My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
90.



" Membuat laporan begini saja kalian tidak becus, jika sudah bosan bekerja silahkan angkat kaki dari perusahaan ini." Daffin membanting berkas yang baru saja ia baca dan terdapat sedikit kesalahan saat ia membacanya.


Semua orang yang berada di ruang meeting menunduk takut, pasalnya Daffin tidak pernah berbicara dengan nada keras ataupun membentak bawahannya.


Karena selama ini Daffin terkenal orang yang sabar meski terkesan dingin. Jika bawahannya membuat kesalahan, Daffin akan melemparnya pada Kenzo untuk menegurnya.


Tapi sekarang? semenjak kehilangan Grace dia jadi orang yang bertambah dingin, ia bahkan tidak segan untuk melontarkan kata kasar jika ada yang berbuat kesalahan.


" Maafkan saya pak, akan saya perbaiki lagi nanti." ucap pak manager dengan tubuh yang sudah bergetar.


" Perbaiki!! Jika masih terdapat kesalahan silahkan angkat kaki dari perusahaan ini." ucap Daffin lalu berjalan keluar ruangan.


" Kalian tau kan, semenjak hilangnya kekasih bos dia sering sekali berbicara kasar? jadi saya mohon untuk kali ini kerja sama kalian lebih di tingkatkan lagi. Jangan sampai melakukan kesalahan sekecil apapun jika kalian masih ingin bekerja disini." tutur Kenzo setelah itu keluar mengikuti Daffin.


Kenzo adalah assisten sekaligus teman bagi Daffin, tak jarang jika Kenzo juga sering menenangkan Daffin ketika bosnya itu sedang emosi.


Ia tau betul bagaimana perasaan bosnya saat ini, karena bagaimanpun kehilangam orang yang dicintai sangatlah sakit.


Daffin membanting pintu ruangannya dengan kasar, ia mendudukkan tubuhnya disofa sambil merenggangkan dasinya.


tiga bulan sudah Grace menghilang, seluruh keluarga Grace sudah pasrah dan ikhlas jika Grace benar benar sudah meninggal. Mereka hanya ingin jasad Grace di temukan dan dimakamkan dengan layak.


Namun tidak untuk Daffin, Laki laki itu justru masih meyakini dirinya jika Grace masih hidup dan berada disuatu tempat.


Bahkan dia sering mencari Grace sendiri tanpa sepengetahuan siapapun.


Tookk...tookk..


" Masuk."


" Ada apa?" tanya Daffin saat mendapati Kenzo yang masuk kedalam ruangannya.


" Ada nona Angel pak, di depan." ucap Kenzo membuat Daffin mendengus kesal.


Akhir akhir ini memang Angel lebih gencar mendekatinya dengan embel embel mereka adalah teman. Namun Daffin tetap bersikap dingin meskipun ia tidak menolak Angel mendekatinya karena fokusnya saat ini adalah Graciella.


" Suruh keluar, saya tidak ingin bertemu dengan siapapun." ucap Daffin.


Belum sempat kenzo menjawab, pintu sudah di buka oleh Angel dan dia berjalan dengan senyum yang manis.


" Aku kesini ingin mengajakmu makan siang, kenapa kamu malah menyuruh assistenmu untuk mengusirku." ucap Angel yang sudah berdiri di depan Daffin.


" Aku sedang sibuk, sebaiknya kamu pergi jika tidak ada kepentingan lain." ucap Daffin dengan nada datar.


Bukannya pergi justru Angel duduk di sofa depan Daffin.


" Aku hanya ingin mengajakmu makan siang Daf, aku gak ingin kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan mu karena itu bisa mengganggu kesehatanmu." ucap Angel dengan lembut.


" Harus berapa kali aku bilang? aku sedang sibuk dan aku tidak ingin di ganggu. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku meminta kenzo membawamu keluar dari ruanganku." ucap Daffin menatap Angel dengan tajam.


