My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
81.



Kicauan burung yang saling bersahutan terdengar merdu bagi gadis yang sedang menikmati waktu sorenya dengan berdiri di pagar balkon kamarnya.


Gadis itu menggeliatkan tubuhnya merasakan matahari sore yang tidak terlalu menyengat.


Semilirnya angin yang menerpa wajahnya menambah ketenangan bagi Gadis yang baru saja terbangun dari tidur sorenya itu.


Kiran, Gadis itu kembali masuk kedalam kamarnya saat mendengar dering ponselnya berbunyi.


Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat siapa yang menelponya sore begini.


" Selamat sore." sapa Kiran saat melakukan panggilan video.


" Sore juga sayang." jawab penelpon itu yang tak lain adalah Zay.


" Kamu mau kemana?" tanya Kiran saat melihat Zay berada dalam mobil


" Kerumah buat jemput kamu."


" Kamu gak waras ya? kenapa baru bilang? aku belum siap siap."


" Yaudah buruan siap siap, aku cuma mau ngabarin kamu kok kalau aku udah dijalan menuju rumah kamu."


" Emang kita mau kemana sih? kenapa aku gak boleh tau?"


" Nanti gak surprise dong."


" Terserah kamu aja deh."


" Yaudah buruan siap siap, 5 menit lagi aku sampek." ucap Zay membuat Kiran membulatkan matanya.


" Kamu gila, bahkan aku belum mandi." sahut Kiran dengan nada kesal lalu mematikan sambungan video callnya.


Kiran meletakkan kembali ponselnya, ia berjalan menuju lemari dan mencari baju yang cocok untuk ia kenakan hari ini.


" Kenapa bajuku itu itu semua?" Kiran mengambil satu persatu bajunya dan membuangnya ke tempat tidur.


" Kenapa mendadak gak ada yang cocok gini sih?"


Kiran menoleh ke arah pintu yang terbuka dan mendapati mamanya baru masuk kedalam kamarnya.


" Astaga Kiran, ini kamu apa apaan sih? kenapa baju di lantai semua?" Sita geleng geleng kepala melihat kamar putrinya yang seperti kapal pecah.


Baju yang berserakan di lantai dan kasur, juga ada beberapa pakaian dalam yang ia biarkan tergeletak begitu saja.


" Bukan waktunya ngomel ma, aku lagi bingung mau pakek baju apa?" jawab Kiran yang terus mengeluarkan bajunya dari dalam lemari.


" Stop." Sita menangkap saru Dress berwarna Maroon dan menempelkannya pada tubuh Kiran.


" Ini cocok untuk kamu sayang." ucap Sita.


Dress berwarna merah maroon tanpa lengan itu terlihat sangat cocok ditubuh dan kulit putrinya.


" Mama yakin?" tanya Kiran di angguki Sita.


" Yakin, lagian kamu mau kemana sama Zay?"


" Gak tau, dia gak ada bilang sama Kiran."


" Jangan jangan dia mau ngelamar kamu."


" Mamaku ngaco banget sih? mana mungkin Zay secepat itu ngelamar Kiran? lagian hubungan kita baru berjalan beberapa bulan."


" Kalau iya bagaimana?"


" Ya aku terima lah ma, masak Kiran tolak. Lagian itu gak akan mungkin terjadi. Pasti Zay cuma ngajak Kiran makan malam doang buat ngerayain kesembuhan kaki kiran."


Bukankah tidak mungkin untuk Zay melamar Kiran? bahkan keduanya sama sama belum menyeleseikan kuliahnya, ditambah lagi usia mereka yang masih sangat muda.


" Yasudah kamu segera mandi, Zay sudah menunggumu di bawah." ucap Sita membuat Kiran melototkan matanya.


" Tuh anak bener bener gila." gerutu Kiran lalu ia berjalan sedikit cepat menuju kamar mandi.


Sita hanya geleng geleng kepala melihat tingkah putri semata wayangnya. Namun disisi lain ia bersyukur karena putrinya sudah mengingat kembali ingatannya dan sudah bisa kembali berjalan. Dan semua itu juga berkat Zay yang selama ini menemani Kiran dan memberikan perhatian penuh pada putrinya.


Sita keluar dari kamar Kiran dan memanggil pembantu untuk membereskan kamar putrinya.


" Kamu ini seneng banget ngerjain Kiran, dia sampe kesel gara gara kamu." ucap Sita mendudukkan bokongnya di samping suaminya.


" Sekali kali tan." jawab Zay tersenyum simpul.


" Papa sudah bicara sama Zay, dan dia udah yakin buat melamar putri kita." ucap Delon pada istrinya.


" Mama terserah mereka pa, karena mereka yang menjalani. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukungnya dan mendoakan yang terbaik." jawab Sita.


Sebelumnya Zay memang sudah membicarakan ini dengan Delon melalui sambungan telepon. Delon cukup terkejut saat Zay meminta izin untuk melamar putrinya tapi hari ini Zay meyakinkannya jika ia bersungguh sungguh untuk melamar putrinya.


" Bolehkah tante meminta satu permintaan?" ucap Sita menatap Zay dengan serius.


" Silahkan tante."


" Izinkan Kiran melanjutkan studynya di jerman karena itu impiannya bisa berkuliah disana." ucap Sita membuata Zay mengangguk tanpa berpikir dua kali.


" Tidak apa apa tante, itulah kenapa Zay ingin segera menikahi Kiran. Lagian hanya kurang setahun lebih Kiran sudah bisa menyelesaikan kuliahnya dan setelah itu ia akan kembali ke indonesia." jawab Zay mencoba bersikap Dewasa.


Permintaan mama Kiran tidak pernah terpikirkan sebelumnya, ia justru berpikir akan memindahkan kuliah Kiran ke indonesia. Karena dengan begitu keduanya bisa sama sama kuliah tanpa perlu khawatir hubungan jarak jauh.


