
Pencarian...
.
.
.
.
.
.
Ini adalah hari kedua pencarian yang di lakukan oleh tim Sar berserta para anak buah Ricko dan juga Reyhan. Semua orang di kerahkan untuk mencari cucu perempuan satu satunya di keluarga Wijaya.
Daffin , Zay dan juga teman teman yang lain ikut andil dalam mencari keberadaan Grace, meskipun para polisi sudah melarang keras namun mereka semua tetap memaksa untuk mencari Grace.
Semakin banyak yang ikut mencari, bukankah semakin besar peluang untuk menemukan keberadaan Grace?.
Dengan menggunakan Rescue Boat, tim sar menelusuri sungai untuk mencari Grace yang kemungkinan besar terbawa arus sungai.
" Kenapa? kenapa Grace tidak bisa di temukan?" Daffin berucap dengan Frustasi. ia dan tim sar sudah menelusuri sungai yang lumayan jauh namun tidak menemukan tanda tanda keberadaan Grace yang hanyut terbawa arus sungai ini.
" Sabarlah bang, kita yakin pasti akan menemukan Grace." sahut Zay menepuk bahu Daffin.
Sama halnya dengan Daffin, Zay juga begitu frustasi namun ia masih bisa bersikap tenang. Karena jika ia ikut frustasi malah akan memperkeruh suasana.
Jadi sebisa mungkin ia mengontrol dirinya sambil berdoa dalam hati agara saudara kembarnya segera di temukan.
" SAYA MENEMUKAN SEPATU." ucap salah satu tim sar saat melihat sebelah sepatu yang tersangkut di ranting pohon.
" Ini sepatu Grace." sahut Vero. Ia hapal betul karena ia membelinya kembar dengan Grace.
" Kalau begitu kemungkinan besar tubuh Grace terbawa arus. Kita terus lakukan pencarian." ucap sang komandan tim Sar.
Mereka terus menelusuri sungai namun tidak menemukan dimana Grace berada, mereka menemukan sebelah sepatu Grace dan barang barang Grace yang lain.
Hingga akhirnya awan berubah menjadi gelap dan akhirnya pencarian di hentikan dan semua orang kembali ke atas.
" Kamu dimana Grace? kenapa kami semua tidak bisa menemukanmu." gumam Daffin yang terduduk di atas aspal.
" Kita lakukan lagi besok, aku yakin Grace akan bisa di temukan." ucap Zay menepuk bahu Daffin.
" Sebaiknya kita kembali ke rumah, masih ada hari esok untuk mencari Grace." ujar Andre.
" Kalian semua pergilah, saya masih ingin disini." ucap Daffin yang sudah berdiri tegak.
" Bang.. sebaiknya kita pulang. Benar apa kata om Andre, kita bisa mencarinya besok." sahut Zay sambil menepuk bahu Daffin.
" Tidak Zayy, aku akan tetap mencari Grace. Aku yakin bisa menemukan Grace." ucap Daffin menepis tangan Zay.
" Bang jangan ngaco, ini sudah malam dan tidak ada pencahayaan apapun." sahut Vero menahan lengan Daffin.
" SAYA MAU MENCARI GRACIELLA, SAYA YAKIN DIA SEDANG MERINTIH KESAKITAN SEKARANG." bentak Daffin menatap tajam Vero.
" Bang, gue mohon. Jangan bertindak konyol, lu tau kalau lu sendiri nanti yang akan celaka. Serahkan semua ini pada pihak berwajib. Kita percayakan semuanya pada mereka." Zay mencoba menenangkan Daffin.
" Tapi Zay--"
" Bang gue mohon, kali ini aja turuti apa kata gue." ucap Zay dengan tatapan memohon.
Ia sendiri juga sudah lelah dengan fisik dan batinnya.
Jangan lagi di tambah dengan hal hal yang membuatnya tambah pusing.
" Baiklah, kita pulang sekarang." ucap Daffin pasrah.
" Bukan cuma lu yang ingin Grace segere ketemu bang, tapi kita semua juga. Kita semua ingin Grace segera ketemu dan kembali di tengah tengah kita dalam keadaan selamat, tapi tidak dengan cara lu cari sendiri. Itu sangat berbahaya." ucap Zay menepuk punggung Daffin.
Daffin menganggukkan kepalanya, benar apa yang dikatakan Zay, Ia tidak boleh egois karena bagaimanapun medan yang dilalui sangat berbahaya dan bisa saja membahayakan dirinya sendiri.
" Baiklah kita pulang sekarang." ujar Andre lalu semua kembali ke mobil masing masing dan memutuskan untuk kembali pulang.
***
Zay dan Vero baru saja tiba di rumah utama, Luna langsung berlari menghampiri putranya saat melihat Zay dan Vero masuk kedalam rumah.
" Bagaimana? sudah ketemu?" tanya Luna dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Zay menarik napasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
" Belum ma." Zay menggelengkan kepalanya lemah.
Kaki luna seakan tak bertulang, ia terduduk lemas di atas lantai. Zay yang melihat itu langsung membantu mamanya berdiri.
" Mama jangan khawatir, kita akan mencari lagi besok." ucap Zay memeluk mamanya.
