
" Pernikahan bukanlah tentang siapa yang paling banyak berkorban untuk satu sama lain. Pernikahan adalah hubungan yang dijalani berdua. Butuh usaha, dukungan, pengertian dan kepercayaan yang seimbang dari kedua belah pihak."
Seperti pagi ini, terlihat semua orang di rumah Utama keluarga Wijaya melakukan aktivitasnya kembali setelah hari yang melelahkan kemarin. Prosesi pernikahan kedua putra dan putri keluarga tersohor itu menyita begitu banyak tenaga. Tamu yang hadir cukup banyak, bahkan dibilang sangat banyak sehingga membuat mereka merasakan cukup lelah. Namun terlepas dari rasa lelah itu, mereka bersyukur karena acara demi acara berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun.
Di dalam sebuah kamar yang bernuansa putih terlihat dua insan yang baru saja melangsungkan ijab qobul itu masih bersembunyi dibalik selimut. Bahkan sinar matahari yang memaksa masuk melalu celah jendela pun tak mampu mengusik keduanya yang mungkin masih berada di dunia mimpi. Udara yang masuk melalui ventilasi menambah suasana sejuk dan semakin membuat suami istri itu semakin mengeratkan selimutnya.
Namun pada akhirnya, perlahan mata indah milik Daffin itu terbuka. Ia tersenyum manis tatkala melihat seseorang yang baru bebera jam yang lalu menjadi istrinya itu masih terlihat damai dalam tidurnya.
Daffin mengangkat tangannya merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya itu. Di belainya wajah mulus tanpa cacat itu dengan lembut hingga membuat wanitanya melenguh karena tidurnya terusik.
" Selamat pagi istriku." Daffin tersenyum manis saat kedua netra mata Grace terbuka sempurna.
" Pagi juga sayang." Grace membalas dengan suara serak khas bangun tidur. Ia merenggangkan otot tubuhnya lalu duduk bersandar di headboard ranjang.
" Kamu udah bangun dari tadi?" Grace membelai kepala Daffin dengan lembut saat Daffin memindahkan kepalanya ke paha sang istri.
" Enggak, baru juga bangun kok." jawab Daffin. Ia meraih tangan Grace dan mencium punggung tangan itu dengan lembut.
" Sebaiknya kita mandi dulu, habis itu kita turun untuk sarapan."
Grace memandang jam yang menggantung di depannya itu dan sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Itu artinya mereka sudah telat untuk sarapan bersama keluarga besarnya. Sudahlah, toh mereka akan mengerti pikirnya.
" Nanti aja, aku masih malas untuk turun." gumam Daffin dan Grace menurutinya. Sebenarnya Grace sudah sangat lapar karena setelah acara selesei ia tidak sempat makan apapun, tapi dirinya juga masih malas untuk turun.
" Kamu gak marah kan sama aku?" Daffin mendongakkan wajahnya menatap Grace dengan kening berkerut. Kenapa dirinya harus marah? perasaan tidak ada suatu hal yang membuat dirinya marah?
" Soal malam pertama kita." sambung Grace saat melihat raut wajah bingung suaminya.
" Emang kenapa hm?" Tangan Daffin terangkat membelai pipi Grace yang tiba tiba tampak memerah entah karena apa.
" Aku ketiduran, dan gak nungguin kamu dulu." jawab Grace sedikit gugup.
Grace yang semalam merasa cukup kelelahan akhirnya meminta izin pada Daffin untuk ke kamar lebih dulu, karena ia juga harus membersihkan serangkaian make up yang melekat pada wajahnya. Daffin yang waktu itu masih berbincang dengan kedua orang tua dan mertuanya pun mengizinkan istrinya itu untuk lebih dulu ke kamar. Tak lama setelah itu Daffin menyusul Grace ke kamar dan sesampainya disana ia melihat Grace yang sudah tertidur cukup pulas.
Tak mau menganggu istrinya yang tengah tertidur, ia segera ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di samping Grace yang nampak sangat damai. Mungkin karena kelelahan akhirnya Daffin juga tertidur setelah mengecup kening istrinya.
" Kenapa aku harus marah, aku tau kamu kelelahan semalam. Lagian malam pertama gak harus dilakuin semalam juga kan? bisa juga kita lakuin sekarang." ucap Daffin sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Jangan godain gitu." Grace memalingkan wajahnya, pipinya terasa panas saat mendengar perkataan suaminya.
" Kenapa hm?" Daffin mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap lekat wajah Grace yang memerah.