" Baiklah, aku akan pergi. Tapi kamu jangan lupa makan siang ya." ucap Angel yang akhirnya memilih mengalah.


" Hm."


Angel tersenyum simpul lalu memilih keluar dari ruangan Daffin.


Banyak karyawan yang berbisik tentangnya karena sudah berani menginjakkan kakinya di kantor ini lagi.


Pasalnya setelah kejadian batalnya pernikahannya dengan Daffin dulu, Angel sudah tidak pernah menampakkan wajahnya di kantor ini lagi. Dan sekarang dia kembali setelah kekasih bos mereka dinyatakan hilang.


Daffin mengehela napasnya kasar, memijit kepalanya yang tiba tiba terasa sangat berat. Ia tidak tau lagi harus mencari Grace kemana? ini semua sungguh menyiksanya, menyiksa batin dan juga fisiknya.


Bahkan ini sudah tiga bulan Grace menghilang, bahkan tanda tanda keberadaannya pun tidak ada yang tau.


" Apa perlu aku pesankan makanan?" tanya Kenzo yang merubah nada bicaranya layaknya teman.


" Tidak perlu aku tidak lapar." ucap Daffin.


ia merubah posisi duduknya menjadi rebahan.


Kenzo mengambil bantal di kamar mengambil bantal untuk Daffin.


" Pakai ini, kepalamu akan tambah sakit nanti.", ucap Kenzo lalu menaruh bantal itu di bawah kepala Daffin.


" Thanks." ucap Daffin diangguki Kenzo.


Ken memilih duduk di kursi yang tadi di duduki Angel, ia menatap Daffin dengan tatapan iba.


Ia sungguh kasihan melihat atasan dan juga temannya ini begitu kacau.


tubuh yang semakin kurus, rambut yang ia biarkan memanjang dan kumis yang sudah tumbuh di area mulutnya.


Seseorang yang sudah terbiasa tampil perfectionist kini justru masa bodoh dengan penampilannya.


Kehilangan orang yang di cintainya memang bisa membuat seseorang berubah hanya dalam sekejap mata.


Ken berdiri dari duduknya dan membiarkan Daffin terlelap, mungkin semalam ia tidak tidur lagi.


Dengan perlahan Ken menutup pintu ruangan Daffin dan kembali ke ruangannya.


****


Sedikit demi sedikit kini Sesilia sudah bisa berjalan dengan sempurna tanpa memggunakan tongkat.


Semua itu berkat latihan dan jamu Jamuan yang di berikan bu Imah padanya.


Kini Sesil berada di halaman belakang rumah sedang memetik sayuran untuk dijadikan bahan masakan.


untuk ikan, terkadang pak Rohim yang mencarinya di sungai.


" Ini bu sayurannya." ucap Sesil memberikan sayuran hijau itu pada bu imah.


" Kamu taruh situ aja nak, ibu masih membersihkan ikan ini dulu." sahut bu imah.


Sesil yang melihat pak Rohim sedang duduk di teras rumah sambil mengipasi wajahnya, berinisiatif untuk membuatkan teh karena memang tidak ada kopi.


" Bapak capek ya?" ucap Sesil yang datang dengan secangkir teh buatannya.


" Sedikit. tapi itu wajar karena bapak sudah tua." jawab Pak Rohim.


Ia menerima teh itu dan langsung menyeruputnya.


" Boleh Sesil bertanya?" Sesil menatap pak Rohim dengan wajah yang menyimpan banyak pertanyaan.


" Tanyakan, kalau bapak bisa menjawab akan bapak jawab." ucap Pak Rohim dan menaruh cangkir teh itu di atas meja.


" Bisakah bapak cerita tentang kecelakaan itu?" ucap Sesil dengan mata yang sedikit bergetar dan kepala berdenyut namun berusaha ia tahan.


" Apa kamu sudah siap mendengarnya? selama ini kamu sendiri yang menghindar jika bapak akan menceritakan kejadian itu."


" Insya Allah Sesil siap mendengarnya." jawab Sesil dengan yakin.


