My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
119.



Semenjak kejadian hari itu, Devan lebih mendiami Freya. Ia bahkan jarang sekali mengobrol apalagi menggoda Freya seperi biasanya, dan Freya menyadari hal itu. Meskipun mereka terlihat sering bersama dengan yang lain saat di sekolah, namun mereka memilih untuk tidak saling bicara atau hanya berbicara jika ada hal yang penting.


Sedangkan untuk ketiga temannya itu, mereka benar benar tidak tau lagi harus bagaimana membuat dua orang yang mamiliki tingkat egois yang tinggi itu kembli akur. Memiliki masalah dalam sebuah pertemanan memang sangat tidak nyaman. Apalagi mereka sudah terbiasa bercanda satu satu sama lain.


Dan kini hanya rasa canggung yang menyelimuti pertemanan mereka.


___


" Devano." panggil Bella saat melihat Devan betjalan sendiri di koridor sekolah.


Ia berbalik arah saat ada seseorang yang memanggil namanya.


Saat ia tau siapa yang memanggilnya, ia justru melanjutkan kembali langkahnya menuju kelas.


" Devan tungguin." ucapnya sambil berlari kecil.


Memang semenjak Bella tau jika Devan dan Freya tidak akur, ia semakin gencar untuk mendapatkan hati Devan. Meskipun ia tau laki laki itu tidak pernah meresponnya sama sekali.


" Kena." ucap Bella yang berhasil menggandeng lengan Devan.


" Lu apa apaan sih?" Kesal Devan sambil menghempas tangan Bella dari lengannya.


" Ciihh... Gitu aja masa gak boleh sih?" Bella cemberut namun ia merasa senang karena bisa berjalan berdua dengan Devan.


" Gak ada yang boleh gandeng lengan gue selain Freya. Ngerti lu." ucapnya lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Bella yang terlihat jelas kilatan amarah di matanya.


" Freya lagi, Freya lagi. Apa istimewanya cewek sialan itu sih? Cantik, juga cantikan gue." teriak Bella yang mungkin saja di dengar orang yang ada di dalam kelas.


" Dia lebih istimewa dari lo, dan jangan pernah lagi lo deketin gue." sahut Devan menatap tajam ke arah Bella, setelah itu ia meneruskan langkahnya menuju kelas.


Tanpa di ketahui Bella dan Devan, Freya mendengar jelas apa yang diucapkan Devan barusan. Dalam hatinya tersenyum senang karena Devan masih menjaga perasaan padanya. Meskipun diirinya dan Devan masih saling diam dan tidak bertegur sapa. Namun mendengar Devan masih menjaga perasaan untuknya membuat hati Freya sedikit lega.


Sesampainya di depan kelas, Devan menendang pintu itu dengan keras. Seperti biasa, sebagian warga kelas tidak segan untuk mengumpati Devan karena mereka benar benar terkejut. Namun bukan Devan jika menghiraukan umpatan teman kelasnya, ia dengan gaya coolnya berjalan santai menuju bangku lalu duduk di sebelah Nathan. Ia melirik sekilas tempat duduk Freya namun tidak ada Freya disana.


Kamana dia?


Belum sempat menebak kemana gadis itu pergi, pintu kelas terbuka dan menampilkan Freya yang baru saja masuk kelas.


Freya menoleh ke arah Devan, namun laki laki itu enggan menoleh kearahnya meskipun hatinya memaksa untuk membalas tatapan Freya.


" Baikan aja napa sih? capek tau gak lihat kalian kayak gini terus." sahut Rissa yang memang sudah jengah melihat kedua sahabatnya ini masih saling diam.


" Dev, lu kan cowok. Lu ngalah dikit kek." ucap Nathan namun Devan hanya diam tanpa berniat membalasnya.


" Frey, lu tau Devan kek gimana? gue mohon untuk kali ini, lu yang ngalah. Hilangkan ego lu!! gue gak mau persahabatan kita kayak gini terus. Kita dah bertemen dari orok sampai sekarang, masa cuma gara gara hal kecil kalian sampai harus musuhan kek gini sih?" ucap Rissa dan Freya juga diam.


" Terserah kalian dah. Mo kalian musuhan sampek kakek nenek juga gue gak peduli. Capek gue ngelihat tingkah kalian berdua." ucap Rissa yang akhirnya pasrah dengan keadaan persahabatan mereka.


Tak lama guru pelajan masuk dan memulai pelajaran mereka.


******


Jerman.....


Zay Kini sedang berjalan jalan di sebuah pusat perbelanjaan bersama istrinya. Keduanya terlihat membeli banyak sekali oleh oleh untuk mereka bawa ke indonesia. Yups, keduanya sepakat untuk pulang ke Indonesia bersama, dan Zay yang harus mengalah untuk bisa tinggal lebih lama lagi di jerman.


Ia harus mengorbankan kuliahnya demi menuruti keinginan istrinya agar bisa pulang ke indonesia bersama sama.


" Masih ada lagi gak yang ingin dibeli?" tanya Zay saat melihat keranjang troli yang penuh dengan oleh oleh yang diinginkan Grace dan sodara yang lainnya.


" Kayaknya cukup deh." jawab Kiran, meskipun matanya masih terlihat melihat kesana kemari.


" Yakin udah cukup?"


" Udah. Ayo bayar." ucap Kiran lalu keduanya mendorong masing masing troli.


Setelah selesei membayar semua belanjaan itu, Keduanya langsung kembali ke apartemen untuk segera mempersiapkan barang barang yang akan mereka bawa pulang ke indonesia.


.


.


.


.


.


One more chapter, and it will be done.