My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
S3.2



Grace duduk termenung di taman belakang rumah yang terdapat sebuah gazebo, tempat yang biasa ia buat bersantai bersama sodaranya. Ia masih memikirkan tentang keberangkatan honeymoon nya besok pagi. Kalau boleh Grace jujur, ia ingin menundanya dulu. Ia sunggu belum siap memberikan kewajibannya pada suaminya itu. Entah kenapa bayang bayang sakitnya malam pertama selalu memenuhi isi otaknya saat ini, meskipun Daffin bilang jika akan melakukannya dengan lembut. Grace memang terbilang wanita yang pecicilan, namun soal hal yang seperti itu jujur dirinya tidak mengerti sama sekali.


Grace menundukkan kepalanya sambil mengayunkan kaki, ia berhenti mengayunkannya saat ada sepasang kaki berdiri dihadapannya saat ini. Lantas ia mendongakkan kepala dan melihat Suaminya tengah menatapnya dengan raut wajah yang sulit Grace tebak.


" Kamu ngapain sendirian disini?" Daffin mengambil duduk disebelah Grace dan menatap istrinya yang seperti tengah memikirkan sesuatu.


" Gapapa, ini emang tempat favorite ku kalau lagi di rumah ini." jawab Grace, ia kembali mengayunkan kakinya untuk mengurangi rasa gugup. Entah kenapa saat berdekatan dengan suaminya saat ini membuat dirinya merasa gugup. Bayang bayang malam pertama semakin mendesak pikirannya dan membuatnya semakin takut dan gugup.


" Mas." panggil Grace ragu.


" Hm."


" Emm... Gimana kalau kita tunda dulu honeymoon nya." Grace berucap sangat lirih, jika suasana saat itu tidak hening mungkin Daffin tidak akan mendengarnya.


" Kenapa?" Daffin menoleh ke arah Grace yang semakin menundukkan kepalanya.


" A-aku-"


" Kamu masih takut? Kalau kamu belum siap, aku gak akan maksa kamu kok. Aku akan nunggu kamu sampai siap." sahut Daffin dengan cepat. Ia sudah hapal betul apa yang dipikirkan grace saat ini. Jujur saja ia memang menginginkan Grace melayani kebutuhan biologisnya, namun ia juga tidak bisa memaksa wanita itu jika memang dia belum siap.


" Maafin aku mas." Grace menundukkan kepalanya dan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja. Ia juga merasa bersalah karena belum bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya.


" Aku ngerti, Sekarang kamu gak usah pikirin itu lagi." Daffin menarik Grace kedalap pelukannya. Ia sedikit kecewa, tapi mau gimana lagi? ia tidak bisa memaksa istrinya begitu saja.


" Untuk honeymoon kita akan tetep berangkat. Aku gak mau ngecewain papa dan mama yang udah nyiapin hadiah itu buat kita." Ucap Daffin diangguki Grace yang masih terisak di dada Daffin.


___


Zay berdiri di balkon kamarnya dan melihat kearah taman yang disana ada Grace dan juga Daffin. Ia sebenarnya cukup penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Karena melihat dari sikap Grace yang tidak seperti biasanya, ia yakin jika saudara kembarnya itu tengah memikirkan sesuatu.


" Ada apa?" Kiran melihat raut wajah suaminya yang seperti sedang penasaran akan suatu hal.


" Aku penasaran dengan mereka." jawab Zay sambil menunjuk ke arah Grace dan Daffin.


" Penasaran?" tanya Kiran memastikan.


" hm." gumam Zay dan matanya terus menatap kedua orang yang masih berada di taman.


" Emang penasaran kenapa? bukankah mereka baik baik aja?" Kiran melihat Grace yang berada di pelukan Daffin. Ia juga penasaran apa kedua orang itu baru saja bertengkar? karena jika melihat cara Daffin memeluk Grace seperti seseorang sedang menenangkan istrinya.


