
Truth or Dare part 2.
.
.
.
.
.
.
Persahabatan di jalin tidak hanya sekedar ingin punya teman, namun sahabat diperlukan sebagai teman yang bisa mengingatkan, memberikan perhatian, pengertian, dan selalu menuntun kita ke arah yang lebih baik.
persahabatan juga memiliki kekuatan untuk memperbaiki kualitas hidup kita bahkan membantu memperpanjang usia. Pasalnya menghabiskan waktu dengan sahabat, menciptakan obrolan-obrolan menarik. Dukungan, kedekatan dari hati ke hati, serta adanya gelak tawa membuat hidup menjadi lebih berwarna.
Seperti saat ini, gelak tawa dari Grace dan teman temannya memenuhi isi ruangan tengah.
Luna yang melihat anak anak itu hanya bisa tersenyum. Ia teringat akan masa masa remaja yang pernah ia lalui bersama para sahabatnya.
Ia juga ingat bagaimana ia dan teman satu kelasnya juga bermain permainan yang sama.
Dan dimana disaat itu pula Louis menyatakan cintanya pada ajeng dan ajeng menerimanya.
Rindu? sudah pasti. Masa masa remaja adalah masa dimana kita kita sudah bukan menjadi anak anak dan bukan pula bisa disebut dewasa.
Masa dimana seseorang sedang mencari jati dirinya.
Dimana kenakalan demi kenakalan mereka lalui, bolos, melanggar peraturan sekolah, di hukum dan masih banyak lainnya.
" Melihat anak anak bahagia tanpa sadar kita juga ikut bahagia, inget banget kita pernah memainkan permainan itu waktu jam kosong." ucap Luna menoleh kearah Reyhan yang berdiri disampingnya.
" Waktu begitu cepat berlalu, padahal seperti baru kemarin aku dan kamu di jodohkan. Tapi dengan cepat waktu merubah semuanya hingga kita mempunyai anak anak yang tumbuh dewasa dengan sangat baik." ucap Reyhan yang juga tersenyum bangga melihat anak anak mereka dan juga teman temannya.
" Sudahlah, kalau membahas masa lalu tidak akan pernah ada habisnya. Kita simpan yang baik baik saja, yang buruk kita buang jauh jauh." ucap Luna.
" Iyaa kamu benar.. Sekarang kamu Ikut aku." ucap Reyhan menarik tangan Luna.
" Kemana?"
" Kamar, aku ingin bermain main juga." jawab Reyhan mendapat plototan tajam dari Luna.
" Gak malu apa anak anak udah pada gede gitu?"
" Biarin, toh mereka juga gak tau." jawab Reyhan yang terus menarik tangan Luna keatas menuju kamar.
**
" Sekarang lu ambil satu nama." ucap Grace Lalu Vero mengambil satu nama secara acak.
" DAFFIN GUNANDRA." ucap Vero membaca kertas itu.
" Truth or dare pak?" tanya Vero.
" Jangan panggil bapak, aku tidak setua itu." ucap Daffin menatap jengah kearah Vero.
" Terus dipanggil apa dong? kan bapak dosennya Grace."
" Tapi aku juga kekasihnya."
" Yaudah panggil dia abang aja, gapapa kan sayang?" sahut Grace diangguki Daffin.
" Oke sekarang abang pilih apa? truth or dare?" tanya Vero sekali lagi.
" Dare aja." jawab Daffin lalu Vero mengambil satu kertas untuk Dare.
" Adu panco dengan seseorang di sebelah kananmu, jika kamu menang kamu mendapat hadiah darinya, dan jika kamu kalah kamu yang memeberinya hadiah." ucap Vero.
Daffin menoleh ke arah kanannya yang tak lain adalah Devano yang sudah memasang wajah masamnya.
" OH SHIT... udah pasti gue yang kalah lah?" gerutu Devan sambil melirik Daffin.
" Lagian siapa sih yang bikin Dare kek gitu? alamak tekor lagi gue." kesal Devan.
Daffin hanya tersenyum mendengar celotehan Devan.