" A-aku belum siap." jawab Grace dengan gugup. Ia menundukkan kepalanya takut jika Daffin akan marah padanya.
Jujur saja, Grace sebenarnya belum siap untuk memberikan kewajibannya pada Daffin. Ia teringat saat kedua sahabatnya Naya dan Grizzele bercerita tentang betapa sakit saat malam pertama. Grace bergidik ngeri mengingat cerita itu.
" Kenapa?" Daffin mengapit dagu Grace dan menatap kedua mata indah milik Grace dengan lembut.
" A-aku takut."
" Apa yang kamu takutin? Aku akan melakukannya dengan lembut." jawab Daffin namun Grace kembali menunduk.
" Sayang." Daffin menangkup kedua pipi Grace dan cukup terkejut saat melihat air mata Grace sudah mengalir di pipinya.
" Hey kamu kenapa nangis?" Daffin panik lalu menarik Grace kedalam pelukannya, mengusap punggung wanita itu berharap agar wanitanya berhenti menangis.
" Aku takut mas, kata Naya dan Grizzele malam pertama itu sangat sakit." Grace semakin terisak.
" Aku takut kalau aku gak bisa nahan sakit aku akan mati dan ninggalin kamu untuk selamanya." sambungnya yang justru membuat Daffin mati matian menahan tawanya. Bagaimana bisa seperti itu? ia jadi penasaran cerita seperti apa yang diceritakan Naya dan Grizzele pada istrinya sampai bisa mempunyai pemikiran seperti itu.
" Sayang dengerin aku." Daffin melepaskan pelukannya, ia menggigit bibir bawahnya cukup kuat agar ia tidak tertawa mendengar penuturan konyol sang istri.
" Sakit yang ini itu beda sayang, justru sakitnya bisa buat kamu merem melek. Gak akan buat kamu sampai mati. Aku jadi penasaran cerita seperti apa yang di ceritakan kedua temen kamu itu sampai kamu punya pikiran konyol kayak gitu." sambungnya.
" Beneran?"
" Hm." Daffin menganggukkan kepalanya lalu mengusap air mata yang ada dipipi Grace.
" Tapi kata Na-"
" Sssttt... kamu gak usah percaya sama mereka, karena mereka aja belum pernah ngerasain yang namanya malam pertama. Mereka hanya menakuti kamu, lagian aku akan melakukannya dengan lembut nanti." potong Daffin membuat Grace sejenak berpikir.
Benar juga apa yang di katakan suaminya, Naya dan Grizzele belum pernah ngerasain yang namanya malam pertama, tapi kenapa mereka bisa bicara sedetail itu padanya. Grace meramat kedua tangannya, ia merasa di bodohi oleh kedua sahabatnya itu. Biar nanti jika ketemu akan dia beri pelajaran.
" Udah gak usah dipikirin lagi. Sebaiknya kita mandi dulu, habis itu kita turun buat sarapan." ucap Daffin yang sudah turun dari ranjang. Ia menarik tangan Grace namun wanita itu menepisnya lembut.
" K-kamu duluan aja yang mandi, a-aku mau siapin baju kamu dulu." ucap Grace membuat Daffin geleng geleng. Tak mau ambil pusing, Daffin segera melangkah ke kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi tertutup barulah Grace bisa bernafas lega.
Huffttt .
" Syukur deh tuh orang gak maksa gue mandi bareng." gumam Grace sambil mengusap dadanya. Ia segera menuju lemari dan mengambil satu stel pakaian santai untuk Daffin dan dirinya.
____
Kini keduanya berjalan menyusuri tangga dan melihat keluarganya sedang duduk santai di ruang santai. Melihat Grace dan Daffin yang baru turun membuat jiwa jahil Devano, Elvano dan juga Vero meronta ronta.
" Syirik aja loh jadi orang. Makanya nikah biar bisa ***** juga." jawab Grace melirik sinis pada Vero.
" Ck, lagian nih kak. Siapa sih cewek yang mau sama buaya macam bang vero?" sahut Devano hingga membuat Vero mendelik padanya.
" Enak aja lu ngatain gue buaya. Gue bukan buaya tau." jawab Vero.
" Terus apa dong bang?"
" Bunglon. Puas lo." jawab Vero membuat semua orang yang ada disana tertawa karenanya.
" Lagian nih bang, lu lahir lebih dulu dari bang Zay sama kak Grace. Gimana ceritanya lu bisa disalib sama tuh dua orang? apa saking gak lakunya dirimu bang?" sahut El yang langsung mendapat plototan tajam dari Vero.
