
Zay dan Vero menghabiskan waktu mereka dengan mengunjungi salah satu mall milik keluarganya.
Vero sedikit memaksa Zay untuk menemaninya membeli sepatu keluaran terbaru.
Awalnya Vero ingin mengajak Grace, namun gadis itu pergi entah kemana, dan saat Vero menghubunginya tidak ada satu panggilan dari vero yang diangkat oleh grace.
" Lo gak mau beli apa apa?" tanya Vero dibalas gelengan oleh Zay.
" Yaudah kita ke food court aja dulu, gue laper banget." ucap Vero diangguki Zay.
Saat sedang berjalan, Zay mendapat pesan dari Grace jika dirinya ingin di bawakan seblak saat pulang nanti.
Zay tersenyum saat membaca pesan grace, memang saudara kembarnya itu sangat menyukai makanan yang berbau pedas.
Saat Zay fokus dengan ponselnya, ia tidak sengaja menabrak seseorang hingga membuat ponselnya terjatuh.
" Maaf saya tidak sengaja." ucap Zay menunduk lalu mengambil ponselnya.
" Aahh.. tidak apa apa, saya yang salah berdiri di tengah jalan." jawab Orang itu.
" Zay?" ucap orang itu saat melihat jelas wajah Zay.
" Kiran.." jawab Zay saat mengenal orang yang di tabraknya.
" Kamu apa kabar?" ucap Kiran memeluk Zay.
" Aku baik baik aja." jawab Zay membalas pelukan Kiran.
Kirana Zunaira adalah sahabat Zay waktu SMA, keduanya berpisah saat lulus sekolah.
Zay yang tetap kuliah di indonesia dan Kiran yang memilih kuliah di jerman.
" Kenalin ini sepupu aku namanya Vero." ucap Zay memperkenalkan Vero pada kiran.
" Kirana." kiran mengulurkan tangannya.
" Vero." jawab Vero menjabat uluran tangan kiran.
" Kalian mau kemana?" tanya Kiran.
" Mau makan, kamu ikut ya, kan kita udah lama gak ketemu." ucap Zay diangguki kiran.
Ketiganya langsung menuju food court.
" Kamu kapan balik ke indonesia? kenapa gak ngabarin aku." tanya Zay.
" Seminggu yang lalu, ponsel aku hilang jadi aku gk bisa ngabarin siapapun.
Mama papa aja gak tau kalau anaknya mau pulang." jawab Kiran tertawa kecil.
" Dasar cerobohnya gak ilang ilang." ucap Zay mencubit pipi Kiran.
Vero melongo melihat interaksi Zay dan Kiran sedekat itu.
Memang ia tidak tau bagaimana Zay waktu SMA dulu, karena dirinya tinggal di london dan sekolah disana.
" Gimana kabar kamu? masih sama seperti dulu?" tanya Kiran yang memang tau saat saat terpuruknya Zay.
" Tidak terlalu, aku udah mulai bisa menerima keadaan." jawab Zay.
" Karena memang sudah seharusnya kamu seperti itu." jawab kiran.
" Kamu kapan balik ke jerman?" tanya Zay mengalihkan topik pembicaraan.
" Sebulan lagi kayaknya, kenapa emang?"
" Aku mau ngajak jalan jalan, udah lama kita gak pernah jalan bareng.
Terakhir jalan waktu aku nganterin kamu ke bandara dan terakhir pula aku ketemu sama kamu." jawab zay.
" Beneran?" ucap Kiran diangguki Zay.
" Oke nanti kamu hubungi aku aja kalau mau ngajak jalan, kapanpun aku siap." jawab Kiran diangguki Zay.
" Oh ya, kabar Gibran sama Izzam gimana?" tanya Kiran.
" Baik baik aja." jawab Zay, kiran manggut manggut.
" Nanti kita kumpul lagi ya sama mereka, aku kangen juga sama mereka." ucap Kiran diangguki Zay.
" Iyaa." jawab Zay sambil mengacak rambut Kiran.
Setelah Makan mereka berpamitan untuk pulang, tak lupa Zay dan Kiran bertukar nomor telepon.
" Kamu yakin gak mau aku anterin pulang? ini udah malem loh, aku khawatir kamu kenapa napa nanti dijalan." tanya Zay dibalas gelengan Kiran.
" Enggak Zay, aku bisa pulang sendiri kok, lagian masih jam 9 malem jalanan masih ramai." jawab Kiran.
" Aku ikuti dari belakang aja ya, aku beneran khawatir sama kamu." ucap Zay lagi lagi kiran menggeleng.
" Enggak usah, udah kamu pulang aja sana, nanti hubungi aku kalau udah sampe rumah." ucap Kiran dan Zay mengangguk pasrah.
Memang dari dulu sahabatnya ini sangat keras kepala.
" yaudah aku pulang dulu, kamu hati hati dijalan, langsung kabari aku kalau ada apa apa." ucap Zay diangguki kiran.
" Iyaa manusia bawel." jawab Kiran sambil mencubit hidung Zay.
Mereka pun akhirnya berpisah dan pulang kerumah masing masing.
Sepanjang perjalanan pulang Vero menggerutu tidak jelas, bagaimana tidak? selama ada kiran ia dianggap angin lalu oleh Zay, ia bagaikan obat nyamuk di antara keduanya.
" Gue bener bener nyesel nyuruh lo nemenin gue." gerutu Zay.
" yaudah sih, salah lu sendiri kenapa diem aja." jawab Zay cuek.
" Ya gimana gak diem, orang gue gatau apa yang kalian bahas." jawab Vero dengan kesal.
