My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
9.



Devano Kaliandra kusuma, cowok narsis yang selalu mengaku dirinya adalah cowo paling tampan di muka bumi ini kini berdiri dibawah teriknya matahari sambil menghadap sang merah putih.


Ia ketahuan oleh bu Mita saat memanjat pagar karena terlambat masuk sekolah.


Ia lupa jika jarak rumah utama dengan sekolah cukup lumayan jauh, jadinya ia bangun sedikit kesiangan.


" Bu.. ibu gak capek apa menghukum saya terus? sekali kali di kasih hadiah atau apa kek, masa di kasih hukuman mulu." ucap Devan sebelum menjalankan hukumannya.


" Siapa suruh kamu cari masalah terus, kamu pikir saya tidak bosan menghukum kamu? apalagi melihat muka kamu itu." jawab Bu Mita.


" Waduuhh,, bisa bisanya ibu bosan melihat wajah saya. Nih ya bu saya kasih tau, semua cewek disekolah ini bahkan semuanya mengantri buat jadi pacar saya atau sekedar deket sama saya.


Kalau ibu bosan melihat saya berarti mata ibu perlu diperiksa ke dokter THT." ucap devan membuat kedua mata bu mita melotot tajam.


" Eeeh maaf dokter mata maksud saya, kali aja mata ibu bermasalah." sambungnya tanpa menghiraukan tatapan tajam dari bu mita.


" DEVAAANN." geram bu mita.


" Apa sih bu? dari tadi devan disini gak kemana mana masih aja di panggil, ibu kangen sama saya?" ucap devan semakin membuat bu mita semakin geram.


" Berdiri di lapangan sampai jam pelajaran kedua." perintah bu mita.


" Buuu... gak ada hukuman lain apa? bisa gosong di wajah devan bu, nanti ketampanan devan bisa luntur." protes devan namun bu mita hanya menatapnya jengah.


" Bu.. skincare mahal nih, ayolah ganti hukuman ya..ya..ya.. bu mita cantik deh, sexy pula." Rayu devan namun tidak berpengaruh pada bu mita.


" Berdiri sekarang atau ibu tambah hukuman kamu sampai bel istirahat." ucap Bu mita membuat devan tidak punya pilihan lain.


" Oke..oke.." ucap Devan akhirnya melakukan hukumannya.


Devan berdiri di tengah lapangan dengan keringat yang membasahi wajahnya, namun itu tidak membuat ketampanannya luntur, justru semakin terlihat sexy dimata para siswi sekolah.


" Oh my god devan... ganteng banget kalau lagi keringetan." celoteh siswi perempuan.


" pengen gue elapin tuh keringat." sahut siswi lainnya.


" Gue rela ngelapin keringat dia pakek tangan gue, pengen ngerasain wajah mulus dia." sahut yang lainnya.


Freya yang saat itu baru saja dari toilet tidak sengaja mendengar celotehan para cewek tentang Devan, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Devan.


Freya melihat ke arah lapangan dan benar saja, ia melihat Devan sedang berdiri hormat menghadap tiang bendera.


Dengan senyum licik freya mengambil ponselnya dan mengambil foto devan diam diam.


Setelah itu Freya mengantongi ponselnya dan berjalan menghampiri devan.


" Ngapain lu disitu?" tanya Freya, ia kini berada di pinggir lapangan sambil bersendekap dada.


" Semedi.. udah tau dihukum masih aja nanya." jawab Devan menatap Freya.


" Cihh... maksud gue kenapa bisa dihukum?" tanya freya.


" Gara gara elu gue dihukum, tanggung jawab lu." ucap Devan mlah menyalahkan freya.


" Kok bisa lu nyalahin gue, emang gue kenapa?" tanya freya mengernyit bingung.


" Gara gara semalem mimpiin lu gue bangun kesiangan, jadinya gue dihukum gara gara terlambat sekolah." jawab devano.


Freya memutar bola matanya malas." ya udah nikmati aja hukuman lu, itung itung sambil tebar pesona sama cewek cewek." ucap Freya lalu pergi meninggalkan Devan.


" Diihh kok sewot?" gumam Devan menatap punggung freya yang semakin menjauh.


Akhirnya Devan bisa bernapas lega setelah dua jam menjalani hukuman.


Kini ia sedang berada di kantin dengan sepiring nasi goreng dan es teh manis di hadapannya.


Untuk pelajaran kedua ia akan membolos dan memilih pergi ke rooftop.


Devan mengirim pesan pada Elvano jika waktunya istirahat temui dirinya di rootop sekolah.


Dan saat bel istiraht berbunyi Elvano dan yang lain menghampiri Devan yang ternyata sedang tertidur pulas.


" Dasar Keblukk... malah enak enakan tidur disini." ucap Elvano saat membuka pintu rooftop dan melihat devano sedang tertidur.


" Dev bangun.. woy dugong mesir bangun lu." ucap Elvano menggoyangkan tubuh devan.


" Apasih ganggu gue tidur aja, gue capek tau habis dihukum." kesal devan membuka matanya.


" Pulang sono kalau mau tidur." sahut Freya.


" Aduhh beb.. lu gak pengertian banget sama gue.


Gue capek sumpah, lu jadi calon istri pengertian dikit kek sama calon suami, pijetin atau apa gitu." ucap Devan.


