
Hari ini markas black rose di datangi oleh para pemimpin mereka, Ricko pun ikut turun tangan langsung untuk melihat siapa wanita yang sudah berani bermain main dengan keluarganya.
Padahal Reyhan dan Luna sudah melarangnya untuk tidak ikut mengurus hal yang seperti ini, tapi sang papa masih kekeh ingin tau seperti apa wanita itu.
Di dalam sebuah ruangan yang gelap tanpa cahaya sedikitpun, Angel tengah duduk dengan kedua tangan yang terikat. Dirinya bahkan sudah tidak punya cukup tenaga untuk sekedar berteriak. Tiga hari di kurung di tempat seperti ini membuatnya kehilangan banyak tenaga, bahkan tubuhnya pun semakin kurus. Bagaimana tidak? selama tiga hari itu dia tidak mau makan, padahal Ica maupun Aldo sudah menyuruh anak buah mereka untuk memberikan Angel makan dan minum. Namun sayang wanita itu berkali kali menolaknya. Alasannya adalah ia tidak akan sudi makan makanan yang mereka berikan. Dia memilih lebih baik mati kelaparan dari pada harus memakan makanan sampah seperti itu.
Braaaaakkkk..
Pintu ruangan itu di tendang kasar oleh Luna. Biarpun usianya tidak muda lagi, namun tenaganya masih sama saat dirinya masih muda dulu.
" Siapa kalian." Angel dengan lemas bersuara saat melihat beberapa orang masuk kedalam ruangan itu.
" Jadi kau orangnya." Luna berjalan maju kedepan menghampiri Angel dengan seringainya.
" M-maksudmu apa? aku tidak mengerti." ucap Angel dengan tubuh gemetar dan wajah yang terlihat semakin pucat karena Luna mengeluarkan pisau dan memainkannya.
" Masih tanya maksudku?" ucap Luna sembari tertawa yang terdengar mengerikan.
Luna menatap Angel dengan tatapan tajam, mencengkeram pelan rahang Angel hingga membuat Angel merintih kesakitan.
" Karena ulahmu putriku harus mengalami kecelakaan itu, Karena ulahmu kami harus kehilangan putriku dengan waktu yang lama dan Karena ulahmu juga aku harus kembali dengan diriku yang dulu." Luna melepas cengkramannya dan...
sreeetttt....
Aaarrggghhh.
Darah segar mengalir begitu saja di pipi kiri Angel. Saat ini tidak ada yang tau jika mata biru luna berubah menjadi abu abu dan itu artinya tubuh Luna sudah di kuasai oleh Lana.
" B-bukan aku pelakunya, aku tidak mungkin tega melakukan hal itu." ucap Angel yang sudah menangis.
Tubuhnya bergetar hebat dan dia benar benar ketakutan sekarang.
" Oh yaa? sayangnya aku lebih percaya bukti Video itu dari pada ucapanmu saat ini." ucap Luna. Ia memutari tempat duduk Angel dan berhenti tepat disampingnya.
aaarrrgghh...
Luna menjambak keras rambut Angel, hingga membuat wanita itu mendongakkkan kepalanya dan berteriak kesakitan.
" L-lepas! T-tolong lepasin! Ini sangat sakit." ucap Angel yang sudah merasa kesakitan di sekujur tubuhnya.
" Sakit yaa? uuhh kasian!!" Luna melepas jambakannya dan berganti mengelus rambut wanita itu.
Reyhan yang sudah hapal betul gelagat Luna pun mengira jika yang ada dalam tubuh Luna saat ini adalah Lana altar ego Luna.
Jika sudah begini, ia tidak bisa mencegah Luna karena akibatnya dirinya sendiri yang akan terluka.
" Kau tau? Aku sudah sangat lama tidak bermain main dengan tubuh manusia, jadi tolong izinkan aku untuk bermain main dengan tubuhmu." ucap Luna dengan nada yang seperti memohon.
" Tidak!! tolong jangan siksa aku, aku minta maaf atas semua perbuatanku. Aku mengaku salah. Tolong maafkan aku." ucap Angel yang semakin terisak.
" Maaf? Apa kau tidak tau jika pemimpin Black rose tidak menerima kata maaf?" Luna mengarahkan pisau kecil itu di pipi Angel dan menariknya perlahan. Angel memejamkan matanya merasakan benda tajam yang dipermainkan oleh Luna di kulit pipinya itu.
Hingga akhrinya....
Sreeeettttt...
Aaarrggghhh...
Satu sayatan lagi dipipi sebelah kanan. Luna benar benar ingin bermain main dengan tubuh Angel.
Baginya ini belum seberapa, Angel harus mendapatkan lebih dari apa yang dialami putrinya.
" Aku mohon hentikan, ini terlalu menyiksaku. hiks." Angel menangis tersedu saat Luna bermain main dengan tubuhnya.
" Hentikan? Bahkan aku ingin terus melakukannya sampai kau memohon padaku untuk mengakhiri hidupmu." ucap Luna tertawa keras.
Saat ini luna tidak jauh berbeda dengan seorang psikopat yang sedang bermain main dengan mainannya.
" Aku mohon biarkan aku pergi, kedua orang tuaku pasti sudah mencari dan menungguku. Mereka pasti mengkhawatirkanku."
" Oh yaa?" Luna berbalik menatap orang orang yang ada di belakangnya.
Mereka yang mendapat tatapan seperti itu mengangguk paham.
Tak lama kemudian dua orang dengan tangan terikan dan mulut yang sudah di lakban masuk kedalam ruangan itu.
" M-mama, p-papa." Angel semakin histeris saat melihat kedua orang tuanya juga ikut terseret dalam hal ini.
