
Zay mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, suasana hatinya semakin membaik setelah berciuman dengan Kiran tadi. Bahkan ia terus memegangi bibirnya seolah itu adalah ciuman pertamanya dengan Kiran.
Ponsel Zay berdering, ia melihat nama pemanggil yang membuatnya langsung berubah ekspresi.
Tante Ranti is calling....
Zay menghembuskan napasnya kasar, haruskah ia mengangkat panggilan itu? Karena ia tau jika tante ranti menelpon pasti ada hubungannya dengan Olivia.
Zay menepikan mobilnya, dengan terpaksa ia harus mengangkat panggilan itu.
" Ada apa tan?" tanya Zay dengan nada datarnya.
..." Bisakah kita bertemu besok?" jawab tante ranti dengan gugup....
" Ada keperluan apa? Zay besok kuliah setelah itu menemani Kiran. Kalau ada yang ingin di bicarakan, tante bisa bicara sekarang di telfon." jawab Zay.
..." Tante mohon nak, tante tidak bisa mengatakannya sekarang. Tante perlu bertemu dengan kamu." ucap Rante dengn memohon....
Zay terdiam sejenak, ia menimbang segala hal yang terjadi. Apa ia harus mengiyakannya atau tidak.
Jika di dengar dari nada bicara Ranti sepertinya ada hal penting.
" Baiklah, kita bertemu besok di restouran Alcf setelah Zay pulang kuliah." jawab Zay.
..." Baiklah, sebelumnya tante ucapkan terima kasih." ucap Ranti....
" Sama sama tante, kalau begitu Zay matikan dulu telfonnya. Assalamualaikum." ucap Zay langsung mematikan sambungan teleponnya.
Zay memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah itu ia meneruskan perjalannya.
Sepanjang perjalanan ia berpikir apa yang akan di katakan oleh tante Ranti? kenapa dengan Olivia?
Zay menggelengkan kepalanya kuat, untuk kali ini ia harus bisa tegas. dia sudah berjanji dengan Kiran jika dia tidak akan membuatnya kecewa untuk yang kesekian kalinya.
Mobil Zay masuk kehalaman rumahnya, ia mengernyitkan dahinya saat melihat sebuah mobil yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
" Mobil siapa?" gumam Zay menatap mobil Lamborghini Aventador tarparkir dihalaman rumahnya.
Zay masuk kedalam rumah dan melihat seseorang laki laki sedang duduk di ruang tamu bersama papanya.
Dan tampaknya mereka terlihat sangat akrab.
" Baru pulang nak?" tanya Reyhan saat Zay menghampiri papanya dan menyalimi tangan papanya.
" Iya pa." jawab Zay sambil melirik laki laki yang duduk di depan papanya.
" Daffin.. kenalkan ini Zay, kembarannya Grace." ucap Reyhan memperkenalkan Zay pada Daffin.
" Jadi anda yang bernama Daffin?" sahut Zay menatap datar Daffin. Ia belum tau kejadian yang di lakukan Grace untuk membatalkan pernikahan Daffin dan Angel. Ia mengira laki laki ini masih akan menikah dengan wanitanya.
" Iya saya Daffin, Dosen sekaligus kekasih Grace." jawab Daffin menjabat tangan Zay namun Zay enggan untuk menerimanya.
Melihat reaksi Zay seperti itu ia menurunkan uluran tangannya.
" Kekasih? hah.. lelucon macam apa ini? bukankah anda mau menikah? dan apa itu tadi? kekasih? anda pikir saya akan merelakan saudara kembar saya untuk berpacaran dengan seseorang yang akan menikah? jangan mimpi." ucap Zay dengan nada bicara yang tidak sopan.
" ZAY." tegur Reyhan saat melihat sikap Zay yang kurang ajar.
" Apa papa merelakan putri papa berpacaran dengan laki laki yang akan menikah?" Zay menatap papanya dengan datar.
" Kamu salah paham Zay." sahut Luna yang baru datang dari dapur sambil membawa minuman.
" Mama juga percaya sama laki laki ini?"ucap Zay sambil menunjuk Daffin.
" Zay jaga kesopanan kamu." tegur Reyhan dengan suara sedikit meninggi.
" Pa.. papa harus tau kalau laki laki ini sudah punya calon istri dan mereka akan menikah. Papa harusnya larang Grace untuk tidak menjalin hubungan dengan laki laki ini." ucap Zay dengan tegas.
bugghh..bugghh..bughhh..
" aaww... Sakit grace, lu apa apaan sih?" rintih Zay saat Grace tiba tiba datang dan memukulinya.
Ia menahan tangan Grace agar berhenti memukulinya.
" Lo bodoh apa gimana sih.? pernikahan dia batal juga karena gue." ucap Grace membuat Zay menatapnya tidak percaya.
" Maksud lo?" tanya Zay tidak mengerti.
Grace memutar bola matanya malas, mau tidak mau akhirnya Gravmce dan Daffin menceritakan semuanya pada Zay. Karena saat kejadian Zay masih berada di londo dan Grace tidak punya kesempatan untuk bercerita pada Zay.
" Apa ucapan kalian bisa di percaya?" Zay menatap Grace dan Daffin bergantian.
" Ini gue yang ngomong sendiri, masa lu gak percaya sama gue? sodara kembar macam apa lu." sahut Grace dengan sinis.
" Oke baiklah,, kali ini gue percaya. Tapi kalau sampai anda menyakiti Grace, jangan harap anda bisa bertemu lagi dengan Grace." ancam Zay. Grace yang merasa geram kembali memukuli Zay dengan bantal.
Apa dia tidak ingat jika pernah menyakiti hati Kiran? bahkan Kiran dengan mudahnya memaafkan dirinya.
