My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
74.



" Siapa?" tanya Kiran karena Zay belum mengangkat panggilannya.


" Tante Ranti." jawab Zay sambil menunjukkan layar ponselnya pada Kiran.


" Angkat aja, siapa tau ada yang penting tentang Olivia." ucap Kiran dan akhirnya Zay mengangkat panggilannya.


" Hallo ada apa tan?"


"..................."


" APAAA? Zay akan kesana sekarang." ucap Zay lalu mematikan sambungan teleponnya.


Wajah Zay terlihat begitu panik setelah mendapat kabar dari tante Ranti.


" Ada apa? apa yang terjadi?" tanya Kiran saat melihat raut wajah Zay yang panik.


" Olivia tidak sadarkan diri dan sekarang dia dirumah sakit, kata tante Ranti detak jantung Olivia semakin melemah." ucap Zay membuat kedua mata kiran membulat sempurna.


" Ayo kita kesana sekarang, tunggu apalagi." ucap Kiran namun Zay menggeleng kuat.


" Sayang kamu lagi sakit, aku tidak mungkin ngajak kamu kesana." ucap Zay menangkup kedua pipi kiran.


" Aku gapapa Zay, aku mau lihat keadaan Olivia karena bagaimanapun dia sahabat aku." ucap Kiran menggenggam tangan Zay.


" Tapi sayang ."


" Aku mohon sayang." potong Kiran dengan mata berkaca kaca.


Zay mengehela napas panjangnya, ia lupa jika kekasihnya ini sangat keras kepala.


" Baiklah, aku bantu kamu bersiap setelah itu Kita kesana." ucap Zay diangguki Kiran.


****


Sementara itu Olivia sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa alat di tubuhnya.


Kedua orang tuanya selalu berada di samping Olivia yang tengah menutup kedua matanya.


Ranti bahkan tidak berhenti menangis melihat keadaan Olivia semakin memburuk.


Melihat keadaan Olivia yang seperti ini ia sangat takut jika sesuatu yang tidak pernah mereka inginkan terjadi.


Kondisi Olivia semakin menurun setelah melakukan kemoterapi kemarin.


kemoterapi mempunyai efek sitotoksik, yaitu membunuh sel. Meski tujuan utamanya adalah membunuh sel kanker, bukan berarti obat-obatan pada kemoterapi tidak dapat mengenai organ lainnya.


Kemoterapi juga bisa memenyebabkan berbagai macam efek samping. Tak heran jika orang yang menjalani kemoterapi akan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga keadaan yang sebelumnya membaik bisa drop kembali karena penyakit lebih rentan terjadi.


Olivia adalah putri satu satunya mereka, segala cara mereka lakukan demi kesembuhan Olivia.


Ia bahkan tidak peduli berapa banyak hutang yang ia pinjam demi pengobatan Olivia, karena yang mereka inginkan saat ini adalah kesembuhan putrinya.


" Maa." Olivia membuka matanya dan menatap Ranti yang tengah menangisi keadaannya.


" Iya sayang, kenapa bangun?" Ranti mengusap lembut kepala Olivia. Terasa memilukan melihat kondisi putrinya yang seperti ini.


Jika ia bisa merubah takdir, ingin rasanya ia saja yang menderita penyakit ini jangan putri semata wayangnya.


" Mama jangan nangis." Tangan Olivia tergerak untuk mengahapus air mata mamanya. Ranti tersenyum lalu menggenggam tangan Olivia yang semakin kurus itu.


" Mama gak nangis kok sayang, ada apa hm?"


" Papa mana?" Olivia melihat sekeliling tapi tidak menemukan keberadaan papanya.


" Tuh papa." tunjuk Ranti saat suaminya keluar dari kamar mandi.


" Kamu cari papa?" sahut Ramdan mengahampiri putrinya.


" Jangan kemana mana, temenin Oliv disini." ucap Olivia menggenggam tangan kedua orang tuanya.


" Mama sama papa gak akan kemana mana, kami berdua akan nemenin kamu disini sampai kamu di perbolehkan pulang." Ranti mencium tangan Olivia dan kembali meneteskan air matanya.


" Maafin Oliv kalau selama ini Oliv terlalu ngerepotin mama sama papa. Oliv janji setelah ini oliv gak akan ngerepotin kalian lagi." Oliv berucap dengan lirih, ia merasa hidupnya tidak akan lama lagi.


" Sayang jangan bicara seperti itu, kamu gak pernah ngerepotin mama atau papa. Kami ikhlas melakukan ini semua karena kamu putri mama dan papa. Setelah ini kamu akan sembuh, kamu akan pulang bersama kami kerumah." ucap Ranti dengan air mata yang semakin deras.


Tidak.. mereka tidak akan pernah siap untuk kehilang putri satu satunya. Hanya Oliv yang mereka punya.


