
" DIA." gumam Grace dan Vero bersamaan.
" Dia kembali? Dia ada disini?" gumam Grace menatap wanita yang selama ini meninggalkan Zay begitu saja.
Grace menatap Zay yang sama sekali tidak berekspresi.
Wajahnya yang datar namun tersirat begitu banyak kerinduan, kekecewaan dan kebencian.
Zay terus menatap wanita itu hingga wanita itu pergi.
Tanpa bicara sepatah katapun, Zay pergi mengikuti kemana perginya wanita itu.
" Kita ikutin gak?" tanya Grace, ia khawatir pada Zay karena ia tau suasana hati Zay sedang tidak baik baik saja.
" Gak usah, biarkan dia menyeleseikan masalah dia sendiri." jawab Vero.
Grace mengangguk, memang ada benarnya juga apa yang di katakan Vero.
Karena bagaimanapun Zay harus menyeleseikan masalahnya.
Ia juga tidak ingin Zay terus menerus memikirkan wanita itu meskipun sekarang ia bersama kiran.
Kiran? bagaimana dengan kiran saat tau jika wanita itu telah kembali?
Tidak.. Zay tidak boleh menyakiti kiran, sebelum Kiran tau, Zay harus segera menyeleseikan masalahnya.
" Kita pulang sekarang." ucap Grace memberikan kunci mobilnya pada Vero.
***
Zay mengendarai mobilnya dengan pelan, ia mengikuti taksi yang di tumpangi wanita itu.
Matanya fokus kedepan, bahkn ponselnya berderingpun sengaja ia hiraukan karena Zay tidak ingin kehilngan jejak wanita yang diikutinya.
Hingga sampailah di sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana.
Zay mengernyitkan dahinya, Kenapa wanita itu tinggal di tempat seperti ini? bukankah dulu dia anak orang cukup berada? apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Zay.
Zay melihat wanita itu turun dari taksi dan masuk kedalam rumah itu.
Sebelum wanita itu masuk Zay dengan segera keluar dari mobil dan menghampiri wanita itu.
" Jadi disini tempat tinggalmu sekarang?" ucap Zay membuat wanita itu membalikkan badannya.
Matanya membelalak saat melihat Zay berada di depannya.
" Z-zay!!! K-kamu disini?"ucap wanita itu yang bernama Olivia Qianara.
Olivia adalah cinta pertama Zay sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA.
Hampir satu tahun mereka berpacaran sebelum Olivia pergi meninggalkannya.
" Apa matamu sudah buta?" ucap Zay dengan datarnya.
" Zay a-aku minta maaf sama kamu, a-aku bisa jelasin semuanya sama kamu." ucap Olivia dengan mata berkaca kaca.
Ia tahu Zay sangat kecewa padanya, bahkan ia melihat tatapan kebencian dalam mata Zay.
Gugup!! itulah yang dirasakan Olivia saat ini.
Kalau boleh jujur, ia belum siap bertemu dengan Zay.
Karena bagaimanapun ia sudah terlalu dalam menyakiti hati Zay.
Laki laki yang dulu mencintainya dengan tulus namun ia tinggalkan begitu saja tanpa alasan, dan kabar.
" Apa yang ingin kau jelaskan? bukankah semuanya sudah jelas kalau kau ingin pergi dariku? Kau pergi tanpa sepatah katapun, tanpa kabar sedikitpun. Lalu apa yang ingin kau jelaskan?"
Zay menatap dalam manik mata olivia, ada sebuah kerinduan yang mendalam pada wanita di hadapannya ini namun rasa kecewa dan benci lebih mendominan pada dirinya.
Banyak perubahan pada diri olivia, ia bertambah kurus, wajahnya yang pucat dan ia memakai kerudung yang dipakai asal untuk menutupi rambutnya.
" Masuklah kedalam Zay biar aku jelaskan semuanya." ucap Olivia dengan tatapan memohon.
Mungkin sudah saatnya Zay tau kenapa dia meninggalkan Zay dulu.
Zay mengangguk, ia berjalan mengikuti Olivia yang lebih dulu masuk kedalam rumah.
