
Devano Kaliandra Kusuma, seorang cowo yang mengklime dirinya sebagai laki laki tertampan di muka bumi itu sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh bu Mita karena lagi lagi terlambat ke sekolah.
Dengan di lihat beberapa siswi, ia masih merasa percaya diri menjalani hukumannya yaitu hormat pada tiang bendera.
Ya karena bagi Devan hukuman semacam ini bukan masalah besar baginya, apalagi ia sendiri sering melakukannya.
" DEVAN." teriak Bella sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.
Devan mengabaikannya, ia hanya menatap Bella sekilas kemudian kembali mendongakan kepalanya menatap sang merah putih.
Bella menoleh kesana kemari berharap tidak ada guru yang tau jika dia berada di luar kelas.
Bella berjalan menuju Devan sambil membawa sebotol air mineral untuk di berikan pada Devan.
" Nih buat lo, gue tau lo pasti haus." Bella menyodorkan air mineral itu namun Devan hanya meliriknya saja.
" Gak perlu, gue gak haus, mending Lu minum sendiri." jawab Devan namun matanya tetap fokus menatap keatas.
" Kan gue kasih air ini buat lu dev, bukan buat diri gue sendiri." ucap bella.
" ck... kan gue bilang kalau gue gak haus, Dan lo mending pergi dari sini sebelum ketahuan sama guru yang lain." ucap Devan menatap bella dengan jengah.
" Lo ngawatirin gue?" Bella menatap devan dengan senyum jahilnya.
" Serah lu lah bel, males gue ngeladenin cewek kek lu." sahut Devan dengan memutar bola matanya malas.
" Yaudah nih terima.. Gue gak akan pergi kalau lu gak terima minuman dari gue." Bella menyodorkan botol minuman itu lagi.
Devan menatap botol air dan bella bergantian.
Sungguh ia sangat enggan untuk sekedar menerima pemberian dari bella.
Belum sempat Devan menerima botol itu, sebuah teriakan keras mengagetkan Bella dan Devan.
" SIAPA ITU?" teriak Bu Mita saat melihat seseorang selain Devan di tengah lapangan.
Bella yang kaget refleks menjatuhkan botol minuman itu dan tanpa sengaja mengenai kaki Devan.
" Anjing.. sakit woey ah. " kesal Devan, sebenarnya tidak terlalu sakit karena devan memakai sepatu, namun ia hanya ikutan refleks aja saat kakinya kejatuhan botol minuman.
" Aduh sorry Dev, gue gak sengaja." Bella menatap bu Mita dan devan lalu berlari begitu saja meninggalkan Devan.
hahaha..
" Ngacir kan lo." Devan tertawa keras melihat Bella yang lari ketakutan.
" Siapa yang bersamamu tadi? Kamu mau hukuman kamu saya tambah." ucap Bu Mita yang menghampiri Devan dan menatapnya tajam.
" Atuhlah bukk.. ini aja belum selesei masa mau di tambah lagi." jawab Devan mengerucutkan bibirnya.
" Ya kamu bukannya menjalani hukuman malah pacaran."
" Ya kali bu saya pacaran sama penunggu sekolah, serem dong." jawab Devan bergidik membayangkan ia berpacaran dengan Bella.
" Siapa yang kamu maksud?" Bu mita mengernyitkan dahinya.
" Cewek yang menghampiri Devan tadi." jawab Devan.
" Iya siapa?" tanya bu mita yang memang tidak tau siapa gadis yang menghampiri devan.
" Bella bu, teman sekelas devan." jawab Devan jengah.
" Murid baru itu? kan dia cantik." ucap Bu Mita.
Memang Bella cantik tapi entah kenapa kecantikan bella tidak membuat Devan terpikat olehnya.
Justru ia menganggap Fraya lah cewek yang paling cantik di sekolah ini.
" Dih.. masih cantikan juga mama saya bu." sangkal Devan.
" Ya..yaa Luna mama kamu memang cantik, saya akui itu." jawab Bu Mita yang memang sudah beberapa kali ia melihat Luna datang kesekolah bersama reyhan.
" Bu.. hukumannya udahan dong, saya beneran capek bu." rengek Devan dengan wajah melasnya.
" yasudah untuk kali ini hukuman kamu saya sudahi, tapi lain kali jangan terlambat lagi." ucap Bu Mita.
