
Hari ini adalah hari keberangkatan Kiran untuk kembali ke jerman dan dimana hari ini adalah hari untuk Olivia melakukan kemoterapinya.
Saat ini Zay tengah duduk di balkon kamarnya dengan menatap langit yang sedikit mendung.
Ia bingung bagaimana membagi waktu antara mengantar kiran ke bandara dan menemani Olivia menjalani kemoterapinya karena ia terlanjur janji kepada dua wanita itu.
Dari semalampun Kiran tidak mengangkat panggilannya, jangankan mengangkat telponnya membaca pesannya pun tidak.
Zay bangun dari duduknya dan mengambil kunci mobil.
Ia sudah bertekad jika dia akan mengantar Olive kerumah sakit lebih dulu setelah itu mengantar kiran ke bandara..
Mobil Zay sudah terparkir di depan rumah Olive.
Wanita itu tenyata sudah bersiap untuk pergi kerumah sakit.
" Zay." sapa Olive tersenyum manis.
" Udah siap?" tanya Zay diangguki Olive.
" Kami udah siap, ayo berangkat." ucap Olive lalu zay membukakan pintu untuk Olive dan membantu Ranti membawakan barang Olivia.
" Papa kamu gak ikut?" tanya Zay karena tidak melihat papa Oliv sama sekali.
" Papa masih di luar kota, nanti beliau akan nyusul." jawab Oliv, zay manggut manggut.
" Habis nganterin kamu kerumah sakit, aku tinggal sebentar ya." ucap Zay yang sudah melajukan mobilnya.
" Tapi kamu kembali kan?" jawab Oliv diangguki Zay.
" Aku usahakan." jawab Zay, Olivia tersenyum getir ia lupa jika hari ini adalah hari keberangkatan Kiran ke jerman, sudah pasti Zay akan berlama lama dengan Kiran.
Maafkan aku kiran, aku tidak ingin Zay menyakiti kamu.
Tapi izinkan kali ini Zay menemaniku untuk menjlani kemoterapi yang menyakitkan ini. gumam Oliv dalam hati.
Mobil yang di kendarai Zay sudah sampai di rumah sakit, ia menuntun Olive menuju ruang kemoterapi.
Disana sudah ada dokter yang biasa menangani olive menunggu kedatangannya.
" Aku pergi dulu, nanti aku usahakan kembali kesini." ucap Zay.
" Boleh gak sih aku nahan kamu disini sampai kemoterapiku selesei, setelah itu kamu boleh pergi." ucap Olive dengan tatapan memohon.
" Tapi aku hanya sebentar." ucap Zay.
Ia tidak mungkin membiarkan Kiran pergi begitu saja.
" Aku mohon, kali ini aku butuh kamu Zay." ucap Olive meneteskan air matanya.
" Masuklah, aku akan menunggu kamu disini." ucap Zay sambil menghapus air mata Olive
Oliv tersenyum ia mengangguk lalu masuk kedalam ruang kemoterapi.
***
Kini kiran berada di caffe yang tak jauh dari bandara dengan di temani Grace dan Vero.
Dalam hati Kiran ia berharap jika kekasihnya itu datang mengantarkannya untuk terakhir kalinya.
Sedari tadi ia menahan air matanya agar tidak lolos begitu saja.
Grace paham betul apa yang di rasakan oleh kiran.
Dalam hatinya ia mengutuk Zay karena telah menyakiti kiran.
"Bentar gue angkat telpon dulu." ucap Grace berpura pura.
Ia ingin menelpon Zay dan menyuruhnya kesini.
" Temui gue dan kiran di Cafe deket bandara, 5 menit Lo gak sampe kesini, jangan harap lo bisa ketemu kiran lagi." ancam Grace saat sambungan telponnya di angkat oleh Zay.
Setelah mengatakan itu Grace langsung kembali menghampiri Kiran dan Vero.
" Siapa?" tanya Vero.
" Grizzele, dia mau datang kerumah nanti sore." jawab Grace berbohong.
Disisi lain Zay kalang kabut, 5 menit waktu yang sangat singkat untuk sampai di bandara.
" Saya harus pergi, tolong jaga Oliv." pamit Zay pada Ranti.
" Kamu mau kemana? Olive membutuhkanmu." jawab Ranti menahan tangan Zay.
" Saya harus segera pergi, maafkan saya, nanti saya akan kembali." ucap Zay meelepaskan tangan Ranti lalu berlari ke parkiran.
Zay mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
beruntung jarak Rumah sakit dan Cafe tidak terlalu jaih hingga kurang dari sepuluh menit Zay sudah sampai di caffe itu.
Zay mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Grace dan kiran.
Ia berlari setelah melihat Grace dan Kiran serta Vero.
" Maafkan aku." ucap Zay memeluk Kiran dari belakang.
Grace dan Vero langsung meninggalkan Zay dan Kiran.
Membiarkan dua orang itu menyeleseikan masalahnya.
" Bukankah aku sudah bilang kalau kamu sibuk gak usah nganterin aku? aku gapapa sungguh." ucap Kiran yang masih bisa tersenyum manis.
Zay semakin merasa bersalah melihat senyum kiran yang seperti itu.
Ia justru berharap jika kiran memakinya, memukulnya karena itu lebih baik dari pada kiran harus pura pura tersenyum dihadapannya.
Karena ia tahu dalam hatinya kiran sedang terluka olehnya.
" Sekali lagi maafkan aku.
Maaf aku sudah bohong sama kamu, maaf karena dari awal aku tidak jujur sama kamu tentang olivia kalau dia sudah kembali." ucap Zay menatap kiran dengan wajah bersalahnya.
Kiran tersenyum, ia mengangguk paham.