" Tapi Grace bagaimana? dia pasti kedinginan dan juga kesakitan." ucap Luna yang sudah terisak.
" Mama sabar ya, insya allah besok Grace ketemu. Tadi kita sudah menemukan sepatu dan barang barang Grace yang lain." ucap Zay sambil menunjukkan kantong kresek yang di bawa oleh Vero.
" Kita harus cari dalang dari semua ini." sahut Ricko dengan wajah yang di selimuti amarah.
" Tapi bagaimana caranya pa? tidak ada satupun saksi mata yang melihat kejadian itu dan jalanan itu tidak terpasang cctv." sahut Arland.
" Bagaimanapun caranya kita harus menemukan dalang di balik kejadian ini " ucap Ricko dengan berteriak.
" Aku bersumpah akan menghabisi orang itu jika tau siapa dalang di balik semua ini." ucap Ricko dengan mengepalkan kedua tangannya.
Setelah berucap Ricko langsung pergi ke kamarnya di ikuti Nadia.
Semuanya bernapas lega, mereka kembali duduk dan memikirkan cara bagaimana bisa menemukan Grace.
****
Disebuah club malam Daffin sedang duduk di meja bartender dengan segelas wine di tangannya.
Ia terus menenggak minuman haram itu untuk menghilangkan stress yang melandanya.
Semua wanita yang mendekat padanya di usir secara kasar, ia tidak ingin di sentuh siapapun kecuali kekasihanya.
" Jangan pernah sentuh gue, yang berhak nyetuh gue cuma kekasih gue, Graciella." ucap Daffin sambil menghempas tangan wanita yang menggodanya.
" Aku graciella, kekasih kamu." ucap wanita itu dengan mengaku ngaku menjadi grace.
" Lo pikir gue buta? Graciella kekasih gue cantik, sedangkan lo?" Daffin melihat wanita itu dari atas sampai bawah.
" Sedangkan lo aja seperti ondel ondel." Daffin tertawa keras setelah mengatakan hal itu.
Wanita itu mendengus kesal karena Daffin mengejeknya.
" Sebaiknya lo pergi dari sini sebelum gue seret lu keluar dari club ini." ucap Daffin dan akhirnya wanita itu pergi meninggalkan Daffin yang sudah mabuk.
" Berikan satu gelas lagi." ucap Daffin yang kesadarannya tinggal 40%.
" Tapi tuan--"
" Berikan atau ku bakar club ini." bentak Daffin dan akhirnya orang itu memberikan segelas wine untuk Daffin.
**
Ditempat yang sama terlihat Angel sedang berpesta minuman bersama kedua temannya.
Mereka merayakan pesta atas kecelakaannya Grace dan hilangnya Grace yang sampai saat ini belum di temukan.
Mata Angel memincing saat tak sengaja netra matanya melihat bayangan Daffin duduk di meja bartender.
Dengan seringainya ia berjalan menghpiri Daffin yang rrlihat sudah mabuk.
" Daffin." sapa Angel yang langsung duduk di sebelah Daffin.
" Angel? ngapai kamu kesini? pergi!!" bentak Daffin namun Angel mengacuhkannya.
" Selama mengenalmu aku tidak pernah melihatmu ke club malam dan mabuk seperti ini. Ada apa denganmu Daf?" ucap Angel yang berpura pura tidak tau.
" Bukan urusanmu, sekarang kamu pergi dari sini karena aku sudah muak melihat wajahmu." ucap Daffin namun lagi lagi Angel tidak menggubrisnya.
" Ceritalah Daf, mungkin aku bisa membantumu. lagian aku menerima batalanya pernikahan kita. Jadi apa salahnya jika sekarang kita berteman." ucap Angel yang terdengar sangat tulus.
" Tidak.. sebaiknya kamu pergi dari sini karena aku tidak mau berteman sama kamu." ucap Daffin yang masih mencoba mempertahankan kesadarannya.
" Apa ini tentang Grace?" ucap Angel membuat Daffin memincingkan matanya.
" Bagaimana kamu tau?"
" Berita kecelakaan Grace sudah tersebar di seluruh tv dan media sosial. Bagaimana bisa aku tidak tau." jawab Angel dengan senyum manisnya.
" Iya, dia kecelakaan dan masuk jurang." ucap Daffin menunduk sedih.
" Kamu yang sabar ya, aku yakin Grace akan segera di temukan." ucap Angel mengusap punggung Daffin.
Ia tersenyum licik karena Daffin sedikit demi sedikit menerima kehadirannya.
Daffin bahkan tidak menolak saat Angel mengusap punggungnya.
Itu artinya rencananya sedikit demi sedikit akan berhasil.
" aku harus pulang." ucap Daffin yang tiba tiba berdiri dengan sempoyongan.
" Biar aku antar." ucap Angel di balas gelengan oleh Daffin.
" Aku pulang sendiri saja, kamu tidak perlu mengantarku." ucap Daffin menepis tangan Angel dari lengannya.
" Tapi Daf."
" Jangan mengikutiku." ucap Daffin lalu pergi dengan sedikit sempoyongan.
" Sedikit demi sedikit aku akan memilikimu kembali." gumam Angel dengan senyum smirknya.
.
.
.
.
.
Hmmmm😌