
Sementara itu di kediaman Reyhan semua orang sedang asyik dengan kegiatan mereka masing masing. Ada yang menonton film, ada yang membaca buku, dan ada juga yang menemani Luna memasak.
Fasilitas rumah Reyhan ini memang sangat lengkap, di rumah ini juga terdapat perpustakaan mini untuk siapapun yang ingin mrmbaca. Bioskop mini untuk mereka yang ingin menonton film dan ada ruang Gym pribadi bagi mereka yang ingin melakukan fitness.
Tak heran Jika teman teman Grace, Zay dan Devan sering sekali kesini karena memang rumah ini cocok untuk tempat penghilang penat atau sekedar untuk nongkrong saja.
Jika yang lain sedang membaca buku, nonton film atau membantu memasak. Namun berbeda dengan kedua sepasang kekasih ini, siapa lagi kalau bukan Grace dan Daffin. Keduanya Kini sedang berada di kandang Lexa dan Lexis setelah Daffin mengikuti Grace diam diam.
Awalnya Grace hanya ingin memberi makan kedua hewan kesayangannya itu sendiri, namun saat Daffin melihat Grace sedang membawa banyak daging ia penasaran dan akhirnya mengikuti Grace sampai ke kandang singa dan harimau.
Daffin membulatkan matanya saat Ada hewan buas di rumah ini, dan lebih terkejutnya lagi saat melihat Grace akan memasuki kandang hewan buas itu dengan santainya.
" Graciella." Panggil Daffin dengan wajah piasnya saat Grace akan membuka pintu kandang hewan itu.
" Kamu ngikutin aku?" tanya Grace sebelum membuka pintu kandang itu.
" Kamu mau ngapain? ini hewan siapa? dan kenapa ada hewan buas di rumah ini? jangan bilang ini peliharaanmu." cerocos Daffin membuat Grace menatapnya malas.
" Pertama, aku mau masuk mau ngasih mereka makan. Kedua, ini hewan peliharan aku. Ketiga aku pemilik hewan ini makanya ada dirumah ini dan yang terakhir memang ini hewan peliharaan aku. Intinya ini hewan punya aku. Lagian kenapa wajah kamu kayak gitu sih? mereka jinak gak bakalan nerkam kamu." ucap Grace seketika membuat Daffin menarik tangannya dan membuat kedua hewan buas itu meraung seakan Daffin telah menyakiti Grace.
" I-tu mereka kenapa natap aku kayak gitu?" tanya Daffin saat kedua hewan buas itu menatapnya dengan tatapan memangsa.
" Kamu narik aku, makanya mereka marah. Percaya deh sama aku, mereka gak bakalan ngapa ngapain aku atau kamu." ucap Grace yang berjalan kembali menuju pintu kadang.
" Sayang." cegak Daffin dengan mencekal tangan Grace.
" Apalagi astagaaaa? mending kamu diem disini dan lihat aku masuk oke? kasian mereka belum makan dari tadi." geram Grace, ia akan membuka pintu itu lagi lagi Daffin menahannya.
" Tunggu." cegah Daffin.
Grace mendengus kesal. " Sekali lagi kamu nyegah aku, aku tarik kamu kedalam sini." Kesal Grace yang dari tadi Daffin selalu menahannya.
" K-kalau kamu masuk terus mereka nerkam kamu gimana? kalau kamu di ngap sama mereka gimana? aku gak bisa bayangin hal itu terjadi." ucap Daffin sungguh dramatis.
" Kalau mereka ngap aku, aku tinggap ngep balik mereka. Mudah bukan?" jawab Grace dengan wajah songongnya.
" Sayang aku serius."
Tanpa menjawab ucapan Daffin, Grace langsung masuk kedalam dan menutup kembali pintunya.
Kedua hewan itu langsung berlari ke arah Grace membuat Daffin teriak dan menutup kedua matanya.
" SAYANG AWAAAASSS." teriak Daffin. ia menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya.
