
Grace dan Daffin baru saja tiba di bandara paris pukul 23.00. Keduanya langsung menuruni tangga dan melihat seseorang yang tidak asing bagi Grace. Ia mengernyitkan keningnya sebentar namun setelah itu ia berlari menghampiri orang yang ia kenal.
" Om Askaaaaa." teriak Grace berlari menghampiri Aska dan reflek memeluk tubuh laki laki yang seumuran dengan papanya itu.
" Alhamdulillah kamu sampe dengan selamat nona." ucap Aska sambil melepas pelukan Grace. Ia menatap suami Grace yang menatap mereka dengan datar.
" Kok nona sih? panggil Grace aja lah." Grace cemberut. Ia paling tidak suka jika Aska memanggilnya dengan sebutan nona, karena ia sudah menganggap Aska adalah keluarganya sendiri.
" Iya." jawab Aska singkat.
" Om apa kabar? kak Alea? Si gembul Aksa? Gimana kabar mereka semua?" tanya Grace beruntun. Aska mengacak rambut Grace dengan gemas. Anak tuannya ini selalu saja menggemaskan dari dulu.
" Mereka semua baik baik saja. Jika ada waktu, mampirlah ke tempat om. Mereka pasti akan senang bertemu denganmu." jawab Aska.
" insya Allah deh om, Grace akan kesana nanti. Kalau perlu sama Zay dan kiran juga." jawab Grace senang.
eheeemm...
Grace menoleh ke arah Daffin lalu mendekat ke arah suaminya sambil nyengir kuda. Hampir saja ia melupakan suaminya karena keasyikan dengan Aska. Ia menggandeng lengan suaminya dan berjalan mendekati Aska.
" Kenalin mas, ini om Aska. Tangan kanan papa. Dia yang selalu menjaga aku atau pun Zay kalau kita sedang di luar negeri." ucap Grace.
" Saya Aska."
" Daffin." ucap Daffin dingin, namun Aska hanya tersenyum saja.
" Mari silahkan masuk." Aska membukakan pintu mobil lalu membawa mereka ke hotel yang sudah di pesan.
Sepanjang perjalanan Grace terus saja mengoceh dengan Aska hingga membuat Daffin mendengus kesal. Ia seperti di acuhkan oleh istrinya, lantas ia menarik pinggang Grace akan merapat dengannya.
" Kenapa?" Grace bertanya seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun. Sementara itu, Aska hanya geleng geleng kepala melihat sikap cemburu Daffin.
" Jika kau terus mengacuhkanku, jangan harap besok kau bisa berjalan." bisik Daffin hingga membuat Grace membeku seketika. Lantas ia dengan cepat membungkam mulutnya agar tidak bicara lagi dengan Aska.
Melihat perubahan wajah Grace yang seperti sedang ketakutan, terlintas ide jahil Aska untuk menjahili anak tuannya itu.
" Bagaimana tuan Devano? apa dia baik baik saja. Sudah sangat lama om tidak bertemu dengannya." ucap Aska sambil menatap Grace melalui spion yang menggantung di atasnya.
" Baik kok om. Om untuk saat ini jangan ajak Grace bicara dulu ya?"
" Kenapa?" Aska terus menimpalinya.
" Maksud kamu?" Aska semakin menggodanya.
" Issshh om diem dulu napa?" Grace cemberut dan melihat ke arah Daffin yang menatapnya tak suka.
Aska tertawa kecil, ia geleng geleng kepala melihat wajah Dingin Daffin saat sedang cemburu. Namun ia bersyukur Grace jatuh di tangan laki laki yang benar, yang sayang sama dia. Aska tau itu, karena Reyhan sudah menceritakan semua tentang Daffin padanya.
Mobil yang mengantarkan mereka ke hotel tempat mereka akan menginap pun telah sampai. Keduanya langsung menuju kamar dengan Aska membantu membawa koper keduanya.
" Ini kamar kalian, jika ada sesuatu yang membuat kalian tidak nyaman, segera hubungi om." Ucap Aska diangguki keduanya.
" Terimakasih om."
" Kalau begitu om balik dulu, nikmatilah waktu bulan madu kalian." ucap Aska setelah itu ia berjalan meninggalkan kamar Grace dan Daffin.
Grace langsung melempar tubuhnya di atas ranjang. Perjalanan yang memakan waktu lumayan lama itu membuat dirinya merasa lelah yang teramat sangat. Daffin yang melihat istrinya itu hanya geleng geleng kepala. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, ia masih melihat Grace dengan posisi yang sama saat ia ke kamar mandi tidak berubah. Bahkan sepatu saja masih melekat di kakinya. Ia mendekat lalu merebahkan tubuhnya di samping Grace.
" Kenapa?" tanya Daffin bingung karena Grace tiba tiba bangun.
" Aku akan mandi sebentar, aku gak mungkin tidur dengan baju seperti ini. tubuhku juga sangat lengket." ucap Grace diangguki Daffin dengan malas.
Grace langsung berlari menuju kamar mandi meninggalkan Daffin yang mendengus malas. Apakah Grace akan selalu menghindarinya seperti ini?. Tak mau ambil pusing, Daffin membangunkan dirinya dan duduk di sofa sambil bermain ponsel.
Di dalam kamar mandi sana, Grace tengah mati matian mengumpat karena ia lupa membawa baju ganti. tidak mungkin ia memakai baju yang sama karena itu bisa membuat tubuhnya gatal. Dengan langkah perlahan akhirnya ia keluar kamar mandi dengan memakai handuk yang menutupi dada sampai pahanya. Ia berharap jika Daffin sudah tertidur, namun nyatanya laki laki itu justru tengah duduk dan menatapnya dengan ekspresi yang sulit Grace tebak.
Tanpa menghiraukan tatapan Daffin, Grace segera mengambil piyama tidurnya. Namun sayang, pergerakan tangan itu terhenti saat Daffin memeluknya dari belakang dan mengecup pundak Grace sensual.
" Aku tidak bisa menahannya lagi." Daffin berbisik tepat di daun telinga Grace hingga membuat bulu kuduk wanita itu berdiri.
" Aku janji akan melakukannya dengan lembut, kamu boleh mencakar atau menjambakku jika merasakan sakit." Ucap Daffin dengan mata yang sudah berkabut gairah. Grace mengangguk, ia tidak bisa menghidari suaminya lagi. Karena bagaimanapun dia istrinya dan wajib memberikan haknya pada suami.
Daffin melepas handuk yang menutupi tubuh Grace hingga membut wanita itu malu karena ia tidak memakai sehelai benang apapun. Daffin yang sudah cukup menahan hasratnya dua hari ini langsung menggendong Grace dan meletakkannya di atas ranjang.
Setelah itu terjadilah yang mesti terjadi.!! Hahahah
Untuk para readersku tolong jaga pikiran kalian.
_____