
Zay mengendarai mobilnya untuk mengantar kiran pulang. Sedari tadi tangannya tidak lepas menggenggam tangan kiran.
Sedangkan wanita itu masih saja gugup, meskipun mereka berdua sering bergandeng tangan namun kali ini dengan rasa dan status yang berbeda.
Ponsel Zay berdering, ia menyuruh Kiran untuk mengambil ponselnya di tas karena ia sedang fokus menyetir.
" Siapa?" tanya Zay.
" Vero."
" Angkat aja." ucap Zay di angguki kiran.
Kiran menggeser tombol hijau itu dan meloudspeckernya.
" Zay lu dimana?" tanya Vero dengan nada panik.
" Dijalan, kenapa?" jawab Zay mengernyitkan dahinya.
tidak biasanya vero menelponnya dengan nada seperti itu.
" Cari Grace, dia lagi emosi sekarang." jawab Vero.
" APAA?" Zay membulatkan matanya lalu menepikan mobilnya.
" Kemana dia sekarang?" tanya Zay mengambil ponselnya dari tangan kiran.
" Kita gak tau dia dimana, makanya kita nyuruh lo nyari.
Dia pergi dengan keadaan emosi, mungkin dia butuh lo sekarang." sahut Izzam.
" Kenapa dia bisa emosi?Apa kalian gak bisa nenangin dia?" Ucap Zay dengan sedikit emosi.
Kiran yang berada di sampingnya mengusap bahu Zay untuk menenangkannya.
" Bukan waktunya ngomel bodoh, cepat cari dia." ucap Vero lalu mematikan sambungan teleponnya.
Zay mengacak rambutnya kasar, ia takut jika Grace tersulut emosi dan ia akan hilang kendali.
Grace adalah anak yang periang, jika emosinya tersulut dia akan melakukan apapun untuk meredakan emosinya kecuali jika ia bersama Zay.
Entahlah, hanya Zay yang mampu mengembalikan mood Grace di saat susana hati grace sedang buruk.
Bahkan kedua orang tuanya pun tidak mampu menenangkannya.
" Ada apa dengan Grace?" tanya Kiran yang ikutan panik.
" Aku tidak tau, aku antar kamu pulang setelah itu aku mau mencari grace " jawab Zay diangguki kiran.
Zay kembali menjalankan mobilnya, matanya fokus pada jalanan namun otaknya memikirkan dimana grace sekarang dan apa yang di lakukan grace?
Kiran yang mengerti kekhawatiran Zay hanya bisa diam, sesekali ia mengusap kepala Zay untuk memberinya ketenangan.
Tak lama mobil yang di kendarai Zay akhirnya sampai di depan rumah kiran.
" Aku pergi dulu, maaf aku gak bisa mampir, aku harus mencari Grace." ucap Zay diangguki kiran.
" Aku mengerti, kamu hati hati dijalan, kabari aku nanti." ucap Kiran diangguki Zay.
Kiran melepas sabuk pengamannya, namun sebelum ia turun Zay mencium kening kiran lama.
Kiran tersenyum lalu keluar dari mobil Zay.
Mobil Zay melesat pergi, sekarang tujuannya adalah rumah.
Barang kali grace sudah pulang dan bermain bersama lexa dan lexis, karena biasanya akan seperti itu jika dia lagi badmood.
**
Disisi lain di sebuah ruangan yang lumayan besar, grace sedang meninju sebuah samsak.
Tidak puas dengan itu ia menembak peluru kesegala arah.
Yah begitulah bentuk pelampiasan kemarahan Grace.
Tidak ada berani yang masuk kedalam jika grace dalam keadaan emosi.
" Gue bukan j***ng seperti yang kalian maksud, gue hanya mencintai pak Daffin, apa itu salah?" gumam Grace duduk dengan posisi memeluk lututnya.
Pintu terbuka saat sudah tidak terdengar suara tembakan atau tinjuan.
seorang laki laki dan perempuan masuk kedalam dan menghampiri grace.
" Grace.. " panggil seorang wanita yang tak lain adalah Ica.
Grace mendongakkan kepalanya dan tersenyum pada Ica dan Aldo.
Yups,, kedua orang itu menikah setelah Luna dan Reyhan menikah.
Dan mereka di karuniai seorang putra bernama Adam bagaskara yang sekarang kuliah di Singapore.
" Kenapa tan?" tanya Grace seolah olah tidak terjadi apa apa.
Yaahh.. grace pandai menyimpan emosinya di hadapan orang lain.
" Kamu kenapa? ada masalah?" tanya Ica dengan lembut, ia memberikan sebotol minuman untuk grace.
" Enggak.. grace baik baik aja kok tan, grace lagi pengen main kesini aja." jawab Grace sambil membuka botol minuman itu dan meminumnya.
" Kamu tuh gak bisa bohong, kamu dan mama kamu tuh sama persis.
Kalau sedang ada masalah atau sedang marah pasti akan ke ruangan ini dan melakukan apa yang kamu lakukan tadi." Ucap Ica membuat grace sedikit terkejut.
" Beneran tan?" tanya Grace diangguki Ica dan aldo.
