
Terkadang setiap masalah yang dihadapi adalah sebuah proses pendewasaan diri.
Menjadi dewasa bukan dilihat dari seberapa banyak usia kita namun bisa dilihat bagaimana kita menyikapi sebuah masalah.
Grace duduk di sofa balkon dengan di temani segelas susu choklat hangat diatas mejanya.
Manik matanya menatap tiap tetesan air hujan yang jatuh mengenai atap kamarnya.
Malam ini hujan lumayan deras, hawa dingin menyeruak mengenai kulit putihnya.
Beruntung ia sudah memakai jaket tebal dan celana panjang, jadi rasa dingin tidak terlalu ia rasakan.
Haaaaaahhhh....
Satu hembusan napas panjang seolah melampiaskan emosi yang saat ini ia rasakan.
Terkadang ia tidak bisa melakukan apa apa kecuali berperang dengan pikirannya sendiri.
Menginginkan sesuatu dengan berekspetasi yang tinggi hingga pada akhirnya realita yang ia dapat tidak sesuai apa yang ia ekspetasikan dan membuat dirinya sendiri di terluka tanpa tau bagaimana cara menyembuhkannya.
Hujan semakin deras, hawa dingin semakin menyeruak masuk kedalam tubuh Grace.
Ia bangun dari duduknya lalu masuk kedalam kamar.
Grace merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia mengambil ponselnya dan melihat beberapa foto Daffin yang ia ambil secara diam diam saat Daffin tengah mengajar.
" Kenapa aku kangen sama kamu?" Guman Grace sambil mengusap foto Daffin yang ada di ponselnya.
Hujan di luar membuatnya semakin merindukan pemuda itu.
Ia berharap jika pemuda itu ada disini dan memeluknya, memberikan kehangatan di tengah hawa dingin yang ia rasakan.
Semakin kuat grace berusaha membenci Daffin, semakin dalam rasa yang di miliki Grace untuknya.
Salah!! Memang rasa yang di milikinya adalah salah, kenapa ia harus jatuh cinta pada orang yang akan menikah? Namun rasa cinta tidak bisa di salahkan, ia muncul begitu saja tanpa grace minta.
Jika Grace bisa mengulang kembali pertemuannya dengan Daffin, ia tidak akan mengijinkan hatinya untuk memiliki rasa pada pemuda itu.
Namun semua sudah terlambat, rasa cinta Grace pada Daffin semakin dalam.
Padahal ia tahu akan berakhir seperti apa kisah cintanya.
Grace meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, ia menarik selimut tebal itu lalu tak lama ia tertidur.
**
Udara pagi hari begitu segar setelah turunnya hujan semalam.
Grace berdiri di balkon kamar dan menghirup dalam udara yang menyejukkan hati.
" Semoga hari ini akan lebih baik dari hari kemarin." gumam Grace tersenyum sambil menatap langit yang cerah.
" Udah bangun?" sapa Zay yang tiba tiba masuk kedalam kamar Grace.
" Hm."
" Mau kemana? tumben dah rapi aja?" tanya Grace saat melihat penampilan Zay yang sudah rapi.
" Kerumah Olivia." jawab Zay bersandar di pagar balkon.
" Ngapain?" raut wajah grace berubah datar.
Entahlah, ia paling tidak suka Zay kembali dengan wanita itu.
Disisi lain ia juga tidak tega melihat Kiran terluka jika tau Zay menemui wanita itu.
" Gue mau nganterin dia ke dokter, gue udah janji sama dia kemarin." jawab Zay.
" Lo gak ada mikirin perasaan Kiran ya? Kalau lo bikin Kiran nangis karena Lo, gue orang pertama yang akan ngehajar lo." ucap Grace dengan nada serius.
" Gue hanya nganterin Oliv ke dokter, bukan balikan sama Oliv. Lagian kalau Kiran tau pasti dia akan mengerti." sahut Zay.
Grace geleng geleng kepala, ia tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Zay.
" Terserah lo." ucap Grace meninggalkan Zay yang diam mematung.
**
Grace keluar kamar mandi dengan pakaian casualnya, ia sudah tidak melihat Zay berada di kamarnya.
Mungkin sudah pergi, begitu pikir grace.
Hari ini tidak ada jadwal kuliah, grace berencana untuk pergi ke supermarket untuk membeli barang barang keperluannya.
" Mau kemana?" sapa Vero yang sedang santai di ruang tengah sendiri.
" Mau ke supermarket, mau ikut?" jawab Grace dibalas gelengan Vero.
