
" Lu yakin gapapa ninggalin mereka berdua?" tanya Gibran pada Grace.
Kini mereka berada di kantin bersama Naya dan Grizelle.
Alasan mereka bertiga meninggalkan Zay dan Kiran karena grace ingin kiran menyeleseikan perasaannya pada Zay sebelum Kiran kembali lagi ke jerman.
Terlihat dari sorot mata kiran menatap Zay, dirinya tau jika Kiran menyimpan perasaan pada Zay.
" Yakin.. gue rasa setelah ini kita akan mendapat kabar tentang status baru mereka." jawab Grace sambil menyedot orange jusnya.
" Kalau wanita itu kembali bagaimana?" tanya Izzam.
" Biarkan aja, apa urusannya? dia udah ninggalin Zay dan ngebuat hidup Zay berantakan selama 4 tahun terakhir, udah waktunya Zay bangkit dan melupakan wanita itu." jawab Grace yang ikut sakit hati mengingat wanita itu pergi ninggalin Zay begitu saja tanpa pamit dan kabar sedikitpun.
" Gue harap hati Zay tidak goyah jika suatu saat wanita itu kembali, gue gak tega Zay nyakitin orang sebaik kiran." sahut Gibran.
" Gue orang pertama yang akan menghajar Zay jika itu terjadi." jawab Grace dingin.
Aura Grace begitu menyeramkan saat ini karena jarang sekali ia terlihat dengan wajah dinginnya.
" Vero kemana? tumben gak kelihatan dari tadi?" tanya izzam mengalihkan perhatian.
Ia tidak ingin suasana terlihat canggung.
" Apalagi yang dilakuin buaya satu itu kalau nggak tebar pesona, palingan sekarang lagi cari mangsa godain cewek cewek agar bisa di ajak kencan malam minggu nanti." sahut Grace.
" Maksud lu apa ngomongin gue kek gitu? mana ada gue godain cewek cewek buat gue ajak kencan." sahut Vero yng tiba tiba datang menghampiri mereka.
" Kok tau kalau kita semua disini?" tanya Grace.
" Dikasih tau sama Zay." jawab Vero merampas gelas minuman Grace.
Grace mendengus namun membiarkannya.
" Lo ketemu sama Zay?" tanya Grace, Vero menggeleng.
" Gue telpon aja, kan gue juga gak tau dia dimana?." jawab Vero, grace manggut manggut.
Dari kolong bawah meja, Naya menyenggol kaki Grace, grace mendongkakan kepalanya menatap naya dengan menaikkan satu alisnya.
Bukannya menjawab naya malah melirik seseorang yang baru saja memasuki kantin.
Grace mengikuti arah lirikan Naya dan benar saja orang yang dianggapnya jodoh sedang berada di kantin dan memesan coffe.
Banyak mahasiswi yang terpesona melihat daffin yang tiba tiba berada di kantin.
Grace mendengus sebal karena seharusnya daffin membawa coffe itu ke ruangannya, bukan di minum disini karena banyak cewek cewek yang menatapnya dengan tatapan lapar dan grace tidak suka itu.
terserah daffin lah grace, dia bukan siapa siapa lu kalau lu lupa.sahut author. kekeke.
" Tebar pesona banget." gerutu Grace sambil menatap Daffin.
" Siapa?" tanya Vero tidak mengerti.
" Noh gebetannya." jawab Grizzele sambil menunjuk Daffin dengan wajahnya.
" Jadi dia yang bikin lu kayak orang kena gangguan jiwa?" tanya Vero, Grace langsung menoleh ke arah vero dan mendelik padanya.
" Huaseemm banget mulut lo, tabok pakek sepatu enak nih." geram Grace, Vero hanya cengengesan.
Grace kembali menatap Daffin yang sedang menyesap kopinya sambil bermain ponsel.
Daffin tau jika ada Grace yang sedang menatapnya, dengan sengaja Daffin mengiriminya pesan.