Terlintas sesuatu yang ada dipikirannya jika dia memenangkan adu panco ini.
" Gak usah banyak omong deh dev, buruan lakuin." sahut Grace.
Daffin dan Devan memulai adu panco mereka.
30 detik, satu menit permainan mereka masih imbang.
Devano masih bisa menahan tangan Daffin. Saat melihat Devan yang sudah mengeluarkan seluruh tenaganya, hanya satu tekanan Daffin langsung bisa mengalahkan Devan.
Dan permainan di menangkan oleh Daffin.
" Tuh kan apa gue bilang? pasti gue yang kalah, lagian ini permainan apaan sih? malah bikin gue tambah tekor aja." gerutu Devan dengan kesal.
" Ngomel mulu kek mak mak pasar lu ah. Sekarang kamu minta apa yank dari Devan? Kalau saran aku sih minta yang lebih mahal aja sekalian." sahut Grace menatap Daffin dengan mengedipkan matanya.
" Dasar gak ada akhlak lu kak, bukannya ngeringanin beban gue malah ikut ikutan ngomporin lagi." kesal Devan menatapnya dengan sengit.
" Bang.. please lah jangan yang mahal mahal. Belum lagi gue menanggung beban hidup tuh manusia purba." ucap Devan sambil menunjuk Vero.
" Bodoh amat, itu juga gara gara elu." sahut Vero dengan menjulurkan lidahnya.
" Abang cuma minta--" Vero menggantungkan ucapannya, Devan menatap lekat wajah Daffin dengan wajah memelasnya.
" Buruan dah bang." sahut Devan tidak sabaran.
" Sini abang bisikin." ucap Daffin lalu Devan mendekatkan telinganya.
"........................"
" Serius cuma itu?" tanya Devan diangguki Daffin.
" Oke bang, Devan mah selalu siap." ucap Devan sambil memberi hormat pada Daffin.
" Apaan nih kok pakek bisik bisik segala? emang bang Daffin minta apa?" sahut Izzam.
Daffin menyenggol lengan Devan agar tidak memberi tahu siapapun.
" Maaf ya bang Izzam, ini urusan dua cowok tertampan. Jadi abang yang pas pasan mending diem aja gak usah kepo." jawab Devan dengan wajah songongnya.
" Kutu Kupret gue beri juga lo." geram Izzam.
Grace mencebikkan bibirnya, dengan dirinya saja Daffin masih rahasia rahasiaan.
" Yuk lanjut." sahut Elvano kemudian Daffin mengambil satu nama.
" KANAYA LARASATI." ucap Daffin membaca kertas itu.
" Truth or Dare?"
" Truth aja bang." jawab Naya.
" Ada gak cowok yang kamu sukai di sini? dan siapa?" ucap Daffin membaca pertanyaan nya.
" Waahh bawa bawa perasaan nih? Sueek yang bikin pertanyaan.. gue mesti jawab apa?" gerutu Naya.
" Yaudah jawab aja sih." sahut Grizzele.
" Ada tapi gue gak bisa nyebut nama, takut nanti malah jadi awkward." jawab Naya.
" Sebutin aja napa, kali aja dia suka balik ma lu." sahut Gibran dibalas gelengan oleh naya.
" Gak makasih, pokoknya gue gak akan sebut nama. Intinya gue suka sama nih orang, gak peduli kelakuannya karena gue sayang ma dia." jawab Naya.
" Jadi penasaran siapa orangnya? Bukan cowok gue kan?" sahut Grace memincingkan matanya.
" Gue masih waras yaa, gila aja ngerebut pacar sahabat sendiri." jawab Naya dengan sinis.
" Ooohh..Oke."
" Yaudah lanjut." sahut Izzam lalu Naya membaca satu nama.
" KIRANA ZUNAIRA, truth or dare." ucap Naya menatap Kiran.
" Udah pasti Truth lah." sahut Vero diangguki Kiran.
" Jika dikasih kesempatan untuk kembali ke masa lalu, hal apa yang ingin lu ubah atau yang tidak pernah lu inginkan itu terjadi." ucap Naya.
" Gak ada." jawab Kiran.
