My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
108.



Liburan part 2....


.


.


.


.


.


Tak butuh waktu lama pesawat yang mereka tumpangi mendarat sempurna di bandara internasional Zainuddin Abdul Madjid.


Mereka turun dari pesawat lalu masuk kedalam mobil jemputan yang akan membawa mereka ke villa.


Hanya butuh waktu sekitar 15 menit, mobil yang membawa mereka kini sudah tiba di sebuah Villa yang lumayan besar.


Meskipun berukuran besar namun Villa ini hanya terdiri dari beberapa kamar, jadi sebagian dari mereka menyewa satu Villa lagi untuk mereka tempati dan itu tempatnya hanya berjarak beberapa langkah saja.


Untuk keluarga wijaya, mereka berada di Villa A dan untuk yang lain berada di Villa B.


" Akhirnya sampai juga." ucap Grace saat memasuki Villa tersebut. Mereka melihat sekeliling dan tersenyum puas karena lokasi Villa ini langsung menghadap laut.


" Bagus ya tempatnya." ucap Luna diangguki Reyhan.


" Jadi inget saat kita rame rame ke bali dulu deh."


" habis lu tunangan ma reyhan kan?"sahut Salwa diangguki Luna.


" Iya, setelah gue ma Reyhan tunangan." jawab Luna


Lalu mereka berunding menentukan kamar yang akan mereka tempati.


" Aku mau nempatin kamar atas aja." ucap Grace yang langsung berlari menaiki tangga sambil menarik tangan Daffin.


" Sayang pelan pelan." ucap Daffin namun Grace menghiraukannya. Ia terus menarik tangan Daffin hingga sampai di lantai atas.


" ckk.. Sial." geram Zay karena Grace mendahuluinya.


Diatas hanya ada dua kamar, jadi otomatis satu untuk Grace dan satu lagi untuk Daffin.


Padahal Zay ingin sekali berada di kamar atas karena pemandangan dari sana pasti sangat indah.


" Udah lu tidur ama gue di bawah." sahut Vero merangkul pundak Zay.


Zay meliriknya sekilas lalu masuk kedalam kamar tanpa mengatakan sepatah katapun.


" Lu tidur ma gue yaa." ucap Devan pada El dan dibalas dengan tatapan malas.


" Bosen gue lihat muka lu mulu. Mau tidur lihat muka lu, bangun tidur juga lihat muka lu. Lama lama sawanen gue lihat muka lu terus." sahut El lalu berjalan masuk kedalam kamar.


Devan mendengus kesal lalu menarik kerah leher belakang El.


" Anjim bener lu kalau ngomong, lu harusnya bersyukur bisa lihat wajah tampan gue dengan gratis. Di luar sana masih banyak yang pengen natap wajah gue lama lama." balas Devan, El hanya memutar bola matanya malas.


" Karena mata mereka buta, gak bisa bedain mana tampan dan mana sampan." ucap El lalu berlalu memasuki kamar.


" Waahh anjing bener tuh anak, masa muka ganteng gini di samain ma sampan sih? gak bisa dibiarin tuh anak. Yang kayak gini nih harus diberi paham." gumam Devan lalu menyusul el yang sudah masuk kedalam kamar.


Para orang tua hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan anak anak mereka. Makin dewasa bukannya sifat makin bener, malah makin menjadi anehnya.


" Gue dulu ngidam apa ya pas hamil Devano? kelakuannya gitu banget." gumam Luna yang melihat kelakuan putra bungsunya.


" Kelakuan kamu dulu juga gitu dek, malah lebih parah. Jadi gak usah beralibi dulu ngidam apa? Karena sifat Devan sama Grace udah sama persis sama kamu." sahut Arland


" Naahh.. Buah jatuh gak jauh dari pohonnya." imbuh Salwa membuat Luna memutar bola matanya malas.


" Anak lu juga yaa, bukan anak gue aja." sahut Luna, salwa hanya nyengir saja. Ia lupa jika kelakuan El sama halnya dengan Devano.


" Yaudah kita ke kamar aja, gue dah capek banget ini." ucap Alan diangguki yang lain.


" Jangan Lupa kasih tau papa kalau kita udah sampe." ucap Arland diangguki Luna.


Hanya Ricko dan Nadia yang tidak ikut karena masih ada beberapa hal yang harus mereka urus di jakarta.


***


Grace berdiri di balkon kamar dengan pandangan lurus kedepan. Pemandangan di depan matanya ini benar benar memanjakan mata. Bagaimana tidak? Villa ini lokasinya langsung menghadap pantai. Dibawah sana juga terdapat kolam renang yang memikat mata karena terletak tepat di tepi laut.



Greeebb...


Daffin melingkarkan tangannya di perut Grace lalu meletakkan kepalanya di pundak Grace. Sontak membuat Grace sedikit terkejut namun sedetik kemudian ia tersenyum manis.