" Lagi mager, titip kiko aja ya." ucap Vero membuat kening Grace berkerut.
" Lu ngadi ngadi ya? Lu dah gede masih makan begituan aja."
" Ya emang napa? kiko enak tau."
" Jangan makan begituan, nanti batuk." ucap Grace seperti menasehati anak kecil.
" Lu pikir gue masih bocah apa di kasih tau begituan langsung nurut? bilang aja lu gak mau beliin." sahut Vero mencebik.
" Astaga.. iya iya ntar gue beliin, kalau perlu se pabriknya gue beli buat lu." jawab Grace malas.
" Yaudah sono, hati hati dijalan." sahut Vero dengan tangan seolah mengusir.
Grace memutar bola matanya malas, ia mengulurkan tangannya pada Vero.
" Napa? Salim?" tanya Vero sambil mengernyitkan dahinya, namun tangannya menerima uluran tangan Grace.
" Uangnya bodoh " jawab Grace sambil menepis tangan Vero.
" Uang apa?"
" Katanya mau nitip Kiko? yaudah mana uangnya." ucap Grace sambil menggoyangkan telapak tangannya.
" Lah? katanya lu yang beliin? kok malah minta uang sama gue?"
" Ya emang gue beliin tapi pakek duit lu lah, enak aja."
" Astaga Graciella.. Lu bener bener kebangetan ya.
Tuh harga Kiko satu pak gak sampe sepuluh ribu loh, masa iya lu minta duit sama gue." sahut Vero geleng geleng kepala.
" Bodoh amat.. mana uangnya."
" Gue gak ada duit kecil, dahlah pakek duit lu dulu." ucap Vero sambil membuka dompetnya.
Grace merampas dompet Vero dan mengambil uang 100rb 2 lembar lalu ia berlari meninggalkan Vero yang meneriakinya.
" Kampret bener tuh anak, berkurang kan jatah bulanan gue. awas aja lu kalau pulang gak beliin gue apapun " kesal Vero karena grace mengambil jatah bulanannya.
**
Didalam mobil Grace terawa keras, akhirnya ia bisa sedikit ngerjain Vero.
" Lumayan kan ya, bisa beli lipstik." gumamnya lalu melesatkan mobilnya menuju supermarket.
Grace memilih barang barang keperluannya, saat ia sedang fokus pada barang pilihannya.
Seseorang menepuk bahunya dari belakang.
" Tante.." sapa Grace sambil menyalimi tangan Elsa.
" Kamu beli apa?" tanya Elsa melihat isi dalam troli milik Grace.
" Biasa tan, belanja bulanan " jawab grace, Elsa manggut-manggut.
" Tante belanja bulanan juga?" tanya Grace saat melihat troli milik elsa yang hampir penuh.
" Iya, sekalian nanti tante mau bikin kue."
" Waahh pasti enak kue bikinan tante."
" Kamu ada waktu gak? mampir kerumah tante yuk, bikin kue sama tante." ucap Elsa.
Tanpa berpikir dua kali Grace langsung mengiyakan tawaran Elsa karena memang dirinya tidak kemana mana setelah dari supermarket.
" Beneran kamu mau? tanya Elsa dengan mata berbinar.
" Iya tante, Grace juga mau belajar bikin kue, nanti ajarin Grace ya." ucap Grace di angguki Elsa.
" pasti sayang, nanti tante ajarin." ucap Elsa.
Setelah keduanya memilih barang belanjaan, mereka membayarnya ke kasir.
Barang belanjaan Grace dibayar semua oleh Elsa.
Awalnya Grace menolak namun Elsa tetap memaksanya.
Jadilah Grace sekarang merasa sungkan.
**
Kini Grace sudah berada dirumah Elsa, ia melihat mobil yang seperti tidak asing baginya.
" Kok gue pernah lihat nih mobil ya, tapi dimana?" gumam Grace sambil mengingat ingat dimana ia pernah melihat mobil di sampingnya ini.
" Ayo masuk sayang " sahut Elsa membuyarkan lamunan Grace.
" Ahh.. iya tante." jawab Grace lalu masuk mengikuti jalannya Elsa.
Grace membantu elsa mengeluarkan barang belanjaannya dan menatanya di lemari pendingin.
Para pembantu Elsa tugaskan untuk melakukan pekerjaan lain kecuali urusan dapur.
Banyak dari para pembantu yang bertanya siapa wanita yang bersama majikannya itu?
Karena jarang sekali ada wanita lain kesini kecuali angel dan mamanya.
