
Zay membangunkan tubuhnya dan duduk bersandar pada headboard ranjang. Ia mengambil ponselnya di atas nakas dan melihat beberapa pesan dari kekasihnya.
Sudut bibirnya terangkat saat Kiran mengirimkan sebuah Video jika dirinya sudah bisa berjalan dengan sempurna tanpa menggunakan alat bantu apapun.
Memang sebulan ini Kiran selalu melakukan terapi untuk kakinya, ia belajar berjalan dengan di dampingi dokter Regan dan juga Zay. Alhasil sedikit demi sedikit kaki kiran bisa berjalan dengan normal kembali.
Beberapa hari tidak bertemu membuat laki laki itu sangat rindu dengan wanitanya.
Zay yang biasanya hampir tiap hari bertemu dengan Kiran kini beberapa hari harus memendam rasa rindunya.
Perbedaan waktu antara London dan Indonesia membuat keduanya cukup jarang untuk bertukar pesan.
Seperti sekarang ini, Zay yang baru bangun Jam 9 pagi langsung menghubungi Kiran meskipun disana sudah jam 3 sore.
" Haii.." sapa Zay melalui video call.
" Haii.. baru bangun ya." ucap Kiran saat melihat wajah Zay yang terlihat masih mengantuk.
" hm.. gimana kabar kamu hari ini?" tanya Zay dengan senyum manisnya, ia menatap dalam wajah Kiran yang sangat di rindukannya.
Ingin rasanya ia pulang saat ini juga dan menemui kekasihnya dan memeluknya.
Padahal belum juga seminggu mereka berpisah /plaak.
" Aku baik baik aja, aku ngirim Video buat kamu. Udah lihat?" ucap Kiran dengan mata yang berbinar.
" Udah, aku seneng akhirnya kamu bisa berjalan lagi. Sesuai janji aku, setelah pulang dari sini aku akan mengajak kamu ke suatu tempat." ucap Zay membuat Kiran mengerutkan dahinya.
" Kemana?"
" Ada deh, kalau aku bilang nanti gak surprise dong." jawab Zay membuat Kiran mencebikkan bibirnya.
" Yaudah terserah kamu, asal jangan aneh aneh aja."
" Gak dong sayang. By the way aku kangen sama kamu. Kamu kangen gak sama aku?" ucap Zay dengan mimik wajah di buat semelow mungkin.
" Dihh.. sejak kapan cowok dingin jadi bucin begini?" ledek Kiran dengan tawa kecilnya. " Aku gak kangen tuh sama kamu, kalau bisa lama lamain aja disana." lanjutnya dengan tertawa keras.
" Oohh gitu.. Ok fine. Aku bakal tinggal bilang sama mama papa kalau aku akan disini setahun penuh tanpa pulang ke indonesia." ancam Zay membuat Kiran semakin tertawa Keras.
" Kok malah makin ketawa sih? aku serius." Zay di buat kesal oleh respon kekasihnya yang menertawakan dirinya.
" Jangan serius serius, nanti cepet tua." ucap Kiran yang masih tertawa.
" Sayang..." rengek Zay karena Kiran terus menertawakannya, meski ia tidak tau Kiran menertawakan dalam hal apa.
" Apa sih?" Kiran menghentikan tawanya dan menatap wajah Zay yang cemberut.
" Kamu tuh ketawa mulu, orang aku serius juga." Zay menekuk wajahnya namun terlihat menggemaskan di mata Kiran.
" Abisnya, kamu ngancem bakal di sana selama setahun. Orang belum genap seminggu kita pisah aja kamu udah bilang kangen sama aku." ucap Kiran yang menahan bibirnya agar tidak tertawa.
" Ya abisnya, respon kamu kek gitu. Orang aku beneran kangen sama kamu." jawab Zay dengan intonasi yang di buat manja.
" Iya..iyaa.. aku juga kangen sama kamu. Makanya cepet pulang ya." ucap Kiran tersenyum manis.
" Nah gitu dong, pagi pagi jangan bikin mood aku ancur." jawab Zay mendapat delikan tajam dari Kiran.
" Ini udah sore ya pak, bukan pagi." ucap Kiran membuat Zay tertawa kecil.
" Ini di London ya buk, bukan di indo." ucap Zay membuat Kiran menggaruk keningnya yang tidak gatal.
" Aku lupa. Yaudah aku tutup dulu telfonnya. Nanti hubungi aku lagi kalau kamu gak sibuk." ucap Kiran diangguki Zay.
" Siap boss, aku juga mau mandi dulu." jawab Zay sambil tangannya membentuk hormat.
" Yaudah b--"
" eitss.. tunggu dulu " potong Zay saat Kiran mau mematikan ponselnya.
" Apa lagi."
" Kiss dulu." ucap Zay membuat Kiran memutar bola matanya malas.
" Gak mau."
" Ayo dong, biar aku makin semangat nih."
Terdengar helaan napas dari Kiran membuat Zay tertawa kecil.
" Eemuach." Kiran memberikan kecupan setelah itu ia mematikan sambungan video call nya.
Zay terkekeh melihat kekasihnya yang salah tingkah.
Ia menaruh kembali ponselnya di atas nakas lalu turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
***
Hari ini semua orang dilarang untuk pergi kemana mana karena ada satu pengumuman penting yang harus Ricko sampaikan pada seluruh anggota keluarganya.
Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia di undang kemari? pasalnya ia sedang berada di kantor dan Arland menelponnya agar menemuinya di rumah.
" Baiklah, Papa ada satu pengumuman penting buat kalian. Pengumuman ini sebelumnya sudah papa bicarakan sama almarhum tuan Rio Wijaya, jadi papa harap kalian semua menerima dan menyetujuinya." ucap Ricko menatap satu persatu anak dan menantunya.
" Apa pa?" sahut Luna yang sudah penasaran.
" Papa ingin Arland dan Febby pindah ke Indonesia untuk mengurus perusahaan papa yang ada disana." ucap Ricko membuat semuanya mengerutkan dahinya.
" Yang disini pa?" sahut Arland masih belum paham maksud ucapan papanya.
" Opa kamu sepakat akan memberikan perusahaan yang disini untuk di kelola oleh Arkan. Dia sudah terlalu lama mengabdi pada keluarga ini, jadi papa dan almarhum memutuskan untuk mengalihkan kepemilikan perusahaan ini untuk Arkan." ucap Ricko membuat Arkan membulatkan matanya dengan mulut mengaga lebar.
" Mingkem bang." sahut Alan sambil mendorong dagu Arkan.
" Ahh.. i-iya. Saya masih shock." ucap Arkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Gimana menurut kalian?" tanya Ricko menatap Arland, Luna dan alan bergantian.
" Kami semua setuju pa, mungkin ini sudah saatnya nih orang bener bener gantiin posisi Arland untuk mengelola perusahaan itu." ucap Arland sambil menepuk punggung Arkan.
" Luna juga setuju pa, kalau Opa sendiri yang menginginkannya berarti Opa sudah percaya sama bang Arkan untuk mengurus perusahaan itu." sahut Luna dengan yakin.
" Alan juga setuju, karena bagaimanapun bang Arkan sudah mengabdi pada keluarga kita dan ia juga gak pernah mengecewakan keluarga kita terutama bang Arland dan Opa oma." sahut Alan di setujui yang lain.
" Kalian juga setuju?" tanya Ricko pada cucu cucunya.
" Kami semua terserah kalian, jika semua itu menurut kalian baik, kami juga ikut setuju." sahut Zay mewakili yang lain.
" Maaf Om, apa ini tidak terlalu berlebihan. Maksud saya, saya bisa mengelola perusahaan ini tapi untuk kepemilikan tetap atas nama Arland." sahut Arkan.
Ia merasa tidak enak jika harus menjadi pemimpin di perusahan yang memang sudah bertahun tahun ia abdikan.
" Tidak Nak, ini semua sudah menjadi keputusan almarhum untuk mengalihkan perusahaan ini sama kamu. " sahut Ricko.
" Terima saja, ini semua rezeki lo dan keluarga lo. Kita semua percaya kalau lo bisa memegang perusahaan ini dengan baik. Pesen gue jangan pernah mengecewakan kita. Biarpun perusahaan ini sekarang lu yang pegang, tapi gue masih punya wewenang untuk memantau perkembangannya." sahut Arland diangguki Arkan.
" Terimakasih untuk semua ini, saya tidak tau lagi harus berkata apa karena semua ini sangat sulit untuk di percaya." ucap Arkan dengan mata berkaca kaca.
Hasil dia selama bertahun tahun mengabdi pada keluarga ini membuahkan hasil yang sangat indah.
Sebuah keberuntungan ia bisa di percaya untuk memegang salah satu perusahan terbesar di London.
" Sama sama, semoga kamu tidak mengecewakan kami." sahut Ricko.
" Pasti om, saya akan semaksimal mungkin agar tidak membuat kalian semua kecewa sama saya. Saya akan membuat perusahaan ini jauh lebih berkembang." ucap Arkan diangguki semuanya.
Ricko bernapas lega karena semua anak anaknya menyetujui keputusan besar ini.
Semua bahagia karena itu artinya keluarga besar wijaya akan berkumpul di indonesia
Namun tidak untuk Vero, ia terdiam seakan ada sesuatu beban yang ia pikirkan.
Ia menatap lantai dengan mimik muka yang di buat serius.
" Vero, kamu kenapa? dari tadi diam aja? apa ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu?" sahut Luna menatap Vero yang tidak bersemangat.
Vero mendongakkan kepalanya menatap Luna. " iya tan." jawab Vero sedikit lesu.
Semua orang menatap Vero dengan kening berkerut, apa mungkin Vero tidak menyetujui keputusan ini?.
" Kenapa sayang? apa kamu keberatan dengan keputusan Grandpa?" sahut Ricko dibalas gelengan oleh Vero.
" Kalau masalah perusahaan itu, Vero setuju aja Grandpa."
" Lalu?" semua mata tertuju pada Vero.
Vero menatap Arland dan Febby bergantian setelah itu mengela napas beratnya.
" Itu artinya papa mama tinggal di indonesia? dan itu artinya Vero harus kembali tinggal di kandang singa dong." ucapan Vero kelewat polos itu langsung mendapat tatapan tajam dari Arland dan mendapat gelak tawa dari yang lain.
" ANAK KURANG AJAR.. KESINI KAMU." teriak Arland namun Vero sudah lari memutari sofa karena Arland mengejarnya.
Semua orang geleng geleng kepala melihat kelakuan Bapak dan anak yang tidak pernah akur itu.
.
.
.
.
.
Crazy up?