My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
42.



Dengan wajah yang sembab, perlahan kiran menaiki tangga pesawat.


Rasanya begitu enggan untuk meninggalkan indonesia, tapi ia sendiri tidak ingin jika terlalu lama di indonesia malah semakin membuat hatinya hancur.


Kiran mendudukkan tubuhnya di kursi pesawat, matanya menatap luar jendela dengan lelehan air mata yang masih membasahi pipinya.


Terkadang menangis adalah salah satu cara untuk menenangkan diri dari segala hal yang memenuhi pikiran, meluapkan segala emosi yang terus menerus kita tahan.


Karena memang hanya itu yang bisa dilakukan.


Siapa yang akan memahami kita kalau bukan diri kita sendiri?.


Memang sulit mencintai seseorang yang masih terpaku dalam masa lalu.


Pura pura tegar padahal hati sedang hancur.


Ingin egois tapi keadaan memaksanya harus mengalah.


Yang harus Kiran lakukan saat ini adalah menguatkan diri dan menjaga pikiran agar tetap waras diantara banyak hal yang membuatnya tertekan.


Takdir memang selucu itu, menyatukan dua orang yang saling mencintai namun menghadirkan kembali masa lalu yang belum usai.


" Gapapa ini bukan masalah besar, aku pasti bisa untuk menjalaninya." gumam Kiran menguatkan diri sendiri.


Berulang kali ia menarik napas dalam dan membuangnya perlahan.


Ia menepuk dadanya pelan guna mengurangi rasa sesak yang ia tahan.


Perlahan pilot menerbangkan pesawatnya hingga pesawat itu terbang sempurna di atas awan.


" Aku akan bertahan karena aku mencintaimu." gumam Kiran lalu ia memejamkan matanya.


***


Zay baru saja tiba di rumah setelah seharian menemani Olivia di rumah sakit.


Zay melangkahkan kakinya masuk dengan wajah yang teramat lesu.


Pikirannya sedari tadi di penuhi oleh Kiran, bagaimana dengan kekasihnya itu saat ini.


Kenapa dia harus memilih kembali ke rumah sakit ketimbang mengantar Kiran untuk terakhir kali.


Segala bentuk penyesalan kini ia rasakan, ingin rasanya Kiran ada disini dan mememeluknya.


PLAAAAAAKKKKK....


Satu tamparam sangat keras dari Grace mendarat mulus di pipi Zay saat Zay baru saja masuk kedalam rumah.


Saking kerasnya sampai bekas tangan Grace tercetak jelas di pipi Zay yang putih.


Zay memegangi pipinya, ia menatap Grace yang terlihat jelas amarah menyelimuti dirinya.


" Lo inget kan apa yang gue ucapkan kemaren? Gue akan jadi orang pertama yang akan ngehajar lo kalau lo nyakitin kiran.


Dan sekarang lo nyakitin dia Zay, lo rela mengabaikan kekasih lo sendiri yang akan pergi ke jerman demi wanita penyakitan itu. OTAK LO DIMANA HAAA?" bentak Grace meluapkan segala emosinya.


Mungkin ini adalah bentuk emosi kiran yang di wakili oleh Grace.


Grace sangat mengerti apa yang dirasakan oleh kiran karena bagaimanapun dia juga seorang wanita.


Bagaimana lemahnya hati wanita ketika melihat kekasihnya memilih orang lain dari pada dirinya.


" G-gue---"


" Apa? lo mau bilang lo nggak nyakitin kiran? lo masih gak nyadar kalau lo udah bikin dia sakit hati? dan mata lo masih gak kebuka kalau sedari tadi oliv nahan lo agar gak ketemu kiran? LO BODOH ATAU IDIOT HAA?" potong Grace.


Ia benar benar emosi dengan sikap Zay yang tidak tegas dengan pendiriannya.


Ini adalah kali pertama Grace membentak dan bicara kasar dengan Zay.


" Gak ada yang tau hati wanita seperti apa, selemah apa? dia bilang dia baik baik saja namun nyatanya hatinya hancur Zay.


Gue pernah merasakan berada di posisi kiran Zay meskipun dengan masalah yang berbeda.


Jangan pernah menyepelekan hati seseorang, karena lo gak akan tau bagaimana usaha dia untuk bisa terlihat tegar dihadapan lo meskipun dia tidak sedanga baik baik saja." Grace menjeda kalimaatnya.


Ia mengusap kasar air mata yang jatuh membasahi pipinya, seakan merasakan apa yang kiran rasakan saat ini.