" Kamu sudah pulang sayang? mama khawatir sekali, takut terjadi apa apa sama kamu." sahut Ranti mama Olivia.
" Olivia gapapa kok ma, jangan khawatir." ucap Olivia tersenyum manis.
" Nak Zay?" Mata Ranti membelalak saat melihat Zay berdiri di ambang pintu.
Ia menatap putrinya seakan meminta penjelasan.
Olivia hanya mengangguk seolah mengatakan memang sudah waktunya untuk ia menjelaskan semuanya pada Zay.
" S-silahkan masuk dulu, k-kamu apa kabar?" ucap Rani mendekati Zay.
" Tidak baik dan tidak buruk." jawab Zay mendudukkan bokongnya di sofa tamu.
" Biar tante buatkan minum dulu." ucap Ranti masih dengan gugupnya.
" Tidak usah, saya tidak akan lama." jawab Zay masih dengan wajah datarnya.
" Baiklah, kalian bicara dulu, mama akan kebelakang." ucap Ranti diangguki Olivia.
" Katakan." ucap Zay yang enggan menatap Olivia
" Sebelumnya aku minta ma--"
" Jangan basa basi, waktuku tidak banyak." potong Zay.
Olivia tersenyum getir.
Laki laki yang dulu mencintainya kini sudah berubah, tak ada lagi kelembutan dalam setiap tutur katanya, namun ia mengerti karena ini semua memang salahnya.
Flashback on...
Akhir akhir ini Olivia merasakan tubuhnya mudah lelah, ia juga sering sekali merasa kepalanya terasa begitu sakit dalam satu waktu.
Awalnya ia hanya mengira jika dirinya hanya kelelahan akibat padatnya jadwal aktifitas di sekolah.
Namun seiring waktu rasa sakit yang ia rasakan tidak seperti biasanya.
Bahkan rasa sakit di kepalanya memapu membuatnya mengerang kesakitan.
Ia juga sering mengalami mual dan mimisan.
Zay melihat perubahan dari sikap Oliva yang tidak seperti biasanya.
Jika biasanya ia melihat olivia anak yang periang, namun akhir akhir ini menjadi anak yang pendiam.
" Kamu yakin gapapa?" ucap Zay saat tengah berdua bersama olivia di bawah pohon di taman sekolah.
" Aku gapapa sayang, aku cuma kecapean doang, banyak banget aktifitas yang aku kerjakan akhir akhir ini." jawab Olivia yang sedang bersender di bahu Zay.
" Lalu obat apa yang kamu konsumsi akhir akhir ini? aku sering lihat kamu tiba tiba minum obat." ucap Zaya membuat Olivia sedikit terkejut.
" Hanya Vitamin dari dokter kok."
" Yakin hanya Vitamin?" tanya Zay dan olivia mengangguk yakin.
Memang yang tengah dia minum adalah Vitamin dan obat pereda sakit kepala yang diberikan oleh dokter.
" Aku antar kamu pulang ya?" ucap Zay diangguki Olivia.
Zay menurunkan olivia di depan rumahnya, ia mengecup kening olivia sebelum olivia turun dari mobilnya.
" Aku pulang dulu, kamu istirahat dan jangan lupa makan." ucap Zay sambil mengusap lembut pipi olivia.
" Iya sayang, kamu hati hati dijalan." sahut Oliv dia angguki Zay.
Olivia turun dari mobil Zay setelah itu mobil Zay melesat pergi.
Olivia masuk kedalam rumahnya disambut tatapan khawatir dari kedua orang tuanya.
" Kenapa kamu gak bilang, kenapa kamu sembunyiin ini semua dari mama dan papa?" ucap Ranti memeluk erat tubuh olivia.
Ia menangis tersedu saat tidak sengaja menemukan hasil lab putrinya yang menyatakan jika Olivia positif terkena Kanker Otak.
Waktu itu Oliva memeriksakan kondisi tubuhnya yang akhir akhir ini merasa lelah, mual, mimisan dan paling sering adalah sakit kepala.
Ia menemui dokter spesialis dan dokter itu mendiagnosa jika ia terkena Kanker Otak.
