
Hari ini keluarga Reyhan dan Alan sudah kembali kerumah masing masing karena Arland dan Febby sudah kembali ke london.
Sebenarnya mereka ingin lebih lama di indonesia namun keduanya tidak tega meninggalkan oma dan opanya terlalu lama.
Sore itu Grace berdiri di pagar balkon kamarnya, matanya menatap lurus kedepan menatap sepasang burung yang sedang saling bertaut.
Grace mendengus sebal, karena ia menganggap burung burung itu sedang meledeknya.
" Dasar burung gak punya adab, bercinta di depan gue yang jomblo. Awas aja lo kalau pak daffin udah jadi pacar gue, gue pamerin di depan lo." gerutu grace menatap sepasang burung itu dengan kesal.
Geace mendudukkan bokongnya di sofa, matanya menatap langit sore yang orange dan diikuti awan gelap dibelakangnya yang pertanda sore akan berganti malam.
Seulas senyum menghiasi wajah cantiknya saat bayangan Daffin melintas dalam benaknya.
Namun sedetik kemudian ia mengerutkan dahinya.
Sedalam apapun Grace berfikir maksud ucapan Daffin tempo hari, namun tetap saja Grace tidak bisa mengerti maksudnya.
Ah biarlah, biarkan rasa ini mengalir apa adanya.
Yang terpenting bagi Grace saat ini adalah bisa dekat dengan Daffin, pemuda tampan yang mengusik pikiran dan hatinya belakangan ini.
Grace beranjak dari balkon menuju kamar mandi.
Setelah hampir 30 menit ia keluar dan sedikit terkejut saat Zay sedang berbaring di kasurnya dengan bermain ponsel.
" Baru pulang?" tanya Grace sambil menggosok rambutnya yang basah.
" Hm."
" Dari mana aja?" tanya Grave mendudukkan tubuhnya di depan cermin, ia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
" Jalan jalan doang." jawab Zay, namun ia tetap fokus pada game di ponselnya.
" Oh ya, gue belum cerita sama lo kalau kiran pulang ke indonesia. Dia sebulan disini." ucap Zay yang kini sudah duduk di tepi Ranjang.
" Lu kenapa gak bilang kupret? jadi tadi lo jalan jalan sama kiran?"tanya Grace di angguki Zay.
" Dia kangen sama lo, pengen ketemu sama lo juga."
" Ketik nomornya, biar nanti gue hubungin dia." ucap Grace menyodorkan ponselnya pada Zay.
Zay mengetikkan nomor kiran setelah itu ia kembalikan ponsel Grace.
" Terus sekarang lu ngapain disini?" tanya Grace.
" Tadi gue lihat kiran habis nangis, tapi gue gak tau kenapa? dia cuma bilang karena kelilipan tapi gue tau dia bohong." ucap Zay, mengingat wajah sembab kiran tadi siang.
" Mungkin dia ada masalah yang gak bisa dia cerita ke elo, positif aja." jawab Grace, meletakkan hairdryer itu lalu menyisir rambutnya.
" Gue khawatir kalau tanpa sadar gue yang bikin dia nangis."
" Alasannya?"
" Entah." jawab Zay mengangkat kedua bahunya.
" Gak usah terlalu dipikirin, sekarang lo mandi sana habis itu kita turun makan malam, jangan lupa kasih tau Vero." ucap Grace diangguki Zay.
Zay keluar dan menutup kembali pintu kamar Grace.
***
Daffin menyibukkan dirinya di kantor setelah mengajar di kampus.
Laki laki berusia 25 tahun itu kini sedang fokus dengan laptop yang menyala, ia bahkan tidak peduli dengan hari yang sudah mulai gelap.
Pekerjaan yang menumpuk membuatnya harus lembur untuk menyeleseikan pekerjaannya.
tookk..tookk..tookk..
" Masuk."
" Maaf pak, ada Nona Angel mau menemui bapak." ucap Kenzo assistennya.
" Ada apa?" tanya Daffin dengan wajah malasnya.
" Saya tidak tau pak." jawab Ken menunduk.
" Biarkan dia masuk." ucap Daffin di angguki kenzo.
