
Hampir satu jam Daffin menunggu Grace di parkiran, namun gadis itu tidak menampakkan batang hidungnya.
Ia mencoba menelponnya tapi nomornya tidak aktif.
Beruntunglah Naya dan Grizzele baru saja tiba di parkiran, ia keluar dan menghampiri keduanya untuk menanyakan dimana Grace?.
" Kalian teman Grace kan?" tanya Daffin diangguki keduanya.
" Iya pak, kenapa?" sahut Naya.
" Dimana Grace, apa dia sudah pulang?" tanya Daffin.
Naya dan Grizzele saling pandang, haruskah mereka mengatakan yang sebenarnya?.
" A-nu pak, grace sudah pulang dari tadi, dia ada janji sama mamanya, i-iya sama mamanya." jawab Naya gugup.
Daffin manggut manggut namun ia tau jika Naya berbohong padanya.
" Baiklah terimakasih." ucap Daffin lalu masuk kedalam mobil dan melesat meninggalkan kampus.
" Aduhh gimana nih, pak daffin tau gak ya kita bohong?" ucap Naya panik sendiri.
" Udah biarin aja, itu urusan sama grace sendiri nanti, sekarang lebih baik kita pulang." jawab Grizzele diangguki naya.
Daffin melesatkan mobilnya menuju kantor, sepanjang perjalanan ia bingung ada apa dengan Grace.
Padahal dia sendiri yang minta diantar pulang tapi dia sendiri yang menghilang.
Ponsel Daffin berdering, tertera nama Grace yang menghubunginya.
Daffin menepikan mobilnya dan mengangkat panggilan dari grace.
" Hallo pak Daffin."
" hm."
" Pak maaf ya, tadi saya pulang duluan karena saya ada perlu, bapak tadi tidak menunggu saya kan?" ucap Grace dengan nada khawatir.
Khawatir kalau Daffin menunggunya.
" Tidak, saya langsung pulang." jawab Daffin berbohong.
" Bapak jangan bohong, tadi Naya menelpon saya katanya bapak menunggu di parkiran." jawab Grace.
" Iya tapi tidak lama."
" Berapa menit?"
" 60 menit."
" APAA? berarti satu jam dong? bapak nungguin saya selama itu? astaga saya minta maaf ya pak." ucap Grace tidak enak.
" Tidak apa apa, kalau begitu saya ke kantor dulu." ucap Daffin lalu mematikan sambungan teleponnya.
" Loh..loh kok di matiin sih? aduh pasti dia marah, bodoh banget sih grace.. kenapa nggak ngabarin dia dulu tadi." gerutu grace memukul pelan kepalanya.
" Kenapa?" tanya Zay yang tiba tiba masuk ke kamar grace.
" Kayaknya Pak Daffin marah deh Zay sama gue."
" Marah kenapa?"
" Gue tadi ngegodain dia mau nebeng pulang dan dia bilang mau, tapi gue nya pulang duluan, mana gak ngabarin dia dulu lagi, terus tadi dia bilang udah nungguin gue di parkiran selama satu jam." ucap Grace yang merasa sangat bersalah.
" Dia laki laki dewasa, dia nggak akan marah hanya nunggu lo satu jam." sahut Zay merebahkan tubuhnya di samping kanan Grace.
" Lo gila? satu jam bukan waktu sebentar woey." ucap Gracem menepuk paha Zay.
tookk..tookk..
" Masuk aja gak di kunci." teriak Grace.
Devano masuk kedalam dan menutupnya kembali.
" Ada apa?" tanya Grace saat melihat wajah cemberut devano.
" Gue ganteng gak sih kak?" tanya Devan berdiri tepat di depan Grace.
" Emang kenapa sih? ada apa lagi?"
" Jawab aja dulu."
" Ganteng, adek gue kapan gak gantengnya sih? sekarang cerita ada apa?"
" Tau si Freya gak suka sama lu apa?"
" Tadi di sekolah gue ngedeketin adek kelas, dia malah cuek, gak ngerespond dan gak nunjukin kalau di cemburu." Ucap Devan yang beralih tiduran di sampjng kiri Grace.
" Cara lu aja salah." sahut Zay dengan mata terpejam.
" Salah? terus yang bener gimana? jangan omong doang bang, sendirinya juga masih jomblo." ucap Devan.
" Dia udah punya pacar tau." sahut Grace membuat devan membulatkan matanya.
" Serius bang?" tanya Devan berpindah tempat ke samping Zay.
" hmm."
" Sama siapa? cewek mana? terus kok mau sama abang?" cecar devan.
plaakkk..
" Isshhh... sakit kak, napa sih?" kesal devan menatap grace yang menabok lengannya.
" Pertanyaan terakhir lu bikin orang emosi tau gak." sinis Grace.
" sssttt.. skip."
" Jadi sama siapa bang."
" Kiran, sahabat abang waktu SMA dulu, lu inget kan?"
" Kiran? Kiran? Kiran?" Gumam Devan sambil mengingat nama kiran sahabat abangnya.
" Aaahh.. kak Kiran, cewek paling kalem itu kan ya?" sahut Devan yang baru mengingat nama kiran.
" hm."
" Waahh beruntung tuh abang ngedapetin dia, tapi sayang dia yang buntung ngedapetin abang." ledek Devan mendapat sintilan keras di jidatnya.
" Isssshhh.. sakit woeey aahh." ringis Devan mengusap jidatnya yang terasa perih dan panas.
" Mampus kan lu kalau Zay udah turun tangan." sahut Grace menjulurkan lidahnya.
" Yaudah sekarang bantu Devan dulu, gimana caranya yang bener bikin Freya cemburu bang."
" Caranya gak usah dibikin cemburu, lu yang harus berjuang bikin dia cinta sama lu.
Kalau lu main main sama cewek hanya ingin melihat reaksi cemburu dari Freya, sama aja lu mainin perasaan cewek cewek yang lu deketin.
Dan tanpa sadar lu bikin Freya ilfil sama lu.
Cinta atau tidaknya orang itu sama kita bukan di lihat dari seberapa besar rasa cemburu yang orang itu miliki, tapi lu bisa lihat tatapan matanya saat ngobrol sama lu, bagaimana dia memposisikan dirinya saat deket sama lu.
Dan satu hal yang harus lu ketahui, cewek paling pintar buat nyembunyiin perasaanya." tutur Zay panjang lebar.
Kata kata terakhir yang ia sampaikan mengingatkannya pada Kiran yang menyembunyikan perasaannya sangat lama.
" Nah dengerin tuh apa kata Zay, apa yang di omongin sama Zay itu ada benarnya, gak usah lu bikin dia cemburu, bukannya cemburu dia malah ilfil sama lu gara gara ngedeketin cewek cewek itu.
Karena dia tau betapa banyaknya cewek yang antri bisa deket sama lu." Sahut Grace.
" Iya ..iya.. gak lagi, khilaf doang tadi." jawab Devan mengerucutkan bibirnya.
" Yaudah gima kalau sore nanti kita jalan jalan ke mall?.. Kita ajak si Vero sekalian." Sahut Grace.
" Boleh juga tuh, oke gak bang?"
" Hm."
" Ham hem mulu lu dari tadi, gue ambilin mic gue suruh duet lu sama nissa sabyan, kesel gue." geram Devan.
" Iyaa dek."
" Nah gitu kek jawab, bukan ham hem mulu."
.
.
.
.
Aku usahain crazy up terus 😊