Hati Oliv begitu hancur saat dokter mengatakan penyakit yang saat ini di deritanya.
Banyak hal yang ia pikirkan saat penyakit ini hinggap di tubuhnya.
" Mama sama papa kenapa?" tanya Olivia.
Ia sebenarnya tahu, tapi ia hanya ingin memastikan.
" Papa sama mama sudah tau semuanya sayang, penyakit ganas yang menggerogoti tubuh kamu." sahut Ramdan papa Olivia.
" Jangan khawatir, olivia gapapa kok." ucap Olivia.
Ia tersenyum dan tangannya terulur menghapus air mata mama dan papanya.
" Kita berobat keluar negeri ya sayang, mama mau kamu cepet sembuh." ucap Ranti.
" biaya untuk berobat keluar negeri sangat mahal ma, Oliv gak mau, oliv mau berobat disini saja." jawab Olivia.
" Kita jual mobil, kita jual barang apapun asal kamu mau berobat keluar negeri dan kamu cepat sembuh.
Kamu anak mama dan papa satu satunya, kami tidak ingin kehilangan kamu sayang." ucap Ranti terus terisak.
" Ma.. belum tentu kalau Oliv berobat disana bisa langsung sembuh.
Insya Allah oliv bisa sembuh meskipun berobat disini." ucap Olivia.
" Tapi sayang--."
" Boleh Oliv minta permintaan sama kalian?" potong Oliv menatap lekat kedua orang tuanya.
" Apa sayang? katakan apa permintaan kamu?" ucap Ranti dengan wajah penuh ke khawatiran.
" Oliv ingin pindah rumah dan jangan sampai ada siapapun yang tau." ucap Olivia menatap kedua orang tuanya dengan mata berkaca kaca
" Kenapa sayang? kenapa begitu?"tanya Ranti.
Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Oliv melakukan itu.
" Dengan penyakit Oliv yang seperti ini oliv gak mau membebani siapapun ma, pa. Oliv mohon kabulkan permintaan oliv." ucap Olivia dengan tatapan memohon.
" Bagaimana dengan Zay, Kiran dan sahabat kamu yang lain? mereka akan kecewa dengan keputusan kamu." ucap Ranti.
" Oliv gak tau sampai kapan Oliv hidup dengan penyakit seperti ini.
Penyakit ini selalu menyusahkan setiap gejalanya kambuh, dan oliv gak mau mereka terbebani akan semua itu.
Oliv gak mau sampai mereka tau penyakit oliv terutama Zay." jawab Olivia dengan air mata yang sudah meleleh.
" Papa akan mengurus semuanya. Malam ini kita akan pindah." sahut Ramdan.
" Tapi sekolah Oliv gimana pa?"
" Oliv bisa home schooling ma, mama gak usah khawatir." sahut Oliv.
" Mama pasrahkan sama kamu sayang, mama papa akan terus berdoa dan berusaha agar kamu segera sembuh." ucap Ranti memeluk Olivia.
Semenjak kepindahannya malam itu Olivia dan Zay benar benar tidak pernah bertemu.
Tiap Pagi dan Sore Zay, kiran dan yang lain selalu mengunjungi rumah Oliv tapi selalu tidak ada siapapun di rumah itu.
Dan suatu hari tetanggnnya bilang jika Oliv sekeluarga pindah ke London, padahal mereka pindah masih di wilayah jakarta.
Seiring berjalannya waktu, penyakit yang di derita olivia bertambah parah.
Kanker yang di deritanya sudah mencapai stadium 3 dan menuju stadium akhir.
Kedua orang tuanya sampai harus menjual rumah, mobil dan barang berharga lainnya untuk biaya pengobatan Oliv.
Melihat keadaan ekonomi keluarganya membuatnya semakin pasrah akan takdir yang dihadapinya.
Oliv yakin jika hidupnya tidak akan lama lagi.
Flashback off...
.
.
.
.
Bagaimana dengan Zay setelah mendengar lenjelasan Olivia?
Bagaimana dengan Kiran nanti?
Authornya rada nyesek kalau nulis part Zay ini.😢