" Aku mengerti Zay, harusnya aku tidak menjalin hubungan dengan kamu disaat kamu belum usai dengan masa lalu kamu.
Aku yang harusnya tidak kembali dan berjumpa dengan kamu, Aku minta maaf karena membuat kamu serba salah dalam posisimu." ucap Kiran yang terus berusaha tegar.
" Jangan berkata seperti itu, kamu yang membuat aku keluar dari keterpurukanku.
Kamu yang selalu menguatkanku disaat aku lemah.
Sekuat hati Kiran menahan air matanya agar tidak jatuh, ia tidak ingin Zay melihat kelemahannya.
Siapapun yang berada di posisi kiran sudah pasti akan menangis, menahan Zay untuk tetap bersamanya.
" Aku tidak pernah menyalahkan kamu jadi gak usah minta maaf terus, takdir yang menyatukan dengan keadaan seperti ini, tinggal bagaimana kita menyikapinya."
" Kenapa kamu baik banget? kenapa kamu gak marah sama aku? seharusnya kamu marah sama aku karena aku membuat kamu kecewa, membuat kamu sakit hati." ucap Zay menatap dalam mata kiran.
Ia tau jika Kiran menyimpan begitu banyak Luka, tapi ia tidak mengerti kenapa kiran selalu berusaha tegar seoalah tidak terjadi apa apa.
" Aku masih berusaha memberikan yang terbaik semampuku, menjadi wanita penyabar sekuat yang aku bisa, berpikir positif tentang semua yang membuat aku nggak tenang.
Semakin dewasa semakin aku berpikir jika setiap orang punya cerita masing masing.
Pasti ada alasan disetiap perbuatannya.
Selama aku masih kuat menjalani hubungan ini, aku akan terus memberikan terbaik untuk kamu.
Namun jika suatu saat aku menyerah, izinkan aku pergi dengan sejuta kenangan yang pernah kita lalui." jawab Kiran dengan mata sedikit berkaca kaca namun ia tetap tersenyum manis.
Zay menarik kembali tubuh kiran kedalam pelukannya, bagaimana ia bisa menyakiti wanita sebaik kiran?
Rasa bersalah menyeruak di dalam dirinya.
" Jangan pergi dari aku, aku sayang sama kamu." ucap Zay memeluk kiran dengan Erat.
" Tapi pesawat aku sebentar lagi take off." jawab Kiran tertawa kecil, bahkan ia masih bisa bercanda ditengah usahanya menahan air mata.
" Bukan itu maksud aku, aku mohon jangan pergi ninggalin aku, aku sayang kamu, aku cinta kamu dan aku butuh kamu." ucap Zay.
Kiran tidak menjawab, ia mengusap rambut belakang Zay dengan sayang.
Ponsel Zay berdering, ia melepaskan pelukan kiran lalu mengambil ponselnya di saku.
Zay menatap Kiran saat melihat nama orang yang menghubunginya.
" Angkat aja." ucap Kiran sambil tersenyum.
Ia tau jika yang menghubungi Zay adalah tante Ranti.
Zay mencium kening Kiran lalu mengangkat panggilan itu tanpa menjauh.
" Ada apa tan?" tanya Zay saat sambungna teleponya terhubung.
" Bisa kamu kembali ke rumah sakit? Oliv mencarimu, ia menangis karena kamu pergi." ucap Ranti.
" Saya masih ada urusan tan." jawab Zay sambil melirik kiran.
" Saya mohon nak, kembali kerumah sakit sekarang." ucap Ranti sambil menangis.
" Akan saya usahakan tan." jawab Zay.
" Tante tunggu, cepatlah kembali Olive membutuhknmu." ucap Ranti lalu mematikan sambungan teleponnya.
" Ada apa?" tanya Kiran.
" Tadi aku mengantar Oliv ke rumah sakit untuk menjalani kemoterapinya. dia memintaku untuk menemaninya, dan sekarang kata tante Ranti dia menangis mencariku." jawab Zay.
" Pergilah.. temani dia." ucap Kiran tersenyum.
" Tapi kamu mau berangkat, aku harus mengantarkan kamu sampai pesawat kamu lepas landas." jawab Zay.
Ia tidak mungkin meemui Oliv disaat Kiran belum berangkat.
" Aku gapapa Zay, jangan khawatirkan aku." jawab Kiran masih tetap dengan senyumnya.
Namun siapa tau dibalik senyumnya, menyimpan luka.
Ia ingin menahan Zay namun ia tidak boleh egois.
Bagaimanapun Oliv adalah masa lalu Zay yang masih belum terseleseikan.
" Tapi.---"
" Pergilah, Dia membutuhkanmu sekarang." ucap Kiran.
Ia berdiri diikuti Zay yang juga ikut berdiri.
" Jaga diri kamu baik baik, aku sayang sama kamu.
Aku menantikan kamu kembali ke indonesia." ucap Zay memeluk erat tubuh kiran.
" iya.. jaga diri kamu juga, jaga kesehatan kamu.
Dan jaga dia juga." ucap Kiran lalu melepas pelukannya.
" Pergilah." ucap Kiran.
Zay menatap dalam manik mata Kiran, ia mencium bibir kiran lama setelah itu menyatukan dahi mereka.
" Jaga diri baik baik, aku mencintaimu sangat."
" Aku juga mencintaimu." jawab Kiran.
Zay tersenyum, ia mencium kening kiran setelah itu pergi meninggalkan kiran sendiri.
Kiran menatap punggung Zay yang semakin menjauh.
Tak terasa air matanya menetes, hatinya sakit.
Ia ingin berteriak menahan Zay agar tetap disini namun bibirnya keluh untuk berucap.
Kiran menunduk dalam, air matanya terus mengalir.
Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangisi segala beban yang ada.
.
.
.
.
Ada yang nyesek?
😢