My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
14.



Devan berlari cepat menuju kelas saat bel masuk berbunyi, lagi lagi ia terlambat namun untung masih bisa masuk kedalam kelas.


Ia menendang pintu kelas hingga membuat seisi kelas kaget dan mengumpatinya.


Devan tidak menghiraukan mereka, ia dengan tampang coolnya berjalan kebangku dan membanting tas di atas meja.


" Pagi Freya sayang." sapa Devan.


" Hm." jawab Freya dengan tatapan malas.


" Telat mulu kerjaan lo." cibir Nathan, saat devan mendudukkan bokongnya di sebelahnya.


" Noh si kutu kupret gak bangunin gue, malah gue ditinggalin." jawab Devan menunjuk El dengan wajahnya.


" Napa lu nyalahin gue? Lu nya aja yang kebo, gue bangunin gak bangun bangun." elak El.


Memang selama tinggal di rumah Grandpanya El sering membangunkan devan untuk berangkat sekolah bersama.


Namun bukan devan jika mudah untuk di bangunkan, karena anak itu paling sulit di bangunkan setelah Grace.


" Ya itu emang karna elu nya aja yang pengen ninggalin gue biar gue telat terus di hukum, kan elu demen banget lihat gue di hukum." sahut Devan sinis.


El tidak menanggapi lagi karena guru pelajaran sudah masuk ke dalam kelas.


Suasana belajar mengajar saat ini lebih fokus dari biasanya, karena guru fisika kali ini adalah guru yang terkenal killer.


Siapapun yang membuat berisik akan langsung di keluarkan dari kelas.


Devan, El, Nathan, Freya dan Rissa kini sedang di kantin menikmati makanan mereka.


Setelah pelajaran Fisika yang menguras tenaga dan pikiran membuat mereka kehilangan banyak tenaga, di bilang lebay namun begitu kenyataannya. kekeke.


" Gue doain tuh guru fisika pindah dari sini, gak sanggup gue kalau diajar sama beliau." gerutu Rissa.


" Ho'oh.. gue juga berharap gitu, terus gue juga berharap guru penggantinya masih muda, cantik, sexy. Beeuuhh makin betah gue." sahut Nathan sambil membayangkan guru wanita yang cantik.


" Cihh... yang ada lu gak fokus belajar malah fokus ngelihatin gurunya." cibir Freya.


" Ya gapapa, gue bisa tanya kalau gak ngerti, sekalian modus dikit." jawab Nathan disambut tatapan malas yang lain.


" Cari cewek sono biar mata lo gak jelalatan mulu lihat cewek cantik." ucap Rissa.


" Lu sih gak mau jadi cewek gue." jawab Nathan.


" Ogah banget punya cowok mata keranjang kek elu." sahut Rissa.


" Gue gini kan gara gara lu gak mau jadi cewek gue, gue mah aslinya cowok baik, setia." jawab Nathan.


" Setiap tikungan ada." sahut Elvano menyeringai.


" Waahh si bapak bongkar kartu aja, diem aja napa sih pak." ucap Nathan, El mengangkat bahunya acuh.


" Frey..." panggil Devan.


" Hm."


" Gue mau tanya sama elu."


" Yaudah tanya aja sih."


" Kalau gue jalan berduaan sama yang lain itu selingkuh atau cuma friendly aja?" tanya Devan menatap Freya yang berada di depannya.


" Kalau gue tembak pala lo, lo mati atau cuma gak napas aja?" jawab Freya menatap devan dengan senyum smirknya.


yang lain tertawa mendengar jawaban Freya.


" Kok jawabnya gitu, kita kan gak ada hubungan apa apa, jadi hak gue dong jalan sama siapa aja." ucap devan menatao lekat manik mata freya.


" Entah.. kan gue niruin konten di toktik, lagian lu jalan ma yang lain kek atau enggak urusan gue apa? serah lu lah" jawab Freya acuh.


" ckk.. bukan itu jawaban yang gue mau frey, harusnya lu jawab ' kita kan pacar ' gitu. itung itung lu nyenengin gue lah frey." ucap Devan mengerucutkan bibirnya.