" Eh jamet kudasi, tuh mulut main nyerocos aja kek gak pernah disekolain. Gue bukannya gak laku ye."
" Terus apa bang?"
" Gak ada yang mau sama gue. Puas lo puas?" geram Vero dan lagi lagi semua yang ada disitu tertawa. Niat hati menjahili pasutri baru malah firinya yang kena jahil.
" Kamu tuh ganteng, sebelas duabelas sama papa. Masak gak ada yang mau sama kamu sih?" sahut Arland tidak percaya.
" Eitss, maaf maaf aja nih pa. Papa sama aku gantengan aku kemana mana. Ibaratnya angka nih, papa 4 aku 10." Ucap Vero yang langsung mendapat lemparan bantal dari Arland.
" Kamu gak akan terlahir ganteng kalau bukan gen papa yang mewarisi kamu. Dasar anak kampret." geram Arland.
" Tapi mama cantik, siapa tau gen mama yang nurun ke Vero." balas Vero tak mau kalah.
" Nih anak bener bener ya. Papa potong uang jajan kamu." ancam Arland yang langsung membuat Vero memeluk kaki papanya, karena dirinya duduk dibawah disamping papanya.
" Iya ampun pa. Papa emang ganteng kok, kan vero ganteng turunan dari papa." ucap Vero sambil memasang puppy eyes nya.
" Ckk, jijik lihat wajah sok imut mu." ucap Arland dan Vero mencebikkan bibirnya.
Semua hanya geleng geleng kepala melihat tingkah laku anak dan bapak itu . Selalu saja tidak akur, entah apapun pembahasannya mereka berdua lah yang sering berdebat.
" Daffin, Grace." panggil Reyhan.
" Iya pa."
" Kalian sudah menentukan mau honeymoon kemana?" tanya Reyhan.
Daffin dan Grace saling pandang, mereka bahkan belum membahas apapun setelah ujab qobul kemarin. Keduanya pun kompak menggelengkan kepala karena memang belum tau akan honeymoon kemana.
" Kalian belum merencanakannya?" sahut Luna dan lagi lagi keduanya menggelengkan kepala.
" Astaga, emang kalian gak mau honeymoon?" tanya Luna lagi.
" Grace sama mas Daffin belum membicarakannya ma, pa. Nanti lah kita akan bicara. Lagian honeymoon bisa nanti kan, gak mesti sekarang juga." jawab Grace yang kembali bersandar di pundak Daffin.
" Papa sudah membelikan kalian tiket ke paris. Kalian bisa honeymoon kesana." ucap Reyhan sambil mengeluarkan dua tiket untuk Daffin dan Grace.
Grace menatap dua tiket itu tanpa berkedip. Dua tiket? cuma dua tiket? itu artinya yang akan pergi hanya dirinya dan Daffin? Oh my God, jantung Grace berdetak lebih cepat, bukankah itu artinya dia harus bersiap untuk memberikan kewajibannya pada Daffin. Jujur saja Grace masih takut akan cerita kedua sahabatnya.
" Grace." panggil Luna membuyarkan lamunannya.
" Ha? kenapa ma?"
Luna menatap putrinya dengan kening berkerut. Kenapa ekspresi Grace berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkan? Ia pikir Grace akan senang saat mendapat tiket honeymoon ke paris, tapi saat melihat raut wajah Grace sepertinya putrinya itu tidak suka.
" Kamu nggak suka ke paris? atau mama pesenin tiket lagi sesuai keinginan kamu." ucap Luna dan Grace menggeleng cepat.
" Enggak ma." Grace segera merampas dua tiket itu dan mengantonginya.
" Grace suka kok." sambungnya dengan senyum yang terlihat terpaksa.
" Yakin?"
" Yakin ma, iya kan mas." Grace menyenggol lengan suaminya dan Daffin hanya mengangguk saja. Ia sebenarnya tau apa yang dipikirkan Istrinya saat ini. Biarlah nanti ia memberi Grace pengertian lagi.
" Yaudah kalau gitu, kalian bisa berangkat besok pagi." ucap Luna membuat kedua mata Grace membulat.
" APAA?"
.
.
.
.
Hallo!! Season tiga udah hadir lagi. Tiga apa dua ya? tiga kali ya. Aku mau minta maaf kalau baru bisa ngelanjutin lagi karena kesibukanku juga. Makasih juga buat yang masih stay nungguin cerita ini update lagi. Please banyakin komen dong biar makin semangat updatenya. Author maksa nih 😜
selamat membaca guys.