My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
85.



Tragedi.


.


.


.


.


.


Grace merapikan pakainnya yang terlihat sedikit berantakan.


Ia juga mengambil kaca dan sisir untuk merapikan rambut dan lipstiknya yang terlihat belepotan.


" Ya ampun ganas bener calon suami aku." gumam Grace pelan namun masih bisa di dengar oleh Daffin.


Ia melihat bibirnya yang sedikit bengkak akibat ciumannya dengan sang kekasih.


" Sekalian hukuman buat kamu atas pertanyaan kamu yang aneh tadi." sahut Daffin yang terlihat acuh.


" Cuma tanya kayak gitu aja kamu udah ngehukum aku kayak gini, apalagi kalau aku cari cowok lain?" gerutu Grace sambil mengerucutkan bibirnya.


" Tinggal terima nasib aja, siap siap aku ikat kamu di pohon nanas." ucap Daffin membuat Grace tertawa sedikit keras.


" Gak sekalian aja di bawah pohon toge." sahut Grace mencebikkan bibirnya.


" Belum diiket kamu udah makan duluan tu pohon toge." sahut Daffin membuat Grace meliriknya sinis.


" Sialan." gumam Grace yang langsung mendapat plototan tajam Daffin.


" Bilang apa kamu barusan? coba ulangi! Mau aku hukum lagi?" ucap Daffin, Grace menggeleng cepat.


" Maaf!! Reflek doang tadi." jawab Grace sambil nyengir.


" Aku ke kantin dulu ya, mau nyemperin temen temen aku. Mereka udah pada nungguin disana." ucap Grace diangguki Daffin.


" Nanti kamu mau langsung pulang?"


" Iyaa, nanti aku langsung pulang aja." jawab Grace.


" Nanti kamu juga langsung ke kantor?" Daffin mengangguk sebagai jawaban. " Kamu jangan terlalu sibuk di kantor, kamu juga harus menjaga kesahatan kamu dan jangan capek." ucap Grace sambil merapikan kemeja Daffin yang sedikit kusut.


" Iya sayang." Daffin menarik pinggang Grace dan menatap wajah Grace begitu dalam.


" Kamu tau? Aku ingin sekali menikahi kamu." ucap Daffin namun Grace hanya tersenyum.


" Aku gak sabar membina rumah tangga sama kamu, menjadikan kamu mama dari anak anakku nanti." ucap Daffin yang terlihat begitu serius.


" Jalau begitu ayo menikah sekarang." jawab Grace dengan senyum lebarnya.


" Aku serius, jangan bercanda."


" Aku juga serius, ayo kita menikah." jawab Grace yang kini mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius.


" Sayaaang." rengek Daffin karena Grace masih menanggapinya dengan bercanda.


" Aku tunggu lamaran kamu." ucap Grace, ia berjinjit lalu mengecup sekilas bibir Daffin.


" Aku pergi dulu ya, jangan lupa bawa mama papa kamu kerumah buat lamar aku nanti malam." ucap Grace mambuat Daffin membulatkan matanya.


Dengan senyum mengembang, Grace pergi begitu saja meninggalkan ruangan Daffin.


Daffin yang masih terlihat cengo hanya menatap Grace yang sudah mengilang di balik pintu ruangannya.


Grace berjalan menuju kantin untuk menemui ketiga sahabatnya yang sedang menunggunya.


Ia yakin pasti ketiga temannya akan langsung memarahinya. Pasalnya sudah 20 menit mereka menunggu Grace.


" Woeeyy.." gertak Grace dari belakang membuat Naya dan Grizzele berjingkat kaget.


" Anak anjing lu! Dari mana aja sih, udah lumutan kita bertiga nungguin lu." ucap Grizzele.


Grace mengammbil duduk di sebelah Adam yang sibuk bermain Game di ponselnya.


Bahkan kedatangan Grace saja dia hanya meliriknya sekilas.


" Dari ruangan pak Daffin." jawab Grace sambil menyeruput minuman Adam.


plaakk..


" Kebiasaan." ucap Adam menabok pelan tangan Grace.


Ia menyimpan ponselnya dan memilih bergabung dengan obrolan para gadis.


" Dikit doang elah." ucap Grace mencebikkan bibirnya.


Naya dan Grizzele hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan kedua orang yang tidak pernah akur ini.


Biarpun Adam baru berteman dengannya, tapi mereka sudah mengerti karakter Adam bagaimana.


Keempat manusia itu menghabiskan waktu mereka hingga pukul 2 siang. Setelah itu mereka memutuskan untuk langsung pulang karena sudah tidak ada jadwal kuliah lagi.


**


Kini Grace mengendarai mobilnya menuju rumah utama karena dia dan keluarganya masih tinggal di sana.


Dengan santai Grace mengendarai mobilnya dan tanpa sadar jika ada dua mobil hitam yang mengikutinya sedari tadi.


Grace yang akhirnya sadar jika ada dua mobil yang mengikutinya langsung menambah kecepatannya.


Bukan karena takut, hanya saja Grace tidak membawa senjata apapun.


" Br*ngsek.. siapa sih mereka." gumam Grace dengan perasaan kesal.


Grace mencari jalanan sepi agar lebih muda melawan orang orang yang ada di mobil itu.