Tapi mendengar permintaan mama Kiran membuatnya berpikir, bisakah ia melakukan hubungan jarak jauh disaat dirinya dan Kiran sudah menikah?


Berat? sudah pasti. ia sudah terlanjur bilang pada kedua orang tua Kiran jika dirinya akan segera menikahi putrinya setelah melamarnya nanti.


Dan tidak mungkin Zay membatalkan nya karena pasti kedua orang tua kiran akan menganggapnya main main.


" Zay yakin om, Zay bisa mengunjunginya kesana. lagian hanya satu tahun, Zay rasa itu tidak terlalu lama." ucap Zay sambil tersenyum.


" Baiklah, om percaya sama kamu. Maafkan om dan tante karena harus bicara seperti ini, karena dari dulu inilah impian Kiran untuk melanjutkan pendidikannya di jerman."


" Zay mengerti om."


Tak lama Kiran turun dengan sangat anggun, Dress selutut berwarna merah maroon memang sangat cocok di tubuh dan kulitnya.


Kedua orang tua Kiran hanya geleng geleng kepala saat melihat Zay yang tengah menatap putrinya tanpa berkedip.


" Kiran cantik ya pa?" ucap Sita membuat Zay menjadi kikuk. ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan bersikap salah tingkah.


" Kamu udah siap?" tanya Zay saat Kiraj duduk di sebelahnya.


" Udah."


" Kalau gitu kita berangkat sekarang." ucap Zay lalu keduanya berpamitan dengan Delon dan Sita.


***


Zay membuka pintu mobil untuk Kiran setelah itu ia berlari dan duduk di kursi kemudi.


Kini mobil Zay melesat membelah jalanan ibu kota yang lumayan padat.


Pandangannya fokus kedepan namun sesekali mencuri pandang ke arah kekasihnya yang terlihat sangat cantik malam ini.


" Sebenernya kita mau kemana sih?" berulang kali Kiran menanyakan hal yang sama namun Zay hanya menjawab. " Nanti kamu akan tau sendiri."


sebuah jawaban yang ingin rasanya kiran kubur dalam dalam karena sudah membuatnya penasaran.


Tak terasa mobil Zay berhenti di sebuah restouran yang sangat sepi, bahkan tidak ada satupun pengunjung yang makan di tempat ini, padahal ini adalah restouran yang tidak pernah sepi pengunjung. Peminat restouran ini sangat banyak, bahkan harus reservasi lebih dulu jika ingin mendapatkan meja.


Tapi kenapa hari ini tidak ada satupun orang yang datang kesini kecuali dirinya dan Zay?


Kiran menoleh ke arah Zay yang sedang memebenarkan kemeja dan sedikit merapikannya.


" Ada apa?" tanya Zay saat Kiran menatapnya dengan heran.


" Ini restouran kayak tutup deh, sepi banget gak ada satupun pengunjung." ucap Kiran membuat Zay terkekeh.


" Sudah ayo masuk, di dalam ada orang kok." jawab Zay lalu menggandeng tangan Kiran masuk kedalam restouran.


" Selamat datang Tuan dan Nona." ucap pelayan menyambut kedatangan Zay dan Kiran.


" hm.. bagaimana?"


" Sudah kami siapkan semuanya tuan, mari mejanya sebelah sana." ucap pelayan itu menunjuk sebuah meja yang sudah di hias sedemikian rupa.


" Silahkan." ucap pelayan itu kemudian pergi.


" Ini kenapa cuma kita berdua Zay? jangan bilang kamu memboking satu restouran hanya untuk kita berdua?" Kiran memincingkan matanya menatap Zay yang tersenyum seakan membenarkan ucapan Kiran.


Terdengar helaan napas panjang dari bibir kiran saat melihat senyuman Zay.


Itu artinya dia memang benar benar memboking restouran ini hanya untuk mereka berdua.


" Kenapa kamu melakukan ini?"


" Karena aku akan membuat momen spesial untuk kita berdua."


" Maksud kamu?"


Zay tidak menjawab ia menghampiri seseorang yang berada di panggung kecil yang sedang memainkan pianonya.


Zay mengambil microphone dan menyanyikan sebuah lagu sesuai iringan musik yang dimainkan.


Kiran menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat Zay selesei menyanyikan sebuah lagu.


Lagu MARRY ME dari JASON DERULO yang di nyanyikan oleh Zay cukup membuatnya mengerti arti dari ini semua.


Zay berjalan menghampiri Kiran dan berlutut di hadapannya sambil membuka kotak yang terdapat sebuah cincin yang sangat indah.



" Zay..." Kiran menatap Zay dengan mata berkaca kaca, ia belum bisa mencerna apa yang sedang di lakukan Zay saat ini.


" Mungkin ini terlalu cepat buat kamu, mungkin kamu tidak pernah menyangka sebelumnya jika aku akan melakukannya secepat ini.


Tapi aku hanya ingin kamu tau, aku bersungguh sungguh melamarmu, memintamu menjadi istriku.


Mungkin usia kita masih terlalu muda, tapi aku yakin kita bisa bersama sama membangun rumah tangga kita. Aku tidak ingin menunggu waktu lebih lama lagi. So, will yoy marry me?  I don't really know what I'm supposed to do if you say "no," so could you save us both the trouble and say "yes?" Zay menatap Kiran yang meneteskan air matanya.


Ia sungguh terkejut dengan kejutan yang di berikan Zay malam ini.


Ia sungguh tidak menyangka laki laki yang menjadi kekasihnya ini dengan cepat ingin menikahinya.


" A-aku..."


.


.


.


.


Kira kira ada yang tau jawaban Kiran? 🙂