Tidak mendengar teriakan atau suara apapun, Daffin mengintip dibalik jari jarinya. Ia membuka kedua tangannya lalu bernapas lega saat kedua hewan buas itu menduselkan kepalanya pada Grace.
" Sayang kamu yakin mereka aman?" tanya Daffin yang nampak masih khawatir. Namun disisi lain, Ia melihat kedua hewan itu terlihat sangat sayang pada Grace.
Bahkan si singa mmerebahkan keplanya pada kaki Grace saat Grace mengusap kepala mereka.
" Kamu mau masuk dan memastikannya sendiri?" tawar Grace yang langsung mendapat gelengan kuat dari Daffin.
" Nggak makasih, aku masih sayang kamu. Belum juga nikahin kamu." jawab Daffin ngasal.
" Apa hubungannya pak Dosen." Grace menatap Jengah laki laki itu.
" Nanti kalau aku kenapa napa Gimana? gimana sama kamu? Ntar nangis lagi kalau aku tinggal." ledek Daffin.
" Kalau kamu kenapa napa dan ninggalin aku yaudah ntar aku bisa cari lagi yang lebih dari kamu." jawab Grace cuek namun bercanda.
" Beneran?" sahut Daffin dengan wajah Datarnya.
" Enggak sayang canda doang." jawab Grace tersenyum manis.
Akhirnya Daffin terpaksa menemani Grace yang sedang bermain main dengan kedua hewan kesayangannya itu, meskipun dirinya tidak ikut masuk kedalam kandang dan memilih melihatnya di luar kandang.
**
Sementara itu Devan, Elvano dan Nathan, ketiga laki laki itu sedang asyik bermain Game.
Sedangkan Rissa dan Freya sedang asyik membaca buku.
Devan yang bermain game sambil rebahan dengan berbantal paha Freya dan Nathan bersender di bahu Rissa.
Sedangkan El duduk sendiri disofa tunggal.
Kedua gadis itu nampak biasa saja dan tidak terganggu sama sekali meskipun Devan atau Nathan sering kali berteriak karena gamenya.
" Frey.. Lu kok cantik banget sih kalau di lihat dari sini?" ucap Devan namun matanya tetap fokus pada gamenya.
Freya menundukkan wajahnya menatap Devan yang masih fokus pada gamenya namun bisa berkata seperti itu.
" Lu ngomong apaan dah Dev? mata lu aja fokus sama game." sahut Freya geleng geleng kepala.
" Lu gak tau aja kalau dari tadi gue ngelihatin elu." jawab Devan.
" Yaaahh... game over." keluh Devan.
ia meletakkan ponselnya di atas dada lalu menatap Freya dari bawah.
" Frey... lu cinta gak sih sama gue? kadang gue sebagai cowok ganteng stok terakhir merasa lu gantungin Frey. Jemuran yang kelamaan di gantung aja bisa hilang, lu gak mau kan gue hilang dari kehidupan lu." ucap Devan sambil menggenggam tangan Freya.
" Lu mau gue jawab apa sih Dev? Lu tau sikap gue ke elu kayak gimana, masa lu gak bisa peka sama perasaan gue." jawab Freya dengan wajah sedikit memerah.
" Lu pikir semua cowok ngerti bahasa kalbunya cewek? cewek bilang enggak artinya iya, bilang terserah artinya ngambek. kadang yang bikin ribet itu si cewek." sahut El yang tetep fokus pada gamenya.
" Ya gak gitu juga lah el, kita sebagai kaum wanita juga ingin di pekain sama cowo meskipun kita gak bilang apa apa. Kita juga pengen tau kepekaan cowok terhadap cewek itu seberapa tinggi." sahut Rissa.
" Halaah... cewek emang ribet, terlalu tinggi juga gengsi mereka. Tinggal bilang iya gue juga cinta sama lu gitu doang muternya sampai bundaran HI." Jawab Elvano membuat Rissa dan Freya menggeram kesal.
" Lu tuh--"
" Udah yank gak usah di tanggpin si El, nanti kalau lu tanggepin malah lu nya yang ikutan kesel." potong Devan.
