My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
34.



Zay terdiam terpaku mendengar semua penjelasan Olivia, bibirnya keluh tidak tau harus berkata apa?


Antara percaya atau tidak, namun perubahan tubuh Olivia membuktikan semua perkataanya.


Hingga akhirnya sebuah lembar kertas di sodorkan di depan Zay oleh Ranti.


Ranti memberikan hasil Lab Olivia agar Zay membacanya sendiri.


Zay membulatkan matanya saat ia melihat sendiri hasil lab yang tertulis di kertas itu.


" Apa yang dikatakan Olivia adalah kenyataan nak, olivia mengidap Kanker otak stadium akhir.


Tante minta maaf karena menyembunyikan ini semua dari kamu karena oliv sendiri yang memintanya." sahut Ranti.


Zay tidak menajwab, ia menatap dalam manik mata Oliv lalu menarik tubuh oliv kedalam pelukannya.


Rasa kecewa kini berganti rasa bersalah, dirinya amat bersalah karena tidak ada dimasa tersulit Olivia.


" Maafkan aku yang tidak ada di masa tersulit kamu." ucap Zay mendekap erat tubuh oliv yang semakin kurus itu.


" Bukan salah kamu Zay, ini semua salahku. Aku yang nggak mau kamu tau karena aku gak ingin membebani kamu." sahut Oliv mengusap punggung pemuda itu.


" Maafkan aku yang sudah membencimu, maafkan aku." ucap Zay yang terus merasa bersalah den semakin mengeratkan pelukannya.


" Aku mengerti Zay, sudah sepantasnya kamu membenciku karena aku tega ninggalin kamu tanpa alasan."


Belum sempat Zay berkata, ponsel Zay berdering.


Zay melepas pelukannya dan melihat siapa orang yang tengah menghubunginya.


Zay membulatkan matanya saat Kiran menghubunginya, ia lupa jika ada janji dengan kiran hari ini.


Oliv sekilas melihat nama yang tertera di ponsel Zay, ia tersenyum getir saat melihat kata SAYANG yang menghubungi Zay.


Itu artinya zay sudah mempunyai kekasih baru.


Namun Oliv mengerti, setidaknya Zay bisa bahagia dengan wanita pilihannya.


Zay menoleh ke arah Oliv seakan meminta izin untuk mengangkat panggilannya.


Oliv tersenyum dan mengangguk, Zay keluar rumah lalu mengangkatnya.


" Kamu dimana sayang? kenapa belum datang?" tanya Kiran.


" A-aku masih dirumah, tapi ini udah siap siap mau berangkat kerumah kamu." jawab Zay sedikit gugup.


Ia merasa bersalah karena telah berbohong pada Kiran.


" Baiklah aku tunggu, kamu hati hati dijalan oke." ucap Kiran dengan lembut.


" Iya, tunggu aku sebentar lagi." jawab Zay lalu mematikan sambungan teleponnya.


Zay memasukkan ponselnya kedalam saku lalu kembali menghampiri Oliv.


" Aku harus pergi." ucap Zay sambil menggenggam tangan Oliv.


" Pergilah, terimakasih kamu sudah memaafkan aku dan percaya sama aku." ucap Oliv.


" Aku yang harus minta maaf karena aku gak ada dimasa tersulit kamu." ucap Zay.


Olivia mengangguk, itu bukan masalah karena yang terpenting Zay tidak membencinya sekarang.


" Aku pergi dulu, besok aku akan kesini lagi." ucap Zay diangguki Oliv.


" Kamu hati hati dijalan." ucap Oliv.


Zay mengangguk lalu ia keluar dari rumah Olivia.


Sepeninggal Zay, air mata Oliv meleleh begitu saja.


Ada rasa cemburu yang terselip dalam hatinya saat Zay berpamitan untuk menemui kekasihnya.


Memang Zay tidak bilang akan pergi kemana? namun nama SAYANG yang menghubunginya sudah membuktikan jika Zay akan bertemu dengan kekasihnya.


" Kamu gapapa sayang?" sahut Ranti menghampiri putrinya yang sedang menangis.


" Salah nggak sih ma kalau Oliv masih cinta sama Zay?" ucap Oliv menatap Ranti dengan air mata yang terus berjatuhan.


" Kenapa? putri mama ini masih cinta sama kekasihnya dulu?" Ranti mengusap lembut punggung Oliv, ia mengerti apa yang di rasakan Olivia saat ini.


" Rasa cinta oliv sama Zay masih sama seperti yang dulu ma, tapi sekarang Zay udah punya kekasih." ucap Oliv menunduk.


" Cinta kamu nggak salah sayang, hanya keadaan yang sulit untuk kalian bersatu kembali." ucap Ranti menyadarkan Oliv bagaimana keadaannya sekarang.


" Mama benar, dengan keadaan oliv yang seperti ini tidak mungkin Zay akan kembali sama oliv.


Lagian hidup Oliv gak akan lama lagi." sahut Olivia.


" Jangan bicara seperti itu, mama gak suka." hardik Ranti.


Ia paling benci jika Oliv mengatakan hal itu.


" Tapi itu kenyataan ma, kata dokter kan emnag begitu."


" Hidup mati seseorang hanya Allah yang tau, jangan percaya sama dokter." ucap Ranti memeluk putrinya.


" Sekarang kamu minum obat dan langsung istirahat ya." ucap Ranti diangguki Olivia.


***


Zay mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tidak perduli dengan orang orang yang mengklaksonya dalam mengendarai mobil karena ia hanya ingin segera sampai di rumah kiran.


Sesampainya di rumah kiran ia segera turun dan menemui kiran.


Zay membunyikan bel rumah dan tak lama kiran membukakan pintu.


" Maaf aku terlambat." ucap Zay saat melihat kiran yang membukakan pintu.


