My Annoying Brothers

My Annoying Brothers
2.



Dengan gaya casualnya, Grace dan Zay sudah siap untuk pergi ke kampus dengan menggunakan mobil masing masing.


Grace yang lebih dulu tiba kemudian disususl oleh Zay di belakang.


Kedua mobil sport berjenis Buggati Chiron dan lamborghini Veneno Roadster itu terparkir mulus di arena kampus.


Meskipun keduanya sering membawa mobil itu ke kampus, namun tak sedikit yang masih mengagumi kedua mobil sport itu.


Bagaimana tidak, kedua mobil itu termasuk mobil paling mahal dan terbatas saat ini, dan di indonesia hanya ada beberapa orang yang memilikinya termasuk Grace dan Zay.


Grace dan Zay turun dari mobil disambut tatapan pesona oleh mahasiswa lain.


Sudah tidak heran jika keduanya menjadi most wanted kampus saat ini.


Namun tidak sedikit juga wanita atau laki laki yang menatap iri pada Grace dan Zay, namun bukan Grace dan Zay namanya jika tidak mengabaikannya.


Selagi tidak menyentuh seujung rambut, mereka akan menganggapnya angin lalu.


Grace dan Zay berjalan ke kelas masing masing.


Zay yang mengambil program Master of bussines administration seperti papanya dan Grace yang mengambil fakultas kedokteran karena murni keinginannya.


Ada alasan kenapa Grace mengambil jurusan itu.


Waktu grace berumur 10 tahun mamanya jatuh pingsan, dan saat itu tidak ada siapapun dirumah.


Papanya yang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, sedangkan Zay dan devano ikut pergi bersama sepupunya Elvano.


Sedangkan pembantu dirumah sedang pergi kepasar.


Grace yang saat itu bingung harus berbuat apa menelpon nomor grandpanya alias Ricko untuk datang kerumah.


Sembari menunggu kedatangan grandpanya, grace menangis tersedu karena khawatir mamanya kenapa napa.


Dan saat itulah Grace bertekat jika sudah besar ia ingin menjadi dokter agar bisa memberikan pertolongan pertama jika salah satu anggota kelurganya kenapa napa.


" Zay.." panggil salah satu sahabat Zay yaitu Gibran Megantara.


Ia berlari mengejar Zay yang seperti mengacuhkannya.


" Woey manusia kutub." panggilnya sekali lagi sambil menepuk bahu Zay.


" Hmm." jawabnya bergumam.


" Lu lama lama kek nissa sabyan tau gak, ham hem ham hem mulu." kesal Gibran.


Zay hanya menoleh sekilas tanpa menggubrisnya.


Mereka kini sampai di depan pintu kelas, terlihat sudah banyak mahasiswa yang sudah duduk manis di meja masing masing.


Zay dan gibran masuk kedalam kelas dengan ditatap tatapan kagum oleh para cewek.


" Hey yoo.. manusia tampan datang checkk..." teriak satu sahabat Zay yang lain.


Izzam Pramudya.


" Berisik Zam.."


" Woohoo... Selow broder.. selow." ucap Izzam lalu duduk dibelakang izzam.


" Zay, kabar Grace gimana?" tanya Izzam sambil menompang kepalanya.


" Napa tanya?"


" ckk.. kan gue udah bilang mau deketin sodara kembar lu." jawab Izzam.


" Lu jadi manusia sadar diri gubluk, belum nembak aja lu bakal di tolak mentah mentah ma tu anak, lagian lu gak lihat nih pawangnya modelan begini." sahut Gibran sambil melirik Zay.


" Emang napa? Gue ganteng, gak burik burik amat, gak kalah pesona sama kalian berdua, terus kurang apa coba gue." ucap Izzam sambil memandang wajahnya di cermin yang ia bawa.


Sudah menjadi kebiasaan izzam jika kemana mana akan membawa cermin, karena menurut dia bagaimanapun keadaannya tampang harus nomor satu.


" Kurang sadar diri, Puas lu." sahut Gibran.


Zay tersenyum smirk, sedangkan Izzam hanya mencebikkan bibirnya.


Tak lama dosen pun masuk dan memulai materi.


Disisi Lain Grace baru saja dari toilet, ia melihat jam di tangannya dan sudah menujukkan pukul 08.58, itu artinya 2 menit lagi kelas akan dimulai.


ia merapikan sedikit pakaiannya lalu berlari menuju kelas.


Saat hampir sampai di depan kelas, ia tidak sengaja menabrak laki laki yang sepertinya akan masuk juga ke kelasnya, namun ia tidak pernah melihat wajah di depannya ini.


Mungkin mahasiswa baru pikirnya.


" Sorry gue gak sengaja." ucap Grace lalu masuk kedalam kelas.


Laki laki itu masuk lalu duduk di meja dosen.


" Selamat pagi semua."


" Pagi paak."


" Perkenalkan Nama saya Daffin Gunandra Prayoga, Dosen pengganti di mata kuliah ini."


" Whaaat.." teriak Grace, sadar hal bodohnya ia langsung menutup mulutnya dan menunduk.


" Saya tidak suka ada yang berteriak di kelas saya, jika ada yang berteriak sekali lagi silahkan keluar." ucap Daffin dengan tegas.


" Cih... Sok galak." gumam Grace pelan namun masih bisa di dengar oleh sang dosen.


" Apa kamu bilang?" ucap Daffin menatap tajam Grace.


" tidak apa apa, silahkan lanjut." jawab Grace santai.


" Apa kamu tidak punya sopan santun?" ucap Daffin datar.


" emmm... Punya, emang kenapa?" Jawab Grace kelewat santai.


" Kamu keluar sekarang." ucap Daffin geram.


" Eits.. tidak bisa begitu dong, papa saya bayar mahal disini, enak aja main suruh keluar." jawab Grace tidak terima.


" Keluar sekarang." ucapnya sedikit menaikkan intonasinya.


" Gak bisa gitu dong pak, kan saya mau belajar juga." bantah Grace.


" Keluar atau berdiri didepan sampai jam pelajaran saya selesei." ucap Daffin menatap tajam Grace.


" Cih... Bapak gak asikk." jawab Grace, ia mengambil tas lalu berjalan keluar.


Saat ia melewati Daffin, ia menjulurkan lidahnya lalu berlari keluar. Daffin menatapnya datar.


" Kita mulai materi hari ini." ucap Daffi lalu memulai materinya pembelajarannya.


Grace berjalan keluar menuju parkiran, ia mengambil mobilnya lalu menuju caffe terdekat.


Tidak lupa ia memberitahu kedua sahabatnya Grizzele Anastasya dan Kanaya Larasati untuk menemuinya di caffe setelah selesei mata kuliahnya.


Zay, Gibran dan Izzam baru menyeleseikan mata kuliahnya, mereka memutuskan untuk pergi ke caffe.


Rasa lelah membuat mereka menginginkan secangkir kopi untuk melepaskan penat.


Mata Zay memincing saat memarkirkan mobilnya.


Yups dia melihat mobil Grace terparkir disana.


" Kenapa?" tanya Gibran.


" Gak ada." jawab Zay lalu masuk kedalam caffe.


Gibran dan Izzam saling pandang, mereka sama sama mengangkat kedua bahunya lalu berjalan menyusul Zay..


.


.


.


.


😊