My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
94.



Sudah seminggu Zay dan Kiran menjadi pasangan suami istri, keduanya kini tinggal di rumah baru yang di hadiahi Ricko sebagai kado pernikahan mereka.


Rumah itu terletak tidak jauh dari rumah Reyhan, hanya berjarak kurang lebih 500m dari rumah Reyhan.


" Kamu yakin akan kembali ke jerman?" tanya Zay untuk kesekian kalinya.


Keduanya kini sedang berada diatas ranjang dengan tubuh yang sama sama tidak berbalut pakaian apapun dan hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.


Nampaknya mereka baru saja menyeleseikan olahraga malamnya.


" Kita sudah membicarakan ini sebelumnya, dan ini adalah pertanyaan kesekian yang kamu tanyakan sama aku." jawab Kiran.


Posisinya kini tidur dengan berbantal lengan Zay dn tangannya masih bermain main di dada putih Zay.


" Aku hanya tidak ingin berjauhan dengan istriku." ucapnya sambil mengecup kening Kiran.


" Kamu bisa mengunjungiku kapanpun kamu mau. Maaf bukan maksud aku ingin durhaka dengan suamiku, Tapi kamu tau sendiri keinginanku dari dulu adalah kuliah disana." ucap Kiran mendongakkan wajahnya menatap kedua netra mata Zay.


" Gapapa, lagin aku sudah berjanji dengan mama papa kamu kalau aku mengizinkan kamu untuk kembali kesana." jawab Zay dengan senyum kecilnya.


" kamu beneran ikhlas kan? kalau hati kamu gak ikhlas, aku bisa nerusin kuliah aku disini. Aku gak ingin kamu terbebani dan menjadikan aku istri yang durhaka." ucap Kiran dengan tatapan sendunya.


" Hanya satu tahun, aku akan menunggumu. Setelah itu aku tidak akan mengizinkan kamu pergi lagi dari aku." ucap Zay membuat kedua sudut bibir Kiran tertarik.


" Terimakasih." Kiran memeluk erat tubuh Zay dan menyusupkan wajahnya pada dada bidang Zay.


" Sekarang kita tidur, atau kita lanjutin lagi." ucap Zay dibalas Kiran dengan plototannya.


" Aku capek ya, masih ada hari esok juga." Kiran mencebikkan bibirnya lalu sedikit menjuh dari tubuh Zay.


Suaminya ini seperti tidak ada lelahnya, padahal baru beberapa menit yang lalu mereka menyudahi pergumulan mereka.


Untuk urusan buah hati, mereka sepakat untuk menundanya sampai Kiran menyeleseikan kuliahnya dan kembali menetap di indonesia.


" Yaudah kita tidur aja, besok aku ada kuliah pagi setelah itu aku langsung ke kantor." ucap Zay diangguki Kiran.


Kini keduanya memilih untuk tidur dengan memeluk satu sama lain.


***


Disisi lain Daffin baru saja pulang dari kantor, hari harinya ia sibukkan dengan mengajar, ke kantor dan juga mencari Grace.


Bahkan ia tiap hari menunggu di pinggir jalan yang tidak jauh dari lampu merah yang saat itu ia melihat wanita yang mirip dengan Grace.


Ia berharap wanita itu kembali melewati jalanan itu dan memastikan apa benar wanita itu adalah Grace atau bukan.


" Sudah larut malam dan kamu baru saja pulang?" tanya Elsa yang memang sengaja menunggu kedatangan Daffin.


Putranya ini memang selalu pulang larut malam, bahkan sering sekali ia menginap di apartemen atau di kantor karena malas untuk pulang kerumah.


" Iya ma." Daffin mendudukkan tubuhnya di sofa depan mamanya.


Terlihat jelas raut wajahnya yang lelah dan terlihat sangat stress.


" Kamu masih mencarinya?"


Daffin mengangguk sebagai jawaban.


" Apa kamu yakin kalau Grace benar benar masih hidup? ini sudah hampir 4 bulan dan Grace masih belum ditemukan. Tidak kah kamu berpiir jika Grace sudah--"


" Harus berapa kali Daffin mesti bilang jika Grace masih hidup? apa mama sudah tidak percaya dengan Daffin?" potong Daffin dan menatap mamanya dengan tatapan datar.


" Bukan begitu maksud mama, mama hanya tidak ingin kamu larut dalam kesedihanmu terus sayang." Elsa berdiri dan duduk disebelah putranya, ia mengusap punggung Daffin dan menatap dalam wajah putranya.


Dirinya sungguh sangat iba melihat perubahan putranya yang terlihat jelas ia sedang menanggung banyak beban.


Penampilan yang sudah tidak lagi terurus dan kembali pada sikap dinginnya.


" Kalau begitu mama support Daffin terus, karena hanya itu yang Daffin butuhin. Lagian Daffin udah janji pada diri Daffin sendiri untuk terus mencari Grace sampai dia benar benar ketemu." ucap Daffin dengan tatapan sendunya.


Memang apalagi yang di butuhkn Daffin selain support dari orang orang terdekatnya.


Selagi Raganya masih kuat untuk mencari keberadaan Grace ,sampai kapanpun ia akan tetap mencarinya.


Tidak peduli seberapa lelah tubuh dan jiwanya, yang ia ingin Grace segara di temukan.


" Mama akan selalu support kamu, karena mama yakin kalau feeling kamu tidak pernah salah." ucap Elsa.


Daffin tersenyum kecil lalu memeluk tubuh mamanya.