" Oliv beruntung punya orang tua seperti kalian, maafkan oliv belum bisa membahagiakan kalian, membuat kalian bangga sama oliv. Malah oliv selalu membuat kalian susah." Olivia meneteskan air matanya. Ia sungguh menyayangi kedua orang tuanya, ia bahkan ingin terus bersama mereka dan hidup dengan bahagia tanpa memikul beban berat.


" Sayang papa mohon jangan bicara seperti ini lagi, kamu putri kami yang selalu membanggakan. Tidak peduli hal apa yang udah kamu lakukan pada kami, yang kami tau kamu adalah putri kebanggaan kami." Ramdan ikut meneteskan air matanya, ia menggenggam tangan Olivia dan menciumnya berulang kali.


" Terimakasih untuk semuanya ma, pa, terimakasih kalian selalu ada untuk olivia. Terimakasih untuk pengorbanan dan perjuangan kalian demi kesembuhan Oliv. Oliv tidak bisa membalas budi kalian, tapi Oliv selalu berdoa agar mama dan papa selalu sehat dan hidup bahagia meski tanpa Olivia nantinya." Olivia tersenyum manis, perkataanya semakin membuat kedua orang tuanya menangis pilu.


Belum sempat Ranti dan Ramdan membalas ucapan Olivia, Zay dan Kiran datang dan masuk kedalam ruangan Olivia.


" Kamu harus bertahan oliv, kamu gak boleh nyerah. Kamu harus lawan penyakit kamu." sahut Zay menghampiri Olivia dengan mendorong kursi roda Kiran.


" Kalian kesini?" Olivia tersenyum manis, ia tidak menyangka Zay dan Kiran akan menjenguknya.


Ranti dan Ramdan memberikan ruang untuk mereka berbicara dengan Olivia.


" Maafin aku yang egois karena tidak mengizinkamu untuk berada disamping Zay." Kiran meneteskan air matanya, ia merasa bersalah karena waktu itu tidak membiarkan olivia untuk Zay menemaninya


" Kamu gak egois, aku yang egois karena menginginkan kekasihmu untuk berada disampingku." Olivia menjeda kalimatnya, ia menatap dalam manik mata Kiran. " Maafin aku gara gara aku, kamu menyimpan banyak kekecewaan karena Zay membohongi kamu." lanjutnya dengan wajah bersalah.


" Jangan ungkit itu lagi, aku sudah melupakannya. Yang harus kamu lakukan saat ini adalah berjuang dan jangan menyerah. Kamu harus semangat hidup, ada Orang tua kamu dan kita yang akan selalu menemani kamu." Kiran menangis pilu. Ia juga tidak akan siap untuk kehilangan sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.


" Maafkan aku yang akhir akhir ini mengabaikan mu, aku hanya ingin memprioritaskan Kiran karena dia kekasihku. Tapi untuk kali ini izinkan aku memohon sama kamu agar kamu tetep Kuat dan jangan menyerah. Kami semua akan menemani kamu melewati masa sulit ini. Aku mohon bertahanlah demi kedua orang tuamu." Zay menggenggam tangan kiran, mencium punggung tangan itu dengan lembut.


Bagaimanapun perasaan Zay saat ini pada Olivia, ia tidak ingin olivia menyerah begitu saja.


Setidaknya ia bisa bertahan demi kedua orang tuanya yang selalu menginginkan kesembuhannya.


" Kalian semua adalah sumber semangatku, aku minta maaf karena telah bersikap egois. Maafin aku karena aku memilih menyerah. Aku sayang sama kalian semua." ucap olivia yang semakin lirih. Ia menatap satu persatu orang yang ada disampingnya.


" Sayang mama mohon jangan bicara seperti ini, mama dan papa gak ingin kehilangan kamu. Hanya kamu putri kami satu satunya. Kami mohon bertahanlah." sahut Ranti mengenggam erat tangan Olivia.


" Papa mohon sayang, jangan menyerah. Papa yakin kamu pasti sembuh. Kita akan kembali kerumah bersama." Ramdan mencium kening putrinya dengan lembut. Hatinya seakan tersayat saat Olivia lebih memilih menyerah.


Olivia tersenyum, ia menghapus air mata papa dan mamanya.


" Jangan menangis, Oliv ingin kalian tetap tersenyum." Olivia tersenyum manis, jika waktunya tiba ia ingin melihat senyum kedua orang tuanya yang terakhir kali agar ia bisa pergi dengan tenang.


" Kiran, maafin aku selama ini menjadi sahabat yang egois, menginginkan sesuatu tanpa meperdulikan perasaan kamu. Kamu sering banget ngalah sama aku, kamu selalu nurutin apa yang aku mau. Kamu rela memendam perasaan kamu demi menjaga perasaan aku. Aku bukan sahabat yang baik buat kamu. Maafin aku." Olivia menarik tangan kiran dan menggenggamnya.


Banyak kesalahan yang ia perbuat selama bersahabat dengan Kiran. Egois dan selalu mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain.