Apa lo pernah lihat sisi terendahnya? apa dia pernah nunjukin ke lo sisi terlemahnya? apa dia marah dan memaki lo saat tau lo kembali sama masa lalu lo?


Tidak kan? Dia selalu nutupi kesedihannya dengan cara tersenyum.


Pura pura tegar, pura baik baik saja seolah tidak terjadi apa apa.


Merelakan lo pergi menemui Oliv disaat dirinya juga membutuhkan lo.


Dalam hati terdalamnya dia ingin sekali menahan lo agar tetap disampingnya, tapi ia sadar jika ia tidak boleh egois karena bagaimanapun Oliv membutuhkan lo saat itu.


Tapi apa lo tau gimana tangisnya saat itu pecah setelah melihat kepergian lo? dia yang sadari tadi menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan lo tapi nyatanya pecah juga saat ngelihat lo pergi." Grace diam sejenak menatap Zay yang matanya berkaca kaca.


Grace dan Vero memang pergi setelah Zay datang, namun mereka tidak benar benar pergi melainkan berada tidak jauh dari tempat kiran dan Zay berada.


Semua percakapan antara Zay dan Kiran masih bisa ia terdengar jelas.


Dan saat Zay pergi ninggalin kiran, disaat itulah Grace dan Vero menghampiri kiran.


Grace memeluk kiran, membiarkan wanita itu menangis mengeluarkan segala emosinya.


" Mungkin saat ini lo gak sadar akan hal itu, tapi gue yakin suatu saat lo akan nyesel dan sadar siapa orang yang sayang dan cinta sama lo dengan begitu tulus dan sabar.


Jangan sakitin Kiran lagi Zay, dia wanita baik, dia layak di perlakukan dengan baik juga.


Nggak ada wanita yang bener bener kuat, terkadang mereka bersedih dengan cara tersenyum, pura pura kuat seakan tidak terjadi apa apa.


Dibalik diamnya ada emosi yang tidak bisa ia ekspresikan, dibalik senyumnya ada luka yang ia tutupi.


Jadi jangan pernah meremehkan perasaanya, karena kita tidak tau bagaimana usaha dia untuk terlihat tegar." Ucap Grace yang sudah mulai tenang, namun air matanya terus mengalir begitu saja.


Ia mengusap pipi Zay yang memerah akibat tamparannya.


Bukan maksud Grace melukai Zay, tapi entahlah. Mungkin dengan begitu Zay akan sadar apa yang telah dia lakukan.


" Maafin gue udah nampar lo." ucap Grace lalu pergi begitu saja.


Zay masih diam mematung, semua ucapan grace adalah benar.


Harusnya dari awal ia berkata jujur pada Kiran karena bagaimanapun Kiran adalah kekasihnya.


Wanita yang begitu sabar mencintainya, wanita yang memperjuangkan cinta pada dirinya sejak lama.


" Jangan sakitin Kiran yang cinta sama lo dengan tulus dan sabar. Karena kita nggak tau bagaimana perjuangannya untuk mencintai lo dalam diam, merelakan lo pada sahabatnya sampai dia rela keluar negeri buat menghindari lo.


Jadi, jaga hati dan perasaannya jangan sampai membuat dia kecewa dan sakit hati lagi.


Mungkin disana dia lagi meyakinkan hatinya, menguatkan dirinya jika lo disini tidak akan menghianatinya, meskipun lo kembali lagi dengan Oliv hanya sekedar menemani oliv berjuang melawan penyakitnya. " Tutur Vero.


" Percayalah Zay, kiran adalah wanita yang sangat tulus. Gue memang baru kenal sama dia tapi gue bisa lihat sendiri gimana cara dia memperlakukan lo, bagaimana dengan sabar dia memaafkan kesalahan lo, bagaimana dia tersenyum disaat hatinya kecewa.


Jadi tidak ada alasan buat lo nyakitin dia." Ucap Vero.


Ia menepuk bahu Zay lalu meninggalkannya.


Zay terduduk lemas diatas lantai, ia menyadari kebodohannya.


Menyakiti wanita yang begitu tulus mencintainya.


Tanpa sadar air matanya menetes, ia benar benar menyesal telah membuat wanita di cintainya itu terluka.


Zay mencoba berdiri dengan berpegangan pada pilar.


Ia berjalan lemas menuju kamar.


Ia akan menyiapkan segala keperluannya untuk menyusul Kiran ke jerman.


.


.


.


.


Getok pala Zay enak kali ya sebelum dia nyusul ke jerman? 😂