Daffin : Kenapa ngelihatin saya terus?
Satu notifikasi muncul di ponsel Grace, ia membulatkan matanya saat membaca pesan dari Daffin.
" Dia tau?" gumam Grace sambil tersenyum.
" Samperin aja sono, ngapain pakek kirim pesan segala?" Sindir Vero, karena melihat grace yang senyam senyum saat membuka pesannya.
" ide bagus." ucap Grace mengacungkan jempolnya pada Vero.
Vero melongo, ia tidak menyangka jika candaanya di tanggapi serius oleh Grace.
" Kalian disini aja, gue mau kesana." ucap Grave yang sudah berdiri.
" Ehh maemunah,, jangan ngadi ngadi lu, jangan bikin malu, banyak orang ini." sahut Naya menarik ujung baju grace.
" Berisik.. diem ah." ucap Grace melepaskan tangan Naya dan berjalan menghampiri meja Daffin.
Grace mendudukkan bokongnya dikursi depan daffin,
Daffin mendongakkan kepalanya saat melihat grace duduk di depannya.
Dirinya juga tidak menyangka jika grace berani menghampirinya.
Banyak orang yang mencibirnya namun Grace tidak peduli.
" Ada apa?" tanya Daffin meletakkan ponselnya di meja.
" Gapapa, cuma mau nemenin bapak aja, dari pada sendiri kan berdua lebih baik." jawab Grace sambil menompang dagunya.
**
Vero dan yang lain menepuk jidatnya masing masing, melihat tingkah Grace membuat mereka malu sendiri.
" Tuh anak bener bener malu maluin dah, gak ada jaim jaimnya jadi cewek." ucap Izzam.
" Bukan Grace namanya kalau gak bikin malu." sahut Naya.
" Tuh cowok dah punya pasangan belum? gue gak mau nanti grace sakit hati gara gara tuh cowo dah ada pasangannya." ucap Vero.
" Identitas pak daffin tertutup, nggak ada yang tau dia punya pasangan atau nggak." jawab Grizzele, yang lain manggut manggut.
**
" Bapak habis ngajar kemana?" tanya Grace menatap wajah tampan pemuda di depannya ini.
" Kenapa?"
" Mau nebeng lagi." jawab Grace tertawa kecil.
" Kalau begitu saya ikut ke kantor bapak boleh?"
" Ngapain?"
" Main prosotan, ya nemenin bapak kerja lah." jawab Grace.
" Tidak usah, nanti kamu akan bosan, lebih baik kamu pulang kerumah." jawab Daffin, bukan tanpa alasan ia menolak grace datang ke kantornya, pasalnya ia tidak ingin jika nanti angel tiba tiba datang dan melihat ada grace di ruangannya.
Bukan waktu yang tepat untuk grace mengetahui identitasnya.
Kalau seperti itu bukankah Daffin mempermainkan hati keysa? Tidak, Daffin tidak setega itu.
Dia hanya perlu waktu menyeleseikan masalahnya setelah itu ia akan menjelaskan semuanya pada grace.
Lantas bagaimana jika suatu saat grace mengetahui jika daffin mempunyai tunangan? apa mungkin grace akan membencinya dan menjauhinya?.
Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Biarkan saat ini berjalan seperti ini, Daffin akan mencari jalan keluar untuk membatalkan pertunangan ini tanpa menyakiti ngel dan menjamin masa depan angel.
" Saya tidak akan bosan, bahkan melihat bapak 24 jam tanpa ngapa ngapain aja saya sanggup." ucap Grace dengan wajah imutnya.
" Sudahlah, nanti akan saya antar pulang, tidak perlu ikut saya ke kantor." ucap Daffin lalu berdiri.
" Serius?" tanya Grace yang ikut berdiri.
" Hmm." ucap Daffin tanpa sadar tangannya terulur mengacak rambut Grace.
Sadar akan kelakuannya, ia berjalan pergi meninggalkan grace yang terdiam terpaku.
