
Zay melangkahkan kakinya kedalam rumah, ia berjalan dengan wajah yang terlihat sangat frustasi.
Ucapan kiran membuatnya terus berpikir apa mungkin Kiran memang beneran sudah mengetahui jika Oliv kembali? dan mengetahui jika dirinya dekat dengan Oliv.
Memang dekat tapi bukan untuk kembali, ia hanya menemani Oliv berjuang melawan penyakitnya.
" Kenapa lo." sapa Grace saat melihat Zay datang dengan tampang kusutnya.
Zay menggeleng, ia duduk di sofa tunggal lalu menyenderkan kepalanya di punggung sofa.
" Masalah Olivia lagi?" tebak Grace.
Apalagi yang membuat Zay terlihat frustasi seperti ini kalau bukan tentang wanita itu.
" Kiran." jawab Zay yang kembali menegakkan tubuhnya.
" Kenapa dengan Kiran? jangan bilang dia udah tau tentang Olivia?" sahut Vero yang sudah menerka nerka apa yng akan terjadi jika Kiran tau.
" Bener Zay?" sahut Grace dengan mata memincing.
" Gue gak tau pasti, di cuma bilang dia udah tau semuanya." jawab Zay menundukkan kepalanya.
" Berapa kali gue bilang, gak usah lo balik lagi sama Oliv. Bagaimanapun alasan dia ninggalin lo dulu, tidak seharusnya lo kembali lagi sama dia dan memaafkannya begitu aja.
Inget Zay lo udah ada kiran yang tulus sayang sama lo dari dulu, dari sebelum lo ketemu sama Oliv." Ucap Grace dengan kesalnya.
" Gue gak balik lagi sama Oliv grace, gue cuma nemenin dia.
Nemenin dia melawan penyakitnya, dia butuh orang orang seperti kita buat kasih support ke dia." ucap Zay dengan tegas.
" Dan bodohnya lo, lo gak bilang sama Kiran kalau Oliv sudah kembali.
Lo gak jujur sama Kiran kalau lo sering ketemu sama dia. Lo cowok tapi lo gak bisa tegas dengan pendirian lo sendiri." ucap Grace masih dengan penuh kekesalan.
" Gue emang lemah jika menyangkut dua wanita itu.
Disatu sisi Kiran pacar gue tapi disisi lain Oliv lagi butuh gue." jawab Zay menyandarkan kembali tubuhnya.
" Dia gak butuh lo, tapi lo nya aja yang pengen nemenin dia. Selama gak ada lo, dia juga bisa melawan penyakitnya." jawab Grace dengan sinis.
" GRACE." tegur Zay, ia tidak suka dengan cara bicara Grace yang selalu memojokkan Oliv.
" Apa? emang bener kan apa yang gue bilang? lo cowok paling egois tau gak." ucap Grace lalu pergi meninggalkan Zay dan Vero.
Zay memijit pangkal hidungnya, kepalanya tiba tiba terasa begitu berat.
Perdebatan dengan Grace membuatnya semakin Frustasi. Entah apa yang akan dia lakukan kedepannya.
" Gue gak pernah ngerasain gimana berada di posisi lo, tapi gue paham apa yang lo rasain saat ini.
Saran gue, bicaralah baik baik dengan Kiran, gue yakin dia akan mengerti itu, ya meskipun diluarnya saja dia bilang gapapa. Tapi Hati seseorang kita gak bakal pernah tau sekalipun orang itu berkata apa adanya." ucap Vero menepuk bahu Zay lalu pergi ke kamarnya.
Zay mengacak rambutnya frustasi, ia tidak punya kesempatan untuk berbicara langsung dengan Kiran.
Besok kiran sudah kembali ke jerman.
Lantas apa yang harus ia lakukan?
***
Freya membongkar seluruh isi tas sekolahnya, ia ingat betul jika ia menaruh sketsa itu di sela sela buku.
Tapi kenapa tidak ada?.
Freya mencari di sela sela buku lain namun tetap tidak menemukannya.
" Astaga sayang, kenapa kamar kamu berantakan kayak gini?" sahut Indah saat masuk kedalam kamar putrinya.
" Freya lagi cari sketsa ma, tapi kok gak ada? Freya yakin tadi naruh sketsa itu di buku ini." jawab Freya sambil menunjukkan buku Fisikanya.
" Sketsa gambar Freya ma dan itu buatan Devan.
Tadinya mau Freya kasih bingkai tapi pas Freya cari gak ada." jawab Freya yang terus mencari kertas itu namun tetap tidak menemukannya.
" Aaargghhh.. kemana sih?" kesal Freya.
" Suruh devan buatin lagi aja sih, kenapa harus bingung bingung?" ucap Indah membuat Freya menoleh padanya.
" Ogah.. gengsi lah ma, itu aja dia bikinnya tanpa sepengetahuan Freya. Kalau izin dulu pasti freya gak akan mau." jawab Freya mengerucutkan bibirnya.
" Gengsi doang di gedein, nanti si Devan di serobot cewek lain baru tau rasa kamu." sahut Zaki yang berdiri di ambang pintu.
" Papa ih bukannya bantuin cari malah ngeledek terus."
" Udah hilang ngapain di cari? kan benar apa kata mama kamu, minta lagi aja sama devan." ucap Zaki semakin membuat Freya kesal.
" Emak sama bapak sama aja, kasih usul gak pernah ada yang bener." Gerutu Freya.
" itu udah paling bener sayang, atau mau papa aja yang ngelukis kamu?" ucap Zaki.
" Bukannya jadi gambar freya malah jadi orang orangan sawah, inget gak dulu Freya pernah minta bantuin papa buat ngegambar pohon beringin tapi papa malah gambar pohon toge, mana gambarnya kecil banget lagi." jawab Freya menahan tawanya.
ia ingat saat waktu masih kecil minta tolong papanya buat gambar pohon beringin tapi yang jadi malah pohon toge.
" Duhh.. putri papa kalau ngomong suka bener, tapi gak usah buka aib juga dong sayang, kan pembaca jadi tau kalau papa gak pandai gambar " ucap Zaki dengan gemasnya dan mencubit pipi Freya.
" Udah ah sana, mama sama papa disini malah ngerecokin freya doang."
" Dih.. kok ngusir?"
" Bukan ngusir pa, bukankah lebih baik kalian cari kegiatan apa atau apa gitu?".
" Kegiatan apa?" sahut Indah.
" ya misalnya bikinin Freya adek." jawab Freya dan langsung mendapat plototan tajam dari Indah.
" Ide yang bagus, skuy yank kita ehem ehem dulu." ucap Zaki menarik pelan tangan Indah.
" Papa ihh.. gak usah di omongin juga, otak Freya masih polos nih, nanti kalau traveling gimana?" kesal Freya.
" eitss... awas aja kalau coba coba, papa suntik kamu dengan suntikan sapi." ucap Zaki menatap putrinya.
" Gak akan. udah sana buat adek yang banyak biar freya ada banyak temen juga." ucap Freya mendorong kedua orang tuanya keluar kamar.
" Yuk yank, aku udah gak sabar bercocok tanam sama kamu.
Kita kabulin permintaan Freya." ucap zaki yang masih bisa di dengar oleh freya, ia lalu menggendong tubuh Indah menuju kamarnya.
" PAPAAAAAAA." kesal Freya lalu menutup pintunya dengan keras.
BLAM.
Freya merapikan kembali buku bukunya, ia sudah pasrah jika sketsa itu beneran hilang.
Setelah semuanya rapi, ia merebahkan tubuhnya dan segera tidur.
.
.
.
.
.
Nanti aku akan upload satu bab lagi.