My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
51.



Hari ini Zay, Kiran dan kedua orang tuanya akan kembali ke indonesia.


Semua barang barang sudah di masukkan kedalam mobil. Mereka akan di antar oleh Aska ke bandara dan mereka akan menggunakan pesawat pribadi keluarga wijaya.


" Zay balik ke indonesia dulu om, terimakasih atas bantuan om selama Zay disini." ucap Zay pada Aska.


" Sudah menjadi tugas saya tuan, bos Reyhan sudah mengamanahkan saya untuk menjaga tuan selama disini." jawab Aska.


" Panggil Zay aja om, jangan seperti itu." ucap Zay yang merasa sungkan.


" Tidak apa apa tuan, Sekarang silahkan naik ke pesawat. Semoga anda sering berlibur kesini bersama nona Kiran." ucap Aska.


" Terimakasih om, jika kiran sudah sembuh Zay akan sering sering kesini."


" Saya akan menantikannya. Dan untuk nona Kiran semoga cepat sembuh dan semoga lekas kembali ingatannya." ucap Aska beralih menatap Kiran.


" Terimakasih pak." jawab Kiran sedikit menunduk.


" Baiklah kalau begitu saya naik dulu, sekali lagi terima kasih untuk semuanya." ucap Zay diangguki Aska.


Zay, Kiran dan kedua orang tua kiran menaiki tangga pesawat dan Tak lama pesawat itu lepas landas.


****


Sementara itu untuk pertama kalinya Daffin berkunjung kerumah Grace saat kedua orang tuanya berada di rumah.


Grace memang sudah memberi tahu kedua orang tuanya jika Daffin akan berkunjung biar kedua orang tuanya bisa menyempatkan waktu untuk menemui Daffin.


Kabar kedekatan Grace dan Daffin sudah di ketahui oleh Luna dan Reyhan.


Mereka membiarkan itu asal Grace bahagia dan kedekatan mereka masih dalam batas wajar.


Mobil yang di kendarai Daffin sudah sampai di kediaman rumah Reyhan.


Ia turun lalu berjalan masuk dan mengetuk pintu rumah reyhan.


" Akhirnya datang juga." ucap Grace saat membukakan pintu untuk Daffin.


" Udah kangen?" sahut Daffin sambil menoel dagu Grace.


" Banget." jawab Grace dengam bergelayut manja di lengan Daffin.


eehheeemm..


Deheman Reyhan membuat Grace melepas tangannya dan membuatnya salah tingkah.


" Suruh masuk dulu sayang, katanya mau di kenalin sama papa dan mama." ucap Reyhan.


" Ayo masuk." Grace menarik tangan Daffin lalu menghampiri Reyhan dan Luna.


" Perkenalkan nama saya Daffin Gunandra Prayoga." ucap Daffin memperkenalkan diri.


" Gunandra? apa papa kamu bernama Erick Gunandra?" sahut Reyhan yang sepertinya mengenal nama Gunandra.


" Benar Om, om mengenal papa saya?" tanya Daffin yang sedikit terkejut.


" Papa kamu rekan bisnis om, kami berteman baik. Tapi bukannya Erick hanya mempunyai satu anak dan anaknya itu akan menikah?" ucap Reyhan membuat Daffin dan Grace sedikit tersentak.


" Sebaiknya kita duduk dulu biar lebih enjoy ngobrolnya." sahut Luna.


" Ah.. maaf tante, perkenalkan nama saya Daffin." ucap Daffin menjabat tangan Luna, terlalu asyik mengobrol dengan reyhan ia sampai lupa jika ada luna di samping Grace.


" Nama tante Luna, dan ini suami tante namanya Reyhan." jawab Luna.


Mereka pun duduk di ruang tamu dengan Daffin duduk di samping Grace dan Reyhan di samping Luna.


" Jadi bagaimana? bisa kamu menjelaskannya?" tanya Reyhan yang duduk dengan menyilangkan kakinya.


Daffin terpaksa menceritakan semuanya pada Reyhan, awal mula bagaimana ia bisa bertunangan dan bagaimana penikahan itu akhirnya batal.


" Jadi kamu ikut dalam pembatalan pernikahan Daffin Grace?" tanya Reyhan menatap putrinya dengan datar.


" I-iya pa." jawab Grace menunduk takut.


Melihat tatapan papanya, Grace mengira jika papanya akan marah padanya.


" Bukan salah Grace om, ini semua salah Daffin karena menyuruh Grace untuk membantu Daffin. Jika om marah, silahkan marah sama Daffin." sahut Daffin.


Ia tidak ingin Grace disalahkan dalam hal ini. Karena bagaimanapun ia yang memohon Grace untuk membantunya membatalakan pernikahannya.


hahahah..


" Om tidak marah, justru om salut dengan Grace karena dengan pintar membongkar kebohongan calon istrimu." ucap Reyhan tertawa.


" Papa ih.. buat Grace takut aja. Kirain papa marah sama Grace." sahut Grace memberenggut kesal.


" Silahkan diminum." ucap Luna setelah pembantu meletakkan minuman dan camilan diatas meja.


" Terimakasih."