Ia membelokkan mobilnya ke arah jalanan yang terlihat kiri kanan hanya ada pepohonan dan jurang yang dalam.


Orang orang yang di dalam mobil hitam itu justru tersenyum senang karena target masuk kedalam jebakannya.


Mobil itu langsung mensejajarkan mobilnya dengan mobil Grace dan mobil satunya sudah berada di depan Grace.


" Bang sat.. mau apa mereka." ucap Grace dengan perasaan yang sudah tidak enak.


Biarpun dia cukup pandai bela diri namun ilmunya tidak sebanding dengan mamanya dulu apalagi ia tidak membawa senjata apapun.


Dorrr...


Mobil yang berada di depan Grace menembakkan pelurunya tepat mengenai kaca depan Grace, beruntung ia bisa menghindar dan peluru itu tidak mengenai tubuhnya.


" Berhenti atau kau akan celaka." ucap seseorang yang berada di mobil samping Grace.


" Tidak akan." ucap Grace dengan seringainya.


" Sekarang." perintah seseorang lalu....


Dorr..Doorr..


Kali ini dua peluru menembak tepat di kedua ban mobil Grace dan membuat mobil itu oleng.


Grace yang tidak bisa mengendalikan mobilnya akhirnya membanting stir ke kiri dan mobil Grace terperosok masuk kedalam jurang.


DUUUUUAAAAARRRRR....


Sebuah ledakan dari mobil Grace terdengar begitu besar. Orang yang berada dalam mobil itu akhirnya turun dan melihat ke bawah jurang dan benar mobil Grace sudah meledak.


" Gue 100% yakin jika dia sudah mati." ucap Salah satu orang itu.


" Kita lapor saja pada bos, pasti dia akan senang mendengar kabar berita yang kita bawa." sahut temannya lalu mereka kembali ke mobil dan melesatkan mobilnya meninggalkan lokasi.


***


Pyaaaarrr..


Bingkai foto Grace yang terpajang di ruang keluarga terjatuh begitu saja membuat semua orang yang sedang duduk santai menoleh kearah bingkai tersebut.


" Grace." gumam Luna memegangi dadanya yang berdetak tak karuan.


" Ada apa ini? kenapa foto Grace bisa jatuh sendiri?" ucap Luna dengan wajah yang terlihat khawatir.


" Tenanglah, mungkin tadi tidak sengaja kesenggol." sahut Reyhan mencoba menenangkan istrinya.


" Kesenggol siapa pa? kita semua ada disini." sahut Devan. ia juga merasa terjadi sesuatu dengan kakaknya.


Sama halnya dengan Zay, ia yakin jika terjadi sesuatu dengan Grace.


Ia berkali kali menelpon nomor Grace, namun ponsel grace tidak aktif.


" Hallo bang, apa Grace bersama abang." ucap Zay melalui sambungan telepon.


Ia akhirnya menelpon Daffin barang kali Grace bersamanya.


" tidak, dia tadi pamit menemui Naya dan Grizzele. Memang ada apa?" jawab Daffin.


" Tidak ada apa apa, aku tutup dulu bang." ucap Zay lalu mematikan sambungan teleponnya.


*


Di seberang sana Daffin tengah terlihat cemas, perasaannya menajadi tidak enak.


" Ada apa ini? ada apa dengan Grace? kenapa perasaanku gak enak?" gumam Daffin.


Pikirannya kini hanya tentang Grace, Ia berkali kali menelpon nomor Grace namun tidak aktif. Akhirnya Daffin merapikan buku bukunya lalu pergi mencari Grace.


*


Zay sudah mengubungi Naya dan Grizzele, kedua temannya itu mengatakan jika Grace sudah pulang satu jam yang lalu.


Itu berarti Grace harusnya sudah ada di rumah 30 menit yang lalu karena jarak kampus dan rumah utama hanya kurang lebih 30 menit.


Namun jika melihat cara berkendara Grace harusnya kurang dari 30 menit dia sudah sampai rumah.


" Paa.. maama khawatir sama Grace. Dari tadi perasaan mama gak enak tentang putri kita." ucap Luna yang suda menangis di pelukan Reyhan.


" Kamu tenanglah, papa yakin jika Grace baik baik saja." ucap Reyhan mengusap punggung istrinya.


Dering ponsel milik Ricko berdering, tertera nomor tidak di kenal tengah menghubunginya.


" Selamat siang, saya dari kepolisian ingin menyampaikan jika mobil dengan plat nomor B 1 GRC mengalami kecelakaan dan mobilnya masuk kedalam jurang." ucap anggota kepolisian.


" APA?" Ricko menjatuhkan ponselnya.


jantungnya terasa sakit saat mendengar kabar yang baru saja ia terima.


" Papa.. papa kenapa?" ucap Alan mengahampiri Ricko.


" Grace,, mobil Grace masuk jurang." ucap Ricko membuat semua orang berteriak histeris.


Bahkan luna sudah pingsan saat mendengar kabar putrinya.


" MAMA..." teriak Devano dan Zay.


" Bawa mama ke kamar." ucap Reyhan diangguki Zay dan devan.


" Sebaiknya kita langsung ke tempat kejadian." ucap Reyhan dia angguki yang lain.


.


.


.


.


.


Aku deg degan nulis part ini.


😭