" Jadi gimana?" ucap Devan menatap Freya.
" Apanya sih?"
" Lu cinta gak sama gue?"
" Iya gue juga cinta sama lu tapi gue gak mau pacaran." jawab Freya dengan wajah memerah.
" Tuh kan? emang ribet tuh jadi cewek, udah cinta tapi gak mau pacaran. Terus maunya apa? langsung nikah? nanti kalau beneran di ajak nikah, alasannya aku belum siap karena ingin membahagiakan orang tua. Aah preett." sahut Elvano dengan jengah.
" Ya Allah, jauhkan hamba dari cewek yang kayak Freya atau Rissa. AAMIIN." lanjutnya dengan menengadahkan kedua tangannya.
Freya dan Rissa yang mendengar itu langsung melemparnya dengan bantal.
" Lu jadi cowok bener bener mulut lemes ya, gue jahit juga mulut lu." kesal Rissa.
" Udah Riss, efek kelamaan jomblo jadi gitu." sahut nathan yang masih fokus oada gamenya.
" Kayak situ gak jomblo aja." cibir Elvano balik.
" Gue mah udah ada ayang Rissa. iya gak bby.?" ucap Natahan.
" hm." jawab Rissa.
" OH MAn.. Rissa ngerespond gue." pekik Nathan kegirangan.
" Lebay lu ah." sahut Rissa memutar bola matanya malas.
" Ok ok.. gapapa kita gak pacaran, tapi nanti lu nikahnya sama gue gak boleh sama yang lain. kalau sampai lu nikah sama yang lain gue ancurin tuh gedung pernikahan lu." ucap Devan dengan wajah serius.
" hm." Freya membalasnya dengan deheman.
Devan dan yang lain meneruskan kegiatan mereka sambil menunggu makan siang tiba.
Sementara itu Verro, Izzam dan Gibran sedang berada di ruang Gym sedangkan Naya dan Grizzele membuat kue bersama luna di dapur.
***
Zay dan Kiran baru saja keluar dari ruangan dokter Regan, keduanya berjalan keluar lalu berpapasan dengan Olivia bersama dengan mamanya.
" Zay.." panggil Olivi, ia menyuruh mamanya agar mendorong kursi roda itu sedikit cepat.
" Gimana hasil pemeriksaan Kiran?" tanya Olivia basa basi.
" Sudah semakin membaik, tinggal kaki saja harus di latih untuk berjalan." jawab Zay dengan nada datarnya.
Ranti yang melihat sikap dingin Zay pada putrinya hanya menatapnya kesal.
Apa Zay tidak bisa lebih lembut sedikit seperti saat bertemu kemarin? Kasian olivia harus menahan sakit hati atas sikap dingin Zay.
" Kamu kemoterapi sekarang?" sahut Kiran diangguki Olivia.
" Iya, kamu jadi nemenin aku kan Zay?" tanya Olivia mendongakan kepalanya menatap Zay.
Kiran tersenyum kecut, apa Olivia tidak menganggapnya ada disini? jelas jelas yang bertanya adalah dirinya, kenapa hanya meminta persetujuan pada Zay?
" Aku dan Kiran akan menemanimu." jawab Zay.
" Emm.. bukankah Kiran perlu banyak istirahat?" ucap Olivia menatap Kiran dan Zay bergantian.
" Tidak apa apa aku dan Zay akan nemenin kamu." ucap Kiran.
Olivia tersenyum paksa, padahal ia hanya ingin di temani oleh Zay. Tapi tidak apalah, selagi Zay ada disini ia akan merasa senang.
Zay, Kiran, dan Ranti langsung mengantar Olivia menuju ruang kemoterapi.
.
.
.
.
.
Guys, jaga kesehatan kalian ya. Kalau gak ada kepentingan yang mendesak lebih baik dirumah aja.
Jangan lupa selalu pakai masker dan sering cuci tangan. Makan makanan yang sehat dan jauhi kerumunan.
Semoga kita semua selalu di beri kesehatan dan terhindar dari segala macam penyakit. Aamiin 🤲🏻