" Kenapa?" sahut Zay menoleh kearah Kiran.
" Aku gak ingin mengubah apapun di masa lalu, entah itu sepahit dan segetir apapun karena dari sanalah aku seharusnya belajar agar semua yang aku lakuin saat ini jauh lebih baik." jawab Kiran.
Tidak ada yang salah dengan masa lalu, sepahit dan sesakit apapun biarlah itu menjadi sebuah kenangan.
Karena banyak sekali hal yang sudah dilakukan di masa lalu, kebahagiaan, penderitaan semua sudah terbungkus rapi dalam satu kenangan.
Jadikan masa lalu sebuah pedoman agar kita bisa menjalani hidup saat ini lebih baik lagi.
" Bijak." sahut Freya sambil bertepuk tangan diikuti Rissa lalu yang lain.
" Oke lanjut." sahut Naya memberikan wadah itu pada Kiran.
" FREYA CITRANI, Truth or dare." ucap Kiran membacakan nama freya.
" Dare aja deh kak, dari tadi gak ada yang pilih Dare." jawab Freya.
" Cium seseorang disebelah Kiri kamu." ucap Kiran disambut gelak tawa yang lain.
Bagaimana tidak, disebelah kiri freya adalah Izzam yang sudah memasang wajah songongnya.
" GAK BISA, minggir lu bang. Gue gak rela lu dapet ciuman dari Freya. Gue calon suaminya aja belum pernah dapet ciuman dari dia." Protes Devano yang sudah berdiri dan menggeser tubuh Izzam.
" Tidak boleh pindah, yang pindah kena denda." sahut Zay dan semua menertawakan Devan.
" Bang lu mau calon adek ipar lu nyosor nih kera sakti?" sungut devan sambil menunjuk Izzam.
" Lu bener bener anak Setan ya, seenak jidat lu aja ngatain gue kera sakti." ucap Izzam memukul bahu devan sedikit keras.
" Lu kira gue bebek apa ngatain gue nyosor? belum pernah diamuk orang gila lu ya?" kesal Freya.
" Emang kayak gimana Frey?" sahut Nathan.
" Bang, amuk dia." ucap Freya sambil menatap Izzam dan menunjuk Devan.
" Wwaahh anak ini bener bener, gak ceweknya gak cowok ya sama aja. Oke lah gasken." balas Izzam.
" LU ITU JANGAN NGATAIN FREYA NYOSOR DONG, KAN DIA BUKAN BEBEK." ucap Izzam yang berpura pura memarahi Devan.
" Terus apa bang?" tanya Devan dengan wajah polosnya.
" SIMPANSE." jawab Izzam kemudian tertawa keras diikuti yang lain.
" Bang ke lu..." geram Freya menatap Izzam dengan kesal.
" Yaudah buruan dilakuin Frey." sahut Gibran.
" Gak bisa, pokoknya gue gak rela Freya nyium bang Izzam." protes Devan.
" Yaudah lu pilih denda." sahut Zay.
" Bang, lu bener bener tega deh ma gue." keluh Devan menatap Zay fengan wajah memelas namun Zay hanya menaikkan bahunya acuh.
" Minggir dev." usir Freya.
" Yank, lu tega nyium nih kadal buriq? gak takut tuh bibir jadi tetanus?" ucap Devan menatap Freya dengan wajah sedihnya.
" Waahh nih anak bener bener minta di jahit mulutnya, sekali lagi lu ngatain gue, gue sleding pala lo." geram Izzam.
" Dahlah buruan, nih masih banyak nih nama nama yang belum disebut." sahut Grizzele dengan tidak sabaran.
Devan mendengus kesal, Freya dengan pasrah menarik tangan Izzam lalu menciumnya.
" Kok di tangan? gue udah merem padahal." keluh Izzam karena freya menciumnya ditangan.
" Masih untung lu di cium freya, banyak protes sekali." sahut Devan, ia sedikit lega karena Freya mencium Izzam di tangannya bukan di pipinya.
.
.
.
.
Tinggal satu part lagi..
Jangan bosen ya 😁