Tak lama kemudian seorang wanita cantik yang menggunakan kursi roda dengan membawa paperbag berisi makanan masuk kedalam ruangan Daffin.
Ia tersenyum saat melihat laki laki yang menjadi tunangannya itu tengah fokus pada pekerjaannya.
Flashback on...
Daffin mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh, beruntung jalanan malam itu sedikit sepi.
Ia menambah kecepatannya agar segera sampai di rumah sakit karena ia mendapat kabar jika mamanya masuk rumah sakit.
Tidak jelas karena apa, yang terpenting saat ini ia harus sampai sana dan akan menanyakan pada papanya nanti.
Namun bukannya cepat sampai justru ia mendapat kendala karena tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita yang sedang menyebrangi jalan dengan tiba tiba.
braakk...
Wanita itu terpental cukup jauh, mobil daffin berhenti dan ia segera menolong wanita itu.
Banyak warga berdatangan dan membantu Daffin membawa wanita itu kerumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit wanita itu langsung di bawa ke ruang ICU karena keadaanya cukup parah.
Tak lama kedua orang tua wanita itu datang dengan menangis tersedu.
" Kamu... kamu yang menabrak anak saya." ucap seorang wanita yang tak lain dalah ibu dari wanita yang ditabraknya.
" Maafkan saya bu, saya tidak sengaja. sungguh." jawab Daffin yang merasa bersalah.
" Tidak akan, saya tidak akan memaafkanmu kalau terjadi apa apa dengan anak saya." ucap Rani dengan penuh amarah.
" Sudahlah ma, pemuda ini tidak sengaja menabrak anak kita, lagian ini adalah takdir allah kita tidak bisa menghindarinya." Sahut Robby yang tak lain adalah suaminya.
" Tapi anak kita sekarang sekarat di dalam pa, dan itu semua karna laki laki ini." ucap Rani yang terus menangis.
" Saya minta maaf pak, saya beneran tidak sengaja, saya akan tanggung jawab, saya akan membiayai seluruh perawatan putri bapak dan ibu."
" Saya mengerti nak, terimakasih kamu sudah mau bertanggung jawab." ucap Robby.
" Papa ini apa apaan sih? kalau anak kita kenapa napa gimana? kalau dia mengalami trauma setelah kejadian ini bagaimana? kita juga belum tau kondisi anak kita." protes Rani.
" Maa.. berapa kali papa bilang, ini semua takdir, kita tidak bisa menyalahkan pemuda ini, lagian dia sudah mau bertanggung jawab." ucap Robby.
Ketiganya cukup shock saat dokter memberi tau jika wanita itu mengalami kelumpuhan.
" Ini semua gara gara kamu, kamu yang bikin anak saya lumpuh." ucap Rani sambil memukul tubuh daffin.
" mama berhenti, mama tenang jangan seperti ini, ini rumah sakit." ucap Robby menenangkan istrinya.
Daffin sungguh tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini, ia menelpon papanya untuk menemuinya.
Beruntung mamanya berada di rumah sakit yang sama, jadi tidak butuh waktu lama Erick papa Daffin datang menemui putranya yang terlihat sangat frustasi.
" Ada fin? kamu kenapa?" tanya Erick melihat keadaan putranya yang kacau.
Daffin menatap papanya dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya.
Erick cukup shok saat mendengar cerita putranya, dengan berat hati Erick memberikan keputusan yang sangat tidak masuk akal bagi Daffin.
" Papa jangan bercanda, aku tidak mengenalnya pa." ucap Daffin dengan wajah memerah.
" Ini sebagai bentuk pertanggung jawabanmu fin." ucap Erick.
" Daffin bisa membiayai semua pengobatannya sampai dia bener bener sembuh, tapi daffin tidak bisa menikahinya pa, daffin tidak mencintainya, bahkan kenal pun tidak." ucap Daffin semakin frustasi.
" Kamu mau menanggung jika suatu hari nanti tidak ada laki laki yang mau dengannya karena dia cacat?" tanya erick membuat daffin menoleh padanya.
" Dia akan sembuh pa, dia pasti bisa berjalan kembali nanti."