Dan jika dilihat wanita itu sangat akrab dengan majikannya.
Timbul beberapa pertanyaan di pikiran mereka namun tidak mereka utarakan.
" Kamu pakai ini." Elsa memberikan Apron bermotif Panda untuk Grace lalu grace memakainya.
" Kita bikin cheese tart, kamu suka?." ucap Elsa.
" Ihh.. suka banget tan, ayo kita mulai tan, grace udah gak sabar." jawab Grave antusias.
" Baiklah kita mulai sekarang." ucap Elsa diangguki grace dengan antusias.
Elsa membuat Krim keju lebih dulu, Ia memanaskan cream cheese, keju parmesan, susu cair, dan mentega tawar di atas bain marie( di tim).
" tolong kamu aduk sebentar, kalau udah leleh kamu angkat ya, nanti kalau udah hangat kamu tambahkan gula bubuk, tepung maizena, telur ayam, garam sama ektrak Vanilla lalu kamu aduk sampai licin terus kamu masak lagi dia atas bain marie sampai adonan mengental." ucp Elsa memberi intruksi.
" Ini telurnya semua tan?" tanya Grace menunjuk beberapa butir telur yang sudah terlepas dari cangkangnya.
" iya sayang, masukkan semua." jawab Elsa tersenyum.
Ia merasa sangat senang bisa membuat kue dengan Grace, ia seperti memiliki menantu yang ia idamkan.
" Kalau sudah gini diapakan tan? maaf banyak tanya soalnya Grace gak ngerti sama sekali." ucap Grace tersenyum kikuk.
Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal, tanpa sadar tangan yang terkena adonan menempel di pipinya.
" Gapapa sayang, kan kamu baru belajar jadi wajar kalau banyak tanya, malah tante suka seperti itu karena itu artinya kamu mau belajar buat kue." jawab Elsa.
" Kalau udah mengental kamu tutup sama plastic warp terus kamu simpan dalam kulkas." sambungnya.
Sementara itu Elsa menyusun Kulit pie yang siap pakai di atas loyang lalu menyemprotkan adonan keju kedalam kulit pie itu hingga penuh.
Setalah semua siap ia memasukkan kedalam Oven dan menunggu sekitar kurang lebih 15 menit sampai cheese tart itu matang sempurna.
Setelah cheese tart itu matang, Elsa mengeluarkannya dan menatanya di atas piring.
" Waahhh cantiknya.. aku boleh mencicipinya kan tan?" ucap Grace yang tidak sabar ingin merasakan rasa cheese tart buatannya itu.
" Boleh dong sayang, tapi tunggu dulu." ucap Elsa menjeda kalimatnya.
" Kenapa tan?"
" Tante boleh minta tolong sama kamu?"
" Minta tolong apa?"
" Tolong kamu bangunkan anak tante dong, dia ada di kamarnya, di lantai 3 pintu warna Grey, Bisa kan?" ucap Elsa dengan tatapan memohon.
" Tapi tan, anak tante kan cowok." sahut Grace sedikit salah tingkah.
" Gapapa, kamu mau ya, tante mau mandi dulu udah gerah banget." jawab Elsa membero alasan.
" Emang gak di kunci tan?
" Dia nggak pernah ngunci kamarnya, nanti kamu ketuk dulu kalau gak ada jawaban kamu masuk aja." ucap Elsa.
Grace mengangguk pasrah, dia berjalan menaiki tangga menuju lantai 3.
Setelah sampai di lantai 3 grace langsung menuju pintu berwarna Grey karena beberapa pintu hanya satu yang berwarna grey.
Hampir 5 menit grace berdiri didepan pintu itu sambil mengetuknya namun tidak ada sahutan dari dalam. Dengan terpaksa Grace masuk kedalam kamar itu dan melihat laki laki yang masih tertidur dengan memunggunginya.
Grace berjalan mendekati laki laki itu yang tak lain adalah Daffin dan mencoba membangunkannya.
" Aduh, giman cara banguninnya ya. kok gue jadi gugup gini sih?" gumam Grace.
" Mas.. mass.. bangun." ucap Grace sambil menggoyangkan pelan bahu Daffin.
Dirasa ada yang menyentuhnya, Daffin membuka mata dan membalikkan tubuhnya.
Matanya semakin terbuka lebar saat wajah grace berada dikamarnya.
" PAK DAFFIN." ucap Grace dengan mata membelalak.
" Grace." sahut Daffin dengan wajah sama terkejutnya.
.
.
.
.
.
Nah loh, 😁