Zay tidak menanggapinya, ia lebih memilih diam.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di rumah utama, mereka berdua turun dan masuk kedalam rumah.
Sebelum masuk kedalam rumah firasat keduanya tidak enak, entah apa yang mereka lupakan.
Grace yang melihat tangan kosong Zay dan Vero langsung memasang wajah cemberut.
" Lupa atau sengaja lupa?" tanya Grace mendelik kesal pada Zay dan Vero.
" maksud Lo?" tanya Vero tidak mengerti.
" Pesanan gue." jawab Grace, Zay dan Vero sama sama menepuk jidatnya.
Mereka sungguh lupa jika Grace memesan untuk dibawakan seblak.
" Gue beneran lupa Grace, suer." ucap Zay.
Dirinya sungguh lupa jika grace minta dibawakan Seblak karena sedari tadi fokusnya pada kiran.
" Grandpaa." rengek Grace pada Ricko.
" Mampus gue." gumam pelan Zay dan Vero.
" Kalian beruda masakin seblak buat Grace, itu hukuman buat kalian karena membuat princess grandpa ngambek." ucap Ricko membuat kedua pemuda itu mengangguk pasrah.
" Mampus lu bang, makanya baik baik lu kalau sedang dirumah utama." Ledek Devan mendapat tatapan tajam dari Zay dan Vero.
Bukannya takut, devan malah menjulurkan lidahnya dan berpindah duduk di dekat Nadia dan ricko.
Kini Zay dan Vero berkutat dengan alat dapur, aplikasi youtube adalah satu satunya jalan ninja mereka bagaimana cara membuat seblak.
Ini kali pertama Zay dan Vero berkutat dengan bahan masakan dan peralatan dapur karena sebelumnya mereka tidak pernah sekalipun berkutat dengan peralatan itu.
" Ini semua gara gara elu, coba lu gak fokus sama kiran, lu gak bakalan lupa buat beli seblak." gerutu Vero.
" Bisa diam nggak, ini juga salah lu kenapa gak ngingetin." balas Zay.
" Salah sendiri lu bikin gue kesel." jawab Vero.
" Di dapur ada banyak pisau, sekalian aja perang sama pisau, nanggung banget pakek mulut." Sahut Grace yang mengawasi mereka dari meja makan.
Zay memotong sosis, bakso, udang dan sawi untuk isian sebalak, sedangkan Vero membuat bumbu seblak dengan resep yang sama yang dijelaskan oleh aplikasi youtube.
Hampir setengah jam mereka berkutat dengan bahan bahan makanan, akhirnya seblak buatan mereka jadi juga.
Grace yang memang sudah tidak sabar langsung mencicipi seblak buatan saudara dan sepupunya itu.
srruupp..
Satu sendok kuah seblak masuk kedalam murut Grace, membuatnya mengernyitkan dahinya.
Rasa Asin, manis, pedas, pahit bercampur jadi satu.
" Wleekkk... masakan apa ini? gak enak sama sekali." ucap Grace mendorong mangkuk itu ke arah Zay dan Vero.
" Masa' sih? padahal resepnya sama kayak yang di jelasin mbah youtube." jawab Vero.
Vero mencicipi kuah seblak itu dan memang benar rasanya tidak karuan.
" wleee... gak enak." ucap Vero.
" Lu yakin?" tanya Zay.
" Lu incipi sendiri deh, rasanya kek hidup lu, gak karuan." jawab Vero membuat Zay menatapnya datar.
Zay memasukkan satu sendok kuah seblak itu dan ternyata memang tidak enak sama sekali dan tidak layak untuk dimakan.
" Gue punya ide." ucap Grace membuat Vero dan Zay mengernyitkan dahinya.
" DEVANO, ELVANO, TOLONG KESINI SEBENTAR." teriak Grace dari arah dapur.
Devan dan El langsung berlari ke dapur dan menghampiri ketiga kakaknya.
" Ada apa kak?" tanya Devan.
" Lu mau seblak gak? enak loh." tawar Grace.
" Pasti gak enak, kalau enak gak mungkin lu bagi bagi sama kita." jawab Devan yang memang tau kebiasaan Grace.
" Dihh.. gak percayaan banget. Tadi Zay sama Vero bikin banyak, gue udah habis semangkuk." jawab Grace.
" Mana mangkuk Lu?" tanya Devan.
" Noh di wastafel." jawab Grace menunjuk ada mangkuk kosong yang udah ia siapkan.
" Beneran enak nih?" tanya Elvano diangguki Grace.
" Nih kalau kalian gak percaya." ucap Grace memasukkan kuah seblak kedalam mulutnya tapi tidak ia telan.
Devan dan Elvano yang percaya langsung menyerbu mangkuk seblak itu dan memakannya.
sedangkan Grace menuju wastafel untuk memuntahkan kuah seblak yang tidak ia telan tadi.
" Wleekkk.. makanan apa ini? rasanya gak enak banget." ucap Devan saat ia memasukkan seblak kedalam mulutnya.
Keduanya langsung berlari kearah wastafel dan memuntahkan seblak itu.
Zay, Grace dan Vero teergelak melihat ekspresi Devan dan el.
" Kalian ngerjain kita ya." ucap Devan dan el menatap ketiganya dengan tajam.
" Sedikit." jawab Zay dengan tampang tanpa dosanya.
" Dasar lucknut, nyusrukk aja kalian." kesal Devano, disambut gelak tawa ketinganya
.
.
.
.
.
Jadi pengen seblak 😁