Kiran tersenyum, ia melihat penampilan Zay yang sedikit berantakan.


" kamu bawa motor?" tanya kiran sambil merapikan rambut dan kemeja Zay yang sedikit kusut.


" A-aku bawa mobil kok." jawab Zay sedikit gugup.


" Kenapa agak berantakan? lain kali jangan terlalu buru buru, aku gapapa kok nunggu lama asal kamu nggak ngingkari janji." ucap Kiran tersenyum manis.


" Kenapa minta maaf? kamu gak ada buat salah sama aku kok." jawab Kiran.


Zay tidak menjawab, ia semakin mengeratkan pelukannya.


" Ayo berangkat, aku harus beli beberapa barang untuk aku bawa ke jerman nanti." ucap Kiran.


Zay melepas pelukannya, ia mengangguk lalu menggandeng tangan Kiran masuk kedalam mobil.


Kini keduanya berada di sebuah pusat perbelanjaan, Kiran meminta Zay untuk menemaninya berbelanja keperluan yang akan ia bawa ke jerman nanti.


Kiran mengajak Zay pindah ke Cafe setelah membeli barang keperluannya.


Sedari tadi ia memperhatikan wajah Zay yang tidak seperti biasanya. Entah apa yang ada di pikiran kekasihnya itu.


" Kamu gapapa kan?" tanya Kiran sambil mengenggam lembut tangan Zay diatas meja.


Zay menatap kiran. " Aku gapapa kok, emang kenapa?"


" Aku rasa kamu banyak melamun hari ini." jawab kiran yang sedari tadi menyadari itu.


Zay memang banyak melamun, pikirannya masih tentang Olivia yang tadi ditemuinya.


" Aku gapapa sayang, mungkin sedikit kecapean." jawab Zay mengusap pipi Kiran.


Kiran tersenyum, ia tau jika ada yang disembunyikan oleh Zay tapi Kiran enggan untuk bertanya lebih dalam karena ia tau kalau itu masih privasinya Zay.


" empat hari lagi aku akan berangkat ke jerman." ucap Kiran membuat Zay menatapnya lekat.


" Bukannya kamu bilang masih seminggu lagi?" tanya Zay, ia tidak mengerti kenapa kiran memajukan jadwal keberangkatannya.


" Aku harus bersih bersih apartemenku dulu sebelum aku mulai kuliah." jawab Kiran sambil mengaduk aduk minumannya.


" Aku pasti akan kangen sama kamu." ucap Zay yang sudah menggeser tempat duduknya untuk lebih dekat dengan kiran.


" Kamu bisa mengunjungiku kalau kamu kangen." jawab Kiran tertawa kecil.


" Tapi aku rasa kamu gak akan kangen sama aku." sambungnya membuat alis Zay bertaut.


" Kenapa bilang begitu?" tanya Zay.


" Hanya bercanda, ayo pulang." ucap Kiran yang sudah berdiri.


Zay mengangguk lalu menggandeng Kiran keluar Cafe.


****


" Kenapa Zay lama banget ya?" gumam Grace.


Ia sedang bersama Vero di ruang tengah menunggu kepulangan Zay.


Sedangkan Devano sudah pulang tadi sore bersma El dan mereka berada di kamar sekarang.


" Tuh dia." tunjuk Vero saat melihat Zay baru masuk kedalam rumah dengan wajah yang sulit mereka artikan.


" Bagaimana?" tanya Vero saat Zay sudah mendudukkan bokongnya di samping Grace.


Zay tidak menjawabnya, ia malah merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan paha Grace.


" Ada apa? cerita aja?" ucap Grave sambil mengusap rambut Zay.


" Olivia kembali." jawab Zay.


" Lalu?" sahut Grace yang merubah wajahnya dengan raut wajah datar.


" Aku sudah mendengar semuanya, alasan kenapa dia ninggalin kita begitu aja tanpa kabar sedikitpun."


" Jangan berbelit Zay."


" Dia sakit Kanker otak dan kini sudah stadium akhir." jawab Zay membuat Grace dan Vero membulatkan matanya.


" Lo serius?" sahut Vero menatap Zay tidak percaya.


" Gue serius."


" Lalu bagaimana dengan lo sekarang?"


" Gue gak tau, yang jelas sekarang gue ngerasa bersalah karena gak ada di saat masa tersulit dia." jawab zay.


" Bukan salah lo, apapun alasanya dia yang salah karena udah ninggalin lo." Sahut Grace dengan tatapan datar.


Zay bangun lalu menatap Grace yang sedang dalam mode datarnya.


" Dia sakit, alasan dia pergi karena gak ingin kita terbebani dengan penyakit dia."


" Dan hanya karena alasan itu lo langsung memaafkannya? kasian padanya? lo gak inget selama 4 tahun lo menderita karena dia? lo menjadi orang super dingin karena dia? dan lo selalu merasa sendiri seakan orang di sekitar lo gak ada.


Lo cowok terlemah yang pernah gue kenal." ucap Grace.


Ia bangkit lalu pergi menuju kamarnya.


" Gue tau maksud grace ngomong kek gitu.


Dia masih belum terima Oliv ninggalin lo begitu aja meski apapun alasannya.


Karena selama masa terpuruk lo, yang ada buat lo adalah Grace. Lo ngerti kan maksud gue?" sahut Vero menepuk bahu Zay lalu pergi meninggalkan Zay sendiri.


Zay menatap Lurus kedepan, ia memang lemah.


Lemah jika sudah berurusan dengan Olivia.


Ia ingin marah, tapi setelah mendengar penjelasan olivia seketika melenyapkan semua prasangka yang hinggap di kepalanya.


Rasa marah, kecewa seketika berubah menjadi rasa kasian dan bersalah.


.


.


.


.


😢