
Kiran yang saat itu tengah tidur lantaran terusik oleh suara Zay yang sedang berbicara dengan Daffin melalui sambungan telpon. Ia mengeratkan selimutnya lalu menggeser sedikit tubuhnya merapat pada sang suami.
" Ada apa?" tanya Kiran sambil melingkarkan tangannya di perut sang suami.
" Gak ada apa apa." jawab Zay tersenyum manis.
" Kamu kenapa bangun hm?" sambungnya sambil mengusap punggung tanpa penutup itu dengan lembut. Ia terkekeh kecil saat melihat banyaknya karya yang ia buat di tubuh istrinya.
" Kamu berisik banget." jawab Kiran yang tengah mengerucutkan bibirnya.
" Maaf, kamu bisa tidur lagi sekarang. Kalau enggak, aku bisa melakukannya lagi." ucap Zay mengedipkan mata nakalnya.
" Ck, aku capek Zay. Kamu tuh gak ada capek capeknya apa?" dengus Kiran sambil menggeser sedikit tubuhnya ke belakang. Ia yakin jika Zay melakukannya lagi, pasti seharian mereka akan berada di dalam kamar dan melupakan orang tua Kiran yang sedang menginap di rumahnya.
" Gak ada kata capek kalau itu sama kamu. Staminaku akan selalu penuh jika terus melakukannya, karena itu adalah energi bagiku." tutur Zay hingga membuat Kiran geleng geleng. Memang Zay tidak akan puas jika hanya 1,2 atau 3 ronde. Zay akan terus menerus melakukannya hingga Kiran sendiri yang mengeluh lelah.
" Terserahmu saja lah Zay." ucap Kiran yang sudah menurunkan kakinya untuk mandi.
" Oh ya, siapa tadi yang telfon." Kiran membalikkan tubuh polosnya menghadap Zay.
" Bang Daffin."
" Bang Daffin?" tanya Kiran memastikan.
" Hmm."
" Ngapain?"
" Kayaknya mereka lagi ada masalah." jawab Zay.
" Maksud kamu Grace dan bang Daffin?"
" Iya."
" Masalah apa ya? bulan madu bukannya menikmati malah berantem." ucap Kiran seperti bertanya pada diri sendiri.
" Kalau kamu tanya terus, jangan salahin aku kalau nanti kamu gagal mandi." ucap Zay dengan seringainya.
Kiran membolakan matanya, dengan gerakan cepat ia segera berlari menuju kamar mandi dan menguncinya.
" DASAR TUKANG MESUM." teriaknya.
Zay hanya tertawa gemas melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan akhir akhir ini.
Zay memungut boxer yang tergeletak di lantai, ia memakainya lalu berjalan menuju balkon kamarnya sambil menunggu Kiran selesei mandi.
" Bagaimana?" ucap Zay saat mengangkat panggilan telfonnya.
"............."
" Cari tau semuanya tanpa tersisa." ucap Zay lalu mematikan sambungan telfonnya.
Ia menyeringai kecil seperti tau apa yang tengah mengganggu sodara kembarnya itu. Ia tidak akan membiarkan siapapun mengganggu orang orang terdekatnya, biarpun Zay dan Grace tengah berada di beda negara namun untuk mengetahui apa yang tengah terjadi tidaklah sulit. Zay masih begitu overprotektif pada siapapun jika itu berhubungan dengan keluarganya. Karena baginya, siapapun yang berani mengusik kehidupan keluarganya harus siap siap berurusan dengannya sampai titik akar terdalamnya.
______
Grace langsung berjalan sedikit cepat sambil menghentakkan kakinya kedalam hotel tanpa menunggu Daffin yang meneriaki namanya. Tergesa, Daffin pun segera menyusul Grace kedalam dan segera menjelaskan padanya siapa Amera.
" Sayang kamu ngapain?" Daffin melihat Grace yang tengah memasukkan bajunya kedalam koper. Ia ingin kembali ke indonesia hari ini juga.
" Aku mau pulang sekarang." jawab Grace yang tengah memasukkan bajunya dengan kasar.
Daffin menghela napasnya lalu berjalan menghampiri Grace yang masih sibuk memasukkan bajunya kedalam koper. Daffin memeluknya dari belakang membuat Grace sedikit memberontak.
" Dengerin aku." ucap Daffin tepat di telinga Grace hingga membuat wanita itu terdiam seketika.
