
Daffin baru saja tiba kediamannya, waktu masih menunjukkan pukul 9 malam tapi rumah dalam keadaan gelap dan sepi, entah semua orang kemana daffin tidak tau.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar, hari ini cukup melelahkan baginya, ia ingin segera mandi dan tidur.
Namun baru satu langkah ia menginjak anak tangga, terdengar suara mobil masuk kedalam pekarangan rumah..
Mungkin kedua orang tuanya. pikir Daffin.
" Baru pulang sayang?" sahut Elsa membuat daffin menghentikan langkahnya.
" hmm.." jawab Daffin lalu meneruskan langkah kakinya menuju kamar.
" Paa, apa tidak sebaiknya kita batalkan saja pertunangan daffin dan angel? mama tidak sanggup menghadapi sikap dingin Daffin pa." ucap Elsa.
Semenjak pertunangannya dengan angel, sikap Daffin berubah 180⁰.
Dulu yang awalnya orang yang banyak omong dan hangat pada siapapun sekarang justru menjadi pendiam dan dingin pada orang lain, bahkan kepada kedua orang tuanya.
" Tidak bisa ma, bagaimana dengan angel? wanita itu masih lumpuh." jawab erick.
"Apa papa gak mikirin anak kita juga? Daffin juga butuh kebahagiaannya pa, dia berhak memilih wanita yang ingin di nikahinya." ucap Elsa sedikit emosi.
" Tapi ini memang kesalahannya ma, jadi mau tidak mau Daffin harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." ucap Erick.
" Itu namanya kecelakaan pa, papa harus bisa bedakan mana yang murni kecelakaan atau disengaja.
Lagian Daffin udah membiayai seluruh pengobatan wanita itu." jawab Elsa dengan kesal.
Memang sejak awal Elsa tidak menyukai Angel, karena angel dan mamanya seperti memanfaatkan keadaan.
" Bagaimana dengan masadepan wanita itu? mama tega jika tidak ada laki laki yang mau sama dia karena dia cacat?" ucap Erick tidak habis fikir dengan istrinya ini.
" Papa bisa memikirkan masa depan wanita itu, tapi papa tidak memikirkan masa depan anak sendiri.
Kamu egois tau gak." Ucap Elsa lalu pergi meninggalka erick yng sedang mengacak rambutnya frustasi.
Apa keputusannya menyuruh Daffin menikahi wanita itu tepat atau tidak? Kenapa dirinya tidak memikirkan masa depan putranya nanti.
Dengan rasa frustasi ia menyusul istrinya kedalam kamar.
Sementara itu daffin baru saja menyeleseikan acara mandinya.
Ia mendengar jelas perdebatam kedua orang tuanya, namun ia sendiri enggan untuk ikut campur.
Toh bagimanapun tidak akan merubah keadaan.
Daffin mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur saat satu notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya.
Senyumnya mengembang saat membaca pesan dari seseorang yang membuat dirinya sejenak melupakan beban hidupnya, siapa lagi orang itu kalau bukan Graciella parmadita.
Wanita yang akhir akhir ini mampu mengusik hati seorang Daffin, wanita yang sedikit membuatnya semangat menjalani hari harinya.
Grace : Selamat malam pak, bapak udah tidur?.
Begitu bunyi pesan yang dikirim Grace untuk Daffin.
Lantas dengan segera daffin mengetikkan balasan untuk Grace.
Daffin : Belum, saya baru saja pulang kerja.
Diujung seberang sana Grace terkejut karena pesannya di balas oleh Daffin.
Saking senangnya ia sampai melakukan roll depan belakang di atas kasurnya, memukul bantal dan menutup wajahnya dengan bantal.
Grace : Kalau begitu cepatlah tidur
, sampai bertemu besok.🥰
Balas Grace dengan menambah emoticon wajah penuh cinta.
Sementara itu Daffin tersenyum lebar saat Grace menambah emoticon itu di pesannya.
Memang wanita ini mampu mengubah moodnya dalam sekejap mata.
Daffin hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya, ia meletakkan ponselnya di atas nakas lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, rasa lelah membuatnya tertidur dengan cepat.
***
Dengan wajah ceria Grace menuruni tangga menghampiri orang orang yang sudah duduk manis di meja makan.