" ahsiap bu." jawab Devan dengan melakukan hormat pada bu mita.
" Kalau begitu saya masuk ke dalam kelas dulu bu, bye bu Mita cantik." ucap Devan sambil menoel dagu bu Mita lalu berlari sekencang kencangnya.
"DEVAANOOO.." teriak Bu Mita namun devan malah tertawa Keras.
Devan berjalan dengan gaya cool menuju kelas meski keringat membasahi dahinya.
Namun itu justru terlihat semakin tampan dihadapan para cewek cewek yang mengagumi devan.
Devan mengirimi pesan pada Elvano, menanyakan apa dikelas masih ada guru atau tidak dan El menjawab jika kelas sedang dalam jam kosong.
Dengan langkah riang devan masuk kedalam kelas dan membuka pintu kelas dengan keras.
" DEVANOOO.. LU BISA GAK SIH BUKA PINTU PAKEK TANGAN." geram Gilang si ketua kelas.
" Berisik sekali sih mas Gilang tralala. gue cium juga lo." sahut Devan yang langsung di tatap jijik oleh Gilang.
" Sorry gue laki laki normal." ucap Gilang menatap sinis Devan.
" Lu kira gue gak normal gitu? gue masih doyan semangka dari pada pisang. Iya kan sayang." jawab Devan sambil menoel dagu Freya.
Freya tidak menanggapi, dia hanya memutar bola matanya malas.
" Apaan? orang Freya kagak punya semangka, punya dia aja masih sebesar buah kesemek gitu." sahut Gilang yang langsung mendapat lemparan sepatu dari Freya.
bughhh...
Sepatu itu mengenai punggung Gilang hingga membuat gilang merintih sakit.
" Uuuhh headshot gak tuh." sahut Nathan dan Elvano sambil bertepuk tangan.
" Coba bilang sekali lagi.".sahut Freya yang menghampiri meja Gilang.
" Duuhh sakit Frey, lagian yang gue bilang kan bener, punya lu itu masih sebesar buah kesemek." jawab Gilang sambil melirik dada Freya.
Sadar akan tatapan mata Gilang, Freya langsung menyilangkan tangannya di depan dada.
" Dasar ketua kelas Mesum. Mati aja sono lo." kesal Freya lalu memukul punggung Gilang berkali kali.
Devan menghampiri Freya dan memeluknya dari belakang untuk menghentikan aksi Freya.
" Udah sayang udah, kasian gilang nanti dia bisa patah tulang kalau lu gebukin terus." sahut Devan sambil menarik Freya menjauhi meja Gilang.
" Awas lu kalau ngatain gue sekali lagi." geram Freya lalu kembali ketempat duduknya.
Bella mengepalkan tangannya kuat, ia tidak terima jika Devan memeluk Freya seperti itu di hadapan semua orang.
" Dasar murahan." gumam Bella pelan namun samar samar masih di dengar oleh Elvano.
" Murahan teriak murahan." gumam Elvano lalu menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan.
Suasana Kelas kembali hening saat guru masuk dan memulai pelajaran selanjutnya.
****
Sesuai janji Zay, hari ini ia mengantar Kiran ke rumah sakit untuk mengecek kondisi Kiran.
Ia sudah menghubungi dokter terbaik di jakarta untuk menangani penyembuhan Kiran.
Bahkan ia berani membayar lebih asal Kiran bisa secepatnya pulih dan ingatannya bisa kembali lagi.
" Kondisi nona Kiran sudah cukup membaik, tinggal kita terus melakukan terapi agar ingatannya cepat pulih.." jawab Dokter Regan.
" baiklah dok terimakasih atas waktunya." ucap Zay menjabat tangan dokter Regan.
" Sama sama tuan, bantulah nona kiran untuk mengembalikan ingatannya. Dan untuk masalah kaki nona kiran sebaiknya nona tidak melakukan aktifitas apapun yang memberatkan kaki anda agar secepatnya bisa berjalan." ucap dokter regan.
" Baik dok terimakasih." jawab Kiran tersenyum ramah.
Zay dan Kiran keluar dari ruangan dokter Regan lalu ia mendorong kursi Kiran menuju parkiran.
" ZAY." teriak seseorang membuat Zay berhenti dan menoleh kebelakang, begitupun dengan Kiran.
" Olivia." gumam Zay menatap olivia yang menghampirinya.
.
.
.
.
Nah kan..😁