Melihat tidak ada pergerakan apapun, Daffin menuntun Grace untuk duduk di tepi ranjang dan dia duduk di bawah dengan bertumpu kedua lututnya sambil menggenggam kedua tangan Grace.
" Aku akan ceritakan siapa Amera. Tapi kamu harus janji sama aku kalau kamu gak boleh marah lagi sama aku." ucap Daffin menatap lekat manik mata Grace.
Grace tidak menjawab, dia hanya menatap suaminya tanpa ekspresi.
" Bisa?" ucap Daffin dan Grace mengangguk kecil.
Daffin berdiri dan duduk disamping Grace, memutar tubuh Grace untuk menghadapnya. Tangan keduanya masih saling bertaut, dan Daffin tidak ingin melepasnya.
" Amera itu-"
" Tunggu." potong Grace sebelum Daffin melanjutkannya.
" Kenapa?"
" Aku tarik napas dulu yang dalam, biar aku bisa tenang jika faktanya kamu dan Amera adalah mantan pacar dulu." ucap Grace ngasal.
" Kok tau." ucap Daffin membuat Grace melotot tajam.
" Jadi bener?" Grace menarik tangannya dan menatap Daffin dengan sengit.
" Iya, tapi dengerin dulu. Kalau kamu gak dengerin cerita aku, sampai kapanpun kamu akan salah paham." ucap Daffin menarik kembali tangan Grace, tapi Grace menjauhkan tangannya.
" Gak usah pegang pegang, kamu kira kita mau nyebrang trotoar apa." ucap Grace membuat Daffin tersenyum tipis, setidaknya grace tidak terlalu marah padanya.
" Amera-"
" Amera itu singkatan dari Anggur Merah?" Lagi lagi Grace memotong hingga membuat Daffin terkekeh.
" Sayang please dengerin dulu." rengek Daffin.
Grace begitu karena ia benar benar belum siap mendengar tentang Amera, hatinya masih ngilu mendengar fakta jika Amera adalah mantan Daffin. Grace memang belum mengenal Daffin sepenuhnya, bagaimana kehidupan Daffin yang dulu Grace belum tau. Karena ia belum meminta Daffin untuk menceritakan kehidupannya yang dulu. Ia ingin Daffin lebih dulu menceritakan tentang kehidupan masa kecilnya, bagaimana ia bergaul dulu. Bukan ujug ujug menceritakan tentang mantan pacarnya. Jujur saja Grace belum siap, karena Grace adalah tipe wanita pecemburu.
Grace menghela napas sedalam dalamnya sebelum meminta Daffin melanjutkan ceritanya. Ia harus siap, bagaimanapun ia harus mendengar penjelasan suaminya agar dirinya tidak salah paham lagi.
" Udah?" tanya Daffin setelah melihat Grace menghembuskan napasnya secara perlahan.
" Udah."
" Amera itu mantan pacar aku waktu kelas 2 SMP-."
" iya sayang." Daffin menggeram gemas dengan istrinya ini.
" Oke oke kamu lanjut dan aku akan tutup mulut." Grace menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menyuruh Daffin untuk melanjutkannya.
" Waktu itu Amera adalah gadis tercantik disekolah, banyak laki laki yang mendekatinya dan menginginkannya untuk menjadi pacar mereka namun tidak ada satupun yang berhasil memikat hati Amera. Hingga suatu hari temen temenku memintaku untuk mendekati Amera dengan imbalan mereka akan mentraktirku sampai kita lulus sekolah.."
" Taruhan gitu?" Potong Grace dan diangguki Daffin.
" iihh kok kamu jahat gitu?" Grace tiba tiba menatap suaminya tak suka. Ia sedikit sakit hati saat tau suaminya mempermainkan hati wanita. Ia jadi berpikir gimana perasaan Amera saat ia tau jika hanya dijadiin taruhan?.
" Dengerin dulu." pinta Daffin dan Grace mengangguk.
" Masa pubertas aku dulu tuh lumayan nakal. Mama aja sampe bosen di panggil guru BK karena kenakalanku. Dan jujur saja, aku dulu melihat Amera gak ada tertariknya sama sekali, karena bagi aku dia gak ada cantik cantiknya. Tapi entah kenapa di mata semua cowok satu sekolah dia dalah cewek tercantik." tutur Daffin.
" Amera kayak gitu aja kamu bilang gak cantik, terus cantik dimata kamu tuh seperti apa?" sahut Grace, karena menurut Grace, Amera itu cantik, bodynya juga bak model yang sering ia lihat.