Setelah tiga bulan pasca kecelakaan itu, baru kali ini Grace menanyakan tentang kronologi kecelakaannya.


Setiap pak Rohim dan bu imah ingin bercerita, mendadak kepala Grace berdenyut hebat dan akhirnya keduanya tidak jadi menceritakan kejadian yang menimpa Grace.


FLASHBACK ON...


Tiga bulan yang lalu...


Waktu itu Grace yang tidak bisa mengendalikan mobilnya akhirnya membanting stirnya ke kiri dan mobil Grace terperosok masuk kedalam jurang.


Grace yang saat itu masih sadar melepas seatbeltnya, dengan cepat dan melompat keluar dari dalam mobil sebelum mobil itu jatuh dan meledak.


Dan akhirnya tubuh Grace jatuh di semak semak yang tidak jauh dari mobil itu meledak.


Pak Rohim yang saat itu sedang mencari kayu bakar dan dedaunan untuk di jadikan ramuan tidak sengaja mendengar ledakan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Ia dengan segera menghampiri suara ledakan itu dan terkejut saat melihat ternyata sebuah mobil yang meledak. Ia melihat ke atas dan ada beberapa orang bepakaian hitam sedang tertawa melihat kejadian itu.


" T-tolong.. s-siapapun t-tolong s-saya." ucap Grace sebelum tak sadarkan diri.


Pak Rohim yang memang berdiri tidak jauh tempat mobil itu meledak, samar samar mendengar suara orang minta tolong.


Dengan segera ia mencari asal suara itu dan terkejut saat melihat seorang wanita yang tegeletak dengan tubuh penuh luka.


Dengan tubuh yang tidak lagi muda, pak Rohim berusaha menggendong tubuh Grace untuk dibawa kerumahnya.


" Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai." ucap Pak Rohim dengan napas yang memburu.


Tak jarang ia sesekali berhenti sejenak untuk mengatur napasnya.


" Bu..ibu.. tolong buka pintunya." teriak Pak Rohim.


Bu imah yang saat itu sedang memasak langsung berlari membukakan pintu untuk suaminya.


" Astagfirullahaladzim pak, ini siapa? dan ada apa dengan dia?" ucap Bu imah dengan wajah terkejut saat mendapati suaminya menggendong wanita dengan tubuh penuh luka.


" Biarkan bapak membawanya masuk dulu." ucap Pak Rohim lalu bu imah membuka lebar pintu rumah itu.


" sekarang ceritakan pak, ada apa sebenernya? kenapa dengan gadis itu?" ucap bu imah setelah pak Rohim meletakkan tubuh Grace di kamar.


" Sebaiknya ibu bersihkan dulu luka gadis ini dan pinjamkan pakaian ibu untuknya.


Setelah mandi, bapak akan menceritakan semuanya pada ibu." Bu imah mengangguk patuh.


Ia mengambil air hangat dan kain bersih untuk membersihkan tubuh Grace yang penuh luka.


Hampir 30 menit ia membersihkan tubuh Grace dan mengobati luka luka itu dengan ramuan yang di buatnya.


" Sekarang ceritakan pak, ada apa sebenarnya? kenapa tubuh gadis ini bisa penuh dengan luka?" tanya Bu Imah yang iba melihat kondisi Grace.


Akhirnya pak Rohim menceritakan kejadian yang di lihatnya tadi.


" Astagfirullah pak, kenapa orang orang itu jahat sekali? kasihan gadis ini." ucap Bu Imah dengan isak tangisnya.


" Bapak Rasa orang orang itu mengincar nyawa gadis ini bu, jadi sebaiknya kita rawat dia disini dulu." ucap Pak Rohim dan di setujui oleh bu Imah.


Akhirnya sepasang suami istri itu memutuskan untuk merawat Grace sampai Grace sadarkan diri..


Flashback off...


.


.


.


.


.


Spoiler : Nanti Daffin gak sengaja melihat Sesil. 😁