" Kalau begitu Daffin masuk ke kamar dulu, mama juga segera istirahat karena ini sudah sangat larut." ucap Daffin diangguki mamanya.


" Kamu juga sayang, jaga kesehatan kamu. Jangan terlalu pulang larut seperti ini lagi. Mama tuh selalu khawatir sama kamu." ucap Elsa.


Elsa menatap punggung Daffin yang perlahan menghilang, ia kembali duduk di sofa dan tak terasa bulir air matanya menetes begitu saja.


" Mama gak nyangka kalau kamu benar benar mencintai Grace begitu dalam. Cinta kamu bener bener tulus nak, semoga Allah segera mengabulkan doamu agar Grace secepatnya ketemu dan kamu bisa kembali seperti dulu lagi." ucap Elsa, ia menghapus air matanya lalu kembali ke kamarnya.


***


Pagi hari suara burung berkicaun terdengar bersautan, sudah tidak aneh bagi Grace yang selama tinggal di rumah ini selalu terbangun karena kicaun burung yang terdengar begitu nyaring.


Grace yang pagi ini sudah siap dengan pakaian kerjanya keluar kamar menemui bu Imah dan pak Rohim yang sudah menunggunya di meja makan.


" Selamat pagi." sapa Sesil dengan senyum mengembang.


Disini ia masih menggunakan nama Sesil karena sepasang suami istri itu sudah terbiasa memanggil Grace dengan nama Sesil. Dan Grace tidak mempermasalahkan hal itu.


" Pagi juga sayang, kamu sudah siap bekerja?" ucap Bu Imah diangguki Sesil.


" Iya dong bu, ini adalah hari pertama Sesil bekerja. Doain semoga Sesil betah ya bu, pak." ucap Sesil menatap keduanya bergantian.


" Pasti sayang, sekarang kamu sarapan dulu." ucap pak Rohim lalu ketiganya memulai sarapan pagi.


Penampilan Grace kini berubah 180⁰. Grace sudah memotong rambut panjangnya menjadi sebahu dengan poni lurus se dahi, dan ia juga memakai kaca mata bulat yang sudah bertengger manis di hidungnya.


Jika orang yang benar benar tidak mengenal bentul setiap inci wajah Grace, mereka tidak akan tau jika orang itu adalah Grace. Namun sebaliknya, jika orang orang yang sudah mengenal betul bagaimana wajah Grace, mereka pasti akan mengenalinya meskipun Grace sedang menyamar.


Grace diterima kerja di sebuah salah satu kafe yang lumayan jauh dari rumah yang ia tempati saat ini.


Perjalanan yang ia tempuh dari rumah menuju jalan raya adalah 15 menit dengan jalan kaki, sedangkan dari jalan raya menuju kafe membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 15 menit memakai angkutan umum.


Kafe yang ditempati Grace bekerja adalah Kafe baru yang akan buka mulai hari ini.


Grace yang dulunya tidak pernah merasakan susah, kali ini dia benar benar harus menjalani bagaimana hidup dengan serba kekurangan. Bahkan ia rela kerja keras demi kedua orang tua yang sudah menolong dan merawatnya.


Ia juga belajar bahwa hidup bahagia tidak harus di ukur dengan nominal, tapi bagaimana kita mensyukuri setiap Nikmat yang telah Allah berikan meski dengan segala kekurangan.


**


Dengan wajah datar dan dinginnya, Daffin memasuki kantor bersama dengan Ken yang berjalan di sampingnya.


Baru saja ia dan ken akan memasuki lift namun seseorang memanggil namanya.


" Daffin." teriak Angel sambil melambaikan tangannya ke arah Daffin.


Daffin dan Ken berhenti menunggu Angel yang sedang berjalan ke arahnya. Ia sama sekali tidak mengubah raut wajahnya, tetap dingin dan bahkan jauh lebih dingin dari sebelumnya.


" Ada apa?" tanya Daffin.


" Aku hanya ingin mengajakmu makan siang nanti." ucap Angek dengan senyum manisnya.


" Aku sibuk." Daffin berbalik arah hendak masuk kedalam lift namun tangannya di cekal oleh Angel.


" Kenapa kamu selalu menolakku sih? aku hanya ingin makan siang denganmu. Ayolah Daf, sekali ini aja." rengek Angel hingga membuat beberapa karyawan menatapnya sinis.


Pasalnya Angel adalah salah satu wanita yang tidak tau malu karena kasus kebohongannya dulu.


" Aku bilang aku sibuk." Daffin menepis tangan Angel, namun Angel justru merangkul lengan Daffin dan bergelayut manja.


Banyak Karyawan yang menatapnya dan saling berbisik.


" Kamu apa apaan sih? lepas gak?" bentak Daffin namun Angel tidak menggubrisnya. Ia justru semakin mengeratkan rangkulannya.


" Aku gak mau kepasin sebelum kamu bilang iya kalau kamu mau makan siang sama aku." ucap Angel membuat Daffin mendengus kesal.


" Yaudah iya, nanti kita makan siang. Sekarang lepasin." ucap Daffin lalu Angel melepas rangkulannya.


" Nah gitu dong, kalau gitu aku balik dulu. Nanti jam istirahat kantor aku datang buat jemput kamu. Aku akan ngajak kamu ke Kafe yang baru buka hari ini." ucap Angel lalu pergi dengan senyum yang semakin mengembang.


Daffin mendengus kesal kemudian ia dan ken masuk kedalam lift menuju ruangannya.


.


.


.


.


.


Gimana perasaan Grace saat nanti lihat Daffin lagi makan siang sama Angel?" 😂