" Seperti kamu." ucal Daffin membuat Grace memalingkan wajahnya dan tiba tiba pipinya terasa panas mendengar gombalan suaminya.
" ck, apaan sih."
" Dih salting." goda Daffin sambil mencolek pinggang grace.
" Apaan sih? udah lanjutin gimana kamu bisa pacaran sama dia." ucap Grace cemberut.
" Dulu temen temenku gak ada yang bisa ngedeketin Amera, hingga mereka taruhan dan menyuruhku mendekati Amera dengan imbalan aku di traktir makan di kantin sampai aku lulus. Awalnya aku menolak karena aku sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu, tapi mereka mendesakku dan akhirnya aku mau. Waktu itu aku lihat dia di deket gerobak sampah, entah ngapain aku juga gak tau. Aku samperin terus aku nembak dia. Dalam hati aku berharap di tolak mentah mentah, eh ternyata malah dia nereima aku dengan malu malu gitu."
" Gak modal banget sih? masa nembak cewek di deket gerobak sampah?" Grace justru tertawa mendengar cerita suaminya.
" Dimana mana kalau mau nembak cewek tuh berharap di terima, ini malah berharap di tolak. Apaan banget dah kamu." Grace tertawa keras sampai memegang perutnya karena menurut dia itu adalah cerita terlucu.
" Karena aku gak ada perasaan sesikitpun sama dia, kalau bukan karena temen temenku dulu, ogah banget nembak tuh cewek." ucap Daffin mendengus karen Grace masih menertawakannya.
" Aku gak mau cerita lagi." ucap Daffin yang tiba tiba berdiri.
" Eh, eh.. lanjut dong mas. Masih penasaran nih." Cegah Grace mencekal tangan suaminya.
" Kamu masih ketawa gitu?"
" Iya enggak." Seketika Grace menghentikam tawanya.
" Dari sekian banyak cowok yang nembak dia, cuma kamu yang diterima. Itu artinya cuma kamu yang dia suka." Grace mendadak tidak suka dengan logikanya. Entah kenapa melihat tatapan Amera pada suaminya tadi, dia benar benar masih menyukai suaminya.
" Entahlah aku nggak mikirin sampe kesitu."
" Terus kamu pacaran sama dia berapa lama?"
" Satu minggu." jawab Daffin sambil merebahkan tubuhnya dengan berbantal paha Grace.
" Satu minggu?"
" Hm?"
" Cepet banget?"
" Aku gak bisa sama cewek yang ngerengek minta di temenin telfonan tiap hari. Yaudah aku putusin." jawab Daffin.
" Taruhan kamu?"
" Batal."
" Terus perasaan Amera gimana?"
" Dia terus minta balikan sama aku, tapi aku gak mau. Aku bener bener menghindari dia waktu itu dan dia semakin gencar mendekatiku."
" Terus?"
" Setiap dia ngedeket aku cuekin, masa bodoh sama orang yang bilang aku gak normal waktu itu, karena nolak cewek secantik Amera. Dan aku bebas dari dia tuh waktu SMA aku beda sekolah ma dia." Ucap Daffin mengakhiri ceritanya.
" Setelah itu kalian gak ketemu lagi?"
" Ketemu waktu kuliah dulu, tapi dia udah gak senekat dulu, lama kelamaan akhirnya kita berteman-"
" Terus kamu nyaman sama dia?" potong Grace.
" Nyaman sebagai temen doang, sampai akhirnya dia ikut ortunya ke luar negeri dan saat itu pula kita lost contac." tutur Daffin.
" Dan dia masih suka sama kamu." ucap Grace menatap datar suaminya.
" Itu urusan dia, yang penting aku enggak."
" Ya jelas itu urusan kamu juga mas, kalau dia terobsesi lagi sama kamu terus ngerebut kamu dari aku gimana?" Grace menyilangkan kedua tangannya, ia tidak suka Daffin menganggal remeh hal itu.
" Hatiku udah terpaku dalam olehmu, jadi wanita sekelas Amera saja tidak akan mampu menggoyahkan hatiku. Dan aku akan buktikan jika tidak ada yang bisa merebutku darimu." ucap Daffin menarik tangan Grace dan mengecupnya.
" Janji?"
" Janji sayang."
" I Love you." ucap Grace malu malu.
" I love you more."
Dan keduanya berakhir di ranjang dengan gairah masing masing."
.
.
.
.
Ramein dong 🥲