" Diihh mijitin elo? sorry tangan gue berharga." jawab Freya.


" Uluuhh savage banget calon bini gue." ucap devan mencubit pipi Freya.


" Sakit devan." keluh Freya menghempas tangan devan.


" Iya nih ribut mulu kalian, gue udah nahan laper dari tadi." ucap Nathan.


" Masih kenyang gue, tadi udah makan di kantin." jawab Devan.


" Ikut aja sih, nanti lo bisa pesen minum doang." ucap Nathan.


" Skuy lah, gue juga gak mau calon bini gue digodain para kecebong mesir." ucap Devan berdiri lalu merangkul Freya.


" Lepasin dev, badan lu bau keringet iihh." ucap Freya melepaskan tangan devan dari pundaknya.


" Apasih beb, gue masih wangi elah." sanggah devan sambil mencium kedua keteknya yang memang masih wangi.


Tidak ada kata bau dalam kamus devan, bagaimanapun keadaannya penampilan harus tetep nomor satu.


" Pasrah aja sih frey, lu kayak gak tau si kadal bunting satu ini aja." sahut Rissa.


Freya memutar bola matanya jengah, ia terpaksa pasrah saat devan merangkulnya dan berjalan menuju kantin.


Sepanjang perjalanan banyak sekali cewek yang iri dengan freya karna bisa dirangkul oleh devan.


tak sedikit pula cowok yang menginginkan berada diposisi devan.


" Frey bagi nomor lu dong." ucap salah satu seorang cowok saat Freya dan yang lain berjalan melewatinya.


Devan, Freya berhenti menatap cowok yang meminta nomor freya.


" Haduuhh broo.. lu bawa kaca nggak?" tanya devan pada cowo itu.


" Enggak.. emang napa?"


" Yaahh bodoh banget.. harusnya lu kemana mana bawa kaca biar lu bisa ngaca.


Muka lu aja standar gak ada ganteng gantengnya, beraninya lu godain calon bini gue yang cantiknya mengalahkan Marimar, sadar diri cuu" ucap Devan membuat Freya mendelikkan matanya.


" Sekali lagi lu berani minta nomor calon bini gue, gue kirim lu ke gang senggol." ucap Devan lalu pergi menuju kantin.


" Sadis banget pak omongan lu." ucap Nathan saat mereka sudah duduk di kantin.


" Kesel gue, udah tau ada calon suaminya, masih berani aja minta nomornya." jawab devan dengan kesal dan yang lain hanya menatapnya jengah.


" Kak devan boleh minta nomor telponnya gak?" ucap seorang cewek yang tiba tiba datang menghampiri meja devan dan kawan kawan.


" Astagfirullah ini lagi, mending lu pergi dari sini, gue lagi gak mood ngeladenin manusia kayak lo." jawab Devan membuat cewek itu pergi dengan menunduk.


" Parah lu dev, anak orang lu bikin patah hati mulu." sahut Elvano.


" Gue juga heran, kegantengan gue ini Anugrah apa musibah sih? banyak yang deketin gue banyak juga yang gue bikin sakit hati. ahh sudahlah masa bodoh yang penting gue tetep ganteng dimata Freya." ucap Devan membuat freya memutar bola matanya malas.


____


Grace melangkahkan kakinya menuju kelas, banyak wanita yang berbisik membicarakannya.


Pasalnya banyak orang yang tau jika ia turun dari mobil Daffin, dosen yang kini menjadi incaran banyak mahasiswi.


" Ciihh.. pakek rayuan apa dia sampe bisa satu mobil sama pak daffin?" ucap cewek A.


" Iyaa, tadi gue juga lihat dia turun dari mobil pak daffin, murahan banget sih." sahut cewek B.


" Dasar sok cantik banget, males gue lihatnya." ucap cewek C.


" Cantik sih tapi murahan, jadi ilfil gue." sahut cewek D.


Grace berhenti berjalan saat mendengar ucapan panas dari cewek cewek itu.


Ia berbalik dan menghampiri para cewek yang membicarakannya.


" Bisa tutup mulutmu? selain jelek lo juga buruk dalam mengomentari hidup orang, lagian punya mulut tuh dijaga, masa mulut kalah sama pantat? pantat kalau kentut aja masih mikir dulu, ada yang dengerin atau enggak. masa mulut mau ngomong gak dipikir dulu." sarkas Grace.


" Ciihh baperan." sahut cewek A.


" gue baper? yaiyalah namanya manusia punya otak dan hati, beda sama lu yang ngomongnya ceplas ceplos, hati mati otak tidak berfungsi.


" Setinggi apapun pendidikanmu jika mata dan mulutmu menilai rendah seseorang hanya karna melihat dari satu sisi, seekor anjing yang jinak akan lebih baik darimu, dan jika lo jijik lihat gue, copot aja mata lo, karena yang salah bukan gue tapi mata lo, lagian dibenci sama lo gak ada pentingnya sama sekali bagi gue." ucap Grace lalu pergi meninggalkan keempat wanita itu yang menatapnya dengan amarah.


Dari jarak lumayan dekat Daffin berdiri dan mendengar semua yang diucapkan oleh Grace, tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.


Ia melanjutkan perjalanan menuju kelas setelah Grace lebih dulu pergi.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen 🤗