" Aku juga gak tau, tapi tadi aku lihat Grace ngusap air matanya." jawab Zay. Ia berbalik lalu duduk di kursi balkon.


" Apa mereka bertengkar? padahal baru kemarin mereka jadi sepasang suami istri, masa udah bertengkar aja."


" Kayak enggak deh. Menurut aku Grace belum siap untuk pergi honeymoon." jawab Zay.


" Kok kamu tau?" Kiran menatap lekat wajah suaminya.


" Karena aku sodara kembarnya." jawab Zay sambil mencubit gemas hidung Kiran hingga membuat istrinya mengaduh sakit.


" Isshhh, ngeselin." Kiran berdiri dan beranjak masuk kedalam kamar diikuti Zay di belakangnya.


____


Zay melangkahkan kakinya menuju gazebo untuk menemui Grace yang tengah duduk sendiri. Daffin, laki laki itu tengah masuk kedalam rumah untuk menemui panggilan mertuanya. Entah apa yang ingin Reyhan dan luna bicarakan.


" Kenapa?" Zay langsung duduk di samping Grace yang terlihat tengah melamun.


" Ha?"


" Cerita sama gue."


" Gak jelas banget sih lu. Emang gue kenapa?" Grace balik bertanya. Ia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Zay karena pikirannya sedang melalang buana. Jika biasanya Pertanyaan Zay langsung konek di otaknya, namun sepertinya saat ini Grace sedang mode lambatnya.


" Kalian berantem?" Zay menatap Grace yang tengah memiringkan kepalanya.


" Ha? berantem?"


" Ck, gue tadi lihat lu habis nangis." Zay benar benar kesal dengan Grace. Tidak biasanya dia lemot begini saat di ajak ngobrol.


" Oohh, tadi gue cuma kelilipan doang kok." Grace berbohong dan Zay hanya bersmirk karena ia tau kalau Grace sedang berbohong.


" Dan lu pikir gue percaya?"


Haaaaaahh


Grace menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia lupa dengan siapa dia sedang berbicara. Terkadang dirinya juga heran, kenapa Zay sulit sekali untuk di bohongi? apa ikatan batin keduanya sangat kuat. Grace tidak habis pikir.


" Gue takut." Ucap Grace membuat Zay menatapnya dengan kening bertaut.


" Kenapa?"


" Mama, papa udah nyiapin tiket honeymoon buat gue sama Daffin. Tapi gue belum siap disentuh sama dia." ucap Grace menunduk malu. Meskipun dengan Zay dirinya juga malu harus berkata jujur pada saudara kembarnya ini.


" Semalam?" tanya Zay dibalas gelengan oleh Grace.


" Apa yang lu takutin?"


" Kata Naya sama Grizzele malam pertama itu sangat sakit, bahkan jika kita gak kuat kita bisa pingsan. Gue takut Zay, gue takut kenapa napa terus ninggalin Daffin. Gue baru aja nikah ma dia, masa gue mati duluan sih." ucap Grace dengan suara manjanya.


pletaaakkk .


" Aduh!! sakit t0I0l. Lu kalau nyentil jidat gue gak kira kira ya, gue aduin lo ma suami gue." Grace menatap geram pada Zay yang baru saja menyentil jidatnya tanpa dosa.


" Sekali kali otak lu memang perlu di reparasi. Kalau perlu bawa ke tukang bengkel sekalian biar di benerin tuh otak." Zay juga ikutan kesal karena pemikiran konyol saudara kembarnya. Jadi hanya karena masalah ini dia nangis? Zay geleng geleng kepala melihat sikap Grace yang benar benar bodoh.


" Emang kenapa sih?"


" Kali ini dengerin gue. Terserah lu mau percaya ama gue apa enggak." Zay menatap Grace sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


" Malam pertama itu gak sakit -"


" Dari mana lu tau kalau gak sakit, lu mah enak bagian nusuk kiran doang." potong Grace dengan cepat.


pletaakkk.