" Diihh.. ogah banget." jawab freya.


" Awas aja kalau lu cemburu devan deket sama cewek lain." sahut El menatao freya.


" Gak bakal." jawab Freya cuek, membuat Devan menyeringai licik.


***


Kiran yang duduk di samping Zay menatap lurus kedepan, sesekali menoleh ke arah pemuda yang sedang fokus menyetir itu.


Perasaan senang dalam hatinya membuat senyum di wajahnya tidak pernah luntur.


Sekian lama ia menyukai pemuda di sampingnya ini tanpa pemuda itu ketahui.


Yups.. sudah lama kiran memendam rasa cintanya untuk Zay karena ia tau jika Zay menyukai wanita lain yang tak lain adalah sahabat kiran sendiri.


Namun disaat Zay menaruh kebahagiaannya pada sahabat kiran, justru wanita itu pergi entah kemana, ia hilang bagai ditelan bumi.


Tak ada kabar, tak ada jejak sedikitpun untuk mereka jadikan petunjuk keberadaannya.


" Zay berhenti." ucap kiran tiba tiba membuat Zay ngerem mendadak.


" Aaww.." ringis Kiran saat kepala bagian belakang terbentur jok.


" Astaga maafin aku, aku gak sengaja." ucap Zay mengusap kepala kiran.


" Kamu gapapa kan?" tanya Zay menatap wajah kiran.


" Gapapa, gak sakit kok, tadi cuma reflek aja karena kaget." jawab kiran tersenyum manis.


Ia senang Zay perhatian padanya, meskipun ia tau memang dari dulu Zay bersikap seperti itu.


" Kenapa minta berhenti?" tanya Zay.


" aku mau beli itu." jawab Kiran sambil menunjuk gerobak tukang somay yang ada di seberang jalan.


" Kamu disini aja biar aku belikan." ucap Zay yang sudah melepas sabuk pengamannya.


" Aku ikut ya." ucap Kiran.


" Disini aja, biar aku yang beli." ucap Zay sambil mengacak pelan rambut kiran.


Kiran mengangguk dan membiarkan Zay membeli somay itu sendiri.


" Gimana aku gak makin cinta sama kamu Zay kalau sikap kamu sama aku aja kayak gini.


Aku tau kamu cuma menganggap aku sahabat kamu, tapi hati aku seakan menolak jika kamu hanya menganggapku seperti itu." gumam Kiran menatap punggung Zay yang berjalan menyebrangi jalan.


" Andai kamu tau perasaanku dan kamu membalasnya, mungkin aku akan jadi wanita paling bahagia di dunia ini." gumamnya tanpa sadar air matanya menetes.


" Maafin aku udah menghianati persahabatn kita." ucap Kiran menangis.


Zay berjalan kembali ke mobil setelah mendapat somay yang diinginkan oleh Kiran.


Ia masuk kedalam mobil dan memberikan somay itu pada kiran


" Ini somay ka--"


" Kamu habis nangis?" tanya Zay saat melihat mata kiran yang sembab dan masih kemerahan.


" Aahh enggak.. tadi pas aku buka kaca ini aku kelilipan." elak Kiran.


" Bohong... kamu tuh gak bisa bohong sama aku, sekarang cerita sama aku kenapa kamu nangis?" ucap Zay menatap dalam manik mata kiran.


" Aku gak bohong Zay, aku serius aku cuma kelilipan doang." jawab Kiran sambil mengucek matanya.


" Jangan di kucek nanti mata kamu sakit." ucap Zay menurunkan tangan kiran dan meniup kedua mata kiran bergantian.


" Udah mendingan?" tanya Zay diangguki kiran.


" Yaudah nih somay kamu." ucap Zay menyerahkan somay itu pada Kiran.


Kiran menerima dan membukanya.


Zay kembali menjalankan mobilnya, sementara kiran memakan somay itu sambil menyuapi Zay yang sedang menyetir.


.


.


.


.


Lanjut gak? 😁