" Indah kan pemandangannya?" ucap Grace. Tangannya letakkan di atas tangan Daffin.


" Lebih indah wajah kamu." jawab Daffin membuat Grace mencebikkan bibirnya namun wajahnya sudah memerah.


" Gombal mulu."


" Gombal sama calon istri sendiri gapapa dong."


Daffin tidak menjawabnya lagi, ia malah semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Grace. Mengendus aroma tubuh Grace yang selalu menenangkan.


Andai dirinya dan Grace sudah sah, ia akan melakukannya saat itu juga.


***


Disebuah kamar yang lain, terlihat Zay sedang melakukan panggilan video call bersama istrinya.


" Kamu udah sampai di lombok?" tanya Kiran di seberang sana.


" Udah dari sejam yang lalu. Kamu masih sibuk?"


" Iya. Tapi gapapa, aku juga mau nelfon kamu tadi."


" Emang kamu dimana itu? kayak bukan di apartemen?"


" Lagi di Kafe sama temenku." jawab Kiran sambil mengarahkan kamera ponselnya pada temannya.


" Meysa dimana? apa dia nggak jagain kamu?"


" Aku suruh tinggal di apartemen, kasian dia kurang enak badan." jawab Kiran Zay manggut manggut.


Tak lama kemudian terlihat seorang laki laki yang juga berasal dari Indonesia menghampiri Kiran dan temannya.


" Boleh duduk disini?" tanya laki laki itu bernama Sandy sanjaya.


Zay yang mendengar itu mengubah wajahnya menjadi datar, ia tidak suka jika Kiran berteman dengan laki laki lain. Apalagi tidak ada dirinya disana.


" Silahkan." Bukan Kiran yang menjawab tapi teman Kiran dengan menggunakan bahasa jerman.


Lalu laki laki itu duduk di sebelah Kiran.


" Siapa laki laki itu?" tanya Zay dengan datar.


" Cuma temen sayang." jawab Kiran sambil tersenyum. Ia sangat yakin jika Zay saat ini sedang cemburu. Terlihat dari raut wajah datarnya dan suara yang terdengar sewot.


" Jangan terlalu dekat aku gak suka." ucap Zay diangguki Kiran sambil tersenyum.


" Iya. yaudah aku matiin dulu ya, aku mau ngelanjutin buat tugas dulu." ucap Kiran.


" Hm. hubungi aku kalau udah pulang ke apartemen."


" Iya sayang. Bye." ucap Kiran lalu mematikan sambungan teleponnya.


Kiran memasukkan kembali ponselnya dan kembali fokus pada laptop di depannya.


" Tadi siapa Ran?" tanya Sandi menoleh ke arah Kiran.


" Suami." jawab Kiran namun Sandi malah tertawa keras.


" Bohong banget sih? Mana mungkin kamu udah nikah." ucapnya yang sama sekali tidak mempercayai ucapan Kiran.


" Nih." Kiran menunjukkan cincin pernikahan itu di hadapan Sandi.


" Banyak cewek yang punya cincin kayak gitu, lagian cincin itu gak bisa ngebuktiin kalau kamu beneran udah nikah."


" Yaudah terserah kamu aja. Aku gak maksa kamu buat percaya sama aku kok." jawab Kiran acuh.


Sandy terus menatap Kiran, dirinya sudah sangat lama menyukai wanita itu. Pertama kali ia mengenal Kiran, ia langsung jatuh hati pada wanita itu. Wanita baik dengan tutur kata yang lembut membuatnya menyukai wanita seperti Kiran. Dan sekarang Kiran mengatakan jika dirinya sudah menikah, tentu saja Sandy tidak akan mudah percaya begitu saja. Sebelum ada bukti yang Valid, ia akan terus berusaha mendekati Kiran dan mendapatkan wanita itu..


***


" Napa lu?" tanya Vero saat Zay membantinv ponselnya di atas kasur.


" Sepertinya ada cowok yang lagi ngedeketin istri gue." jawab Zay. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


" Kok lu tau?"


" Tadi pas gue video callan, ada cowok yang nyamperin bini gue."


" Bini lu lagi ma siapa disana?"


" Lagi di kafe ma temennya."


" Ck.. siapa tau tuh cowok lagi deketin temen bini lu. Gak usah terlalu over thinking gitu."


" Gue gak yakin juga, tapi semoga apa yang lu katakan bener." ucap Zay.


" Jangan terlalu curiga ma bini lu, nanti dianya makin risih. Lu bisa nyuruh Meysa buat terus jagain Kiran." saran Vero diangguki Zay.


Setelah itu keduanya memilih membersihkkan diri dengan bergantian.


.


.


.


.


Tak kasih konflik dikit biar gak garing aja nih cerita 😁