" Satt... sakit anj." kesal Grace lagi lagi jidatnya di sentil oleh Zay.


" Bisa gak kalau orang lagi ngomong gak usah main potong aja?" ucap Zay dengan datar.


" Lanjut." Grace mengalah dari pada harus kena sentil lagi oleh Zay, bisa bisa bolong nih jidat.


" Gue bilang gitu karena buktinya Kiran keenakan waktu malam pertama ma gue, dan buktinya di gak kenapa napa kan? Apa yang di ceritain sama Naya dan Grizzele itu jangan lu dengerin. Gimana mereka tau kalau malam pertama itu sakit, sedangkan mereka aja belum pernah ngerasain." ucap Zay panjang lebar.


" Dan asal lu tau, ketakutan konyol lu ini tanpa sadar buat bang Daffin kecewa. Laki laki mana yang gak ingin ngelakuin hal itu dengan istrinya. Kalau lu selalu bilang belum siap memenuhi kewajiban lu, jangan salahin bang Daffin kalau dia cari wanita di luar sana buat muasin dirinya." lanjutnya membuat Grace melotot tak percaya.


Bukkk..


" Anak setan lu ya, kenapa lu malah nakut nakutin gue anj." Grace murka dan terus menerus memukul Zay.


" Grace berhenti, dengerin gue." Zay menggenggam tangan Grace agar Grace berhenti memukulinya.


" Lu jahat tau gak." Grace meneteskan air matanya. Ia bahkan tidak berpikir jika Daffin akan mencari kepuasan diluar sana jika dirinya belum bisa memuaskan suaminya dalam urusan ranjang.


" Gue bicara kayak gini karena temen kantor gue ada yang kayak gitu, istrinya gak bisa muasin dia dan akhirnya ia memilih kepuasan sendiri di luar sana. Gue bukan niat mau nakutin lo, gue mau ngasih lo pemikiran bahwa hidup berumah tangga bukan sekedar kebutuhan lahiriah namun juga batiniah." tutur Zay membuat Grace semakin terisak.


" Lu harus banyak belajar tentang hidup berumah tangga. Bukan maksud gue untuk menggurui lo, tapi apa yang gue pelajari setidaknya bisa bermanfaat bagi orang yang minim pengetahuan kayak lo." lanjutnya


" Sekarang ataupun Nanti sama aja Grace, lu akan nyerahin diri lu buat suami lu. Jadi sebelum bang Daffin cari kepuasan sendiri di luar sana mending lu yang puasin bang Daffin." sambung Zay dengan sedikit menggoda Grace.


"Sh!**!!! Gak usah ngomongin itu lagi." Grace memalingkan wajahnya , ia yakin jika wajahnya kini sudah memerah bagai tomat.


" Mending lu siapin kebutuhan lu buat di bawa ke paris besok." ucap Zay diangguki Grace.


" Makasih ya Zay, lu udah bikin gue tenang. Lu emang selalu ada buat gue. Semoga kita selalu seperti ini meskipun kita udah berumah tangga." ucap Grace memeluk tubuh tegap Zay.


" Sama sama, lu sodara gue yang paling gue sayang. Apapun yang lu rasain pasti gue juga ngerasa. Dan jangan pernah sungkan atau malu kalau lu pengen cerita sama gue. Gue siap dengernya." Ucap Zay mengusap punggung Grace dengan sayang.


" Yaudah gue ke dalam dulu." ucap Grace setelah Zay mencium keningnya.


" Hm."


Zay tersenyum tipis saat melihat punggung Grace semakin menjauh, ia selalu berharap semoga Grace selalu bahagia..


.


.


.


.


S3 nya memang sengaja aku terusin disini karena cerita ini masih seputar Zay, Grace dan yang lain. Gapapa kan ya? biar gak ganti judul baru lagi.


Pokoknya kalian jangan lupa like sama komennya, biar aku semangat updatenya.


Dan makasih banyak buat kalian yang masih setia buat cerita ini. See you next chapter.