" Jadi sampai mana hubungan kalian?"" tanya Reyhan sambil meminum kopinya.


" Masih pacaran pa, kan papa udah tau." sahut Grace memutar bola matanya malas.


" Papa tanya sama Daffin bukan sama kamu." sahut Reyhan.


" Seperti yang dikatakan Grace om, kami masih pacaran." jawab Daffin, Reyhan manggut manggut.


" Kalau boleh tante tau, usia kamu berapa?" tanya Luna.


" Udah siap berumah tangga dong." goda Luna dengan tersenyum jahil.


" Mama ih.." sahut Grace salah tingkah.


Daffin yang di goda, tapi Grace yang salah tingkah.


" Loh kenapa? kan mama bilang bener, melihat usia Daffin yang sudah cukup matang, harusnya dia siap untuk berumah tangga." jawab Luna.


" Gak usah dengerin ucapan mama mas." ucap Grace menoleh kearah Daffin.


" Kenapa? kamu gak mau nikah sama aku?" tanya Daffin membuat kedua orang tua luna tersenyum jahil.


" Dihh, kok malah ikut ikutan mama sih. Gak asik banget." ucap Grace mencebikkan bibirnya.


" Loh aku serius tanya kayak gitu."


" Serius mulu, canda dikit kek biar gak tegang." jawab Grace membuat Saffin geleng geleng kepala.


Mungkin Grace tidak mau membahas hal ini di hadapan kedua orang tuanya.


Daffin terus mengobrol dengan kedua orang tua Grace, ia ingin bisa secepatnya akrab dengan mereka.


Yang membuat Daffin penasaran dimana saudara kembar Grace, ia tidak melihatnya sama sekali.


" ASSALAMUALAIKUM DEVANO YANG GANTENG UDAH PULANG." teriak Devan saat masuk kedalam rumah.


" Gak usah teriak teriak Lo pikir ini hutan ." kesal Grace sambil melempar bantal dan tepat mengenai muka devan.


" Saaatt... Kampret lu kak, kayak situ gak pernah teriak teriak aja." kesal Devan mengambil bantal itu dan menaruhnya kembali.


" Eh ada cowo ganteng juga disini, tapi gantengan gue sih. Pacar kak Grace ya." ucap Devan lalu mendudukkan bokongnya disamping Daffin.


Grace dan kedua orang tuanya geleng geleng kepala melihat tingkah laku Devan.


" Kenalin nama aku Devano Kaliandra kusuma, panggil aja devan." ucap Devan mengulurkan tangannya.


" Nama kakak Daffin." jawab Daffin menerima uluran tangan devan.


" Abang bisa main Game?" tanya Devan diangguki Daffin.


" Emang kenapa lu tanya gitu?"sahut Grace.


" Sabi kali kita main game bareng." ucap Devan cengengesan.


" Devan, masuk kamar dan bersihkan diri kamu." tegur Luna.


" ck... mama gak asih bet dah. Bang, sering sering main kesini nanti kita bisa main game bareng." ucap Devan diangguki Daffin.


" Yaudah Devan ke kamar dulu, bye semua." ucap Devan lalu berlari menuju kamarnya.


" Adek kamu lucu ya." ucap daffin setelah kepergian Devano.


" Lucu apanya, bikin kesel iya." jawab Grace.


Dimana lucunya Devano, orang tiap hari berantem mulu, bikin kesel mulu. Yang ada bikin naik darah kalau lihat tingkah laku Devano.


" Bukankah kamu bilang punya saudara kembar? dimana?" tanya Daffin.


" Ada di jerman." jawab Luna.


" Eh iya.. mama papa udah tau belum kalau pacar Zay kecelakaan dan sekarang hilang ingatan. ia bahkan lupa sama Zay." ucap Luna menatap Kedua orang tuanya.


" Kami sudah tau, om aska memberi tahu kami."


" Kasian Zay ya ma, niat minta maaf malah Kiran kecelakaan dan hilang ingatan."


" Bisa dijadikan pelajaran untuk tidak menyakiti hati perempuan.


Sesabar sabarnya perempuan kalau disakiti pasti akan sakit juga meskipun luarnya dia selalu tersenyum dan selalu bilang gapapa.


Tapi hati orang tidak ada yang tau." jawab Luna.


" Tapi aku gak pernah nyakitin kamu kan?" sahut Reyhan.


" Kamu inget inget aja sendiri." ucap Luna.


" Tapi aku emang gak pernah nyakitin kamu sayang." ucap Reyhan menarik tubuh luna agar lebih dekat dengannya.


Grace yang melihat keromantisan kedua orang tuanya hanya memutar bola matanya malas.


" Lebih baik kita pergi dari sini mas, mereka tidak tau tempat kalau udah mulai romantisan." ucap Grace yang sudah berdiri dan menarik tangan Daffin.


Grace membawa Daffin ke taman belakang, sedangkan Luna dan Reyhan kembali melanjutkan keromantisan mereka tanpa menghiraukan sindiran putrinya..


.


.


.


.


Gimana jadinya kalau Olivia tau jika Kiran hilang ingatan?


Apa dia membiarkan Zay merawat Olivia atau justru memanfaatkan situasinya?


hmm seru juga. 😏😁