" Kayaknya pasien rumah sakit jiwa lepas satu nih." sindir Devan saat melihat kakaknya yang senyam senyum.
" kalau gak gitu kena gangguan jiwa." Sahut Vero
" atau gak gitu belajar gila." ucap Devan kemudian tertawa bersama Vero.
" Woeeyy para dugong mesir, bisa diam tidak? yang kalian ghibahin ada di depan muka kalian nih." sahut Grace menatap sinis keduanya.
" Gapapa biar gak dosa." sahut Devan.
" Heeehh lu pikir kita gak ada baik baiknya gitu?" kesal Vero.
" Gak ada, buku malaikat rokib masih bersih, catatan amal baik kalian masih kosong." jawab Grace santai.
" Waahh nih anak mulai lucknut nih, gak bisa di biarin." ucap Vero yang sudah menggulung lengan bajunya.
" Sudah sudah... ayo kita sarapan." ucap Reyhan melerai perdebatan anak dan ponakan itu.
Grace menjulurkan lidahnya pada Vero dan devan membuat keduanya mendengus kesal.
Sedangkan Zay, laki laki itu tidak minat dalam perdebatan ketiganya.
***
Grace melangkahkan kakinya menuju kelas, ia mengabaikan tatapan sinis para fans daffin.
Cibiran demi cibiran masih ia dengar meski tidak separah waktu itu.
" Grace.." panggil Kanaya membuat Grace verhenti dan menoleh kebelakang.
Naya dan Grizzele berlari menghampiri Grace.
" Apa?" tanya Grace sambil melanjutkan jalannya.
" Lo udah ngerjain tugas yang di kasih pak daffin belum?" tanya Grizzele.
" Yang mana?"
" Grace jangan bercanda, kita berdua belum ngerjain nih. tadinya kita mau nyontek sama lo aja." ucap Naya dengan nada panik.
" Gue beneran gak tau, emang yang mana?" ucap Grace menggoda keduanya.
" Graceee.." rengek keduanya.
Sudah menjadi kebiasaan jika ada tugas, grace lah menjadi sasaran utama mereka.
" Nih." ucap Grace mengeluarkan buku itu.
" Bawain tas gue kedalem gue mau mampir ke ruangan pak daffin dulu." ucap grace menyerahkan tasnya pada Naya.
" Lama lamain ya grace, sampe kita selese nyalin jawabannya." ucap Grizzele membuat Grace memutar bola matanya malas.
Grace berbelok arah menuju ruangan Daffin, entah apa tujuannya yang jelas gadis itu hanya ingin melihat wajah Daffin sebelum yang lain melihatnya.
tookk...tookk..
" Masuk."
Grace masuk dan tak lupa menutup kembali pintu ruangan Daffin.
" Ada apa Grace?" tanya Daffin saat melihat grace yang datang keruangannya.
" Tidak apa apa, hanya ingin melihat jodoh saya dari dekat." jawab Grace cengengesan.
" Masih pagi kenapa kamu sudah memberikan saya gombalan? saya tidak akan kenyang dengan gombalan kamu." ucap Daffin, namun tidak di pungkiri ia merasa cukup baik saat melihat grace ada di depannya.
" Mau saya belikan sarapan?" tawar grace dibalas gelengan Daffin.
" Saya sudah sarapan tadi pagi." jawab Daffin.
" Sebenarnya ada apa kamu kesini? sebentar lagi juga saya akan masuk kelas." ucap Daffin.
" Kan saya sudah bilang, saya pengen lihat jodoh saya. bapak gak percaya?"
" Saya percaya, sudah kamu masuk kelas sana, setelah itu saya akan masuk kelas."
" Kenapa tidak masuk sama sama aja."
" Graciella.." ucap Daffin penuh penekanan.
" iya..iya saya masuk kelas dulu.
Bye jodohku." ucap Grace memberikan flying kiss pada daffin lalu keluar ruangan daffin menuju kelas.
" Gadis itu." gumam Daffin tersenyum.
Ia berdiri lalu membawa tas untuk masuk ke kelas Grace.
.
.
.
.
Maaf kalau masih banyak typo.🙏🏻🙏🏻