" t-tolong lepasin mama papaku, mereka tidak bersalah." Angel memberontak di tempat duduknya, Ingin sekali dia berlari dan memeluk kedua orang tuanya. Sungguh dirinya sangat menyesal sudah melakukan kejahatan seperti ini.
" Buka." ucap Luna agar salah satu dari mereka membuka lakban kedua orang tua Angel.
Sreeekk..
" Katakan sesuatu pada putrimu." ucap Luna sambil memainkn pisau yang ada di tangannya.
" Nyonya saya mohon, maafkan putriku. Mungkin dia khilaf melakukan hal itu pada putrimu." ucap Rani yang sudah terisak.
" Khilaf?"
plookk..plookk..plookk.
*Srreeeeettt...sreettt..
Arrrgghhhh*...
Dua sayatan langsung mengenai pipi Angel, hingga membuat wanita itu berteriak kesakitan.
" Nyonya hentikan.." teriak Rani dan Robby bersamaan.
" upsss.. Maaf aku juga Khilaf." ucap Luna dengan mimik muka bersalah.
" Kau benar benar kejam, kau bukan manusia tapi kau sudah seperti ibliss." ucap Rani dengan berteriak.
Ia sungguh tidak tega melihat wajah putrinya yang penuh luka sayatan dan juga darah yang mengalir deras dari pipinya.
" Kau benar. Aku bukan manusia, tapi aku adalah Iblis yang akan membawamu menemui ajalmu." ucap Luna tertawa keras yang terdengar mengerikan.
" Nyonya, saya mohon lepaskan kami. Saya berjanji kejadian ini tidak akan terulang lagi pada putri anda. Saya akan lebih mendidik putri saya." ucap Robby dengan wajah yang penuh kesedihan dan penyesalan.
" Aku sudah tau semua tentang kehidupan keluargamu. Kau sudah berusaha menjadi papa yang tegas untuk istri dan anakmu. Tapi istrimulah yang selalu mendukung kejahatan putrimu. Jadi aku tidak akan melepaskan mereka berdua."
" Tapi nyonya."
" Bawa laki laki ini keluar." ucap Luna lalu Alan membawa Robby keluar dari ruangan itu meninggalkan istri dan anaknya.
" PAPA.." teriak Angel dan Rani bersamaan.
" Kalian sudah salah mencari lawan. Aku tidak akan membuang buang waktuku lebih lama lagi." Luna mengeluarkan pistol dan mengarahkannya tepat di pelipis Angel.
Reyhan dan semua keluarga yang ada disitu membulatkan matanya terkejut. Mereka sungguh tidak menyangka jika Luna akan benar benar membunuh wanita itu.
" D-dek." ucap Arland.
Luna menoleh dan saat itu juga ia tau jika saat ini yang ada di tubuh Luna adalah Lana.
" S-sayang! A-apa kamu yakin akan membunuhnya." ucap Reyhan dengan hati hati.
" Kenapa aku harus ragu? Apa kau ingin menggantikan wanita ini?" ucap Luna dengan santainya.
Reyhan menggeleng kuat, ia benar benar tidak bisa mencegah keinginan Lana.
" Mama." panggil Zay membuat Luna menoleh dan menurunkan pistolnya.
Zay berjalan mendekati Luna, dengan cepat ia memeluk tubuh mamanya.
" Maafkan dia ma, masih banyak cara untuk memberi mereka hukuman." bisik Zay.
" Dia sudah mencelakai saudara kembarmu, apa kau bisa memaafkannya begitu saja?" Luna berbicara dengan nada datar. Zay mengangguk sebagai jawabannya.
" Kita bisa menghukumbya dengan cara lain, tapi tidak dengan membunuh mereka. Zay tidak ingin mama mengotori tangan mama sendiri." ucap Zay.
Perlahan mata abu abu itu berubah menjadi biru, itu artinya Luna sudah mengambil alih tubuhnya sendiri.
" Baiklah. kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, mama tidak akan membunuh mereka." ucap Luna tersenyum manis pada putranya.
" Makasih ma." Zay memeluk tubuh Luna, ia merasa lega karena mamanya tidak jadi membunuh wanita itu.
" Bawa dia keluar dari indonesia dan jangan biarkan dia bisa kembali ke negara ini." ucap Luna lalu keluar dari ruangan itu.
" Kali ini kalian selamat karena cucuku, tapi tidak untuk lain kali." ucap Ricko lalu semuanya keluar ruangan itu kecuali Zay dan Vero.
Zay mendekat ke arah Angel dan mencengkeram kuat rahang Angel hingga membuat wanita itu merintih kesakitan.
" Kalian sudah tau kan keluargaku seperti apa? jangan pernah kalian bermain main dengan keluargaku jika kalian masih ingin hidup di dunia ini lebih lama lagi." Zay melepaskan cengkeramannya lalu keluar bersama Vero.
Hari itu Luna memberikan sedikit eksekusi pada Angel tanpa sepengetahuan Grace dan Daffin, karena ia yakin jika Grace tau ,ia tidak akan di perbolehkan untuk memberi sedikit hukuman pada wanita itu.
Dan setelah itu Luna dan semua keluarganya kembali ke rumah.
Sedangkan untuk Angel dan Mamanya, mereka akan benar benar di bawa keluar Indonesia tanpa uang sepeserpun.
Hukuman ini sudah menjadi pilihan Luna sejak dulu. Mati atau pergi dari negara ini.
.
.
.
.
.
.
Saran dong!! Kalau Grace udah nikah, ditamatin atau diterusin sampai dia punya anak?
Kalau diterusin, aku bakal terusin disini aja tapi aku kasih judul bab S2.
Tapi kalau mau di tamatin aja, yaudah sampai Grace nikah aku bakal tamatin. 😁