" Daffin kamu harus mengerti, kejadian ini pasti akan membuat dia trauma seumur hidupnya."
" Tapi pa..
" Apa yang di ucapkan papamu benar, kamu harus menikahinya." sahut Rani yang baru saja keluar dari tuang rawat putrinya.
" Baiklah.. kita bertunangan saja dulu." putus Daffin dengan segala pertimbangannya.
Erick menepuk bahu Daffin, ia yakin putranya bisa mengatasi masalahnya.
Angel.. wanita itu kini sudah sadar setelah dua hari tak sadarkan diri.
Rani juga sudah memberi tahu angel jika dirinya mengalami kelumpuhan, awalnya ia shock tidak terima dengan apa yang terjadi pada tubunya saat ini.
Bagaimana dengan pekerjaannya, hidupnya nanti.
Sekelebatan bayangan tentang masa depannya membuat dia menjambak rambutnya frustasi.
Bagaimna ia mengalami harinya dengan keadaan lumpuh?.
Rani juga memberi tahunya jika orang yang menabraknya akan bertanggung jawab dengan menikahinya.
Awalnya ia menolak karena tidak mengenal pemuda itu, namun saat Daffin dan kedua orang tuanya masuk kedalam ruang rawat Angel, ia terpanah melihat ketampanan Daffin yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Dengan sekejap dalam hati ia menyetujui pertanggung jawaban pemuda itu.
Dengan disaksikan kedua orang tua masing masing, Daffin dan Angel Resmi bertunangan.
Angel tersenyum manis namun Daffin hanya menatapnya biasa saja.
Hidup daffin berubah hanya dengan sekejap mata, sudah tidak ada harapan lagi untuk menata masa depan yang ia inginkan.
Menikah dengan wanita yang tidak di cintainya? itu sangatlah konyol.
Dalam hati Daffin berdoa semoga ada keajaiban suatu saat nanti."
Flash back off....
" Ada apa?" tanya Daffin tanpa menoleh ke arah angel.
" Gapapa, aku cuma mau kasih ini sama kamu." ucap Angel sambil mengeluarkan makanan dari dalam paperbag itu dan ia letakkan diatas meja.
" Aku sudah makan." ucap Daffin saat melihat Angel membuka makanannya.
" aku sudah susah payah maskin buat kamu loh, masa kamu gak ngehargain usaha aku sih?." ucap Angel menunduk sedih.
" Aku masih kenyang, taruh saja di situ biar nanti ken yang makan." jawabnya dengan Acuh.
" Aku masakin buat kamu bukan buat assisten kamu daf." ucap angel sedikit kesal.
" Sebaiknya kamu pulang, ini sudah malam, biar ken yang mengantarmu." ucap Daffin tanpa menghiraukan ucapan Angel.
" Aku gak mau pulang kalau bukan kamu yang nganterin." jawab angel dengan menyilangkan tanganya di dada.
Daffin mengela napas beratnya, tunangannya ini sangat keras kepala.
" Apa kamu tidak melihat kalau aku sedang sibuk? jangan menambah bebanku." ucap Daffin dengan datarnya.
" Kenapa makin kesini ucapan kamu semakin kasar sih? tidak seperti dulu tau gak." ucap Angel dengan kesal.
" Keruanganku sekarang." ucap Daffin pada kenzo melalui sambungan telepon.
Tak lama Kenzo masuk kedalam ruangan Daffin.
" Ada apa pak?" tanya Kenzo.
" Antarkan dia pulang." ucap Daffin membuat Angel membulatkan matanya.
" Aku maunya pulang sama kamu fin, aku gak mau sama dia." teriak Angel.
" Antar dia sekarang." ucap Daffin tanpa menghiraukan teriakan angel yang memberontak.
Kenzo mengangguk lalu mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan Daffin.
Sepeninggal Angel, daffin menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.
Ia memijat pangkal hidungnya karena kepalanya terasa sangat pusing.
Daffin menutup laptopnya dan memilih segera pulang.
Tak lupa ia memberi kabar assisten nya untuk segera pulang jika sudah mengantar angel.
.
.
.
.
💜💜💜