grace yang masih menutup matanya.


" Yakin." jawab Grace.


" Yaudah kita balik ke anak anak dulu." ucap Grizzele lalu mereka kembali ke teman temannya yang lain.


Naya membuka kotak itu yang ternyata isinya adalah bawang bombai.


Grace membulatkan matanya saat ia tau yang dia ambil adalah bawang bombai yang di taruh dalam kotak.


" Gue gak mau makan." ucap Grace yang sudah memasang wajah jijiknya.


" Gak boleh gitu, lu harus makan. Salah sendiri milih Dare." sahut Izzam.


" G-gue alergi bawang bombai." ucap Grace berbohong.


" Alasan mulu lu, buruan." ucap Izzam yang sudah mengupas kulit bawang bombai itu.


" Yank." rengek Grace pada Daffin.


Daffin hanya mengangguk untuk menyemangati Grace,


Grace mencebikkan bibirnya dan dengan terpaksa ia menggigit bawang bombai itu.


Dengan wajah yang sangat tidak sedap di pandang ia berusaha mengunyah bawang bombai itu dan menelannya.


" Udah gue gak mau." ucap Grace lalu berlari mengambil minum.


" Yaudah gue wakilin Grace buat ambil satu nama Karena ini tinggal dua orang saja jadi gak usah banyak omong. Gue pilih Zay." ucap Izzam.


" Truth or dare." ucap Izzam menatap Zay yang sedari tadi memainkan rambut Kiran.


" Truth." jawab Zay tanpa menatap Izzam.


" Apakah masih ada cinta untuk masa lalu lo." ucap Izzam membuat Zay menoleh padanya.


" Siapa yang buat pertanyaan kayak gitu?" ucap Zay dengan wajah datarnya.


" Mampus gue." gumam Izzam meskipun bukan dia yang membuat pertanyaan seperti itu.


" Jawab Aja sih Zay." ucap Kiran sambil mengusap bahu Zay.


" Enggak, cinta gue cuma buat Kiran." ucap Zay membuat Kiran tersenyum manis.


Biarpun ia tidak tau apa isi hati Zay tapi ia tahu kalau masih ada sisa cinta untuk Olivia, tapi ia yakin Zay tidak akan berpaling darinya. Suatu saat cinta Zay akan utuh untuk dirinya.


" Kamu percaya kan?" tanya Zay pada Kiran.


" Aku selalu percaya sama kamu." jawab Kiran tersenyum manis.


" Oke yang terakhir Devano. Lu pilih truth or dare." ucap Izzam.


" Dare aja bang." jawab Devan.


" Kirimp pesan pada orangtuamu "Pa, Aku baru beli majalah Dewasa edisi terbaru, papa mau lihat?" ucap Izzam.


" Waaahh ini Dare tergila yang gue denger, lu mau gue di lempar ke kandang singa beneran? ngadi ngadi banget yang bikin dare." gerutu Devan.


" Udah buruan Dev, kita juga pengen tau reaksi mama papa kalau tau putra bungsunya sering nonton blue film." sahut Grace.


" Kaak.. lu jangan ngadi ngadi ye, belum gue kirim pesan aja gue dah tau reaksi mereka bakal gimana?" keluh devan.


" buruan dev." Desak freya.


" Yank, lu jangan kompor ya. Bisa bisa diamuk 7 hari 7 malem nih sama mama papa."


" Gak bakal, udah buruan." sahut Grace.


" Tapi kak."


" Udah buruan."


Dengan terpaksa Devan mengirim pesan pada papanya dengan disaksikan Izza dan gibran.


Devan menoleh pada Izzam dan gibran sebelum menekan tombol kirim.


Dengan tidak sabaran Izzam menekan tombol Send dan akhirnya pesan itu terkirim ke papanya.


Tak lama kemudian......


" DEEEVANOOOO... KESINI KAMU." teriak Reyhan dari ujung tangga.


" Aduh mampus gue. Sorry gue Kabur duluan. KABOORRRR" ucap Devan lalu berlari entah kemana.


Semua tertawa ngakak melihat tingkah Devan yang selalu membuat mereka tertawa.


" DEVAANOOO."


.


.


.


.


Devan yang malang 😂