" Kalau udah puas, mama kamu akan duduk seperti kamu tadi. Dahlah kelakuan kalian itu emang sama persis." sahut Aldo.
" Kan anaknya om, yakali kelakuan grace niru sama om, incip incip dong kalian." ucap Grace membut aldo mendelik padanya.
" Heeehh ponakan sumpret, kalau bukan anak Luna, om pites juga kamu, enak aja kalau ngomong." geram Aldo.
" Canda doang om, serius amat? cepet tua loh." ledek Grace membuat Aldo mendengus.
" Adam gak pulang tan?" tanya Grace yang sudah berdiri.
" Enggak, mungkin bulan depan dia pulang. Kenapa? kangen berantem ma dia?" ucap Ica yang memang tau kebiasaan mereka saat bertemu.
" hehe.. tante ica tau aja deh." jawab Luna cengengesan.
" Aku ke kamar dulu ya tan, om." ucap Grace diangguki keduanya.
Grace berjalan keluar menuju ruangan luna dulu, emosinya sedikit mereda saat ini namun ia enggan pulang.
***
Mobil yang di kendarai Zay sampai juga di rumahnya, ia segera masuk kedalam dan menuju kandang kedua hewan buas itu.
Nihil.. tidak ada siapapun disana.
Zay menuju kamar Grace namun juga tidak ada siapapun.
" Kamu kenapa panik banget Zay?" tanya Luna yang sedari tadi melihat putranya berlari kesana kemari.
" Grace,, grace sudah pulang apa belum ma?" tanya Zay dengan panik.
" Grace belum pulang, memang kenapa? ada apa dengan Grace?" jawab Luna juga ikutan panik.
" Vero bilang Grace lagi emosi ma, dan dia gak tau Grace pergi kemana." ucap Zay.
" Emosi? kenapa dia bisa emosi?"
" Zay juga gak tau ma, makanya Zay mau nyari dia."
Luna berpikir keras, apa mungkin grace berada disana.
Namun apa salahnya jika Zay mengecek, apa grace disana atai tidak.
" Kamu ke markas Black rose, mama rasa dia ada disana sekarang." ucap Luna.
" Black rose? markas mama dulu?" tanya Zay diangguki luna.
" Oke, kalau begitu Zay kesana dulu."
" Hati hati sayang." ucap Luna diangguki Zay.
Zay kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Ia ingin segera sampai di markas black rose.
Dan benar saja, saat mobilnya memasuki area markas ia melihat mobil grace ada disana.
Dengan cepat ia turun lalu masuk kedalam markas.
" Grace dimana tan, om?" tanya Zay saat berpapasan dengan Ica dan aldo.
" Ada di kamarnya, kamu kesana aja, mungkin dia lagi butuh kamu sekarang." ucap Ica di angguki Zay.
Dengan segera Zay berlari menuju kamar dimana Grace berada.
Zay membuka pintu ruangan itu dengan hati hati, ia melihat grace yang tengah berbaring memunggunginya.
" Grace.." panggil Zay.
Grace yang memang belum tidur menoleh ke arah orang yang memanggilnya.
Saat tau yang datang adalah Zay, ia bangun dan langsung menghambur kepelukan Zay.
" Kenapa hm?" tanya Zay sambil megusap kepala Grace.
Grace tidak menjawab, ia menumpahkan airmatanya yang sejak tadi ia tahan.
Zay mengerti, ia membiarkan grace menangis dan semakin mengeratkan pelukannya.
" Cerita sama gue, lu kenapa?" tanya Zay sambil menuntun Grace duduk di tepi ranjang.
" Gue gapapa Zay." jawab Grace tersenyum.
" Mau gue cari tau sendiri dan memberinya pelajaran?"
" Eehh..eehh gak usah, yaudah iya gue cerita." jawab Grace mengerucutkan bibirnya.
Grace pun menceritakan semua apa yang di alaminya tadi.
" Mereka hanya iri sama lo, jadi lo gak usah masukin hati semua ucapan mereka.
Mereka hanya pintar dalam mengomentari hidup orang lain, tapi mereka bodoh untuk menilai diri mereka sendiri.
Dan gak usah lo menjelaskan siapa diri lo, karena yang membenci lo tidak akan percaya itu dan yang menyayangi lo tidak butuh itu.
Lu cukup diam dan biarkan saja anjing mengonggong.
Karena kita hanya mampu mengerti bahasa manusia bukan bahasa hewan.
Paham?" tutur Zay.
Grace mengangguk dan kembali memeluk Zay.
Zay memang selalu pintar untuk mengembalikan suasana hatinya yang buruk.
Jika saudara kembar lain sering sekali bertengkar atau tidak akur namun berbeda dengan Zay dan grace.
Justru mereka selalu menunjukkan kasih sayang mereka satu sama lain.
.
.
.
.
.
Kalau ada yang berpikir karakter Zay dan Grace lebay?
itu bukan lebay ya.. karena aku disini mau nunjukin kalau saudara kembar itu tidak mesti harus berantem mulu.
aku ingin ngebuat dua orang kembar ini berbeda dari yang lain.😁😁