" Gak ada sopan soapannya lu ya sama pacar gue. Pergi sana." kesal Grace menatap Zay dengan sewot.
" Cihh norak banget baru pertama kali pacaran." cibir Zay, ia berdiri lalu pergi menuju kamar.
" Maa..paa Grace sama mas Daffin pergi dulu ya, takut kemaleman." ucap Grace menyalimi tangan kedua orang tuanya diikuti Daffin.
" Jaga putri om, jangan sampe lecet sedikitpun." ucap Reyhan diangguki Daffin.
" Pasti om." jawab Daffin.
Keduanya pun menaiki mobil untuk menuju suatu tempat.
Grace yang memang tidak tau mau di bawa kemana hanya pasrah saja saat mobil Daffin melintasi jalanan ibukota yang tidak terlalu padat.
" Sebenarnya kita mau makan malam dimana sih mas? napa dari tadi gak nyampek nyampek." gerutu Grace.
Daffin tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan tetap fokus menyetir.
Tak lama mobil yang di kendarai Daffin sampai di sebuah restoran bintang 5, salah satu restourant termahal di jakarta.
Grace mengedarkan pandangannya, ia menatap kagum restouran dihadapannya ini.
Dirinya memang terlahir dengan harta yang berkecukupan, namun tidak pernah sekalipun ia menginjakkan kakinya di restouran seperti ini.
Karena baginya sate pinggir jalan rasanya tak kalah enak dengan makanan di restouran mewah.
Daffin menggandeng tangan Grace masuk kedalam restouran, beruntung ia sudah reservasi jauh jauh hari, jadi dirinya tidak perlu mencari tempat karena tempatnya sudah disiapkan. Dan Daffin memilih Rooftop untuk tempat mereka Dinner.
" Silahkan Tuan dan Nona, mejanya di sebelah sana." ucap pelayan restouran menunjuk meja yang sudah terdapat makanan berserta minuman dengan lilin yang sudah dihias sedemikian rupa.
Grace menatap pemandangan di depannya, mulutnya yang menganga ia tutup dengan kedua tangannya.
Ia menoleh kearah Daffin dengan mata berbinar.
" Kamu nyiapin ini semua untuk kita?" ucap Grace diangguki Daffin.
" Kamu suka Gak?" tanya Daffin sambil melingkarkan tangannya di pinggang Grace.
" Suka banget. makasih ya." jawab Grace, ia memeluk tubuh Daffin lalu keduanya berjalan menuju meja yang seperti sudah menunggu kedatangannya.
Daffin menarik kursi untuk Grace duduk, ia tersenyum lalu mencium pucuk kepala Grace lalu Daffin menarik kursi untuk dirinya sendiri.
" Kamu suka menu makanannya?" ucap Daffin diangguki Grace.
" Apapun aku suka asal makannya sama kamu." jawab Grace yang malah menggombal.
" Udah pinter gombal rupanya." ucap Daffin terkekeh.
Setelah selesei makan malam, Daffin menarik kursinya untuk duduk lebih dekat dengan Grace.
Mereka berdua menikmati gemerlapnya lampu kota yang terlihat begitu indah jika di lihat dari atas bangunan ini.
" Kamu tau? aku sangat bersyukur kamu masuk kedalam hidup aku, membantu aku membatalkan pernikahan yang sama sekali tidak aku inginkan.", ucap Daffin menggenggam tangan Grace.
" Aku bersyukur memiliki kamu, aku akan berusaha untuk menjadi laki laki yang akan selalu ada buat kamu. Menjaga kamu, dan akan selalu memprioritaskan kamu dari hal apapun. Aku berjanji akan terus berada disamping kamu." sambungnya sambil menatap dalam mata indah Grace.
" jangan pernah berjanji apapun karena suatu saat kita tidak tau akan terjadi seperti apa?" Grace menjeda kalimatnya, ia menatap dalam manik mata Daffin lalu mengusap pipi daffin dengan lembut.
" aku juga bersyukur mempunyai kamu di hidup aku, Aku gak pernah menyangka jika cinta pertama aku jatuh pada laki laki seperti kamu, tidak pernah terpikirkan olehku akan jatuh cinta sama dosen sendiri. Tapi karena dosennya itu kamu, jadi aku maju terus." ucap Grace tertawa kecil.
" Makasih ya udah cinta sama aku." ucap Daffin diangguki Grace.
" Makasih juga kamu udah memilih aku." jawab grace tersenyum manis.
Suasana malam itu menjadi romantis, bulan bintang seakan menjadi saksi keromantisan kedua insan yang sedang di mabuk asmara.
Daffin menarik tangan Grace agar berdiri dan menariknya agar duduk di pangkuannya.
( Selebihnya bayangin sendiri dah.) 😂
Setelah adegan romantis itu Daffin mengajak Grace oulang karena jam seudah menunjukkan pukul 10.00 malam.
.
.
.
.
Kalau aku nulis adegan romantis,misal ciuman. Kalian boleh skip ya kalau kalian gak suka.
Aku nulis kayak gitu juga sesuai suasana yang memungkinkan untuk terjadi hal seperti itu.
Jadi kalau ada yang tanya, ihh kok adegannya ciuman mulu sih? ya memang karena suasananya pas aja, lagian yang ciuman yang berstatus pacaran kok.
Aku bilang gini biar gak disindir lagi. lagian ini novel aku, jadi terserah aku kalau mau bikin adegan kek gitu.
Malah aku banyak nemu novel yang 21+ dan cara penulisannya detail banget.
Jadi kalau aku nulis adegannya cuma kayak gitu bagiku wajar aja.
😊😊