Jangan tanyakan ekspresi kesal dari para fans Daffin, mereka berteriak melihat perlakuan daffin pada grace, bahkan mereka semua semakin membenci grace.
Grace tersadar, ia kembali ke meja teman temannya yang menatapnya heran.
Banyak cibiran yang keluar dari para mahasiswi namun grace sama sekali tidak perduli.
" Lu gila." sahut Naya saat grace mendudukkan bokongnya di samping vero.
" Napa?" tanya Grace dengan tampang tidak berdosanya dan seolah olah tidak membuat keributan.
" Lu gak denger cewek cewek pada teriak saat pak daffin ngusap kepala lu?" sahut Grizzele.
" Peduli gue apa? mereka gak suka ma gue ya terserah mereka, gue mah anti ribet ribet club. bodoh amat orang semakin benci sama gue. ini hidup gue, gue sendiri yang ngejalanin, makan gak numpang sama mereka, bayar listrik juga bokap yang bayar, terus masalah gue dimana?" jawab grace dengan santainya.
Belum sempat Grizzele menjawab, gebrakan meja membua yang lain terlonjak kaget kecuali grace.
Gadis itu sudah tau jika akan ada kejadian seperti ini namun grace hanya cuek dan tidak perduli.
Bahkan ia enggan menatap orang yang sedang menggebrak meja dan memakinya saat ini.
" Dasar cewek murahan, lo itu gak pantes deketin pak daffin.
Cewek murahan kayak lo itu pantesnya sama om om hidung belang." maki seorang wanita.
Vero sudah mengepalkan tangannya, ia tidak terima saat Sepupunya di hina seperti itu.
Grace menggenggam tangan Vero untuk vero jangan ikut campur dan tetap diam.
Yang lain juga masih meredam emosinya karena melihat wajah santai grace.
" Jauhin pak daffin, jangan oernah lo deketin dia lagi." ucapnya dengan penuh amarah namun sayang grace tidak menanggapinya.
" Lo duengerin gue ngomong gak sih? dasar j4l4ng." teriak wanita itu menjambak rambut grace seketika membuat yang lain berdiri namun grace mencegahnya.
Tangan kiri grace mencekal wanita itu dan memelintirnya, sementara tangan satunya menjambak keras rambut wanita itu
Wanita itu mengaduh kesakitan dan terus mengumpati grace.
" Lo bilang gue cewek murahan? j*l*ng? bukankah itu kata yang cocok menggambarkan diri lo sendiri.
Lo terlalu ikut campur dalam kehidupan gue.
Gue makan gak minta keluarga elo, gue kuliah bukan keluarga lo yang bayarin.
Gue pernah bilang sama lo, setinggi apapun pendidikan lo kalau mata dan mulut lo menilai rendah seseorang, seekor anjing yang jinak pun akan lebih baik dari sikap lo.
Gue selama ini diem ketika lo semua mencibir gue, karena gue males ngeladenin orang orang gak berguna kayak lo.
Kalau gue bales, takutnya lo tinggal nama.
Karena gue orangnya kasar kalau udah marah." ucap Grace lalu menendang wanita itu hingga ia terpental mengenai beberapa meja.
Braakkk...
Wanita itu merintih kesakitan, beberapa teman temanya menghampiri dan menolongnya.
Grace mengambil tasnya lalu pergi tanpa pamit pada teman temannya.
Ia berjalan dengan aura dingin yang selama ini tidak pernah ia perlihatkan.
Bahkan sebagian dari mereka beringsut takut.
Zay.. grace butuh zay sekarang, tapi ia tidak ingin menganggu Zay dan kiran.
Grace mengambil mobilnya dan melesat pergi dengan kecepatan penuh.
Gagal sudah rencana grace untuk diantar pulang oleh daffin.
Awalnya dia akan menitipkan mobilnya pada Vero dan dia akan di antar oleh daffin, tapi dengan kejadian tadi hancur sudah moodnya.
.
.
.
.
.
Yang komen kemana 🤔 😢