" Enggak... kamu tetep sahabat baikku, kamu udah aku anggep seperti sodara sendiri. jangan pernah berkata seperti itu. Semua aku lakuin karena aku sayang sama kamu." Kiran bertambah pilu mendengar semua perkataan olivia. ia benar benar tidak keberatan melakukan semua itu karena ia memang benar benar menganggap Olivia adalah sahabatnya.


Olivia tersenyum manis, ia menghapus air mata kiran.


" Tersenyumlah." ucap Olivia namun Kiran malah semakin menangis, tapi ia tetap berusaha untuk tersenyu.


" Zay, makasih buat cinta yang kamu berikan sama aku. Aku minta maaf karena dulu pergi ninggalin kamu tanpa alasan. Maaf untuk semua kesalahan yang aku lakuin tanpa sengaja. Dan izinkan aku tetap mencintai kamu dan membawa cinta ini hingga akhir nanti.


Jaga Kiran untukku, bahagiakan dia, jangan sakiti dia, jangan membuatnya kecewa lagi atau kamu akan kehilangan dia." ucap Olivia menggenggam tangan Zay dengan lembut.


" Kamu ingin menyerah gitu aja? kamu tidak kasihan pada kedua orang tuamu? Apa kamu akan benar benar menjadi wanita paling egois di dunia ini?" Zay berucap dengan tatapan datar namun tersirat kesedihan yang mendalam saat Olivia mengatakan hal seperti itu.


Olivia tersenyum, inilah yang ia cintai dari Zay. Meskipun ia terlihat dingin namun terlihat jelas di matanya jika ia peduli.


" Penyakit ini sungguh membuatku menjadi seseorang tidak berguna lagi, aku sudah banyak merepotkan orang orang di sekitarku. Jadi izinkan kali ini aku menyerah, pergi membawa semua rasa sakit ini." Ucap Olivia menatap satu persatu orang di sekelilingnya.


" Apa kamu tidak bisa bertahan lagi?" Zay meneteskan air matanya yang sedari tadi ia tahan.


Olivia menggeleng. " Maafkan aku." ucap Olivia dambil tersenyum.


" Ma, pa.. Kalian harus janji akan selalu bahagia, jaga kesehatan kalian. Oliv sayang sama kalian." Olivia meneteskan air matanya menatap kedua orang tuanya.


Ranti dan Ramdan sudah tidak bisa berkata apa apa lagi, keduanya menangis tersedu mendengar suara olivia yang semakin melemah.


" Zay, Kiran.. terima kasih untuk semuanya. Terimakasih telah menemaniku melewati masa sulit ini. Aku mencintai kalian." ucap Olivia.


" Tersenyumlah, aku ingin melihat kalian tersenyum untuk terakhir kali." ucap Olivia kemudian semua orang tersenyum manis dan Olivia pun juga ikut tersenyum


" Terimakasih." ucap Olivia.


Ia menutup kedua matanya dan bersama itu bedside monitor menampilkan bunyi panjang dan garis lurus.


Sontak semuanya kembali histeris.


Zay menekan tombol dan tak lama dokter masuk dengan perawat.


" Maaf, pasien sudah tidak bisa tertolong lagi." ucap Dokter membuat semuanya menangis histeris.


" Kenapa kamu tega sama mama dan papa? kenapa kamu tega ninggalin kami? kamu putri kami satu satunya. Hanya kamu harta paling berharga kami. Kenapa kamu tega nakk?" Ranti menangis terisak, ia memeluk tubuh Olivia yang sudah tidak bernyawa itu.


" Olivia, kenapa kamu menyerah sayang, kenapa kamu tidak mencoba bertahan demi kami. Papa belum siap kehilangan kamu. Olivia bangun, papa mohon kamu bangun." isak tangis Ramdan semakin pilu tidak menyangka putrinya akan pergi secepat ini.


" Kamu jahat liv, kamu jahat sama kita semua. Aku gak akan maafin kamu. Oliv bangun, aku mohon kamu bangun liv." teriak Kiran menggenggam erat tangan Olivia. Zay yang ada disampingnya hanya bisa mengusap punggung kiran yang bergetar.


" Semoga kamu tenang disana, kamu akan tetap hidup di hati kami masing masing. Selamat jalan Olivia " ucap Zay mencium Kening Olivia.


Hidup dan mati ada di genggaman illahi, tak tidak ada seorang pun yang bisa menghindar dari kematian yang sudah ditakdirkan Allah SWT. Kematian adalah suatu hal yang dekat dengan kita sendiri, sangat dekat. kematian tidak memandang usia, jabatan, paras, waktu, dan lain sebagainya. Tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi kapan kematian akan mengampiri setiap orang.


Kematian adalah ujung dari perjuangan, akhir dari kemenangan, pintu dari kehidupan. Mungkin ini sudah saatnya Olivia pergi dan memulai kehidupan baru di alam yang berbeda.


.


.


.


.


.


Selamat jalan Olivia, maafkan para redersku yang bahagia mendengar kabar kepergianmu.


hiks 😢.